
Sepertinya semalam Affan membawa Safira ke kamarnya. Seharusnya dia masih berada di sini saat ini. Aira menyelesaikan bersih-bersihnya dengan cepat karena ingin segera bertanya pada Affan tentang Safira.
"Aku sudah selesai, Mas," ucap Aira.
Affan pun segera berbalik dan menghadap ke arahnya lalu tersenyum.
"Apakah kamu sudah lapar? Kasihan anak kota jika kamu tidak memakan sesuatu." Affan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Aira.
"Tadi, kan, sudah minum susu dan memakan sebuah apel. Pasti sebentar lagi perawat mengantarkan sarapan untuk pasien." Aira tersenyum merasa senang selalu mendapatkan perhatian dari Affan.
'Eh, iya, hampir saja aku lupa lagi untuk bertanya tentang Safira.' Aira terus mengingat pertanyaan yang akan diajukan di dalam pikirannya.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku ingin minum kopi dulu di sofa." Affan beranjak dari duduknya.
"Tunggu, Mas!" seru Aira.
Affan pun kembali duduk dan menunggu apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Ada apa, Sayang? Katakan jika kamu membutuhkan sesuatu." Affan berkata dengan sabar.
Aira menggeleng.
"Aku hanya ingin bertanya tentang Safira, Mas. Bukankah semalam dia tidur di sini? Apakah Bella membawanya pulang?" tanya Aira tidak sanggup lagi menahan rasa ingin tahunya.
Affan lupa belum menceritakan apa yang terjadi semalam pada Aira. Sepertinya pagi ini adalah waktu yang tepat. Aira harus tahu apa yang telah dilewatkannya ketika dia tertidur.
Secara singkat Affan menjelaskan tentang kehidupan Bella dan keluarganya. Mereka tidak sanggup untuk membiayai Sarah dan Safira dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu Affan dan Faya sepakat untuk menampung dan membiayai keduanya selama Hana belum sembuh.
"Maafkan aku jika aku tidak meminta pendapatmu terlebih dahulu, Sayang. Aku takut dua anak Hana terlantar saat Bella bekerja. Semoga kamu mau mengerti." Affan merasa bersalah pada Aira.
Aira tersenyum dan merasa bersyukur karena suaminya begitu peduli pada anak-anak Hana yang membutuhkan.
"Mas Affan bicara apa. Kenapa harus meminta maaf? Justru aku malah senang melihat kepedulian Mas Affan. Tidak perlu menunda untuk melakukan kebaikan. Alhamdulillah jika mereka sudah tinggal di rumah kita. Bi Sumi pasti tidak keberatan untuk mengasuh Safira." Aira berbicara dengan tulus.
Hampir saja Affan lupa jika bahu Aira masih sakit. Dia sudah mencondongkan tubuhnya untuk memeluknya. Untung saja dia segera mengingatnya dan beralih untuk mengusap perut buncit Aira.
Aira tersenyum melihat tingkah konyol suaminya. Dia tahu jika sebenarnya Affan ingin memeluknya. Merasa jika ini sangat lucu dia pun tertawa.
"Sayang, kamu jangan menertawakan orang yang sedang rindu. Kamu harus tahu jika rindu itu menular. Jika saat ini aku yang rindu memelukmu, kamu pasti juga akan merasakannya sebentar lagi," goda Affan.
"Hmm, memang. Ini aku sudah tertular. Tapi mau bagaimana lagi, bahuku menjadi penghalang rindu."
__ADS_1
Keduanya lalu tertawa bersama. Mereka merasa lucu dengan tingkah mereka sendiri. Candaan mereka sejenak bisa mengusir rasa bosan yang menghinggapi hati mereka.
Keadaan terkadang berbalik di mana Affan seringkali bersikap seperti seorang anak kecil dan Aira yang bersikap lebih dewasa. Namun, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Kehadiran Aira membuat hidup Affan lebih berwarna meskipun dia sering kali mengabaikan keberadaannya jika sudah sibuk dengan pekerjaannya.
Di rumah Faya tidak merasa sepi karena sibuk mengurusi Sarah dan Safira. Dia mengatur keperluan mereka mulai dari makanan, pakaian hingga hal-hal yang paling kecil. Sarah sudah lebih mandiri, setelah mandi dan sarapan sopir tinggal mengantarkannya ke sekolah sedangkan Safira masih perlu pendamping, Bi Sumi dan Netti yang mengurusnya.
Setelah pulang kuliah, Faya berencana untuk pergi ke rumah sakit dan mengusulkan untuk mencari baby sitter untuk Safira. Bi Sumi sudah cukup tua untuk merawatnya sedangkan asisten yang lain juga harus melakukan pekerjaannya masing-masing.
Meskipun Faya masih berusia kurang dari 20 tahun tetapi dia sudah memiliki pemikiran yang cukup dewasa. Hidup tanpa seorang ibu membuatnya menjadi sosok yang mandiri dan tidak manja. Selain itu, sifat pengertiannya serta kepeduliannya membuatnya ingin terus melakukan kebaikan.
***
Hari ini Aira harus menjalani pemeriksaan kandungan. Kejadian yang dialaminya memungkinkan terjadinya gangguan pada janin tetapi hal ini belum pasti tergantung kondisi fisik seseorang. Obat-obatan yang diberikan kepada Aira pun sangat diperhatikan. Di usia kandungan yang telah memasuki trimester kedua sangat rawan terjadi kontraksi dini.
"Apakah Mas Affan tidak bekerja hari ini?" tanya Aira.
Affan kembali duduk di sisi Aira setelah membereskan peralatan makan yang ada di meja kecil sebelah ranjang Aira.
"Bagaimana aku bisa kerja, Sayang? Yang ada aku malah tidak bisa melakukan apa-apa dan terus memikirkanmu. Lebih baik aku di sini menemani sampai kamu benar-benar pulih. Mengenai pekerjaan Bimo dan Hendro bisa mengatasinya. Mereka bisa kuandalkan."
Jika harus jujur Affan memang memikirkan beberapa pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Akan tetapi, dia bisa menundanya di lain waktu. Kalau tidak Bimo pasti akan mengantarkannya ke rumah sakit untuk dikerjakannya sambil menjaga Aira.
"Baiklah. Terserah Mas Affan saja. Aku juga senang ditemani seperti ini setiap hari," goda Aira.
"Sepertinya aku harus memikirkan bagaimana bisa pensiun dini mulai dari sekarang." Affan merasa gemas dan menghujani Aira dengan ciuman.
Mereka bercanda ringan dan membuat kebosanan yang semula mulai menghinggapi Aira menghilang. Terbiasa hidup dengan segudang aktivitas membuat Affan juga tidak kalah bosan. Tidak ada yang bisa dilakukannya selama di rumah sakit selain duduk dan berjalan-jalan di sekitar ruangan Aira.
Lelah dengan candaan mereka, Affan menyalakan televisi dan melihat tayangan berita bisni. Saat dia mengganti chanel TV sekelebat terlihat tayangan kilas berita singkat. Judul yang tertera di layar kaca cukup menarik perhatiannya.
"Sintya!" pekik Aira yang juga sedang melihat televisi.
Affan mengangguk sambil menyimak berita yang muncul di sana. Untuk memperjelas suaranya, Affan menekan tombol remote dan menambah volume suaranya. Keduanya lalu terlihat fokus menyimak berita yang ditayangkan.
"Pandai sekali dia berpura-pura gila! Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja." Affan terlihat sangat marah saat tahu jika Sintya akan direhabilitasi dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelahnya.
"Sudahlah, Mas. Kita tidak punya bukti yang kuat untuk menjeratnya dengan hukuman yang lebih berat. Ingatlah bahwa pengadilaan Allah lebih adil untuknya!" Aira mencoba menenangkan Affan.
Affan tidak bisa tenang. Tanpa sepengetahuan Aira, dia dan Bimo telah mengumpulkan banyak bukti sepak terjang Sintya di dunia kegelapan. Sepertinya kali ini pun dia harus diam-diam menyerahkan bukti-bukti yang dimilikinya ke pihak yang berwajib.
"Kamu terlalu baik, Sayang. Penjahat tidak pantas mendapatkan belas kasihan. Aku takut jika dia masih bisa berkeliaran dan menyerangmu lagi, Sayang. Sintya sangat jahat, tidak mungkin dia bisa berubah menjadi baik dalam sekejap. Uang haram di tubuhnya sudah mendarah daging dan mempengaruhi perilakunya." Affan ingin Aira mengerti jika ingin berbuat baik kita juga harus melihat-lihat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin Mas Affan banyak pikiran. Ngurus kerjaan, ngurus aku, dan masih harus ngurus Sintya, hmm." Aira mengungkapkan alasannya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Selama diberi kesehatan maka aku bisa mengatasi segalanya. Dan doamu juga sangat penting buatku, Sayang." Affan meraih tangan Aira lalu mengecup punggung tangannya.
"Selalu ...," jawab Aira dengan pipinya yang bersemu kemerahan.
Tidak lama kemudian, seorang perawat datang membawa sebuah kursi roda untuk menjemput Aira. Waktu pemeriksaan kandungan telah tiba. Dokter obigyn sudah menunggu mereka di ruang pemeriksaan.
Affan berjalan di samping Aira mengikuti perawat yang mendorong kursi roda. Mereka berjalan melalui koridor yang melewati ruang perawatan Hana. Ruangan itu tampak sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Aira mengikuti arah pandang Affan dan bertanya, "Itu ruangan siapa, Mas?"
Affan terlihat gelagapan. Dia tidak tahu jika Aira sedang memperhatikannya. Padahal cuma sepintas lalu dia menoleh untuk melihat ke ruangan itu.
"Oh, itu ruangan Hana. Kelihatannya dia belum sadarkan diri," jelas Affan sambil menunjuk ke arah ruangan tersebut.
"Apakah belum ditemukan donor darah yang cocok untuknya?" tanya Aira lagi.
"Sudah. Dokter Dharma sudah mendapatkannya. Semoga saja Hana segera sadar dan bisa kembali berkumpul dengan anak-anaknya." Affan merasa prihatin.
"Hmm." Aira mengangguk sambil tersenyum.
Obrolan mereka terhenti karena mereka sudah sampai di ruang pemeriksaan kandungan. Masih ada beberapa pasien yang mengantri di dalamnya tetapi jadwal pemeriksaan Aira sudah ditetapkan. Dokter Diana mengutamakan pasien rumah sakit yang telah dijadwalkan sebelum kembali menangani pasien dari luar.
Affan mengangkat tubuh Aira dengan hati-hati seperti ketika dia mengangkatnya ke atas kursi roda. Perawat yang mendorong kursi membantu memegangi kursinya. Aira terlihat malu karena sebenarnya dia bisa berjalan, Affanlah yang memaksanya untuk menurut.
"Selamat siang, Tuan Affan dan Nyonya Aira," sapa Dokter Diana.
"Selamat siang, Dok," jawab Affan dan Aira hampir bersamaan.
Dokter Diana berjalan menghampiri Aira yang telah berbaring di atas meja pemeriksaan. Di belakangnya berdiri dua orang perawat yang bekerja sebagai asistennya. Mereka membantu menyiapkan alat dan mencatat hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter Diana.
"Bisa kita mulai pemeriksaannya sekarang?" tanya Dokter Diana untuk memastikan kesiapan Aira.
"Aku sudah siap, Dok." Aira ingin pemeriksaannya cepat-cepat diselesaikan.
Di luar ruangan ada beberapa ibu hamil yang sedang mengantri, Aira merasa kasihan jika mereka harus menunggu lama. Bisa dibilang dia sangat beruntung karena tidak perlu mengantri setiap kali melakukan pemeriksaan. Biasanya Affan juga membuat janji secara pribadi dengan dokter sebelum melakukan pemeriksaan rutin.
Dokter Diana bekerja dengan teliti. Dia memeriksa Aira dengan telaten untuk memastikan jika tidak terjadi trauma pada janin saat dia mengalami penganiayaan.
Affan merasa was-was dan berharap keadaan Aira dan calon anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
****
Bersambung ....