Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 47. Taman Kompleks


__ADS_3

"Assalamualaikum, Tante. Maaf kami sedang terburu-buru. Lain kali kami akan berkunjung ke rumah kalian." Affan tidak ingin membuat keributan dan berusaha bersikap sopan.


Reni tampak mendengus kesal dan sedang berusaha untuk menahan amarahnya. Dia merasa jika Affan menghalangi Aira untuk berbicara dan menekannya.


"Kum salam. Tante ... tante! Ingat umur, Mas. Dari wajah juga kelihatan kalau situ lebih tua dari aku. Aku bicara sama Aira, bukan sama elu! Atau jangan-jangan kamu yang menghalangi Aira dan mengajarinya untuk membenci kami?" Kini Reni menyerang Affan dengan tuduhan yang tidak masuk akal.


"Astaghfirullah. Istighfar, Nyonya Reni. Istri saya orang yang shalihah. Dia tidak mungkin pergi tanpa meminta ijin dariku meskipun ke rumah pamannya sendiri. Tetapi bukan berarti saya menekannya." Affan terlihat marah.


Aira tahu jika suaminya sedang menahan diri untuk tidak marah pada Tantenya.


"Maaf, Tante. Kami akan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung. Saat ini kami sedang terburu-buru. Assalamualaikum." Aira menarik tangan Affan untuk menjauh dari tempat itu.


Masih jelas di dalam ingatan Aira betapa bahagianya Reni dan Agung saat melihat kepergiannya malam itu.


Seluruh harta benda milik orang tuanya sudah diambil oleh Agung belum lagi seluruh hutang mereka pada Rehan yang telah dilunasi oleh Affan. Namun, sifat tamak Reni masih menuntutnya untuk berbakti padanya.


Reni memegang tangan Aira dan memaksanya untuk berhenti.


"Om kamu sakit. Aku tidak punya uang untuk membawanya ke dokter." Reni tidak ingin berbasa-basi lagi.


Aira menatap Affan seolah ingin meminta pendapatnya. Selama ini dia memang memiliki uang bulanan dari Affan dengan jumlah yang tidak sedikit. Namun, dia tidak ingin sembarangan menggunakannya.


"Biar aku saja." Affan mengeluarkan dompetnya dan mengambil unang tunai yang tersimpan di dalamnya.


Reni tersenyum senang saat melihat Affan mengeluarkan seluruh isi dompetnya.


"Ini sedikit sumbangan dari kami. Semoga Om Agung lekas sembuh." Affan memberikan uang itu pada Reni.


Dengan gerakan cepat Reni mengambil uang itu dan menyimpannya di dalam tasnya.

__ADS_1


"Nah, gini dong dari tadi. Kalian boleh pergi sekarang. Ingat jangan lupa untuk berkunjung ke rumah kami."


Affan mengangguk lalu membawa Aira pergi dari sana. Sikap Reni membuatnya sangat sedih. Dia membayangkan betapa menderitanya Aira saat hidup bersama mereka.


***


Affan tidak melanjutkan perjalanannya ke butik dan memilih untuk pulang. Suasana hatinya sedang tidak nyaman setelah bertemu dengan Reni.


Bukan masalah uang yang dia pikirkan tetapi masalah silaturahmi keluarga. Di satu sisi dia ingin bebaik sangka kepada mereka, di sisi lain sikap buruk mereka membuatnya merasa gusar.


Sepanjang perjalanannya mereka terdiam hingga Aira berinisiatif untuk bertanya.


"Mas Affan," panggil Aira.


"Iya, Sayang," jawabnya sambil tersenyum.


Seperti apapun keadaannya, dia tetap tidak ingin membuat Aira bersedih.


"Aku tahu. Tetapi aku tidak suka dengan caranya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Termasuk menjadikan kamu sebagai jaminan hutang. Mereka benar-benar tidak punya hati."


Terbayang kembali malam pernikahan di antara mereka berdua yang juga terjadi akibat ulah Reni dan Agung.


"Alhamdulillah, Allah menyelamatkan hidupku dengan mempertemukanku denganmu, Mas. Aku tidak bisa membayangkan jika hidup bersama Rehan." Aira menunduk sedih mengenang masa lalunya.


Affan meraih tangan Aira dan menggenggamnya erat. Dia menyetir mobil dengan satu tangannya.


Mobil yang mereka kendarai berjalan lambat melewati taman di dekat kompleks tempat tinggal mereka. Melihat Aira yang begitu tertarik saat menatap keluar pintu mobil, Affan menghentikan mobilnya.


"Apakah kamu ingin berjalan-jalan di sini? Kita bisa berhenti sejenak jika kamu mau." Affan menatap Aira penuh arti.

__ADS_1


"Sepertinya itu menyenangkan. Aku suka anak-anak." Aira menoleh ke arah Affan lalu kembali melihat keluar.


Keduanya turun dari mobil dan berjalan-jalan berkeliling. Ada beberapa wahana untuk bermain dan bangku-bangku yang tertata apik di taman.


Affan menggandeng mesra tangan Aira menuju ke salah satu bangku yang berbatasan langsung dengan jalanan.


Sebagian pengunjung taman itu tinggal di kompleks yang sama dengan Affan sehingga mereka saling mengenal. Dalam acara-acara tertentu seperti syukuran dan hajatan, mereka sesekali bertemu.


"Selamat sore, Pak Affan," sapa seorang ibu-ibu muda yang sedang membawa seorang anak kecil.


"Selamat sore, Bu. Lagi jalan-jalan, ya?" tanya Affan ramah.


"Iya, Pak." Wanita itu terlihat melirik ke arah Aira.


Affan seperti mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Dia menatap Aira yang terlihat canggung saat akan menyapa orang yang belum dikenalnya.


"Oh, iya, perkenalkan ini Aira, istri saya." Affan memperkenalkan Aira pada wanita itu.


"Hallo, Aira. Aku Sasa. Wah, Pak Affan tau-tau udah menikah saja. Aku kemana, ya, saat kalian menikah." Wanita itu mencoba untuk mengingat-ingat.


"Kami memang menikah secara sederhana saja, Bu. Cuma keluarga saja yang tahu."


Mereka mengobrol santai hingga beberapa orang lain datang dan memberikan ucapan selamat untuk mereka.


Di ujung jalan seorang wanita menatap iri melihat kebahagiaan Aira yang berhasil menaklukkan Affan. Selama ini Affan terlalu kokoh membuat dinding pertahanan yang membuat para wanita sulit untuk mendekatinya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir...



__ADS_2