Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 82. Keterlaluan


__ADS_3

Hendro menatap ke arah Hana sebentar lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Assalamu'alaikum, Pak Affan," sapa Hendro setelah tiba di hadapan Affan.


"Wa'alaikum salam. Terimakasih sudah mengantarkannya kemari." Affan menatap berkas di tangan Hendro yang tidak kunjung diserahkan padanya.


"Ah, sama-sama, Pak. Maaf." Hendro terlihat gugup.


Pemandangan yang baru saja dilihatnya membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Banyak sekali pertanyaan yang masih berputar-putar di kepalanya. Sejujurnya dirinya masih merasa syok.


"Apa yang kamu pikirkan tentang kejadian yang baru saja kamu lihat?" tanya Affan.


Hendro terlihat gelagapan. Dia tidak menyangka jika Affan akan memberinya pertanyaan tak terduga. Keterkejutannya atas apa yang baru saja dilihatnya belum menghilang kini ditambah lagi oleh pertanyaan Affan.


"Em, saya ... saya ... saya tidak berani berpendapat, Pak. Anggap saja saya tidak melihat apa-apa." Hendro memilih langkah aman saja.


Affan mendengus kasar hingga terdengar oleh Hendro.


"Kamu tidak perlu takut. Aku tidak melakukan apapun dengan Hana. Semua hanya kesalahpahaman saja. Dia tadi tidak sengaja terjatuh, bukan begitu Hana?" tanya Affan menguji kejujuran Hana.


Bukannya menjawab, Hana malah memperdalam isaknya.


Hendro merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia menatap Affan dan Hana secara bergantian dengan tatapan tak mengerti.


"Baiklah, Hana. Kamu memang senang bermain api. Jangan berpikir aku tidak bisa tegas pada seorang wanita." Affan berbicara seperti ini karena memiliki CCTV tersembunyi di ruangannya.


Semua hal yang dilakukan oleh Hana terekam dengan jelas. Meskipun dia menyangkalnya maka bukti akan menunjukkan hal yang sebenarnya.


"Kamu bicara apa, Tuan? Aku hanya ingin sebuah keadilan. Apa yang akan dikatakan oleh orang tentang diriku jika berita ini menyebar keluar. Aku sangat malu, Tuan." Hana mengeluarkan kalimat yang ambigu untuk membuat Hendro semakin salah paham pada Affan.


Darah di tubuh Affan terasa naik ke ubun-ubun. Dia tidak menyangka jika Hana akan berkata seperti itu. Sama saja dia menggiring Hendro untuk memojokkan dirinya.


"Astaghfirullah!" Affan berusaha untuk mengendalikan dirinya mengingat yang dihadapinya saat ini adalah seorang wanita.


Tangannya mengepal dengan nafas yang terlihat naik turun menahan emosi.


Hendro semakin ketakutan. Rasanya dia ingin pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Namun, dia tidak berani melakukannya sebelum Affan mengijinkannya pergi.


Suasana di dalam ruangan itu menjadi tegang. Affan lupa jika Aira sedang berada di sana saat ini. Amarah yang menguasai dirinya membuatnya sulit untuk berpikir dengan jernih.


Setelah cukup lama bersabar di tempat persembunyiannya, Aira akhirnya memutuskan untuk keluar. Drama yang dibuat oleh Hana harus segera diakhiri sebelum semuanya menjadi semakin runyam. Akan muncul berita-berita tidak benar yang akan terus berkembang.


Langkah kakinya yang pelan mungkin tidak terdengar dengan jelas. Namun, sekelebat bayangannya membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh padanya. Mereka terkesiap dan mendadak pucat seperti sedang melihat hantu.


"Kenapa kalian memandangku seperti itu? Apa kalian pikir aku hantu?" Aira berjalan melewati ketiganya lalu duduk dengan santai di sofa.


Affan beranjak dari tempatnya lalu berjalan menghampiri Aira.


"Sayang, kuharap kamu tidak salah paham padaku. Aku bisa membuktikan jika aku tidak menggoda Hana. Demi Allah, aku bukan pria seperti itu." Affan berusaha untuk meyakinkan Aira agar tidak mempercayai apapun yang dikatakan oleh Hana.

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Aira santai.


Hendro terkesiap mendengar jawaban Aira. Menilik dari sikapnya yang santai, dia berpikir jika Aira memang mengetahui apa yang terjadi di ruangan itu sebelum dia datang.


'Syukurlah, Nyonya Aira ada di sini. Aku sudah kebingungan untuk membela siapa. Sudah pasti Hana hanya ingin mencari perhatian Pak Affan. Kupikir penampilannya yang sopan mencerminkan sikapnya yang baik. Nyatanya tidak.' Hendro melirik ke arah Hana dengan tatapan tidak suka.


Kedatangan Aira membuat Hana gugup. Tangisnya tiba-tiba berhenti dengan tangan yang terus bergerak tidak beraturan. Wajahnya tertunduk memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Hana!" panggil Aira.


Suara lembut Aira membuat Hana tersentak. Kepalanya reflek terangkat dan menatap ke arah Aira.


"I-iya, Nyonya." Hana menjawabnya dengan gugup.


"Kemarilah!" perintah Aira.


Tubuh Hana gemetar. Perasaannya semakin campur aduk. Meskipun tidak terlihat marah, Aira menjadi sosok yang sangat menakutkan baginya.


Detak jantungnya yang memompa darah lebih cepat membuat tangannya menjadi dingin. Hana menautkan kedua tangannya dengan saling menggenggam.


"Duduklah!" Aira menunjuk sebuah sofa single yang ada di hadapannya.


Dengan ragu-ragu Hana pun duduk di sana dan kembali menunduk.


Aira menatapnya cukup lama. Sesaat kemudian dia menutup matanya dan menghela nafas. Terapi yang dilakukannya membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang.


Affan tidak ikut berbicara dan memilih untuk memberi kesempatan pada Aira untuk mengeluarkan unek-uneknya.


Bola mata Hana membulat. Jantungnya seakan terhenti saat kejujurannya sedang diuji.


"Aku ... Aku tidak bermaksud begitu," ucap Hana dengan wajah yang tertunduk.


"Lalu? Mas Affan yang bermaksud iseng sama kamu, begitu?" tanya Aira lagi. Kali ini nada suaranya sedikit meninggi.


Hana terdiam. Dia berpikir untuk membuat Aira berpihak padanya.


'Sepertinya Aira belum tahu yang sebenarnya. Aku bisa memanfaatkannya dengan mengatakan jika Affan tidak sebaik yang dia kira. Bagaimanapun juga Affan adalah seorang pria normal.' Hana berangan-angan bisa memperdayai Aira dengan mudah.


"Kamu jangan terlalu percaya sama seorang pria, Nyonya. Ambil saja aku sebagai contoh dimana rumah tanggaku hancur karena orang ketiga." Hana mulai berani beralasan.


Affan mengepalkan tangannya dan bersiap untuk membalas ucapan Hana. Namun, semuanya urung dilakukannya saat melihat tatapan Aira yang mengisyaratkannya untuk diam.


"Itu tidak akan terjadi pada rumah tanggaku, Hana. Kami memiliki cinta yang kuat. Pernikahan adalah sebuah janji yang harus dipertanggungjawabkan pada Pemilik Hidup. Kalau tujuanmu hanya untuk membuat aku cemburu maka itu tidak akan berhasil. Sebenarnya aku memperhatikan apa saja yang kamu lakukan di ruangan ini dan apa yang kamu bicarakan dengan suamiku," jelas Aira.


Wajah Hana seketika menjadi pucat. Sudah kepalang tanggung dan sulit untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Aira. Tidak ingin mengelak lagi, Hana memilih untuk tetap maju meskipun dirinya salah.


"Baiklah aku akan berkata yang sejujurnya padamu. Kamu itu terlalu kecil untuk Pak Affan. Usia kalian sangat jauh berbeda. Aku yakin jika Pak Affan membutuhkan sosok lain yang lebih dewasa dengan segala pengertiannya. Kamu jadi orang jangan terlalu serakah, Nyonya. Pak Affan itu mampu untuk menikahi tiga atau empat istri, berilah kesempatan pada wanita lain untuk menjadi bagian dari hidupnya," jawab Hana dengan berapi-api.


Aira menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ternyata susah berbicara dengan orang yang tidak tahu malu. Poligami memang tidak dilarang, bahkan dijaminkan surga untuk orang yang menjalankannya sesuai syariah. Namun, tidak semua pria ingin melakukannya meskipun dia mampu. Dia memilih untuk meraih surga tanpa harus menyakiti hati istri dan wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya." Aira membalas ucapan Hana dengan penjelasan yang menohok.


Hendro mengagumi kecerdasan dan kedewasaan Aira. Di matanya dia adalah seorang wanita yang sempurna. Tidak heran jika boss-nya memilihnya menjadi seorang istri.


Perdebatan di antara Aira dan Hana tidak akan ada habisnya. Affan tidak ingin membuang-buang waktunya untuk mengurusi seorang wanita licik seperti Hana. Dia akan terus membuat kekacauan dengan motif yang berbeda-beda setiap harinya.


"Kamu sudah melewati batasanmu, Hana. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan kehidupanmu yang berantakan. Sebagai orang tua tunggal kamu harus menghidupi kedua buah hatimu seorang diri. Namun, kamu menyalahgunakan kebaikan seseorang untuk memenuhi keinginanmu. Maaf, mulai hari ini kamu bisa mencari pekerjaan lain. Hendro akan membantu mengurus penyelesaian administrasi untukmu." Affan mengambil tindakan yang tegas pada Hana.


Mendengar pemecatan yang dilakukan oleh Affan padanya, tubuh Hana terasa lemas. Dia lalu turun dari kursinya dan bersimpuh di hadapan Affan dan Aira.


"Aku mengaku salah, Tuan, Nyonya. Mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," mohon Hana.


"Mohon maaf, Hana. Aku tidak bisa memberimu kesempatan lagi untuk bekerja di sini." Affan menolak permohonan Hana.


Melihat wajah sedih Hana, Aira merasa iba. Terbayang olehnya wajah polos Safira yang tidak berdosa. Rasanya tidak adil jika memutus jalur rejeki anak itu begitu saja.


"Baiklah, Tuan. Aku akan berhenti bekerja di perusahaan ini." Hana tidak lagi memiliki muka di hadapan Affan dan Aira.


Untuk sejenak ruangan itu menjadi hening. Tidak ada suara apapun di sana.


"Hendro! Kamu bayarkan dua kali lipat gaji dari sejumlah hari yang dikerjakan Hana di sini," ucap Affan. Dia masih berbelas kasih dengan melipatgandakan gaji Hana sebanyak dua kali.


"Baik, Tuan," jawab Hendro.


"Ya, sudah. Kalian boleh pergi sekarang!" Affan tidak ingin lagi melihat Hana di dalam ruangannya.


Namun tiba-tiba Aira berdiri dan menghentikan mereka.


"Tunggu!" cegah Aira.


Aira berdiri lalu berjalan ke sebuah meja untuk mengambil tasnya. Di dalamnya ada sejumlah uang tunai yang cukup banyak. Dia mengambilnya secara sembarangan lalu memasukkannya ke dalam amplop berwarna coklat.


"Ini ada sedikit uang pribadiku. Kamu bisa memakainya untuk modal usaha. Kasihan anak-anakmu kalau kamu harus bekerja di luar rumah. Semoga kamu bisa memanfaatkan uang ini dengan baik." Aira menyodorkan amplop coklat itu ke hadapan Hana.


Bukannya langsung menerimanya, Hana malah melengos.


"Kamu tenang saja, Nyonya. Aku tidak akan mengganggu Pak Affan lagi meskipun kamu tidak memberiku uang." Hana menarik sebelah ujung bibirnya dan tersenyum sinis.


Aira mengelus dadanya. Memang benar kata orang jika setiap niat baik akan dinilai baik oleh hati yang tidak ada kebaikan di dalamnya.


"Astaghfirullah. Istighfar, Hana. Kamu memang tidak bisa membedakan mana sebuah ketulusan dan mana sebuah kepalsuan. Terserah kamu mau menerimanya atau tidak. Aku memberikan ini bukan untukmu tapi untuk anak-anakmu." Kali ini wajah Aira benar-benar terlihat sangat kesal.


Hana menatap amplop coklat di tangan Aira. Batinnya berperang antara rasa gengsi dan rasa ingin memiliki. Meskipun tidak disebutkan jumlahnya, uang itu tidaklah sedikit.


****


Bersambung ....


Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir.

__ADS_1



__ADS_2