
Affan tidak henti-hentinya mengucap syukur atas segala nikmat yang dia dapatkan. Setelah menduda selama delapan belas tahun akhirnya dia kembali menikmati indahnya berumah tangga.
Semula dia berpikir jika Roland telah mengambil kegadisan Aira dan ternyata dirinya yang pertama. Affan tidak bisa berkata-kata dan hampir menangis karena bahagia.
Mulai malam itu, dia berjanji untuk menjaga Aira dengan nyawanya dan membahagiakannya semampu yang dia bisa.
Di tengah kebahagiaan yang dirasakan oleh Affan terbersit kekhawatiran dan rasa takut kehilangan. Kematian Kayra masih terus membayang dalam ingatannya.
Namun, Affan mencoba berpikir positif dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Jika Aira ditakdirkan hamil, dia akan memperhatikannya dan menjaganya dengan baik.
Malam itu, Aira tidur di pelukan Affan seperti malam-malam biasanya tetapi dengan perasaan yang tidak biasa.
"Terimakasih, Aira. Jangan pernah meninggalkanku. Dengan bismillah aku meminangmu meskipun saat itu tidak ada cinta di antara kita. Malam ini dengan bismillah aku mencintaimu dan akan menjaganya hingga akhir hayatku." Affan berbicara di tengah nafasnya yang memburu.
"Alhamdulillah. Aku bersyukur memiliki suami yang sholeh dan penyayang sepertimu, Mas. Terimakasih juga telah menjagaku dan menyayangiku dengan tulus." Aira mempererat pelukannya.
Affan mengecup pucuk kepalanya dan membalas pelukan Aira tanpa banyak bicara lagi. Keduanya terlelap dalam perasaan yang bahagia.
***
Pagi hari,
Faya tidak melihat ayah dan ibu sambungnya yang biasanya sudah berada di meja makan sebelum dia turun dari kamarnya.
"Bi, ayah sama mama kog tumben belum turun, ya? Aku ingin tahu keadaan mama setelah penculikan." Faya melihat ke arah pintu kamar Affan yang masih tertutup.
"Sejak kepulangannya semalam, tuan dan nyonya belum keluar, Non," jawab Bi Sumi.
"Iya, Bi. Biar mereka istirahat dulu." Faya akhirnya memilih untuk mengambil sarapannya dan bersiap pergi ke sekolah.
__ADS_1
Meskipun sangat ingin tahu keadaan Aira, tetapi dia ingin menjadi anak baik dan tidak mengganggunya. Perasaan bersalah begitu mengganggu pikirannya, dia menganggap dirinya lah yang penyebab penculikan itu.
Faya hanya sarapan sedikit dan meminta Bi Sumi untuk membawakannya bekal.
Saat dia bersiap untuk berangkat ayahnya muncul dari kamarnya seorang diri dengan pakaian sehari-hari.
Kening Faya berkerut saat melihat penampilan ayahnya. Namun, bukan saatnya untuk protes atau meledeknya.
"Assalamualaikum, Ayah. Bagaimana keadaan mama?" tanya Faya sambil menyalami tangan Affan.
"Wa'alaikum salam. Aira baik-baik saja dan sedang beristirahat. Ayah akan menemaninya hari ini. Mungkin dia sedikit trauma."
Faya mengangguk lalu berpamitan untuk pergi ke sekolah. Dia bersyukur saat mengetahui keadaan ibu sambungnya itu baik-baik saja.
Affan meminta Bi Sumi untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Aira untuk dibawa ke kamar. Meskipun Aira tidak mengalami kondisi yang memprihatinkan, Affan memperlakukannya dengan baik setelah melayaninya.
Tentu dia sangat lelah karena melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali setelah hampir tiga bulan menikah.
"Mas Affan kenapa repot-repot membawakan sarapan. Apa tidak sebaiknya kita sarapan di ruang makan saja?" tanya Aira beranjak dari duduknya dan membantu Affan menata makanan di atas meja.
"Aku tidak ingin kamu keluar kamar selama aku dirumah." Affan menatap Aira dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Aira tidak bertanya lagi dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Hari ini kita harus pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Setelah itu ...." Affan menghentikan ucapannya yang membuat Aira penasaran dan menatapnya. "Aku akan membawamu pergi ke suatu tempat."
Sama saja. Affan tidak memberitahukan ke mana dia akan mengajak Aira untuk pergi.
Para penculik yang membawa Aira berhasil di tangkap, begitu juga dengan Roland. Namun, Roland ditahan di tempat yang berbeda karena dia tersandung kasus keimigrasian dan terancam dideportasi.
__ADS_1
Affan juga tidak ingin jika mereka berada di dalam satu tempat dengan Roland. Aira mengungkapkan apa yang dia alami kepada polisi sebagai pertimbangan hukum untuk Roland dan komplotannya.
Setelah selesai dengan urusan di kantor polisi. Affan membawa mobilnya menuju ke tempat yang dijanjikan pada Aira.
Aira beberapa kali bertanya kepada Affan ke mana mereka akan pergi, tetapi Affan tidak mau memberitahunya.
Perjalanan yang cukup jauh membuat Aira merasa mengantuk. Affan memintanya untuk tidur dan akan membangunkannya ketika mereka sudah sampai.
Di rumah Amanda,
Hari ini Amanda juga tidak pergi ke kantor. Dia mengalami sakit kepala dan mual-mual.
"Bi ... Bi Asih!" panggil Amanda dari dalam kamarnya.
Dengan susah payah Amanda berjalan ke arah pintu dan berdiri sempoyongan.
"Iya, Non." Bi Asih tampak berlari-lari kecil menghampiri Amanda.
"Tolong buatkan saya minuman hangat! Eh, panggil Dokter Diana dulu baru bikin teh herbal." Amanda kembali menutup mulutnya dan menahan rasa mual.
"Nona sakit apa?" tanya Bi Asih khawatir.
Amanda tidak sanggup lagi menjawabnya dan segera berjalan cepat menuju wastafel. Hanya tangannya saja yang memberi kode pada Bi Asih untuk segera melakukan apa yang dia minta.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.
__ADS_1