
Mobil yang dikendarai oleh Affan memasuki wilayah pedesaan. Jalanan yang sempit membuatnya harus berhenti beberapa kali ketika berpapasan dengan kendaraan lain.
Jalanan di desa itu sudah banyak yang diaspal sehingga Affan bisa mengendarai mobilnya dengan nyaman.
Hawa sejuk pedesaan semakin terasa ketika mereka sampai di tepat yang memiliki ketinggian di atas permukaan laut. Mobil Affan berhenti di halaman sebuah villa megah.
Seorang wanita paruh baya bergegas datang menghampirinya ketika melihat kedatangannya. Tidak lama kemudian seorang pria setengah tua menyusulnya di belakang.
"Assalamualaikum. Selamat siang, Tuan Affan," sapa wanita itu dengan sopan.
"Wa'alaikum salam, Bu Siti, Pak Anang," jawab Affan.
Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang menjaga villa milik Affan sejak awal villa ini dibeli. Mereka tidak segera melanjutkan aktifitasnya dan memilih menunggu perintah dari majikannya.
Bu Siti melihat Affan membangunkan seorang wanita yang sedang tertidur di dalam mobil. Dia berpikir jika wanita itu adalah Faya, putri tunggal majikannya.
"Aira, kita sudah sampai. Bangunlah!" bisik Affan di telinga Aira.
Tangan kanannya menggenggam tangan Aira lalu mengecupnya beberapa kali.
Aira menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya sesaat setelah terbangun dari tidurnya. Perlahan dia mulai tersadar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu.
"Kita sedang berada di mana, Mas?" tanya Aira penasaran.
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan tahu." Affan membantu Aira untuk turun dari mobilnya.
Affan berjalan menuju ke villa yang berdiri megah di hadapannya. Aira menatap villa indah ini dengan takjub.
Bu Siti dan Pak Anang menyapanya dengan sopan. Mereka sangat ramah dan penuh perhatian.
Siang itu, mereka menikmati menu makan siang seadanya karena Affan tidak memberitahu Bu Siti jika hari ini akan datang.
Aira makan begitu lahap makan sayur daun singkong dan urap sayuran. Makanan ini mengobati rasa kangennya pada kampung halaman. Sekarang dia tidak bisa lagi pulang ke Klaten karena sudah tidak memiliki rumah.
Saudara orang tuanya tinggal Om Agung saja tetapi sejak pernikahannya dengan Affan mereka tidak saling berkomunikasi lagi. Aira benar-benar hidup sebatang kara jika tidak ada Affan.
Setelah selesai makan siang, Affan membawa Aira pergi beristirahat ke kamar.
"Aira. Di sini dingin, ya?" tanya Affan menyusulnya di belakang.
"Iya, Mas. Aku pikir Mas Affan tidur, tadi." Aira memutar tubuhnya menghadap suaminya.
"Mana bisa aku tidur tanpa memeluk kamu," ucapnya tanpa malu-malu lagi.
Aira tersipu mendengarnya.
"Lain kali aku akan membawamu menginap di sini untuk beberapa hari, Aira. Aku mengajakmu kemari hari ini hanya untuk menunjukkan tempat ini saja. Kuharap kamu menyukainya."
__ADS_1
"Aku sangat menyukainya, Mas. Terimakasih." Aira memeluk tubuh Affan.
***
Amanda berdiri di balkon kamarnya menatap kosong di kejauhan. Hatinya menjadi kalut setelah mengetahui hasil pemeriksaan Dokter Diana.
Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat begitu jelas saat Amanda tidak menggunakan make up.
"Apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana jika si brengsek Roland tidak mau bertanggung jawab atas bayi ini? Aku harus memberitahukannya sekarang." Amanda berjalan masuk ke kamarnya untuk menghubungi Roland.
TV di kamarnya masih menyala ketika dia meraih ponselnya dari atas meja. Tampilan berita siang itu menayangkan berita tentang Roland.
Amanda menutup mulutnya dan seketika itu juga menangis. Hatinya merasa sangat terpukul saat mengetahui Roland menculik Aira dan melecehkannya.
"Aira lagi! Aira lagi! Mengapa semua pria yang kusukai begitu tertarik padamu? Aku akan membuat perhitungan denganmu Aira! Roland, terimakasih kamu telah memberi luka yang tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan kata maaf!" Amanda berteriak untuk meluapkan emosinya.
Perasaan frustasi membuat emosinya kian memuncak. Amanda melemparkan benda apa saja yang terlihat di depan matanya. Saat ini keadaannya benar-benar hancur.
Semua yang terjadi padanya sebenarnya akibat dari ulah sendiri. Tidak sepatutnya dia menyalahkan Aira dan Affan tetapi Amanda tetap bersikukuh jika Aira lah yang bersalah dan menyebabkan seluruh kejadian buruk yang menimpanya.
"Aku akan membalas mu, Aira! Jangan harap kamu bisah hidup bahagia di atas penderitaanku!" seru Amanda.
****
__ADS_1
Bersambung ....