Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 103. Hari Ulang Tahun


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Affan setelah keluar dari mobilnya dan melihat Aira tengah menunggunya.


"Wa'alaikum salam. Mas Affan belanja banyak sekali hari ini?" tanya Aira saat melihat enam buah paper bag di tangannya.


Affan mengangkatnya ke atas sambil tersenyum penuh arti. Dia tidak ingin membahasnya di luar karena tidak enak jika didengar orang lain. Barang-barang yang dibelinya khusus untuk Aira, dirinya sendiri dan Faya.


"Ayo kita masuk. Ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu." Affan menjajari langkah Aira yang memang sedikit lambat karena perutnya yang mulai membesar.


Aira mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.


Mereka berjalan melewati ruang tamu dan ruang keluarga yang sudah terlihat sepi. Mungkin saja Sarah dan Safira sedang berada di kamar atas. Affan tidak banyak bertanya karena di jam-jam seperti ini mereka memang sering di atas.


Setelah sampai di kamarnya, Affan memilah pakaian yang telah dibelinya. Kebanyakan dia membeli baju untuk Aira karena sudah banyak yang tidak muat ataupun kekecilan. Untuk Faya dan dirinya dia hanya membeli 2 potong saja.


"Banyak sekali, Mas!" seru Aira saat melihat pakaian bagiannya yang lebih banyak.


"Iya, Sayang. Perut kamu semakin hari semakin besar. Sepertinya kamu tidak sempat untuk membeli baju jadi tadi aku sekalian saja memberikannya untukmu," ucap Affan.


"Terimakasih, Mas. Aku baru memikirkannya tapi alhamdulillah Mas sudah membelikannya untukku." Aira tersenyum senang.


Affan lalu berpamitan untuk mandi.


Saat Aira mengambil baju untuk Affan dan meletakkannya di atas meja, dia menemukan beberapa foto yang dicetak di sana. Di dalam foto tersebut terlihat beberapa orang anak kecil sedang berdiri di pinggir jalan dengan membawa alat mengamen. Sebagian lain mereka membawa barang dagangan yang bermacam-macam.


Jika diperhatikan baik-baik foto itu sepertinya diambil dengan kamera ponsel. Ada watermark yang sama dengan ponsel Affan di bagian pojok foto. Mungkin Affan mencetak foto dari ponselnya sewaktu berada di perusahaan.


'Kenapa Mas Affan mengambil gambar anak-anak itu, ya? Apakah dia mengenal mereka? Atau atau mungkin ingin menjadikan foto ini sebagai karya seni? Entahlah.' Aira tidak ingin menebak-nebak lagi.


Aira kembali meletakkan foto-foto tersebut saat melihat Affan sedang berjalan ke arahnya. Dia akan menanyakannya setelah Affan selesai mengganti pakaiannya.


"Apa pendapatmu tentang anak-anak itu, Sayang?" tanya Affan setelah berada di sebelah Aira.


"Mereka anak-anak yang kurang beruntung. Mereka hanyalah sebagian dari potret kemiskinan yang ada di negeri ini. Masih banyak yang tidak terekspos karena tinggal di daerah pinggir." Aira mengemukakan pendapatnya.


Affan tersenyum mendengar jawaban Aira. Setelah penampilannya terlihat rapi, dia lalu menarik sebuah kursi yang berada tepat di samping Aira. Mereka duduk saling berhadapan.


Tangan Affan kemudian meraih foto-foto yang diletakkannya di atas meja. Entah sudah yang keberapa kali dia melihat foto-foto itu. Namun, perasaannya tidak pernah berubah dan malah semakin menjadi. Keinginan untuk membantu sesama semakin hari semakin kuat.


"Aku sedang memikirkan bagaimana cara untuk membantu mereka. Memberikan uang tunai tidak akan menyelesaikan masalah karena aku pernah melakukannya. Mereka seringkali menyalahgunakan bantuan yang diberikan untuk kebutuhan yang seharusnya bisa dikesampingkan." Affan menjelaskannya.


"Bagaimana kalau kita membantu menyekolahkan mereka dan membiayai hingga lulus SMA?" tanya Aira.


Affan menggeleng.


"Aku juga pernah melakukan itu tetapi tidak berhasil. Mereka kembali turun ke jalanan dan meninggalkan meja sekolah dengan berbagai alasan. Butuh pendekatan khusus untuk menyadarkan mereka akan pentingnya pendidikan. Sampai sekarang aku belum menemukan cara yang pas untuk mengatasi masalah ini." Affan pernah mencoba membantu anak-anak putus sekolah hingga beberapa kali tetapi hanya sedikit yang serius dan dibiayainya hingga lulus.


Aira terdiam memikirkan ucapan Affan. Sepertinya memang butuh wadah khusus untuk memberikan sosialisasi secara berkala kepada anak-anak itu serta menyadarkan mereka akan pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka. Selain itu juga dibutuhkan pembekalan tentang bagaimana cara mendapatkan uang tanpa harus meninggalkan sekolah. Untuk ini mereka harus bekerja sama dengan beberapa pihak karena tidak mungkin mengatasi semua masalah ini sendirian.


"Bolehkah aku memberikan pendapatku?" tanya Aira.


"Tentu saja, Sayang. Itu memang yang aku harapkan. Aku tidak bisa memikirkan masalah ini sendiri. Jika aku memiliki solusi tentu sudah membantu mereka sejak lama." Affan sangat senang Aira ikut peduli dengan kehidupan anak-anak yang kurang beruntung.


Aira mengangguk sambil berpikir. Dia tidak bisa menjelaskan secara langsung tanpa menggunakan alat tulis untuk menggambarkan apa yang dimaksudnya. Ada beberapa aspek yang perlu dijelaskan kepada suaminya.


Ada beberapa pokok penting yang dituliskannya di atas kertas. Lalu, Aira menggambar tempat yang dibutuhkan, lingkungan hidup yang kondusif serta lembaga yang harus ikut andil dalam program ini. Anak-anak yang kurang beruntung pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan cara yang berbeda pula untuk menanganinya.


Seorang anak tipe pedagang dan mencari uang akan lebih sulit untuk dikendalikan ketimbang anak kurang mampu yang hanya tinggal di rumah atau jarang memiliki penghasilan. Anak yang tinggal di rumah cenderung bergantung kepada orang lain tanpa berpikir untuk melakukan usaha yang lebih keras. Kebanyakan mereka hanya bekerja di sekitaran rumah dan mendapatkan belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya.


Meskipun harus melakukan pendekatan yang berbeda-beda kepada masing-masing anak tetapi secara keseluruhan mereka harus dibekali dengan keterampilan. Di luar jam sekolah mereka bisa membuat kreasi dan sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Harus ada lembaga khusus yang menampung dan memasarkan kerajinan tangan mereka.


Keluarga mereka juga bisa ikut andil dalam membuat produk yang akan diperjualbelikan. Uang yang dihasilkan tergantung dari penjualan dan akan menjadi milik pribadi mereka sedangkan untuk biaya pendidikan sudah ditanggung oleh donatur. Dengan begini mereka bisa sekolah dan tetap menghasilkan uang.


Usulan Aira cukup masuk akal. Affan akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait dan juga lembaga pendidikan. Dia sangat yakin akan banyak anak-anak yang bergabung setelah tahu program yang akan mereka buat.


Tidak terasa obrolan mereka memakan waktu yang cukup lama. Affan sampai lupa akan memberikan sebuah hadiah yang lain untuk Aira. Dia sudah menyiapkannya sejak beberapa minggu yang lalu bersama Faya.


"Tunggu di sini sebentar. Aku masih punya sesuatu untukmu," ucap Affan sambil beranjak dari duduknya.


"Sesuatu?" Aira mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya bertaut.


Affan tidak menjawabnya lagi dan terus berjalan menuju ke sebuah meja tempat dia biasa menyimpan barang-barang pribadinya.


Aira melihat Affan membuka sebuah laci yang berisi arloji dari berbagai merek miliknya. Dia berpikir jika Affan akan memberinya salah satu koleksi yang dia miliki. Apapun itu, Aira akan tetap menerimanya meskipun dia sangat jarang menggunakan jam tangan.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf aku terlambat mengucapkan dan memberikan hadiah ini. Aku ingin mengucapkannya semalam tetapi tidak tega saat akan membangunkanmu. Pagi hari aku terburu-buru dan tentu saja kurang berkesan." Affan menyerahkan hadiah itu pada Aira.


Aira merasa sangat terharu. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk membalas ucapan Affan. Aira sendiri bahkan lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Segera saja Aira berhambur memeluk Affan tanpa tahu apa isi kotak hadiah yang diterimanya. Dia sangat terharu dan menangis sesenggukan. Setiap kali merayakan ulang tahun dia selalu teringat pada kedua orang tuanya yang telah tiada.


Affan mengelus kepalanya dengan lembut dan membiarkannya menumpahkan segala kesedihannya. Meskipun tidak tahu apa yang menyebabkan Aira menangis tetapi akan selalu siap menjadi tempat bersandar baginya. Tidak peduli seperti apa masa lalu dan kehidupan Aira, setelah menjadi istrinya dia adalah seorang ratu.


Setelah tangis Aira mereda, Affan membawanya duduk di tepi ranjang. Sisa-sisa air mata masih menggenang di wajah Aira. Affan menghapusnya dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Sekarang kamu buka kotak itu!" pinta Affan.


Aira mengangguk dan segera membukanya. Sebuah jam tangan berlapis emas terlihat berkilauan oleh cahaya lampu. Jika ditafsir harganya bernilai ratusan juta.


"Terimakasih, Mas. Aku akan menyimpannya baik-baik. Barang semewah ini akan mengundang niat jahat orang yang melihatnya. Tidak apa-apa, kan, Mas?" tanya Aira.


"Setelah aku memberikannya maka orang itu sudah menjadi milikmu. Terserah kamu mau pakai atau menyimpannya." Affan tidak memaksa Aira untuk memakainya.


Aira tersenyum dan terus memandangi jam tangan tersebut hingga merasa puas. Dia tidak ingin buru-buru menyimpannya karena masih ingin melihatnya.


Di luar kamar terdengar suara seseorang memanggil dan mengetuk pintu. Terpaksa Aira menutup dan menyimpan jam tangan mewahnya di dalam laci meja yang ada di samping tempat tidur. Belum diketahui siapa yang datang, untuk itu dia berjaga-jaga jika yang dayang adalah asisten mereka.


"Ayah lama amat, sih, buka pintunya," omel Faya ketika Affan telah membukakan pintu untuknya.


"Lama apanya. Ayah langsung datang cepat-cepat, kog. Kamu pikir jalan tidak butuh waktu, apa?" Affan tidak mau dikalahkan oleh putrinya.


"Iya, iya .... Bagaimana untuk acara malam ini? Jadi tidak, Yah? Kalau jadi aku mau siap-siap sekarang," ucap Faya tidak sabaran.


Dia paling tidak bisa kalau dijanjikan sesuatu karena akan selalu mengingatnya sepanjang waktu dan meminta Affan untuk memenuhinya dengan segera.


"Sabar, Sayang. Masuklah dulu! Tadi ayah membeli baju untukmu," ucap Affan yang menggeser tubuhnya agar Faya bisa melewatinya dan masuk ke kamarnya.


"Memangnya mau ada acara apa, Fay?" tanya Aira.


Faya menatap ayahnya. Dia pikir Affan sudah memberitahu Aira tentang rencana makan malam mereka. Sebelum ini, Affan memang meminta Faya untuk merahasiakan semuanya dan memintanya agar tidak mendahuluinya mengucapkan ulang tahun pada Aira.


"Nanti aku jelaskan," ucap Faya sambil mengeringkan matanya ke arah Aira.


Hadiah dari ayahnya lebih menarik dari apapun. Faya juga takut jika dirinya akan melanggar kesepakatannya dengan sang ayah jika mengucapkan selamat ulang tahun pada Aira lebih dulu. Dia akan menanyakan tentang masalah ini pada Affan.


"Ini baju milikmu. Kamu bisa memakainya malam ini. Semoga saja kamu menyukainya karena setiap hari seleramu selalu berubah, ayah tidak tahu baju yang kamu inginkan itu seperti apa." Affan menyerahkan baju-baju milik Faya.


"Selera ayah yang paling bagus. Aku akan memakainya malam ini. Oh, iya, em .... Ayah itunya sudah, belum?" tanya Faya dengan suara pelan agar Aira tidak mendengarnya.


Affan mengangguk sebagai isyarat jika dia sudah mengucapkan dan memberikan kado ulang tahun untuk Aira.


"Baiklah, sekarang giliranku," bisik Faya.


Affan kembali mengangguk.


Faya berjalan menghampiri Aira sambil membawa dua buah paper bag di belakang punggungnya. Setelah berada dalam jarak yang sangat dekat dia tiba-tiba memeluk Aira dengan erat. Sebagai ibu sambung sekaligus sahabatnya, Aira merupakan orang yang sangat spesial untuknya.


"Selamat ulang tahun, Ma. Semoga kamu tetap menjadi wanita kebanggaanku yang selalu menyemangatiku dalam kebaikan. Kamu bukanlah sekedar ibu sambung atau sahabat tetapi lebih berarti dari itu." Faya tidak kuasa menahan tangisnya begitu dengan Aira.


Mereka merenggangkan pelukan dan saling menatap satu sama lain. Keduanya lalu sama-sama tersenyum saat melihat wajah jelek keduanya.


"Ngapain kamu nangis, Ma. Jelek sekali tauk!" ledek Faya.


"Iya, cuma kamu yang kalau nangis tambah cantik," goda Aira.


Keduanya lalu tertawa bersama menertawakan kekonyolan mereka. Candaan ini biasa mereka lakukan. Keduanya tidak pernah memasang jarak yang membatasi kedekatan mereka.


"Nasib jadi orang yang terlupakan, aku tidak mendapatkan pelukan dari kalian," ucap Affan dengan berlagak sedih.


"Kemarilah, Ayah!" Faya membuka tangannya dan menanti Affan datang.


Mereka bertiga saling berpelukan dan meluapkan kegembiraan mereka.


"Sudah, nangisnya kita pending dulu. Aku mau ganti baju dan dandan yang cantik biar dilirik sama jutawan sholeh," canda Faya.


"Dengar itu, Yah. Anakmu sudah memberi kode untuk segera dinikahkan," ledek Aira.


"Mama ...! Jangan sembarangan, deh. Aku belum siap untuk menikah," ucap Faya dengan nada sedikit menggerutu.


"Lalu, kamu mau pacaran?" tanya Affan mengetes kejujuran Faya.


"Tidak, Ayah. Aku mau ta'aruf dan langsung nikah saja tapi tidak sekarang. Nanti kalau ada yang benar-benar cocok aku bilang sama ayah." Faya terlihat serius menjawab pertanyaan Affan.


"Iya, Sayang. Buruan ganti, sana! Kita akan pergi bertiga setelah ini. Ayah dan mama juga akan segera bersiap. Kira-kira bakda magrib kita berangkat." Affan mengingatkan Faya.


"Siyapz, Ayah!" Faya segera pergi meninggalkan kamar Affan dan Aira.


Adzan magrib telah berkumandang beberapa menit yang lalu. Sebelum bersiap untuk pergi, Affan dan Faya menjalankan ibadah terlebih dahulu. Setelah itu mereka bisa pergi makan malam dengan tenang.


***


Di restoran,


Affan telah memesan meja mereka terlebih dahulu sebelum mereka berangkat ke sana. Banyak pengunjung elite yang datang ke sana. Mereka rata-rata berasal dari kalangan atas.


Tempat itu sangat luas tetapi tidak memiliki banyak meja. Semuanya diatur dengan apik dan elegan. Nuansa barat yang kental membuat rumah makan ini menarik pengunjung dari berbagai negara yang menjalankan bisnis di sini.


Aira berjalan dengan anggun diapit oleh Affan dan Faya. Orang asing akan berpikir jika mereka adalah keluarga dengan Affan sebagai ayah sedangkan Faya dan Aira seorang kakak beradik. Mereka pasti akan sulit percaya jika dikatakan bahwa Aira adalah istri dari Affan dan ibu sambung Faya.

__ADS_1


Seorang pelayan pria berpakaian rapi datang menghampiri meja yang dipesan oleh Affan. Dia memberikan buku menu dan mencatat pesanan mereka masing-masing. Di antara ketiganya, Aira yang paling lama mengatakan pesanannya.


'Astaghfirullah! Makanan di sini mahal-mahal sekali. Yang benar saja harganya segini. Kalau aku menolak untuk makan di sini Mas Affan dan Faya pasti kecewa padaku.' Aira terlihat bingung untuk memilih menu.


"Mas, aku samain saja dengan kamu, ya," bisik Aira.


Lebih baik dia memesan makanan yang sama dengan Affan daripada dia harus merasa malu karena tidak tahu bentuk makanan yang dipesannya nanti.


Affan mengangguk.


"Dia menginginkan makanan yang sama denganku," ucap Affan pada pelayan yang masih menunggu Aira memesan.


"Baik, Tuan. Tunggu sebentar, pesanan akan segera datang." Pelayan pria mengambil buku menu lalu pergi meninggalkan meja mereka.


Affan menatap wajah tidak biasa Aira. Dia bisa menebak jika istrinya itu merasa sayang dengan uang yang begitu banyak dikeluarkan hanya untuk sebuah makan malam. Selama menikah dengannya, ini adalah kali pertama dia dibawa ke rumah makan mewah.


Tidak jauh berbeda dengan ayahnya, Faya juga berpikiran sama. Selama ini Aira hidup pas-pasan dalam keterbatasan. Uang yang sedikit sangat berarti baginya apalagi sebanyak ini.


"Ma, ini adalah hari yang sangat spesial untukmu. Kami tidak setiap hari makan ditempat seperti ini. Tujuan kami datang kemari bukan untuk menghambur-hamburkan uang tapi kami ingin menunjukkan bahwa mama adalah orang yang sangat spesial bagi kami," jelas Faya agar Aira tidak merasa salah paham.


"Terimakasih, Faya, Mas Affan. Kalau boleh jujur, aku merasa sayang dengan uang sebanyak ini. Tapi aku sangat menghargai perhatian kalian untukku. Di lain waktu, lebih baik kita merayakan ulang tahun dengan menyumbangkan sejumlah uang untuk anak yatim dan berbagi kepada orang yang membutuhkan," ucap Aira sambil tersenyum.


Affan dan Faya merasa bersalah. Apa yang dikatakan oleh Aira memang benar. Tidak seharusnya mereka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang sedikit manfaat


"Kamu memang cahaya bagi keluarga kami, Aira. Aku dan Faya sangat beruntung memilikimu," ucap Affan.


Obrolan mereka lalu berhenti karena pesanan mereka sudah datang. Beberapa orang pelayan datang dan menyajikan pesanan mereka di atas meja. Meja telah penuh dengan makanan ketiganya.


Aira melihat bagaimana Affan dan Faya memakan makanannya. Dia tidak ingin terlihat memalukan meskipun baru pertama kali datang ke restoran mewah. Sejak kedatangan mereka banyak orang yang memperhatikan ketiganya. Entah apa yang mereka pikirkan, Affan tidak ingin ambil pusing mengenai pendapat orang tentang keluarganya.


Mereka memilih untuk menikmati makanan yang tersaji tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.


Ketiganya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Setelah ini mereka akan pulang dan beristirahat. Saat makanan mereka hampir habis, seorang pelayan datang ke meja membawa tagihan yang harus dibayar.


Sepasang muda-mudi yang merupakan teman sekolah Aira datang menghampiri mereka. Kelihatannya dia baru datang dan akan duduk di meja kosong yang terletak di sebelah meja mereka. Aira ingat jika itu temannya tetapi lupa siapa namanya.


"Selamat malam, Nona Aira. Senang bertemu Anda di sini. Oh, iya, jangan nangis kalau kamu tidak mampu membayar makananmu," ejek wanita yang baru datang bersama kekasihnya itu.


Aira tersenyum.


Affan bersiap untuk berdiri dan menutup mulut lancang wanita yang menghina Aira.


Tidak ingin ada keributan di sana, Aira memegang tangan Affan dan memberi isyarat pada Faya untuk tetap tenang.


"Biar aku saja yang membayar tagihannya, Mas," ucap Faya sambil mengeluarkan kartu ATM dari dalam tasnya.


Dia ingin membalas hinaan temannya itu dengan elegan. Secara otomatis dia akan diam dan merasa malu karena telah meremehkan orang yang salah. Aira tahu jika saat ini Faya dan Affan pasti sangat marah. Mereka sudah tidak memiliki selera lagi untuk melanjutkan makannya.


"Aku ingin lihat apakah tabungan kamu cukup untuk membayar semua makanan ini." Teman Aira masih saja memancing emosinya.


Pelayan di restoran itu sampai menggeleng. Dia juga tidak suka melihat kesombongan pengunjung wanita yang baru saja datang.


'Sepertinya tidak ada salahnya aku membungkam mulut wanita sombong ini. Dia hanya melihat seseorang dari penampilan luarnya saja. Maaf Nyonya jika setelah ini aku berbuat lancang.' pelayan itu menggesek kartu ATM Aira di hadapan mereka.


Dia tidak langsung memasukkan tagihan tetapi dia lebih dulu memeriksa saldo yang ada di sana.


"Saldo Anda tujuh ratus sembilan puluh delapan juta sekian sekian. Total tagihan sembilan juta lima ratus ribu. Sisanya sekian, Nyonya," Pelayan itu berbicara dengan keras agar wanita sombong itu mendengarnya.


Teman sekolah Aira terbelalak ketika mendengar nominal saldo yang dimiliki oleh nya. Setahunya Aira adalah orang miskin tidak disangka Dia memiliki uang sebanyak itu. Namun, dia selalu saja memiliki cara untuk menghinanya.


Sebelum dia berbicara terlalu banyak, Affan meminta struk pembayaran dan membawa Aira dan Faya pergi dari sana. Kata-kata teman julit Aira tertahan di mulutnya karena orang yang akan dia hina telah pergi meninggalkan meja itu.


"Maafkan aku membawa kalian keluar dengan terburu-buru. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa menahan diri untuk tidak membuat keributan. Aku tidak suka mendengar penghinaan darinya." Affan berbicara dengan nada kesal.


"Aku juga tidak tahan ingin menamparnya, Ayah. Jika aku tidak menjaga nama baikku di mata umum, pasti aku sudah melakukannya." Faya tidak kalah emosi dengan Affan.


Aira tidak berbicara apapun. Menurutnya ini sudah biasa. Dia tidak terkejut mendengar hinaan dari orang kaya. Sebelumnya dia pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan dari ini di mana dia di hina tetapi tidak mampu membalasnya.


Bukan hanya di sekolah saja dia diremehkan. Di lingkungan tempat tinggalnya di kampung pun dia sering mengalaminya. Namun, Aira tidak mengambil hati atas semua ucapan mereka dan malah mendoakannya agar segera menyadari kesalahannya.


"Sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi. Aku sudah melupakannya. Tidak ada yang salah dengan ucapannya karena sebelumnya aku memang tidak memiliki apa-apa sebelum menikah dengan Mas Affan," ucap Aira tidak ingin suami dan anak sambungnya memperpanjang masalah ini dan larut dalam kubangan emosi.


"Sebenarnya hati kamu itu terbuat dari apa, sih, Ma. Bisa-bisanya mama terlihat tenang ketika seseorang menghinamu di depan umum," ucap Faya masih terlihat gusar.


"Kan, aku sudah membalasnya dengan cara yang santun. Jika dia mau berpikir, seharusnya dia malu karena aku tidaklah seperti yang dituduhkannya. Semua orang pasti mendengar saat pelayan itu menyebutkan nominal tabunganku," jelas Aira.


Hati Faya pun akhirnya melunak. Perlahan emosinya menjadi reda. Begitu juga dengan Affan yang sebelumnya begitu marah.


"Aku seperti pernah bertemu dengan wanita itu, tapi aku lupa dimana," ucap Affan sambil mengingat-ingat tentang siapa orang yang menghina istrinya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2