Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 53. Hamil


__ADS_3

Kamar Faya bersebelahan dengan kamar Affan dan Aira. Ada tiga kamar eksklusif di lantai yang sama dengan kamar mereka tetapi tidak diketahui siapa pemiliknya.


Malam itu mereka segera beristirahat mengingat besok harus berlelah-lelah ria menyambut para tamu undangan dan para karyawan yang hadir dalam syukuran. Konsepnya memang sangat sederhana tetapi menelan banyak biaya karena Affan meminta semua hidangan dan sovenir yang cukup berkelas.


Tinggal di tempat yang baru membuat Aira sulit untuk memejamkan matanya. Hatinya tidak tenang dan membuatnya tidur dengan gelisah.


"Ada apa, Sayang? Kamu tidak enak badan?" tanya Affan penuh perhatian.


Aira menggeleng.


"Sepertinya aku lapar."


Setelah berkata Aira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kejujuran yang memalukan tetapi tidak sanggup dia tahan.


"Tidak perlu malu. Aku akan menelepon layanan kamar untuk membawakan makanan untukmu. Kamu mau apa?"


Affan tersenyum geli melihat tingkah konyol Aira. Tiba-tiba dia merasa gemas. Dia melepaskan tangan Aira yang menutupi wajahnya lalu menghujaninya dengan kecupan.


Aira semakin tersipu.


Usai dengan keromantisannya, Affan menggeser tubuhnya untuk mengambil telepon dan menekan nomor layanan yang tertera di sampingnya.


Dia memesan dua porsi steak dengan banyak kentang untuk mereka berdua. Affan tidak meminta pendapat Aira karena dia tahu jika Aira pasti tidak tahu dengan nama menu-menu yang ada di hotel bintang lima.


Selama ini Aira juga tidak memiliki selera khusus dalam hal makanan. Semua jenis makanan bisa dia makan tanpa ada pantangan.


Mereka makan dengan lahap malam itu meskipun Aira kurang menyukai aromanya. Sebisa mungkin dia menahan diri dari rasa mual dan memaksa diri untuk menghabiskannya.

__ADS_1


"Mas Affan, aku pergi ke kamar mandi dulu, ya?" pamit Aira berjalan cepat meninggalkan Affan dengan wajahnya yang memerah.


Terdengar suara sayup-sayup orang sedang muntah. Tidak ada orang lain di sana selain mereka. Affan baru menyadarinya setelah mendengar suara itu beberapa saat.


Menyadari jika itu adalah suara Aira, Affan segera berlari menyusulnya ke kamar mandi.


"Aira! Apakah kamu sakit?" tanya Affan dengan panik.


Aira menggeleng dan masih muntah beberapa kali.


Affan membantu memijit tengkuknya untuk meringankan rasa berat di kepalanya.


Seluruh isi dalam perutnya kembali keluar. Affan segera menekan tombol pembuangan closed agar Aira tidak kembali mual karena menghirup baunya.


Setelah tidak mual lagi, Affan membawa Aira keluar kamar mandi dengan menggendongnya. Tubuh Aira sedikit berisi tetapi masih mampu digendongnya dengan mudah.


"Tidak usah, Mas. Mungkin aku hanya masuk angin biasa."


Affan menghangatkan air minum untuk Aira dan memberikannya.


"Kita harus pergi ke rumah sakit, Aira. Aku tidak akan bisa tidur tenang sebelum tahu seperti apa kondisimu."


Wajah Affan yang terlihat sedikit galak membuat Aira menurut. Suaminya tidak salah jika mengkhawatirkannya. Bisa dibilang ini adalah bukti jika dirinya adalah pria yang sangat pengertian.


***


Dokter telah selesai memeriksa Aira dan meminta Affan dan Aira untuk duduk dan mendengarkan hasil dari pemeriksaannya.

__ADS_1


"Kondisi Nyonya Aira baik-baik saja. Dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan tidak ada kendala yang berarti. Semoga kandungan Nyonya Aira tidak mengalami masalah sampai persalinan. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan obat anti mual."


Affan dan Aira saling berpandangan. Penjelasan dari dokter yang memeriksa Aira terdengar sangat mengejutkan bagi mereka.


Beberapa saat mereka terbengong lalu dengan perasaan yang campur aduk Affan memeluk Aira dengan erat.


"Alhamdulillah. Terimakasih, Sayang. Aku akan menjagamu dengan baik. Kalian berdua harus selamat."


Titik-titik air mata mengembun di ujung mata Affan. Hatinya diliputi rasa bahagia dan khawatir yang bercampur menjadi satu. Kehilangan istri pertamanya saat melahirkan menghadirkan trauma tersendiri baginya.


Dokter yang menangani Aira terbengong menatap keduanya. Dia pikir pasangan itu sudah tahu akan kehamilan istrinya menilik usia kandungan Aira terlihat telah memasuki bulan ketiga. Diperkirakan usia kandungannya berumur tiga belas minggu.


Sepulang dari rumah sakit Affan membawa Aira membeli makanan yang diinginkannya. Mulai hari ini dia akan bertanya dulu istrinya itu ingin makan apa. Selera seorang ibu hamil tentu akan berbeda dengan seleranya sebelum hamil.


Di tengah kebahagiaan Affan dan Aira ada seseorang yang berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan itu. Amanda memiliki kunci kamar hotel di mana Affan menginap bersama Aira.


Ternyata dia adalah orang yang menyewa kamar di lantai yang sama dengan mereka.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Amanda berjalan mengendap-endap mendekati kamar Affan dan Aira.


Kartu pengunci pintu kamar itu sudah berada di tangannya. Dia bisa masuk ke dalam kamar Affan dan Aira dengan mudah.


Affan dan Aira tidak akan mudah terbangun karena dia telah bekerjasama dengan Dena dan memintanya menaruh obat tidur dosis rendah di dalam minuman yang disediakan di kamar itu.


Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Amanda segera pergi dari kamar itu dengan senyum kemenangan.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2