
Affan merasa pernah melihat wanita yang sangat mirip dengannya dalam sebuah perjamuan bisnis. Dia tidak mungkin salah mengingat karena penampilan dan wajah tidak jauh berbeda. Kejadiannya juga belum terlalu lama kurang lebih sekitar satu bulan yang lalu.
"Sudahlah, Mas. Lupakan saja aku tidak menaruh dendam padanya. Segala yang dia lakukan akan mendapatkan balasannya sendiri. Allah tidak akan melupakan pembalasan pada dosa sekecil apapun."
Ucapan Aira membuat Affan merasa tersentuh. Tidak seharusnya dia menaruh dendam pada orang yang menghina Aira. Mungkin jika mereka sampai bertemu lagi dia akan memperingatkannya saja bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik.
"Baiklah, sayang. Jangan khawatir, aku tidak akan membuat kesalahan. Jika aku balik menghinanya itu artinya aku akan sama dengannya," ucap Affan.
Aira tersenyum dan merasa tenang. Dia tidak khawatir lagi suaminya akan berbuat kesalahan. Meskipun dia hanya membalas hinaan tetapi kemungkinan bisa menambah masalah menjadi semakin besar.
Sama halnya dengan Affan, Faya juga menjadi lebih sabar. Secara tidak langsung Aira telah mengajarinya banyak hal. Dia sangat beruntung karena sifat baik Aira perlahan membuatnya semakin tambah dewasa.
Suasana di mobil kembali hening. Mereka tidak ingin mengobrol lagi dan memilih menikmati pemandangan di luar melalui kaca mobil. Suasana kota di malam hari terlihat begitu indah bahkan masih sangat ramai seperti ketika di siang hari.
Aira teringat akan obrolannya bersama Affan sore tadi. Kehidupan real dari potret yang dilihatnya terpampang jelas di hadapannya. Kini dia bisa melihat secara langsung potret anak-anak kurang beruntung yang mengais rezeki dan hidup di jalanan.
Mereka terlihat sangat sabar meskipun hidup mereka tidak bisa dikatakan bahagia bahkan jauh dari kata itu. Mungkin karena Affan melihatnya setiap hari sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak peduli pada mereka. Sepanjang waktu mereka hidup di jalanan, terkadang tidak ada hasil yang mereka dapatkan atau hanya cukup untuk makan.
Berbeda dengan Aira Faya lebih tertarik untuk melihat gedung-gedung, ruko dan pertokoan yang memiliki desain unik untuk menarik pengunjung. Setiap kali dia melihat desain yang unik dia berpikir untuk membuat hal yang sama. Faya tidak tahu jika Aira memiliki kemampuan untuk membuat desain yang mungkin lebih unik dari semua yang dilihatnya. Ayahnya saja baru tahu akhir-akhir ini.
Banyak sekali proyek yang terbantu karena hobi Aira. Setiap kali Affan merekomendasikan desain darinya para klien langsung menyetujuinya dan mengambil desain dari Aira. Affan mengatakan dengan kakak kepada klien kliennya bahwa desain itu istrinya yang telah membuatnya. Mereka berpikir jika istri Affan seorang lulusan dari universitas ternama. Namun, Affan menyanggahnya dan berbicara jujur tentang pendidikan Aira. Hal ini justru malah membuat mereka semakin kagum padanya.
"Apakah kalian ingin membeli sesuatu?" tanya Affan kepada Aira dan Faya.
"Tidak, Mas. Kalau kamu, Fay?" tanya Aira.
"Aku juga tidak ingin membeli apa pun. Melihat kemacetan ini saja sudah membuatku pusing. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur nyaman karena besok aku ada kuliah pagi." Faya terlihat sangat bersemangat untuk pergi kuliah.
"Anak yang manis," puji Aira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Faya.
Di depannya, Aira tidak berani bersikap mesra dengan Affan meskipun hanya sekedar meletakkan kepalanya di lengan suaminya. Sampai saat ini Aira masih malu-malu setiap kali ketahuan sedang memperhatikan Affan di depan Faya.
Kemacetan terasa sangat membosankan sehingga membuat Aira dan Faya mengantuk. Affan yang lelah bekerja seharian pun ikut merasakan kantuk yang luar biasa. Mereka bertiga akhirnya tertidur hingga tidak menyadari jika sudah sampai di rumah.
Tubuh mereka terasa sangat pegal ketika terbangun karena tidak bergerak sama sekali ketika sedang tertidur. Untuk beberapa saat mereka memulihkan kesadarannya terlebih dahulu sebelum turun dari mobilnya. Saat mengantuk, bisa saja mereka terjatuh saat berjalan.
"Astaghfirullah!" seru Affan sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Menemukan kasur di saat sedang mengantuk adalah nikmat yang tidak ternilai baginya. Affan sudah kembali terlelap saat Aira kembali dari kamar mandi. Kandungannya yang telah membesar membuatnya sering kali bolak-balik ke kamar mandi.
Aira pergi ke almari untuk mengambil selimut yang lain karena selimut yang sekarang tertindih oleh tubuh Affan. Dia tidak mungkin membangunkannya apalagi mengangkat tubuhnya. Dengan sabar Aira menyelimuti tubuh Affan kemudian dia berbaring di sampingnya.
Sebelum Aira terlelap, dia terus memandangi wajah Affan yang sangat tenang ketika tertidur. Tidak terlihat kemarahan di sana seperti yang dilihatnya beberapa jam yang lalu. Pria kharismatik itu kini benar-benar telah membuatnya jatuh cinta.
'Aku merasa menjadi seorang istri dan ibu yang dicintai di keluarga ini. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya jika aku akan menikah dengan ayah sahabatku sendiri. Semua terjadi bukan karena rencana kami melainkan karena takdir yang mempertemukan kami.' Aira tersenyum mengenang sepotong demi sepotong penggalan kisah yang telah dia lalui.
Lembar-lembar kenangan yang bermunculan dan silih berganti mengantarnya ke alam mimpi. Kelopak mata Aira mulai berat dan perlahan mengatup dengan sempurna. Hatinya terasa begitu damai meskipun hanya mengingatnya.
Malam itu, Aira tidur dengan lelap.
***
Pagi hari,
Affan dan Aira terlihat segar setelah mandi. Kali ini mereka tidak ingin pergi jalan-jalan ke luar rumah. Mereka hanya berjalan di sekitaran rumah dan hanya untuk sekedar melepaskan keringat.
Faya bangun tidur dan segera bersiap ke kampus. Meskipun belum pernah mendapatkan hukuman tetapi dia tidak ingin datang terlambat lagi ke kampus. Rasanya sangat memalukan jika dia datang telat.
Jika tidak di hari libur, Faya tidak memiliki kesempatan untuk menemani Aira. Dia berharap Sabtu ini bisa terbangun pagi-pagi sekali sehingga bisa menemaninya. Meskipun ada ayahnya yang menemani, tetapi dia juga ingin ambil bagian.
Hingga Sarah dan Faya selesai sarapan, Affan dan Aira belum juga datang ke meja makan. Faya yang merasa sangat penasaran segera beranjak dari duduknya dan pergi mencarinya. Dia sekalian membawa tasnya biar sekalian pamitan.
Aira merasa senang melihat kedatangan Faya yang menyusul mereka di belakang. Dia berjalan mendekatinya agar Faya tidak terlalu jauh saat ingin mencapainya.
"Ma, Yah, aku pamit dulu, ya," ucap Faya sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan Affan dan Aira bergantian.
"Iya, Sayang. Sudah sarapan, kan?" tanya Affan.
"Sudah, yah. Assalamu'alaikum," ucap Faya sebelum pergi.
"Wa'alaikum salam." Affan dan menjawab bersamaan.
Keduanya tidak sadar jika matahari pagi sudah merangkak naik. Affan belum mandi dan bersiap untuk ke kantor. Namun, dia sedikit datang terlambat ke kantornya.
"Aku mandi dulu, ya, sayang. Tunggu aku di ruang makan saja. Kamu kan sudah menyiapkan pakaianku untuk hari ini," ucap Affan sambil tersenyum.
"Iya, Mas. Aku akan menunggumu di meja makan." Aira membalas senyuman Affan dengan senyuman yang tidak kalah manis.
Setelah kepergian Affan, Aira langsung pergi ke ruang makan dan menunggu Bi Sumi menghangatkan makanan untuknya. Dia juga meminta tambahan telur dadar di menu makanannya. Meskipun porsi kecil tetapi Aira ingin isinya lebih lengkap.
Sekitar pukul tujuh pagi, Affan telah datang ke meja makan. Aira membantu mengambilkan makanan untuknya. Mereka tinggal berdua saja menikmati makanannya.
Di rumah terasa sepi. Aira mengusir kejenuhan dengan menggambar ruang bermain untuk Safira. Pekerjaan Affan sangatlah banyak, dia tidak ingin menambah beban yang dipikulnya dengan meminta sebuah tempat bermain untuk Safira.
Diam-diam dia berencana untuk memesan pembatas non-permanen pada seorang ahli pembangunan. Aira juga akan menggunakan uang pribadinya untuk ini. Namun, sebelum melakukan pemesanan, dia juga akan meminta ijin dari Affan terlebih dahulu.
Bi Sumi merasa heran karena sejak pagi Aira berada di dalam kamar. Setelah sarapan dia langsung masuk dan tidak keluar lagi. Merasa ada yang aneh, Bi Sumi berniat untuk memeriksanya. Dia ingin melihat keadaan Aira dan memastikan dia baik-baik saja.
"Nyonya, Nyonya, apakah Nyonya sedang sibuk?" tanya Bi Sumi sambil mengetuk pintu kamar Aira.
"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Aira dari dalam kamarnya.
"Ti-tidak ada, Nyonya. Aku hanya ingin menawarkan untuk membuat jus," ucap Bi Sumi sedikit gugup. Dia takut jika kedatangannya mengganggu aktifitas Aira.
"Boleh, Bi. Tidak usah ditambah gula, ya!" seru Aira.
"Baik, Non." Bi Sumi merasa lega karena majikannya baik-baik saja.
Lalu, dia pergi ke meja makan untuk membuat jus kesukaan Aira. Bi Sumi hafal buah apa yang disukai dan tidak disukai oleh Aira. Dia membuat jus itu dengan cepat dan segera membawanya ke kamar Aira.
Sebelum masuk, Bi Sumi mengetuk pintu kamar Aira terlebih dahulu. Rasanya kurang sopan jika dia langsung masuk hanya dengan sebuah sapaan dari depan pintu.
"Masuk, Bi!" seru Aira setelah mendengar suara Bi Sumi telah sampai di depan kamarnya.
Bi Sumi kini bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Aira di dalam kamar. Dia berjalan menghampirinya dengan hati-hati sambil melihat ke lantai. Kertas yang terinjak bisa saja membuatnya terpelanting dan jatuh.
__ADS_1
"Jusnya aku taruh di mana, Nyonya?" tanya Bi Sumi sambil terus berhati-hati.
"Di meja yang itu saja," tunjuk Aira pada sebuah meja.
"Bolehkah saya membantu membereskan kertas-kertas ini, Nyonya?" Bi Sumi tidak ingin Aira terpeleset oleh kertas itu.
"Boleh, Bi. Aku juga sudah selesai. Bibi buang aja kertasnya. Itu sudah tidak terpakai lagi." Aira mengambil gelas jus dan menyeruputnya perlahan.
"Baik, Nyonya." Bi sumi memungut kertas itu satu persatu lalu menumpuknya. Dia lalu berpamitan pergi sambil membawa kertas sampah agar tidak memenuhi ruangan Aira.
Aira terlihat begitu senang dan tersenyum puas saat melihat desain yang telah dibuatnya. Meskipun terlihat sederhana tetapi cukup untuk membuat ruang kosong itu lebih berguna. Di masa mendatang, dia juga ingin membuatkan ruang bermain khusus untuk putranya.
Menggambar terlalu lama membuat punggungnya terasa pegal-pegal. Aira mengerakkan tubuhnya agar tidak terasa kaku. Namun, itu serasa tidak mengurangi pegalnya, akhirnya dia memilih untuk berbaring di atas tempat tidur.
Hawa dingin AC di kamarnya membuat matanya merasa berat. Lambat laun rasa mengantuk itu tidak mampu ditahan. Aira pun terlelap dalam mimpi di siang itu.
***
Di kampus,
Faya kembali menjadi pusat perhatian saat kakak tingkatnya membicarakannya di kantin. Dia sendiri jarang ke kantin tetapi seseorang memberitahunya. Kebetulan teman sekelasnya berada di sana saat seseorang membicarakannya.
"Fay!" panggil Diana.
"Iya," jawab Faya datar.
"Kamu santai banget sih jadi orang. Tidak tahu apa kalau kamu sedang dibicarakan banyak orang."
Ucapan Diana membuatnya menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Faya berpikir jika dia tidak sedang membuat lelucon ataupun kehebohan di kampus. Lalu atas alasan apa teman-temannya menggunjingkannya.
"Aku tidak tahu. Biarlah! Yang penting aku tidak mendengarnya," ucap Faya yang lagi-lagi terdengar santai.
"Yakin kamu tidak mau tau? Aku aja kepo tadi. Sepertinya ada seseorang yang melihatmu berkencan kemarin." Diana terus memancing rasa penasaran Faya.
Sebenarnya Faya tidak ingin tahu tetapi lama kelamaan dia akhirnya juga termakan oleh omongan Diana. Selama ini dia tidak banyak memiliki teman sehingga tidak pernah khawatir menjadi bahan pergunjingan. Baru kali ini dia menjadi omongan di kalangan mahasiswa.
"Terserah kamu mau cerita atau tidak. Aku tidak mau ambil pusing untuk masalah sepele seperti ini." Faya kembali fokus dengan buku yang dibacanya.
Diana pun mendekatkan mulutnya ke telinga Faya. Dia tidak ingin orang lain mendengar apa yang dikatakannya pada Faya. Kelihatannya baru sedikit orang yang tahu tentang masalah Faya. Sebagian besar mereka tidak peduli dan tidak ingin ikut campur.
"Seseorang melihat kamu sedang mengobrol hal serius bersama Pak Rendi sepulang kuliah. Ada lagi yang mengatakan jika kalian akan berkencan. Aku juga tidak tahu berita ini dari mana sumbernya, yang jelas mereka memiliki bukti tentang pertemuan kalian," jelas Diana.
"Oh, itu, ya. Mereka hanya salah paham saja. Aku tidak merencanakan pertemuan dengan Pak Rendi. Kami tidak sengaja bertemu di depan gerbang kampus saat menunggu mobil jemputanku yang sedikit terlambat. Itu saja, kami tidak hanya berdua saja. Ada beberapa satpam kampus yang duduk di dekat kami," jelas Faya.
"Tapi mereka mana percaya. Mereka pikir kalian pasti ada apa-apa." Diana mencoba mengambil kesimpulan untuk masalah ini.
"Itu hak mereka. Aku tidak mau ambil pusing untuk masalah ini. Semoga saja mereka segera sadar jika apa yang mereka pikirkan itu salah." Faya beranjak dari duduknya dan bersiap untuk kembali ke kelas jam istirahat sebentar lagi akan berakhir.
"Fay, tunggu!" seru Diana sambil berlari-lari kecil mengejar Faya yang bersikap acuh
Saat dalam perjalanan menuju ke ruang kelas. Keduanya kebetulan bertemu dengan Pak Rendi yang sedang berjalan dengan arah yang berlawanan dengan mereka. Faya pura-pura tidak melihatnya dan memalingkan wajahnya seolah mereka tidak pernah saling mengenal satu sama lain.
Diana yang ada bersamanya merasa sangat yakin jika Faya memang tidak memiliki hubungan dengan Pak Rendi. Namun, dia curiga dengan sikapnya Pak Rendi yang memberi tatapan yang berbeda pada Faya. Kesimpulannya, Diana curiga jika sebenarnya yang naksir Faya adalah Pak Rendi tetapi Faya tidak menyadarinya.
"Fay," panggil Diana ketika mereka sudah berada di dalam kelas.
"Sepertinya Pak Rendi memiliki perhatian yang berbeda untukmu, deh," ucap Diana dengan mimik yang sangat lucu.
"Lalu? Jangan membuat gosip baru. Jika itu benar biar itu menjadi urusannya dan bukan urusanku. Tujuanku di sini adalah untuk mencari ilmu bukan untuk mencari jodoh. Aku tidak akan menikah dalam waktu dekat jadi aku tidak peduli meskipun apa yang kamu katakan ini benar." Faya menjawab dugaan Diana dengan tegas.
Ucapannya tidak terlalu keras tetapi beberapa orang yang ada disekitarnya mendengar ucapannya. Ada yang kagum dengan kepribadian Faya ada pula yang berpikir jika dia kurang pergaulan. Tidak sedikit pula yang mengatakan jika Faya cupu.
Apapun itu, Faya tidak mempedulikannya dan memilih untuk fokus dengan kuliahnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan masa mudanya untuk memikirkan hal yang belum sepantasnya. Jika memang sudah jalannya dia menikah, Faya baru akan memikirkan pria yang diinginkannya.
"Kamu tidak sayang menolak cowok setampan dan se-famous Pak Rendi?" tanya Diana yang masih tidak percaya dengan jawaban Faya.
"Tentu saja. Sudahlah, jangan bahas Pak Rendi terus. Tidak enak sama yang lain. Nanti dikira aku ada apa-apa beneran lagi. Sebentar lagi kuliah akan di mulai, sebaiknya kita bersiap," ucap Faya tidak ingin membicarakan tentang Pak Rendi lagi.
Untuk materi kuliah di jam terakhir, pelajaran yang diajarkan berhubungan dengan materi yang diajarkan oleh Pak Rendi. Dosen pembimbing yang mengajar hari ini meminta Pak Rendi untuk menyiapkan salinan materi untuk murid di kelas Faya. Karena Pak Rendi hari ini sudah pulang, dia meminta salah satu murid untuk pergi ke tempatnya dan mengambil materi yang dimintanya lalu mengcopy sejumlah siswa yang ada di kelas ini.
Entah kebetulan atau di sengaja, dia menunjuk Faya untuk melakukan tugas ini. Faya berusaha menolak tetapi dosen yang mengajar merasa hanya dia yang dipercayai nya. Akhirnya mau tidak mau Faya harus menerimanya.
Sepulang kuliah, Faya tidak bisa langsung pulang ke rumahnya dan pergi ke kontrakan Pak Rendi. Dia mengajak Diana untuk menemaninya tetapi Diana menolak. Beberapa teman sekelasnya juga diajaknya pergi ke sana tetapi mereka juga menolak dengan berbagai alasan. Faya terpaksa harus berangkat sendiri ke sana.
'Aku merasa seperti sedang di jebak oleh keadaan. Penolakan ku tidak ada artinya. Pak Jaya tetap memintaku pergi untuk menemui Pak Rendi dan meminta tugas darinya. Ah, tidak ada gunanya aku mengeluh, toh hasilnya juga akan tetap sama.' Faya memilih untuk diam.
Selama pelajaran berlangsung dia tidak konsentrasi dan hanya memikirkan tentang rasa malunya. Tadi saat bertemu dengannya saja Faya membuang muka. Dan nanti tiba-tiba dirinya harus datang ke kontrakannya untuk sebuah keperluan. Faya merasa jika dirinya seperti sedang dipermainkan oleh keadaan.
Waktu berlalu begitu cepat, jam kuliah pun berakhir. Seluruh mahasiswa yang satu kelas dengannya pulang ke rumah mereka masing-masing. Faya mencoba meminta salah satu di antara mereka agar tidak menimbulkan fitnah. Dia tidak ingin di gosipkan macam-macam karena bertamu ke tempat Pak Rendi.
Melihat wajahnya yang memelas, akhirnya ada seorang teman yang bersedia menemaninya. Dia seorang mahasiswa bernama Wahyu. Tidak masalah bagi Faya mau dia pria atau wanita yang penting dia tidak pergi sendiri ke sana.
Di dalam mobilnya, Wahyu duduk di depan bersama Pak Toni sedangkan Faya duduk di belakang. Ini kali pertama baginya mengijinkan seorang pria duduk di dalam mobilnya. Sebelum ini, Faya tidak pernah pergi dengan seorang pria.
"Mobilmu bagus juga, Fay," ucap Wahyu saat dalam perjalanan.
"Ini mobil milik ayahku. Darimana aku punya uang untuk membeli mobil. Kerja juga belum," ucap Faya merendah.
Wahyu mengangguk.
"Tapi punya orang tua kan juga punyamu," imbuh Wahyu.
"Bisa jadi begitu." Faya tidak menyanggah maupun mengiyakan.
Awalnya Pak Toni berpikir jika pria itu adalah teman spesial Faya tetapi setelah mendengar mereka mengobrol, dia tahu jika mereka hanya teman biasa. Kontrakan Pak Rendi berada kurang lebih lima belas menit dari kampus. Mereka tiba di sana tidak lama setelah pertanyaan terakhir Wahyu.
"Benar di sini, Non, tempatnya?" tanya Pak Toni saat membaca tulisa besar di depan kos Pak Rebdi.
"Iya, benar, Pak. Tunggu di sini sebentar." Faya membuka pintu mobilnya dan meminta Wahyu untuk pergi bersamanya.
Mereka pergi ke pos satpam yang ada di depan kos Pak Rendi.
"Selamat sore, Pak!" sapa Wahyu pada satpam yang berjaga.
"Selamat sore, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu.
__ADS_1
"Kami ingin bertemu dengan Pak Rendi. Kami mahasiswa nya. Apakah Pak Rendi nya ada, pak?" tanya Wahyu.
"Sepertinya ada, Mas. Sebentar saya panggilkan."
Satpam dengan tag nama Edi itu pergi meninggalkan Faya dan Wahyu. Dia pergi masuk ke dalam jajaran kos-kosan yang entah berapa jumlahnya. Wahyu dan Faya menunggunya di luar pagar karena belum dibukakan pintu. Sepertinya pengamanan di kos ini cukup ketat sehingga tidak membiarkan sembarang orang masuk ke sana.
Setelah menunggu beberapa saat, satpam Edi kembali bersama Pak Rendi yang sudah membawa selembar kertas. Sepertinya pak Jaya sudah menghubunginya sebelum ini dan mengabarkan kedatangan mereka. Faya merasa lega karena dia tidak perlu berlama-lama berada di sana.
"Ini tugas yang Pak Jaya minta. Jangan lupa di foto kopi, ya," ucap Pak Rendi memberi pesan pada mereka.
"Baik, Pak." Wahyu menerima kertas itu sementara Faya hanya diam saja.
Pak Rendi menatapnya sekilas. Tatapannya kali ini sedikit berbeda karena melihat Faya pergi dengan seorang pria. Dia pikir jika Wahyu adalah teman spesialnya.
"Kalian mau masuk dulu apa langsung pulang?" tanya Pak Rendi sambil menatap Faya dan Wahyu bergantian.
"Bagaimana, Fay? Aku haus nih." Wahyu membuat ulah.
"Kami langsung pulang saja, Pak. Terimakasih. Assalamu'alaikum." Faya meninggalkan Wahyu yang tidak juga beranjak dari tempatnya.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Rendi.
Terpaksa Wahyu pun segera menyusul Faya karena tidak ingin ditinggalkan di sini. Mereka harus pergi ke foto kopi terdekat untuk menyalin tugas yang di bawa oleh Wahyu. Faya tidak mempedulikan wajah Wahyu yang cemberut karena dia buru-buru mengajaknya untuk pulang.
"Nanti di tempat foto kopi aku traktir kamu minum. Mau sama kulkas-kulkasnya juga boleh," ucap Faya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Masalahnya bukan itu, Fay. Aku kan pengin tahu seperti apa dalamnya kos-kosan pak Rendi. Kayaknya bagus banget. Kira-kira ada ceweknya tidak ya?" Wahyu semakin melantur.
Faya menggeleng.
Pak Toni menghentikan mobil yang mereka kendarai di depan sebuah kios foto kopi yang cukup besar di daerah itu. Wahyu dan Faya turun dari mobilnya lalu pergi untuk mengantri. Seperti janjinya, Faya meminta Wahyu untuk mengambil minuman sebanyak yang diinginkannya.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Wahyu. Dia benar-benar mengambil minuman dan es krim sebanyak yang dia mau. Namun, itu tidak masalah bagi Faya.
"Kamu bayar foto kopinya sekalian. Ini uangnya. Aku mau tunggu di mobil saja." Faya memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu. Kira-kira lebih dari cukup untuk membayar semua tagihannya.
Wahyu terbelalak senang melihat uang yang banyak dari Faya. Dia baru tahu jika Faya sebenarnya sangat kaya. Selama ini dia dan teman-temannya tertipu oleh penampilan Faya yang terlihat sangat sederhana.
"Sudah selesai, Non?" tanya Pak Toni pada Faya.
"Belum, Pak. Aku suruh temenku yang nunggu. Aku malas duduk di sana bareng orang banyak." Faya memilih untuk menunggu di mobil sambil duduk bersantai.
Tidak lama kemudian Wahyu datang dan menyerahkan tugas kepada Faya.
"Kamu pakai kembaliannya untuk naik ojek. Aku mau buru-buru pulang. Thanks ya dah nemenin." Faya tidak ingin mengantarkan Wahyu pulang ke rumahnya yang entah di mana. Ini saja dia sudah akan sangat terlambat sampai di rumahnya.
"Siap, Boss! Thanks ya!" Wahyu terlihat sangat senang karena uang kembalian dari foto kopi itu lebih banyak dari yang digunakan untuk membayar. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat itu dan hanya butuh sepuluh ribu saja untuk naik ojek.
"Sama-sama." Faya segera menutup kaca mobilnya dan meminta Pak Toni untuk segera menjalankannya.
***
Di kantor Affan,
Setelah jam makan siang, Affan dan Bimo harus menghadiri acara peresmian gedung serbaguna milik sahabatnya yang telah selesai dibangun. Mereka hadir sebagai tamu undangan penting yang diundang secara khusus. Affan tidak bisa menolak undangan itu dan rela menggeser jadwal lain demi Pak Aan, sahabatnya.
"Semoga kita bisa sampai di sana tepat waktu," ucap Affan saat berada dalam perjalanan.
"Pasti bisa, Boss. Setelah jam istirahat jalanan tidak macet. Kita bisa sampai di sana dalam waktu kurang dari tiga puluh menit," ucap Bimo mengira-ngira.
"Semoga saja."
Mobil yang mereka kendarai memang berjalan lancar menuju ke lokasi. Persis seperti perkiraan Bimo, mereka sampai kurang dari setengah jam. Acara belum di mulai tetapi sudah banyak tamu penting yang berkunjung ke sana.
Pak Aan meminta Affan dan Bimo untuk duduk di kursi bagian depan. Mereka duduk bersama dengan wali kota dan beberapa pembesar lainnya. Sebentar lagi acara akan segera di mulai sehingga Affan tidak banyak mengobrol lagi.
Affan membuka pesan di ponselnya. Dia menerima beberapa berkas penting dan pesan dari klien. Karena terlalu fokus dengan ponselnya dis tidak melihat saat Pak Aan datang menghampirinya bersama putri semata wayangnya.
Bimo menepuk lengan Affan pelan untuk memberitahu tentang kedatangan Pak Aan dan putrinya kepada Affan. Affan pun segera menyimpan ponselnya dan melihat ke arah Pak Aan. Dia sangat terkejut saat melihat wanita yang sedang berjalan dengan rekan bisnisnya tersebut.
Bukan hanya Affan, wanita itu pun terkejut saat tahu jika pria yang bertemu dengannya semalam adalah rekan bisnis ayahnya. Dia terlihat sangat malu dan berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Namun, Affan sudah terlanjur mengenalinya sebagai sosok yang telah menghina istrinya.
"Maaf, Pak Aan aku tiba-tiba ada kepentingan yang mendadak. Maaf aku tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai," ucap Affan sambil menahan diri agar tidak emosi.
"Kog, tiba-tiba, pak?" tanya Pak Aan terlihat kebingungan.
Bimo merasa ada yang tidak beres dengan Boss nya. Sebelumnya dia begitu bersemangat untuk datang ke acara ini tapi tiba-tiba dia ingin pergi secepatnya. Dia lalu mengamati keadaan di sekitarnya dan mencari penyebab keanehan Affan yang tiba-tiba.
"Apakah kamu tidak menyukai putri Pak Aan, Boss?" bisik Bimo saat Pak Aan sedang menjawab pertanyaan tamu lain.
"Bisa di bilang begitu. Dia sangat tidak sopan. Semalam dia sudah menghina istriku," jelas Affan lalu pergi dari sana.
Bimo tidak enak dan tidak memiliki alasan lain untuk ikut pergi dari sana. Terpaksa dia tinggal dan mengikuti acara hingga selesai. Dia terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya saat Affan pergi dari sana terlebih dahulu.
'Huft! Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sudahlah, aku nikmati saja acaranya.' Bimo tidak ingin ambil pusing lagi dengan kepergian Affan. Dia pun mengikuti acara peresmian hingga selesai.
"Tunggu, Pak Bimo! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Anda setelah ini," ucap Pak Aan saat melihat Bimo akan pergi bersama tamu lainnya.
"Baik, Pak." Bimo kembali duduk.
Setelah Pak Aan selesai mengantar tamu-tamunya pulang, dia pun datang menghampiri Bimo. Wajahnya terlihat serius. Dia sudah bersahabat sangat lama dengan Affan sehingga dia tau banyak tentang sifat-sifatnya.
"Pak Bimo, tolong kamu jawab dengan jujur. Apakah kamu tahu apa yang menyebabkan Pak Affan tiba-tiba pergi dari acara ini?" tanya Pak Aan.
Bimo terlihat bingung mau menjawab apa. Di satu sisi dia ingin jujur pada Pak Aan tapi di sisi lain dia takut jika ucapannya itu akan menyinggungnya. Dia terlihat salah tingkah dan bingung mau mengatakan apa.
"Maaf, Pak. Saya harap Anda tidak tersinggung jika saya menyampaikan apa yang saya tahu. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung Anda, sungguh." Bimo masih ragu untuk menceritakan alasan Affan yang tiba-tiba pergi dari sana.
"Tidak, Pak. Aku janji. Aku tidak akan tersinggung atau menyalahkan siapa pun. Sudah sangat lama saya bersahabat dengan Pak Affan. Saya tidak ingin kehilangan rekan bisnis sebaik dia," ucap Pak Aan.
Bimo mengangguk sambil mengatur nafasnya sebelum bercerita.
"Begini Pak, ini tentang putri bapak, Laura. Semalam dia bertemu dengan Pak Affan dan keluarganya. Maaf, ya, Pak, maaf banget sebelumnya. Pak Affan bilang jika putri Pak Aan sudah menghina istri beliau." Bimo merasa ragu apakah Pak Aan akan memaklumi putrinya atau justru memarahinya.
Pak Aan cukup syok dengan kabar yang diberikan oleh Bimo. Dia terlihat sedang menimbang-nimbang. Rasanya sulit dipercaya jika putri kesayangannya melakukan hal itu. Tetapi dia juga tahu jika Affan juga tidak mungkin mengada-ada.
__ADS_1
****
Bersambung ....