Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 86. Kedatangan Faya


__ADS_3

Pengaruh obat yang diminum oleh Aira mulai memudar sesaat sebelum maghrib. Kepalanya terasa berat ketika dia terbangun dan tubuhnya terasa sangat kaku. Affan terlihat sedang mengaji di sudut ruang perawatannya.


Nyeri di bahunya mulai terasa. Meskipun luka tidak terlalu dalam tetapi mengenai sendi di bagian tepi. Setiap kali bergerak Aira akan merasakan sakit yang luar biasa.


Awalnya dia ingin bangun lalu duduk tetapi urung dia lakukan. Dia tidak bisa menahan rasa sakitnya dan memilih kembali untuk berbaring. Gerakan Aira menimbulkan suara berdecit dari ranjang yang dia tempati.


Affan menoleh dan melihat selang infus dan tiangnya bergerak. Dia berpikir jika Aira sedang membutuhkan sesuatu. Dengan cepat Affan beranjak dan menyimpan Al-Qur'an rumah sakit lalu pergi menghampiri Aira.


"Sayang, kamu sudah bangun. Apakah kamu ingin minum atau makan?" tanya Affan.


Aira mengangkut pelan sambil tersenyum.


"Aku ingin minum tapi belum merasa lapar," ucap Aira.


Affan mengecup kening Aira penuh kasih sayang.


"Tunggu di sini! Aku akan mengambilkannya untukmu." Affan pergi ke tempat di mana dia menyimpan air mineral dan makanan ringan yang dia pesan dari Hendro.


"Terimakasih, Mas."


Affan mengangguk sambil berlalu.


Ada sebuah meja khusus di tepi ruangan dekat pintu masuk. Di sana Affan meletakkan barang-barang miliknya. Affan juga mengambil sebungkus kecil biskuit meskipun Aira tidak memintanya.


"Makanlah waktu sebelum makan malam tiba. Sebenarnya tadi rawat sudah membawakannya tetapi aku memintanya untuk membawanya kembali. Jika kamu merasa lapar aku akan meminta mereka mengantarkannya sekarang." Affan membantu Aira untuk duduk.


Aira meringis menahan nyeri meskipun dia sudah bergerak secara perlahan.

__ADS_1


"Apakah kamu masih merasa sakit? Aku akan memanggil dokter dan memintanya milik selalu kamu kembali."


Aira menarik tangan Affan. Suaminya itu memiliki kekhawatiran yang berlebihan. Dia harus menenangkannya agar tidak terlalu cemas.


"Tidak usah, Mas. Hanya sedikit nyeri saja pasti akan hilang setelah aku minum obat. Luka seperti ini hanya bertahan dua atau tiga hari saja. Setelah luka luarnya mengering tidak akan terasa sakit lagi," jelas Aira.


"Tapi Aira ...." Ucapan Affan terhenti ketika melihat Aira menggelengkan kepalanya.


"Diperiksa berulang-ulang malah akan membuat aku semakin merasa sakit. Setiap rasa sakit menguji kita untuk selalu bersabar dan bersyukur atas nikmat kesehatan. Aku ikhlas menerimanya, Mas." Aira tersenyum lembut.


Kecemasan Affan mereda. Dia lalu membantu Aira minum dari botol yang telah dibukanya. Sikap Affan yang sangat perhatian dan lembut membuat Aira tidak henti-hentinya bersyukur telah diberikan jodoh sepertinya.


Usia yang terpaut jauh nyatanya tidak menghalangi mereka untuk saling mencintai. Keduanya saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Meskipun diawali keterpaksaan mereka bisa melewatinya dengan penuh keikhlasan.


Baru saja Affan membuka pembungkus biskuit untuk Aira, tiba-tiba terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. Affan dan Aira saling berpandangan. Mereka sama-sama tidak tahu siapa orang yang datang mengunjungi Aira.


Sebenarnya Aira merasa sangat penasaran tetapi dia tidak bisa menebak siapa yang datang. Senyumnya merekah ketika mendengar ucapan salam dari orang yang sangat dikenalnya. Faya langsung berlari menuju ke tempat tidur Aira dan merentangkan tangan untuk memeluknya erat.


"Hati-hati, Sayang! Bahu kanan mamamu terluka!" teriak Affan.


Hampir saja Faya melakukan kesalahan. Beruntung tubuhnya belum mencapai tubuh Aira. Faya segera menghentikan aksinya dan memeluk Aira dengan hati-hati.


Faya tidak kuasa menahan air matanya. Dia tidak bisa membayangkan jika Aira mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Setelah sekian lama dia baru melihat kebahagiaan di wajah ayahnya karena menikahinya.


"Sudahlah! Jangan bersedih, Faya. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil." Aira mengusap kepala Faya yang masih terisak di dalam pangkuannya.


Faya mendongakkan kepalanya lalu menyeka air mata yang masih menggenang di pipinya. Baginya Aira bukan hanya sekedar ibu sambung tetapi dia juga sahabat yang sangat disayanginya. Ketika Aira merasa sakit maka Faya pun turut merasakannya juga meskipun dia tidak memiliki luka yang sama.

__ADS_1


"Luka kecil kalau dibiarkan juga bahaya, Ma. Tante Sintya memang tidak berperasaan. Sejak awal kedatangannya aku sudah menduga jika dia adalah perempuan yang sangat licik. Tidak kusangka jika dia juga sangat kejam. Aku akan menuntutnya jika sampai terjadi apa-apa dengan mama dan calon adikku." Faya meluapkan kekesalannya.


Affan mengusap punggungnya mencoba menenangkan.


"Apakah tante Sintya sudah tertangkap, Ayah?" tanya Faya.


"Sudah. Dia sudah ditahan sekarang, kamu tidak perlu khawatir dia akan mengganggu mamamu lagi. Semoga hukum akan berlaku dan adil dan memberikannya balasan yang setimpal atas kejahatan yang dilakukannya." Affan tidak menceritakan semua tentang Sintya kepada Faya dan Aira.


"Syukurlah! Semoga saja tante Sintya mendapatkan hukuman yang berat. Melihat gerak-geriknya saja sebenarnya aku susah tahu jika dia bukan wanita baik-baik. Seandainya menikah dengan ayah dia pasti akan menyiksaku jika aku tidak mematuhinya." Faya meluapkan kekesalannya.


"Jangan libatkan ayah dalam drama kekesalanmu, Sayang. Kamu pikir dia tipe ayah? Sedikit Ayah tidak tertarik padanya," jelas Affan.


Di tengah obrolan mereka, seorang perawat datang membawakan makanan untuk Aira. Di belakangnya dokter jaga dan seorang asisten juga datang untuk memeriksa keadaan Aira. Affan dan Faya menepi ke samping agar dokter bisa leluasa memeriksa Aira.


Faya tidak beranjak dari tempatnya dan melihat secara langsung apa yang akan dilakukan oleh dokter. Rupanya rupanya menutupi luka di bahu Aira juga harus diganti. Dia bisa melihat dengan jelas luka yang masih basah dan sedikit terbuka meskipun sudah dijahit.


Awalnya dia biasa saja tetapi lama-lama dia tidak tahan. Faya ikut merasa ngilu setiap kali melihat Aira meringis sambil merintih pelan. Proses ini berlangsung cepat agar Aira tidak merasakan sakit yang berlebihan.


"Dok, istri saya masih merasa kan nyeri setiap kali dia bergerak. Tolong berikan obat yang bisa membuatnya merasa nyaman. Aku sangat khawatir jika istri dan salon anakku menderita." Affan mendesak dokter untuk menyembuhkan Aira secepat mungkin.


"Tuan tidak perlu khawatir. Ini hanyalah luka ringan yang bisa sembuh dalam waktu 2 atau 3 hari. Aku melihat luka basah yang ada di bahu Nyonya sudah mulai mengering. Saya tidak berani memberinya obat dengan dosis yang lebih tinggi mengingat Nyonya sedang hamil besar. Kemungkinan obat tersebut akan berpengaruh pada jamin yang dikandungnya," jelas dokter pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Ada perasaan kecewa di dalam anggukan Affan tetapi dia terlihat pasrah. Dia akan selalu menemani Aira hingga istrinya itu tidak sakit lagi ketika bergerak.


Di luar ruangan Aira terdengar suara gaduh. Terdengar suara seorang wanita berbicara dengan sangat kencang.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2