
Malam ini Faya benar-benar menginap di rumah sakit. Dia tidur di tempat tidur ekstra sedangkan Affan tidur di sofa. Ruangan kelas VVIP cukup nyaman dan luas membuat Faya tidak merasa sedang tidur di rumah sakit. Hanya saja, Aira tidak suka jika ruangan terlalu dingin sehingga dia merasa gerah saat terbangun.
Keesokan harinya, Faya tidak terburu-buru pulang karena dia sedang libur kuliah. Dia akan menemani Aira hingga selesai pemeriksaan dan pulang ke rumah. Waktu empat hari terasa sangat lama baginya.
"Mana dokternya, Ma?" tanya Faya sambil melihat arlojinya.
Padahal saat ini masih jam enam pagi, Faya sudah tidak sabar untuk segera tahu apakah Aira bisa pulang hari ini atau tidak. Menurutnya keadaannya saat ini sudah baik-baik saja. Kemungkinan besar dokter akan mengijinkannya untuk pulang.
"Sabar, Sayang. Mereka pasti masih bersiap. Biasanya jam 07.00 pagi mereka baru berkeliling untuk memeriksa pasien." Aira mencoba menenangkan Faya.
"Hah! Masih satu jam lagi, dong? Kalau begitu aku mau pergi keluar untuk mencari sarapan dulu, lah." Faya terbiasa sarapan pagi sehingga dia merasa mudah lapar jika tidak segera mengisi perutnya meskipun hanya dengan sepotong roti.
"Tolong belikan untuk ayah sekalian, ya. Kamu mau tidak, Sayang?" Affan menawari Aira jika dia menginginkan sesuatu untuk dimakan.
"Em, apa, ya? Aku mau satu potong roti saja buat teman minum susu," ucap Aira sambil membenahi tempat tidurnya.
Bahunya masih terasa sedikit nyeri tetapi hal ini bukanlah hal yang besar. Sedikit rasa sakit tidak menghalanginya untuk melakukan aktivitas ringan. Terlalu lama berdiam diri hanya akan membuat tubuhnya terasa kaku.
"Baiklah! Tunggu sebentar! Aku akan pergi ke kantin rumah sakit." Faya beranjak dan menyabet tasnya.
Sementara Faya pergi membeli sarapan, Affan membuatkan susu untuk Aira, kopi untuknya, dan juga untuk Faya. Sesekali Faya juga minum kopi meskipun tidak setiap hari.
"Kebiasaan Faya kalau pergi suka lama. Sudah lima belas menit belum juga datang," ucap Affan sambil menyeruput kopinya.
Aira menggeleng mendengar omelan Affan.
"Ayah dan anak sama-sama tidak sabaran. Namanya berjalan kaki, ya, pasti lama. Belum lagi kalau di kantin banyak pembeli yang mengantri paling tidak 10 menit lagi Faya baru sampai." Aira berbicara sesuai dengan logikanya.
"Benar juga, ya. Pasti Faya sedang mengantri kalau tidak dia pasti sudah kembali." Affan kembali duduk dan menikmati kopinya.
Di meja masih ada beberapa kue kering tapi dia tidak ingin memakannya. Affan lebih suka roti manis atau roti tawar dengan selai untuk sarapan. Sejak kecil Faya juga terbiasa sarapan pagi sebelum beraktivitas atau pergi ke sekolah.
"Apakah kamu mau meminum susumu sekarang?" tanya Affan pada Aira.
"Tidak. Aku tunggu Faya saja. Lagi pula susu itu pasti masih panas. Biar agak dingin dulu baru ku minum," ucap Aira.
Affan mengangguk lalu membuka ponselnya untuk memeriksa jika ada pesan yang masuk. Dia meletakkannya kembali karena tidak ada pesan yang masuk untuknya. Biasanya jam segini, Bimo masih berada dalam perjalanan menuju ke kantor.
Tidak lama kemudian Faya datang membawa sekantong makanan yang dibelinya dari kantin. Roti manis dengan berbagai rasa, roti pisang, dan juga bubur ayam untuk Aira. Dia hanya membeli satu porsi saja karena tidak mau mengantri terlalu lama.
"Mama, ini bubur ayam untukmu. Kamu bisa memilih bagaimana yang akan dimakan." Faya menghampiri Aira lebih dulu sebelum membawa kantong plastik itu ke hadapan ayahnya.
"Terimakasih, Sayang. Buburnya cuma buat aku aja?" tanya Aira karena tidak melihat ada bubur lain di sana.
"Iya. Spesial buat mama, itu pun harus mengantri lama kalau tidak aku pasti sudah beli tiga." Faya mengungkapkan alasannya.
Aira tersenyum. Dia merasa tersanjung dengan apa yang dilakukan oleh Faya. Meskipun hanya sebuah perlakuan kecil tetapi dia merasa sangat dihargai.
Mereka bertiga menikmati sarapan secara bersama-sama. Di tengah kebersamaan mereka, jatah makanan dari rumah sakit untuk Aira datang. Aira memilih menikmati bubur ayam yang dibelikan oleh Faya dan meminta Affan dan Faya memakan makanan dari rumah sakit.
"Rasanya hambar sekali, ya, yah. Pantas saja mama lebih memilih bubur ayam," canda Faya.
"Namanya juga makanan untuk orang sakit. Kalau terlalu berbumbu mereka pasti lebih tidak suka lagi. Masakan yang paling enak memang cuma makanan yang ada di rumah masing-masing." Affan tidak mencela makanan meskipun sebenarnya dia juga tidak menyukainya.
__ADS_1
Pagi ini Affan meminta Bi Sumi untuk datang ke rumah sakit bersama sopir yang menjemput mereka. Semua barang-barang milik Affan dan Aira cukup banyak. Tidak mungkin mereka membereskannya sendirian.
Beberapa alat makan juga menumpuk. Seringkali Affan lupa membawakannya kembali ketika sopir mengantarkan makanan untuk mereka.
Sebelum dokter yang memeriksanya datang, Aira berjalan-jalan di dalam kamar untuk melemaskan otot-otot kakinya yang terasa kaku. Tangan dan punggung juga tidak aku karena tidak melakukan aktivitas apapun selama empat hari ini.
"Apakah mama masih memiliki keluhan?" tanya Faya sambil menggamit lengan Aira dan menemaninya berjalan-jalan di dalam ruangan.
"Tidak, Sayang. Aku sudah sehat sekarang. Mungkin aku hanya perlu berhati-hati untuk menggerakkan bahu kananku saja karena terkadang masih terasa ngilu." Aira memegang bahu kanannya lalu memutarnya perlahan.
Wajahnya meringis menahan nyeri karena luka di bagian dalam belum sembuh sepenuhnya. Namun, demikian luka di bagian luar sudah mengering dan tidak diperban lagi. Dokter hanya memberikan plester dan kain kasa tipis saja.
"Jangan banyak bergerak dulu!" seru Affan yang melihat perubahan ekspresi wajah Aira.
"Iya, Ma. Kalau sudah di rumah mama harus tetap istirahat. Jangan melakukan aktivitas ringan atau pun berat dulu. Bersabarlah setidaknya sampai tidak terasa sakit lagi," imbuh Faya.
Obrolan mereka harus terhenti karena ada suara langkah beberapa orang mendekat ke sana. Affan bersiap untuk menyambut kedatangan tamu yang berkunjung ke sana. Aira dan Faya juga merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Selamat pagi," sapa dokter dan dua orang asisten yang datang bersamanya.
"Selamat pagi," balas Affan, Faya dan Aira bersamaan.
Aira terlihat lebih segar hari ini karena dia mandi setelah 3 hari hanya mengelap tubuhnya saja. Tanpa obat penahan rasa nyeri yang menyebabkan mengantuk dia juga tampak berseri. Hanya saja kantung matanya masih sedikit terlihat.
"Wah, kelihatannya Nyonya Aira sudah sangat baik, nih!" goda dokter.
"Benar sekali, Dok. Saya sudah sangat rindu rumah. Rasanya sudah sangat lama padahal baru tiga hari di sini." Aira tersenyum membalas candaan dokter yang memeriksanya.
"Baiklah, saya tidak akan lama-lama memeriksanya. Saya sendiri bertugas selama beberapa jam saja sudah sangat rindu rumah. Tidak bisa dibayangkan jika harus menginap beberapa hari. Ditambah rasa sakit, lagi," imbuh dokter Aira.
"Secara keseluruhan keadaan Anda sudah baik. Anda hanya perlu istirahat yang cukup untuk pemulihan," jelas dokter kepada Aira.
"Terimakasih, Dok." Aira terlihat sangat senang.
Setelah dokter kembali ke ruangannya, Affan segera keluar untuk mengurus administrasi dan mengambil obat yang diresepkan. Setelah ini mereka bisa pulang ke rumah.
Di dalam perjalanan menuju ke ruang administrasi, Affan bertemu dengan sopirnya dan Bi Sumi. Mereka bercakap sebentar lalu berpisah jalan menuju ke tempat tujuan masing-masing. Bi Sumi juga sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Aira dan melihat keadaannya.
Aira tidak pernah memandang rendah asisten rumah tangganya. Dia bahkan sudah menganggapnya seperti keluarga. begitu melihat kedatangan Bi Sumi, dia langsung berhambur memeluknya.
Keduanya terlihat seperti seorang ibu dan anak yang lama tidak bertemu. Melihat keadaan Aira sudah baik-baik saja, Bi Sumi merasa tenang. Beberapa hari ini dia selalu mengkhawatirkan keadaan Aira dan berpikir yang tidak-tidak.
Bi Sumi lalu segera melakukan tugasnya dengan cepat. Faya dan sopir yang datang bersamanya mengemasi barang-barang dan membawanya ke mobil. Di dalam ruangan itu hanya tinggal Aira seorang diri.
Ketika sopir mengambil barang terakhir, Aira ikut keluar dan berjalan dengan langkah yang pelan. Baru beberapa langkah dia meninggalkan ruangannya, Affan datang dari arah yang berlawanan. Wajahnya terlihat tidak senang melihat Aira pergi seorang diri.
"Berhenti Aira! Seharusnya kamu menungguku datang, aku akan mengambil kursi roda untukmu. Tunggu sebentar!" Affan berjalan tergesa meninggalkan Aira tanpa menunggu jawaban darinya.
Ruangan perawat jaga berada tidak jauh dari ruangan Aira. Affan segera meminta izin untuk membawa satu buah kursi roda. Namun, seorang perawat senior datang dan mengatakan jika harus ada seorang perawat yang membawanya.
Tidak ingin terlalu lama berada di sana, Affan pun menyetujuinya dan meminta perawat itu untuk segera mengikutinya. Mereka berjalan dengan cepat menghampiri Aira yang tengah duduk di sebuah bangku yang ada di depan ruang ICU.
"Hati-hati, Aira!" seru Affan sambil membantunya naik ke atas kursi roda.
__ADS_1
Aira mengangguk dan tersenyum pada Affan dan perawat yang membawa kursi roda. Mereka berjalan melintasi koridor yang cukup panjang dan berbelok beberapa kali. Kamar Aira yang berada di lantai dua membuat mereka harus menuruni tangga yang curam. Affan membantu perawat untuk mengendalikan laju kursi roda yang tidak terkendali pada jalanan menurun.
Saat hampir mencapai pintu keluar terlihat Faya berjalan menuju ke arah mereka. Mungkin dia berpikir jika Aira masih ada di kamarnya.
"Baru saja aku mau menjemput mama," ucap Faya.
Affan menatapnya dengan tatapan sedikit kesal. Karena dia ikut pergi membereskan barang-barang, Aira hampir saja nekat turun sendiri. Affan tidak bisa membayangkan jika Aira terpeleset atau terdorong oleh pengunjung rumah sakit yang berpapasan dengannya.
"Seharusnya kamu menemani mamamu dulu. Hampir saja dia berjalan menuruni tangga curam ini seorang diri kalau saja aku tidak segera kembali," ucap Affan dengan nada kesal.
Faya merasa bersalah. Apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar. Seharusnya dia lebih mementingkan untuk menjaga Aira ketimbang membantu mengemasi barang ke mobil.
"Maaf, Ayah. Aku memang salah. Maaf, ya, Ma. Tadi aku tidak kepikiran untuk meminta mama tetap tinggal sampai aku kembali." Faya segera meminta maaf.
"Tidak apa, Sayang. Tadi aku cuma berjalan pelan-pelan sambil menunggu kalian, kok." Aira menengahi perdebatan ayah dan anak agar tidak berbuntut panjang.
Suasana pun kembali mencair. Mereka lalu bersiap untuk menaiki mobil mereka masing-masing. Affan, Faya dan Aira pergi menggunakan mobil Faya yang dikendarai oleh Pak Toni sedangkan Bi Sumi pergi bersama sopir yang lain bersama barang-barang yang memenuhi mobil.
Affan duduk di depan bersama sopir agar Faya dan Aira bisa leluasa duduk di belakang. Mereka mengobrol ringan selama dalam perjalanan. Hingga tidak terasa mereka sudah sampai di rumah.
Kening Affan berkerut ketika melihat dua orang sedang berdiri di teras rumahnya dan mengobrol bersama dengan Netti. Dari kejauhan Affan tidak bisa mengenali mereka. Dia hanya merasa heran ada tamu yang berkunjung sepagi ini ke rumahnya.
Karena sedang asyik mengobrol Aira dan Faya tidak melihat kedua tamu tersebut. Bahkan mereka baru sadar jika sudah sampai di rumah setelah sopir membukakan pintu untuk mereka. Aira sedikit heran saat melihat Affan berjalan tergesa meninggalkannya bersama Faya.
"Ayahmu kenapa, Fay?" tanya Aira dengan heran.
"Jangan heran, kadang-kadang suamimu itu memang suka bersikap aneh," balas Faya.
"Masa, sih? Tidak biasanya ayahmu begitu. Mungkin saja sedang terburu-buru ingin ke kamar mandi," ucap Aira tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh.
"Bisa jadi."
Mereka berdua berjalan menuju ke rumah dengan hati-hati. Faya menggandeng lengannya agar Aira tidak berjalan sesuka hati. Terkadang dia tidak sabar untuk berjalan pelan karena ingin cepat sampai.
Ketika sampai di halaman depan, Aira dan Faya melihat Affan sedang mengobrol dengan seseorang. Rupanya mereka salah paham. Affan tadi terburu-buru karena melihat ada tamu yang datang.
Meskipun belum melihat wajahnya secara jelas tetapi Aira sangat mengenali pakaian yang dikenakan oleh tamu pria itu. Postur tubuh dan penampilan yang dilihatnya dari belakang pun tidak asing lagi baginya. Mereka adalah Agung dan Reni.
'Untuk apa Om Agung dan Tante Reni datang kemari pagi-pagi begini? Apakah mereka tahu jika aku sedang sakit dan dirawat di rumah sakit? Mungkin Kak Ali yang mengatakan jika aku sakit.' Aira mencoba berpikir positif tentang kedatangan Agung dan Reni.
Keduanya menghentikan obrolannya bersama Affan dan menoleh ke belakang ketika melihatnya datang bersama Faya. Aira tidak melihat wajah simpati dari kedua tamunya itu. Namun, Aira tetap berusaha untuk tersenyum sambil terus berjalan menghampiri mereka.
Wajah Affan juga terlihat dingin kepada Agung dan Reni. Entah apa yang mereka obrolan sebelum Aira dan Faya datang ke sana. Sepertinya paman dan bibi Aira itu membawa berita yang kurang menyenangkan.
'Sabar, Aira, sabar. Kamu sedang hamil. Jangan mudah tersulut emosi meskipun Om dan Tantemu bersikap menyebalkan padamu. Anggap saja mereka radio rusak.' Aira bergumam dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Assalamualaikum, Om, Tante. Apa kabar?" tanya Aira ramah ketika mereka sudah berhadapan satu sama lain.
"Kum salam," jawab Reni.
"Wa'alaikum salam," jawaban Agung sedikit lebih sopan.
"Mas Affan, apakah mereka menungguku untuk masuk ke rumah?" Aira berbicara seolah mereka tidak sedang dilanda ketegangan meskipun sebenarnya dia sudah melihatnya dari raut wajah ketiganya.
__ADS_1
****
Bersambung ....