
Affan mengangguk menanggapi ucapan Bimo tanpa menatap wajah Hana lagi. Berbeda dengan Hana yang hampir mengulurkan tangannya tetapi urung dilakukannya mengingat Affan yang tidak merespon.
"Maaf jika mengganggu waktu Anda, Tuan. Saya datang kemari karena secara tidak sengaja bertemu dengan sahabat saya." Hana menatap ke arah Bimo.
Affan mengangguk untuk menghargai ucapan Hana. Sebenarnya dia tidak terbiasa berakrab-akrab dengan orang yang baru ditemuinya. Mengingat dirinya adalah sahabat Bimo, Affan lebih menghargainya.
Bimo tahu betul seperti apa sifat Affan. Tidak ingin membuang waktu lagi dia pun segera menyusun kata-kata yang pas untuk menanyakan ketersediaan pekerjaan untuk Hana.
"Boss. Sebenarnya aku memiliki tujuan untuk membawa Hana kemari." Bimo mulai berbicara.
Kalimatnya yang ambigu membuat Affan menatapnya.
Bimo terlihat salah tingkah lalu kembali berbicara. Jika tidak diluruskan, kalimatnya yang belum lengkap bisa menimbulkan kesalahpahaman.
"Ah, itu, maksudku mengenai pekerjaan. Hana baru saja kembali dari Turki. Saat ini dia adalah seorang single parent. Bisakah kamu membantunya memberinya pekerjaan?" tanya Bimo hati-hati.
Affan terlihat sedang berpikir. Dia tidak segera menjawab pertanyaan Bimo. Di satu sisi dirinya ingin membantu Hana meskipun belum mengenalnya tetapi dia tidak tahu apa pekerjaan yang diinginkan oleh Hana.
"Aku tidak tahu pekerjaan yang cocok untuknya. Kulihat bagian personalia juga belum mengabarkan adanya kekurangan tenaga."
Jawaban Affan membuat Hana merasa sedikit kecewa tetapi dia berpikir positif.
'Aku tidak boleh menyerah. Jika aku tidak segera mendapatkan pekerjaan bagaimana aku harus mengurus kedua anakku. Tidak mungkin aku terus bergantung pada Bella.' Hana menatap Bimo yang juga terlihat bersedih setelah mendengar ucapan Affan.
"Aku tidak memiliki kemampuan khusus dan pengalaman kerja, Tuan. Jika boleh, aku hanya ingin melamar sebagai office girl." Hana berbicara dengan suara rendah, Anak digendongannya mulai terbangun.
Pemandangan itu membuat Affan merasa iba. Rasanya tidak tega melihat anak kecil yang kira-kira berusia dua tahun itu merasa sesak di dalam gendongan ibunya.
"Bimo, bawa dia ke dalam. Kita lanjutkan pembicaraan di ruanganku."
Di sekeliling mereka sudah mulai ramai. Para karyawan perusahaan sudah mulai berdatangan. Tidak ingin mengundang perhatian orang, Affan memilih melanjutkan obrolan di ruangannya.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengawasi mereka bertiga secara diam-diam di tempat yang tersembunyi. Petugas keamanan di perusahaan itu tidak menyadari keberadaannya.
Affan berjalan paling depan diikuti oleh Bimo dan Hana. Selama dalam perjalanannya putri Hana yang telah terbangun terlihat heran mengamati keadaan di sekelilingnya.
Mereka bertiga pun akhirnya sampai di ruangan Affan setelah melewati beberapa ruangan di lantai yang sama. Tatapan para pekerja membuat Hana merasa sedikit malu mengingat dia datang membawa seorang anak kecil.
Affan telah masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu sedangkan Bimo memegang gagang pintu untuk menunggu Hana yang masih terpaku di depan pintu.
"Sampai kapan kamu akan berdiri di situ. Masuklah!" seru Bimo sambil menatap Hana yang merasa canggung.
"Baiklah." Hana mengangguk dan berjalan memasuki ruangan.
Di dalam ruangan, Affan telah duduk di sofa yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Dia menunggu kedatangan Bimo dan Hana yang akan duduk di sofa yang lain.
__ADS_1
Mereka terdiam untuk beberapa saat sampai Affan memulai percakapannya. Di perusahaannya memang kekurangan tenaga serabutan, untuk itu Affan menerima Hana bekerja di sana.
Hana sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan. Mulai besok dia akan bekerja. Berapapun gajinya dia akan menerima asalkan dirinya bisa menghidupi kedua anaknya.
"Jika kamu bekerja lalu bagaimana dengan anakmu?" tanya Bimo yang sejak tadi merasa penasaran.
Hana terlihat sudah siap dengan jawabannya di mana dia akan menitipkan Safira pada pembantu Bella.
"Aku akan meninggalkannya di rumah Bella. Ada asisten rumah tangga yang akan menjaganya." Terlihat kekhawatiran di wajah Hana tetapi berusaha dia sembunyikan.
"Bagaimana kalau dia rewel?" tanya Bimo lagi.
Hana terdiam. Kali ini dia tidak memiliki solusi untuk mengatasinya.
Affan terlihat acuh tetapi sebenarnya sejak tadi dirinya memperhatikan obrolan keduanya.
"Kamu boleh membawanya bekerja selama tidak mengganggu pekerjaanmu," ucap Affan.
Hana dan Bimo saling berpandangan mereka tidak menyangka jika Affan akan berkata seperti itu. Mata Hana terlihat berkaca-kaca, akhirnya dia bisa bekerja untuk menghidupi kedua anaknya.
Setelah pertemuan itu, Affan meminta Bimo untuk menunjukkan ruang kerja Hana dan apa saja yang harus dilakukannya.
Kehadiran Hana dan anaknya mengundang orang-orang untuk bergunjing. Mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang karyawan baru itu. Banyak dari mereka yang berpikir jika Hana memiliki hubungan khusus dengan Bimo dan Affan.
Seseorang yang memata-matai apa yang terjadi di perusahaan Affan melapor kepada Sintya. Rupanya dia adalah orang yang dibayar olehnya untuk mengawasi Affan. Dia tidak tahu jika Affan juga melakukan hal yang sama padanya.
***
Beberapa kali terlihat Hana sedang menggendong Safira meskipun anak itu tidak rewel. Hana tidak tega meninggalkannya sendirian ketika dia sedang mengerjakan fotokopi dan lain-lain yang mengharuskannya keluar dari ruang kerjanya dalam waktu yang cukup lama.
Kinerja Hana selalu dipantau oleh Bimo kemudian dilaporkan pada Affan. Bagaimanapun juga dia yang membawa Hana dan merasa perlu untuk mengawasinya.
Di rumah Affan,
Aira sering merasa kesepian karena Faya sudah mulai kuliah. Meskipun di rumah ada Bi Sumi dan dua ART lainnya tetapi dia masih merasa sepi.
Beberapa kali Aira terlihat mondar-mandir sambil memegangi ponselnya. Suasana hati seorang wanita hamil memang sulit untuk ditebak. Terkadang dia terlihat biasa saja, tiba-tiba sedih dan tidak jarang pula tiba-tiba senang.
Ponsel Aira berdering dan menampilkan sebuah nama. Wajahnya terlihat begitu senang saat mengetahui siapa yang meneleponnya. Sebuah senyum manis merekah di bibir manisnya.
"Assalamu'alaikum, Mas Affan," jawab Aira ketika panggilan telepon mereka telah terhubung.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Lagi apa?" tanya Affan.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh siang, biasanya Aira sedang bersantai di ruang keluarga di jam-jam ini. Affan tersenyum saat membayangkan wajah istri kecilnya sedang duduk dengan perut buncitnya.
__ADS_1
Baru beberapa jam dia tidak melihat Aira tetapi hatinya sudah sangat rindu. Rasanya dia tidak sabar untuk pulang dan menemani istrinya.
"Sedang memikirkanmu. Di rumah sepi sekali, Mas. Faya belum pulang." Suara Aira terdengar sangat manja membuat Affan merasa gemas.
"Kamu mau ke sini? Sepertinya aku tidak ada jadwal meeting di luar hari ini."
Jawaban Affan membuat Aira berbinar. Tubuhnya beranjak dengan cepat dari duduknya karena terlalu bersemangat.
"Mau, Mas. Aku bilang Pak Toni dulu. Daa ... assalamu'alaikum." Aira meletakkan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Affan.
"Wa'alaikum salam." Affan menggelengkan kepalanya lalu mematikan teleponnya. Sebelum mematikannya dia mendengar teriakan istrinya yang begitu bersemangat memanggil sopir di rumahnya.
Masih ada beberapa berkas yang belum selesai diperiksanya. Affan mengambilnya dan berusaha menyelesaikannya sebelum Aira datang. Setelah ini dia bisa bersantai bersama istrinya.
Sama halnya dengan Aira, Affan pun sangat bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dalam waktu yang cukup singkat pekerjaannya telah selesai.
Aira belum juga datang hingga memasuki waktu dhuhur. Affan memilih untuk menjalankan ibadah terlebih dulu lalu kembali menyambut Aira.
Saat Affan sedang sholat, Bimo datang membawa makan siang untuk mereka. Untuk minumannya, dia meminta pada Hana untuk membuatnya.
"Astaga! Aku lupa belum menyerahkan berkas ke bagian keuangan." Bimo yang baru saja selesai mencuci tangan segera kembali keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Affan terlihat sangat segar dengan rambut yang sedikit berantakan. Dia juga tidak mengenakan jasnya dan hanya memakai kemeja berwarna biru muda.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Affan berpikir jika dia adalah Aira. Dengan wajah sumringah dia menyambutnya dan secara khusus membukakan pintu untuknya.
Namun, rupanya dia salah. Orang yang datang adalah Hana. Senyum di wajah Affan perlahan memudar. Dengan sedikit canggung dia mempersilakan Hana untuk masuk dan meletakkan minuman yang dipesan oleh Bimo.
Anak dalam gendongannya terlihat akan jatuh karena terus bergerak. Sebenarnya Affan sangat menjaga jarak dengan wanita yang bukan muhrimnya tetapi melihat Safira yang hampir terjatuh, dia pun segera bergerak untuk menolongnya.
"Tenanglah, Safira. Umi tidak bisa berdiri dengan benar." Selesai mengatakan itu Hana benar-benar terhuyung dan hampir jatuh.
Affan bergegas menangkap tubuh Hana untuk membantunya berdiri dengan benar. Keduanya terlihat sama-sama gugup dan salah tingkah.
Di saat yang bersamaan, Aira dan Bimo datang dan melihat Affan sedang memegang bahu Hana. Hampir saja Aira menjatuhkan makanan yang dibawanya karena tangannya gemetar.
'Tidak-tidak ... aku tidak boleh suudzon pada Mas Affan. Apa yang terlihat belum tentu menggambarkan hal yang buruk.' Aira berusaha menenangkan dirinya.
"Assalamualaikum, Boss." Bimo mengucapkan salam sambil melirik tajam ke arah Hana. Saat ini hatinya sedang diliputi oleh perasaan bersalah kepada Aira karena telah menghadirkan Hana diantara mereka.
"Wa, wa'alaikum salam." Affan dan Hana menjawab hampir bersamaan.
Aira berusaha untuk tersenyum dan melangkah dengan elegan mendekati Affan. Segala tingkah lakunya mengundang perhatian Hana. Jilbab panjang yang menutupi lebih dari separuh tubuhnya membuat kehamilannya tersembunyi.
Hana masih tertegun menatap Aira hingga dia berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Affan tidak berhenti menatapnya dan terus tersenyum. Dia berpikir jika Aira adalah putrinya, terlebih lagi ketika dia melihat Aira menyalami dan mencium tangannya.
__ADS_1
****
Bersambung ....