Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 97. Panggil aku "Om"


__ADS_3

Bimo sadar jika dia telah salah bicara. Dia lalu mencari topik lain agar Affan melupakan ucapan sebelumnya. Namun, rasanya itu sulit karena Affan sudah terlanjur mendengarnya.


Usia Aira ketika hamil saat ini sedikit lebih muda dari usia Kayra saat mengandung Faya. Inilah yang menjadi alasan ketakutan Affan. Di masa lalu dokter menyebutkan jika kehamilan di usia muda dan minimnya pengalaman pasangan muda bisa menyebabkan masalah yang rentan.


"Maafkan aku, Boss. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkan mu pada kenangan buruk masa lalumu. Jaman sudah berubah, Boss tidak perlu khawatir. Alat kesehatan sekarang sudah sangat canggih, sangat sedikit persalinan yang gagal." Bimo mencoba menenangkan Affan setelah topik yang dibahasnya gagal mendapatkan perhatian.


Kali ini Affan menatapnya. Perkataan Bimo menumbuhkan harapannya untuk bisa menghilangkan sedikit demi sedikit rasa takut yang selalu hadir menghantuinya. Kenangan buruk membuatnya terpuruk dan sulit untuk bangkit hingga dia bertemu dengan Aira.


Affan berharap Aira akan menjadi pelabuhan terakhirnya dan menemaninya hingga maut memisahkan.


"Kuharap apa yang kamu katakan benar. Tidak lupa aku selalu berdoa untuk anak dan istriku. Terkadang rasa takut itu menghantui tetapi di sisi lain aku percaya setiap orang memiliki takdir yang berbeda. Jika Kayra ditakdirkan meninggalkanku secepat itu, aku percaya jika Aira tidak akan melakukan hal yang sama. Semoga saja dia diberi umur panjang dan menemani ku melewati masa tuaku." Affan berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


Ucapkan Affan yang begitu dalam membuat Bimo merasa terharu. Sangat jarang sosok seperti Affan. Seseorang yang memiliki ketampanan, kekayaan dan semua hal yang diimpikan oleh semua wanita bisa bertahan menduda hingga belasan tahun lamanya.


Tidak ingin kesedihan Affan berlarut-larut, Bimo memikirkan cara untuk mengalihkan pembicaraan.


"Diminum kopinya, Boss. Nanti keburu dingin." Bimo mendekatkan kopi milik Affan.


"Terimakasih. Ayo kita minum lalu pulang." Affan mencoba tersenyum di tengah kegetiran hatinya.


Bimo mengangguk lalu menyeruput kopinya yang masih panas. Hatinya merasa lega setelah melihat wajah Affan sudah sedikit tenang. Baginya Affan bukanlah sekedar Boss melainkan juga seorang teman yang menyenangkan.


Menjelang jam pulang kerja tiba, mereka segera bersiap. Dua pria yang sayang istri ini tampak begitu senang jika bisa pulang lebih awal. Mereka jauh dari yang namanya tempat hiburan dan hura-hura.


"Kita pulang sekarang, Bim!" ajak Affan.


"Sebentar, Boss. Jam pulang kerja masih lima belas menit lagi. Aku tidak ingin pegawai lain menganggap ku diperlakukan secara istimewa. Lagi pula lima belas menit tidaklah terlalu lama." Bimo menggunakan sisa waktunya untuk merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan.


"Baiklah! Kalau begitu aku pergi duluan. Sampai besok, assalamualaikum," pamit Affan.


"Wa'alaikum salam." Bimo kembali fokus dengan pekerjaannya membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja.


Sebenarnya Bimo memiliki ruangan tersendiri tetapi Affan sering memintanya untuk bekerja di ruangan miliknya. Menurutnya hal ini lebih efektif dan bisa menghemat tenaga dan waktu. Hampir semua pekerjaan selalu mereka kerjakan secara bersama-sama.


Pengawal bayangan yang mengikuti Affan masih berada di sekitarnya. Mereka segera bersiap saat melihat Affan keluar dari kantor. Keberadaan mereka tidak diketahui oleh penghuni kantor, hanya Bimo dan Affan saja yang mengetahuinya.


"Kita kemana, Tuan?" tanya Pak Sapto.


"Langsung pulang saja, Pak. Bismillah, semoga kita dijauhkan dari mara bahaya yang mungkin saja datang tanpa kita ketahui." Affan berdoa sebelum berangkat pulang.


"Aamiin." Pak Sapto lalu mengemudikan mobilnya keluar dari kantor.


Meskipun baru sekali melihatnya, Pak Sapto hafal dengan pengendara motor yang mengikuti mobil mereka. Salah seorang di antaranya adalah anggota bodyguard yang menyapanya setelah tragedi penyerangan. Hatinya merasa sedikit tenang dengan keberadaan mereka.


Jalanan kota mulai macet mengingat sudah jam pulang kerja. Laju mobil Affan berjalan lambat dan mungkin akan sedikit terlambat untuk sampai di rumahnya. Mobil mereka berhenti cukup lama setiap menemukan lampu merah.


Di sepanjang jalan Affan melihat banyak sekali anak-anak kurang beruntung yang sedang mengamen atau menjajakan berbagai macam produk di pinggir jalan. Sebenarnya setiap hari mereka ada di sana tetapi Affan tidak memperhatikannya seperti hari ini. Rasa iba merayap di hatinya dan membuatnya berpikir bagaimana cara membantu anak-anak itu.


Bantuan tunai yang diberikan secara langsung menurutnya kurang efektif. Harumnya uang terkadang membuat seseorang lupa akan pesan pemberinya. Seringkali mereka menggunakannya untuk kebutuhan sekunder meskipun kebutuhan primernya belum terpenuhi.


Banyaknya panti asuhan yang ada di kota ini tidak mampu menjangkau seluruh anak kurang mampu yang masih memiliki orang tua. Affan berpikir untuk bisa membantu mereka bersekolah. Namun, hal yang lebih sulit bukan itu, dia harus meluruskan pemahaman anak-anak tersebut tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka.


'Rasanya aku akan merasa sangat pusing jika memikirkannya sendirian. Mungkin, Aira dan Faya bisa membantuku untuk memikirkannya. Selain untuk keluargaku, aku akan membelanjakan hartaku untuk tabungan akhirat. Mungkin dengan begini, dosaku akan sedikit berkurang.' Affan terus menatap ke luar jendela meskipun mobilnya sudah tidak melalui jalan yang biasa dipenuhi anak-anak.


Menjelang magrib mereka baru sampai di rumah. Safira dan Sarah terlihat sedang bermain di halaman ketika dia pulang sedangkan Aira duduk sambil mengawasi mereka di kursi teras. Keceriaan dua bocah itu sudah kembali setelah kepergian Hana.


Safira sepertinya belum mengerti tentang kepergian mamanya sedangkan Sarah terlihat lebih ikhlas. Sesekali dia terlihat sedang melamun. Mungkin keberadaan Safira membuatnya menjadi lebih kuat dan berkeinginan kuat untuk menjaganya.


Aira berdiri menyambut kedatangan Affan. Ketika menyadari kedatangannya, Safira berlari-lari kecil menyambutnya. Entah Safira menganggap siapa Affan, dia terlihat sangat senang ketika melihatnya datang.

__ADS_1


"Papa ... papa ...." Mulut kecil Safira dengan lancar memanggil Affan dengan sebutan papa.


Semua orang terlihat tegang terutama Sarah. Dia merasa tidak enak ketika adiknya memanggil Affan dengan sebutan papa. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya membiarkannya saja.


Sementara itu, Affan berpikir akankah panggilan ini akan menyakiti hati Aira dan Faya atau tidak. Mereka memang mengasuh dan membiayai kedua anak Hana tetapi tidak ada pembicaraan untuk mengangkatnya sebagai anak. Kedua anak Hana masih memiliki seorang ayah yang menjadi walinya sehingga mereka tidak bisa sembarangan mengadopsi mereka tanpa persetujuan darinya.


"Aku tidak akan marah hanya karena seorang anak kecil memanggilmu ayah," ucap Aira seperti tahu arti dari sikap diam Affan.


Setelah mendengar ucapan Aira, Affan segera menggendong Safira yang terlihat kebingungan dengan sikapnya.


"Panggil aku, Om Affan. Coba, Safira bisa tidak memanggilku Om?" Affan mengajari Safira dengan suara yang lembut.


"Om Apa," ucap Safira dengan suara cadelnya.


Affan tersenyum mendengar Safira menuruti perintahnya. Dia lalu mengulanginya sambil menggendong Safira berjalan ke dalam rumah. Meskipun sangat lelah tetapi Affan terlihat begitu sabar meladeni Safira yang mengajaknya untuk bermain.


'Mas Affan memang sosok pria yang penyabar. Dia pasti akan lebih sayang kepada anak kandungnya kelak.' Aira bermonolog dalam hati.


Setelah bercanda cukup lama dengan Safira, Affan menyerahkannya kembali pada baby sitter yang merawatnya.


"Om Affan mau mandi terus sholat magrib dulu, ya. Safira main sama embaknya." Affan berpamitan pada Safira, dia lalu beralih menatap Sarah.


"Sarah, jangan lupa sholat lima waktu, ya. Kamu bisa mengajak Kak Faya jika dia ada di rumah." Affan meminta Sarah untuk menjaga ibadahnya juga.


"Iya, Om." Sarah masih malu-malu saat berhadapan dengan keluarga barunya.


Aira mengikuti Affan ke kamarnya dan membantunya menyiapkan baju ganti untuknya. Sebenarnya Affan masih melarangnya untuk banyak bergerak tetapi menurutnya ini adalah pekerjaan yang sangat ringan. Justru Aira malah merasa lelah jika hanya disuruh untuk diam saja.


"Terimakasih, Sayang." Affan mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Aira lalu pergi beribadah. Sebelum tidur dia akan memakai pakaian yang berbeda.


"Aku akan pergi ke depan dulu, Mas," pamit Aira.


"Hmm ... baiklah. Aku akan tetap di sini.


Aira telah sholat saat Affan mandi sehingga dia tidak tahu harus melakukan apa sambil menunggu Affan. Di atas meja ada sebuah kertas dann bolpoin, Aira mengambilnya dan menggambar sebuah pola. Dari kecil dia sangat senang mendesain dan berharap bisa mewujudkan rumah impiannya dari desain yang dibuatnya.


Karena terlampau asyik menggambar, Aira tidak menyadari jika Affan telah selesai dan berdiri di belakangnya.


"Bagus sekali, Sayang!" puji Affan.


Aira tersentak dan menjatuhkan pensilnya. Dia terkejut karena tidak tahu jika Affan sudah berdiri di belakangnya.


"Maaf. Mas ngagetin, ya? Aku pikir sudah tahu kalau aku sudah selesai." Affan menggaruk kepalanya sambil meringis.


"Huft! Aku tidak melihatmu, Mas. Tiba-tiba saja kamu muncul jadi aku terkejut." Aira berbicara sambil memegangi dadanya yang berdebar.


"Maaf." Affan kembali meminta maaf.


Aira mengangguk.


Setelah keterkejutan Aira sedikit mereda, Affan mengambil kertas di hadapan Aira. Meskipun belum selesai tetapi Affan sangat terpukau dengan desai yang dibuat oleh Aira. Detail ruangan yang dibuatnya terlihat sangat nyata dan sangat unik.


"Kamu sangat berbakat untuk membuat desai, Sayang. Jika kamu ingin melanjutkan kuliah, aku akan mendukungmu," ucap Affan sambil meletakkan kembali desain di tangannya.


Aira menggeleng.


"Aku sudah menikah dan tidak perlu lagi untuk kuliah. Allah sudah menetapkanku menjadi seorang istri dan ibu di usia muda, aku ikhlas tidak menjadi apa-apa, Mas." Aira merasa kuliah akan membuatnya lalai dari tugas-tugasnya sebagai seorang istri.


"Alhamdulillah. Aku sangat senang mendengarnya. Jika kamu tidak ingin kuliah dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah, kamu bisa menyalurkan hobimu ini untuk mengisi waktu luang. Desain yang kamu buat mungkin akan memberiku banyak ide untuk memberikan rekomendasi pada pengguna jasa kita, Sayang." Perusahaan Affan memang bergerak pada konstruksi dan desain interior.

__ADS_1


"Dengan senang hati aku akan melakukannya, Mas. Aku sangat senang menggambar desain interior. Mungkin karena dulu rumahku jelek jadi aku bercita-cita bisa memiliki rumah yang bagus sesuai keinginanku." Aira menceritakan alasannya menyukai hobinya.


"Apakah kamu memiliki rumah impian yang perlu aku wujudkan?" tanya Affan.


Aira menggeleng.


"Rumah ini sudah sangat megah dan indah. Aku sangat suka tinggal di sini. Rumah ini lebih indah dari sekedar rumah impian." Aira sudah sangat bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini.


Membangun rumah membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Aira tidak ingin memberatkan Affan dengan permintaannya. Dia tidak tahu dibalik gaya hidup Affan yang sederhana, dia memiliki kekayaan yang tidak terbayangkan olehnya. Mungkin jika dia tahu berapa uang yang dihabiskan untuk biaya rumah sakitnya dan Hana, Aira akan menjerit.


"Baiklah kalau begitu. Kamu bisa mengatakannya padaku jika berubah pikiran maka aku akan mewujudkan impianmu." Affan mengecup kening Aira penuh rasa sayang.


Mereka lalu pergi keluar untuk bersiap makan malam bersama. Faya dan Sarah sudah berada di ruang keluarga ketika mereka datang. Affan tersenyum saat melihat Sarah sudah mulai akrab dengan putrinya.


"Aku sudah sangat lapar, Ayah. Bagaimana kalau kita makan sekarang," ucap Faya ketika melihat kedatangan Affan dan Aira.


"Boleh. Ayo kita ke ruang makan sekarang." Affan menyetujuinya.


Mereka pergi bersama-sama ke ruang makan. Safira sudah tidak tampak di sana karena baby sitter-nya sudah membawanya ke kamar. Dia melatih Safira dengan berbagai stimulasi agar bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. Faya memilih baby sitter yang benar-benar berkualitas untuk Safira.


"Sarah, makanmu sedikit sekali?" tanya Aira saat melihat porsi makan Sarah.


"Ini sudah cukup, Tante." Sarah belum bisa makan banyak karena kesedihannya setelah kehilangan ibunya.


"Baiklah, jika kamu lapar, kamu bawa beberapa biskuit ke kamar, ya? Kamu bisa memakannya bersama mbak ... mbak siapa tadi baby sitternya Safira?" Aira menoleh ke arah Faya karena tidak berhasil mengingat-ingat namanya.


"Mbak Sifa," sahut Faya.


"Eh, iya, Mbak Sifa," ulang Aira.


"Baik, Tante." Sarah mengangguk.


Mereka menghentikan obrolannya dan melanjutkan makannya. Melihat sikap Sarah yang terlihat malu-malu, Aira berinisiatif untuk mengambilkan beberapa lauk untuknya. Bocah keturunan Indo-Turki itu terlihat sangat manis.


"Ma, Ayah, aku pergi ke kamar dulu, ya? Aku masih ada tugas yang harus aku selesaikan." Faya beranjak dari kursinya.


"Bukannya besok hari Sabtu?" Affan berpikir jika Faya tidak ada jadwal di hari Sabtu.


"Kuliah memang libur, Yah, tapi tugas harus tetap dikumpulkan dan dikirim lewat email," jelas Faya.


"O ...." Affan tidak lagi mendebat Faya.


Sarah yang juga telah selesai dengan makannya pun ikut berdiri. Dia memang sangat dekat dengan Faya.


"Aku ikut, Kak!" seru Sarah.


Faya tersenyum. Mungkin Sarah tidak terbiasa dengan Affan dan Aira dan dia memakluminya. Selama tinggal bersama dengan keluarganya, dia lebih dulu bertemu dengannya ketika Affan dan Aira masih berada di rumah sakit.


Setelah kepergian Faya dan Sarah, hanya tinggal Affan dan Aira saja di ruang makan. Wajah Aira terlihat sedih karena merasa jika Sarah tidak menyukainya. Namun, dia tidak berani untuk mengatakannya pada Affan.


"Kamu kenapa, Sayang? Kulihat kamu terlihat sedih?" tanya Affan.


"Ah, tidak, Mas!" elak Aira.


Affan menggeleng.


"Pasti ada yang kamu pikirkan sekarang? Jangan memendam masalahmu sendirian." Affan tahu betul sifat Aira, dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan atau kesedihannya.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2