
Aira melihat bayangan wajah Affan di layar ponselnya. Dia lalu berpaling ke arah belakang dan mendapati suaminya sudah kembali.
'Pantas saja Faya tidak jadi ngomong. Rupanya Mas Affan sudah di sini.' Aira segera menyadari apa yang terjadi.
"Kamu mau bicara dengan ayahmu?" tanya Aira.
Dia tidak ingin Faya tahu jika hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sebisa mungkin dia mencoba untuk menutupinya. Baginya ini bukanlah masalah yang besar.
"Tidak-tidak! Kalian lanjutkan saja. Aku cuma ingin tahu kalian di mana, kok." Faya merasa tidak enak. Dia percaya jika ayahnya menjaga Aira dengan baik.
"Ya, sudah kalau begitu. Kami mau bersiap untuk pulang." Aira tidak ingin berlama-lama di sana.
"Oke, Mama. Bilang sama ayah suruh hati-hati!" seru Faya.
"Siap, Sayangku. Assalamu'alaikum." Aira bersiap untuk mematikan telepon.
"Wa'alaikumsalam."
Panggilan mereka berakhir. Namun, Faya masih mengiriminya banyak pesan. Dia memintanya untuk membawakan beberapa makanan kesukaannya.
Aira menunjukkan ponselnya pada Affan untuk memperlihatkan pesan Faya. Affan membaca pesan-pesan Faya lalu menggeleng dan tersenyum. Dia tidak tahu apa yang baru saja dilalui oleh Aira saat dia berada di lantai dua.
"Apakah kamu ingin pulang sekarang?" tanya Affan.
Aira mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah! Aku akan meminta pesanan Faya dibuatkan. Kamu mau menunggu di sini atau ikut?" tanya Affan sambil memberikan ponselnya pada Aira.
"Aku ikut saja. Nanti sekalian pulang." Aira menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Hmm." Affan mengangguk lalu menggandeng tangan Aira dan membawanya berjalan menuju ke dapur kafe.
Sikap Aira sedikit berubah. Dia lebih banyak diam meskipun tetap ramah dan selalu tersenyum pada siapapun. Hingga pesanan mereka selesai pun, Affan belum menyadari akan kesedihan istrinya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan Aira lebih banyak terdiam. Tidak seperti ketika dirinya sampai di sana. Affan berpikir jika Aira hanya sedang lelah saja.
"Sayang, apa kamu lelah?" tanya Affan sambil menatap lembut Aira.
Aira mengalihkan pandangannya yang semula menatap keluar jendela kini menoleh pada Affan.
"Tidak, Mas. Aku hanya ingin menikmati pemandangan malam. Sudah lama kita tidak pergi ke luar." Aira berusaha tersenyum lalu kembali menatap ke luar jendela mobilnya.
Meskipun Aira bersikap baik dan tersenyum padanya tetapi dia merasa ada yang janggal. Sikapnya terlihat aneh dan terkesan dipaksakan. Jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
"Apakah kamu marah padaku?" tebak Affan.
Aira kembali menoleh ke arah Affan dan menggeleng. Kali ini tidak tersenyum. Bibirnya tertahan ketika ingin mengatakan isi hatinya.
Saat air matanya hampir jatuh, dia buru-buru memalingkan wajahnya ke samping. Dia tidak ingin Affan melihatnya menangis. Di satu sisi dia bersedih dan di sisi lain dia tidak bisa menyalahkan Affan karena masih terjebak dalam kenangan.
Tingkah aneh Aira membuat Affan merasa semakin curiga. Tangannya meraih bahu Aira dan membuatnya menoleh padanya. Affan segera memeluk Aira ketika melihatnya menangis.
Aira membalas pelukan Affan dan memperdalam tangisnya. Sejauh apapun yang dilakukannya tetap saja tidak mampu menggantikan sosok Kayra di hati Affan. Meskipun Affan menyayanginya tetapi Aira merasa jika dirinya tidak sebanding dengan cinta pertama suaminya.
"Aku memang belum sepenuhnya bisa melupakan Kayra. Tapi bukan berarti aku tidak menyayangimu. Kalian adalah sosok berbeda yang sama-sama istimewa buatku. Aku menyayangimu lebih dari yang kamu bayangkan Aira." Affan mengecup kepala Aira yang terbungkus jilbab dengan lembut.
Kali ini dia merasa kalah. Kekhilafannya melukai hati wanita yang sangat disayanginya. Tidak ada yang lebih besar dari rasa penyesalan di hatinya.
Aira mengurai pelukannya dan menatap wajah Affan yang terlihat sedih. Tidak banyak yang bisa dilakukannya selain memaafkannya. Namun, Aira tidak ingin terlihat lemah dan mudah ditaklukkan oleh pria.
Semenjak hamil, Aira memiliki sifat yang berubah-ubah. Terkadang dia sangat malas dan tidak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. Seperti juga yang dirasakannya saat ini yang tidak segan untuk membuat para wanita penggoda menjauh dari suaminya.
"Aku menyayangimu setulus hati, Mas. Kumohon jangan terjebak dalam perasaan di masa lalu yang memenjarakanmu dan membuatmu terpuruk." Aira mengatakan isi hatinya pada Affan.
"Aku janji. Aku akan berusaha membahagiakanmu tanpa bayang-bayang masa lalu. Maafkan aku, Sayang," ucap Affan lembut.
Aira memberikan jawaban dengan sebuah anggukan. Bibirnya masih merasa kelu untuk mengucapkan kata-kata. Sebagai wanita, sebesar apapun rasa sakit, dia akan memiliki hati yang luas untuk memaafkan pasangannya.
__ADS_1
Mereka kembali berpelukan untuk merayakan hati mereka yang telah berdamai dengan kenyataan. Namun, di tengah rasa damai yang mereka rasakan tiba-tiba sebuah goncangan membuat mereka terkejut.
Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan tidak terkendali saat sopir mereka menghindari mobil yang tiba-tiba muncul di depannya. Di belakangnya beberapa mobil polisi mengejar mobil yang hampir saja membuat mereka mengalami kecelakaan.
Aira merasa ketakutan dan memegangi perutnya yang ikut merasa tegang. Affan melepaskan sabuk pengamannya dan mencoba menenangkan Aira. Dia memasang sabuk pengaman untuk Aira.
"Kamu juga harus memakainya, Mas." Aira masih gemetar meskipun laju mobil mereka sudah terkendali.
"Iya, Sayang. Kamu tenang saja. Aku akan segera memakainya lagi." Affan kembali memasang sabuk pengamannya.
Kini mereka hanya bisa berpegangan tangan. Affan merasakan tangan Aira begitu dingin. Mungkin karena dia masih merasa takut atas peristiwa yang baru saja mereka alami.
"Hati-hati, Pak! Aksi kejar-kejaran sepertinya masih berlangsung. Tidak masalah menyetir dengan lambat asalkan kita selamat," pinta Affan.
"Baik, Tuan. Tangan saya juga sampai gemetar sampai sekarang." Sopir Affan mengatakan apa yang dirasakannya.
Belum kering mulut mereka bicara sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mobil yang mereka kendarai. Sopir Affan kembali dihadapkan dengan kesulitan mengingat hal janggal kembali terjadi.
Mobil Affan mundur sebentar lalu mengambil jalanan kosong di samping mobil yang tengah berhenti. Mereka menunggu kesempatan mengingat jalanan yang begitu ramai. Sopir Affan mengendarai mobilnya dengan perlahan dan harus mengalami kendala lagi.
"Astaghfirullah hal adzim!" pekik sopir Affan sambil terjingkat.
Affan dan Aira pun terkejut dan berusaha menahan tubuhnya ketika mobil mereka mengerem secara mendadak. Seorang wanita muncul dan menghadang mobil mereka dengan merentangkan tangannya.
"Siapa wanita gila itu? Apakah dia tidak tahu jika dia ini berbahaya? Cari mati saja." sopir Affan kembali menghentikan mobilnya.
Wajah wanita yang menghadang mereka belum terlihat jelas. Affan dan Aira memperhatikannya dengan seksama. Betapa terkejutnya mereka saat mulai mengenali wajah wanita itu.
"Sintya!" pekik Affan dan Aira bersamaan.
****
Bersambung ....
__ADS_1