
Faya melirik ke arah Sarah sambil meringis, dia tidak bisa membawa serta Sarah untuk menonton drama percintaan. Tontonan untuk anak seusianya seharusnya berbeda. Sepertinya keinginan untuk menonton drama bersama Aira harus diurungkannya mengingat Sarah tidak ada temannya nanti.
"Aku akan bermain sama Safira," ucap Sarah sepertinya dia cukup tahu diri dan tidak ingin mengganggu kesenangan Faya dan Aira.
"Tidak, Sarah! Aku akan menemanimu bermain saja. Mama masih butuh istirahat yang cukup." Faya tidak ingin mengabaikan Sarah.
"Tante Aira pasti sangat kesepian sedangkan aku masih ada Safira." Sarah tetap ingin mengalah.
Faya akhirnya mengambil jalan tengah, dia akan menonton drama Korea bersama Aira. Lalu, setelah itu dia kembali menemani Sarah bermain. Dengan begitu Faya bisa membagi waktunya secara adil.
"Em, begini saja, aku akan melihat drama dulu bersama mama, setelah itu aku main sama kamu." Faya berbicara dengan wajah yang ceria.
Aira menggeleng.
"Pagi-pagi aku tidak bisa melihat drama, Faya. Nanti yang ada aku mengantuk. Lebih baik kamu temani Sarah bermain dulu baru melihat drama sama aku agak siangan." Aira menukar waktu kebersamaannya. Sejujurnya dia ingin mengalah untuk Sarah.
"Baiklah, Ma. Deal, aki setuju. Aku naik dulu, biar Mbak Sifa mandi dan sarapan dulu. Yuk, Sarah!" ajak Faya.
"Aku permisi dulu, Tante," pamit Sarah.
Aira tersenyum senang. Akhirnya Sarah menganggapnya ada dan berpamitan padanya. Ternyata Sarah hanya belum terbiasa saja dengan dirinya, bukan karena membencinya.
"Iya, Sarah. Bersenang-senanglah!" Aira membawa potongan buah di piring ke ruang tengah.
Mereka kemudian berpisah. Aira duduk di ruang keluarga sedangkan Faya dan Sarah pergi ke lantai dua di mana kamar mereka berada. Sepanjang perjalanannya, Faya dan Sarah terdengar saling mengobrol.
Perutnya yang mulai membesar membuat Aira cepat lelah ketika berjalan. Kekuatan tubuhnya seperti berkurang. Terlebih lagi dia akan selalu terbangun di tengah malam karena tendangan bayi di dalam perutnya.
Kaki Aira yang terasa pegal memaksanya untuk menaikkannya ke atas sofa panjang dan memijatnya sendiri. Ketika Affan berada di rumah, dia jarang sekali mengeluh. Pekerjaan suaminya sangat banyak, dia tidak mungkin menambahnya dengan mengurus dirinya.
Bi Sumi kebetulan lewat saat akan membereskan meja makan bersama yang lainnya. Namun, dia tidak melanjutkan perjalanannya dan memilih untuk berbelok menghampiri Aira. Untuk sekedar membereskan meja makan saja yang lain bisa melakukannya.
"Nyonya, apakah saya boleh membantu?" tanya Bi Sumi sopan.
Aira mengangkat wajahnya dan mendongak ke arah Bi Sumi. Sebenarnya dia sangat senang saat mendengar tawaran Bi Sumi tapi rasanya tidak enak menyuruh orang yang lebih tua. Lebih baik dia berpura-pura baik-baik saja.
"Tidak usah, Bi. Bi Sumi pasti lelah. Nanti pasti baikan sendiri kog. Aku hanya merasa sedikit pegal saja." Aira menolaknya secara halus.
Bi Sumi tersenyum dan tetap berjalan menghampiri Aira.
"Jangan merasa tidak enak, Nyonya. Dulu, waktu saya hamil, ibuku juga suka memijat kakiku. Sebentar saja rasanya sudah enak, hanya untuk melemaskan otot. Nyonya harus mencobanya." Bi Sumi duduk di samping kaki Aira lalu memijatnya perlahan.
"Nanti kalau jadi kebiasaan, Bi Sumi harus tanggung jawab, lho," goda Aira.
Bi Sumi tersenyum mendengar candaan Aira.
"Tidak jadi masalah, Nyonya. Tukang urut langganan Non Faya aja lewat sama pijatan Bi Sumi." Bi Sumi membalas candaan Aira.
Mereka berdua pun tertawa bersama.
Pijatan pelan Bi Sumi membuat kaki Aira merasa nyaman. Meskipun hanya beberapa menit saja rasa pegal itu perlahan memudar. Aira sangat menikmati sampai merasa mengantuk karenanya.
"Terimakasih, Bi. Maaf merepotkanmu," ucap Aira saat melihat Bi Sumi hampir selesai.
"Jangan bilang begitu, Nyonya. Kalau Nyonya merasa pegal, silakan panggil saya. Saya akan memijat kaki Anda kapanpun Nyonya menginginkannya." Bi Sumi tidak ingin Aira merasa sungkan.
"Baiklah, Bi. Aku akan sering-sering merepotkanmu kalau begitu." Aira merasa sangat senang.
"Dengan senang hati, Nyonya. Aku pergi ke belakang dulu, Nyonya," pamit Bi Sumi.
"Jangan lupa sarapan, Bi. Yang lain diajak sekalian." Aira seringkali melihat Bi Sumi dan yang lain menunda waktu sarapannya hingga agak siang.
"Siap, Nyonya!" jawab Bi Sumi sambil lalu.
Aira tersenyum melihat kekonyolan Bi Sumi dengan gayanya yang lucu.
__ADS_1
Untuk mengisi waktunya, Aira melihat acara televisi. Dia mengganti channel untuk mencari kartun. Ketimbang berita gosip, Aira lebih menyukai film kartun.
Berita tentang perkembangan kasus Sintya, beberapa kali muncul dalam lintas berita. Keadaannya masih sama di mana hakim menganggap jika dia terkena gangguan mental. Hal ini berarti Affan tidak jadi mengusutnya terlalu jauh.
Aira merasa tenang. Sebelumnya dia berpikir jika Affan akan meminta seseorang untuk mengusut kasus Sintya hingga ke akar-akarnya. Menurutnya ditangkap polisi saja dan dimasukkan ke rehabilitasi sudah menjadi siksaan tersendiri bagi Sintya.
'Setelah Sintya melukaiku, Mas Affan sangat berhati-hati menjagaku. Aku tidak menyalahkannya karena Sintya yang berpura-pura gila pasti lebih nekat dari sebelumnya.' Aira bermonolog dalam hati.
Rencananya melihat acara TV untuk menghibur hati tetapi malah membuatnya terpikirkan akan masalah Sintya lagi. Masih segar dalam ingatannya betapa jahatnya wanita itu. Dengan keras dia menjambaknya dan membuatnya tak berdaya sebelum pecahan beling menancap di bahunya.
Aira menekan tombol off pada remote dan mematikan TV. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia memilih untuk pergi dari ruang tengah dan berpindah ke kamarnya karena tidak ingin suasana hatinya bertambah buruk.
"Ah, rasanya sulit dipercaya, perutku sudah semakin membesar saja." Aira berdiri di depan cermin dan melihat perut buncitnya dari berbagai arah.
Hanya dengan mengingat calon buah hatinya dia kembali merasa tenang. Dia harus berusaha untuk menjadi kuat dan sehat untuknya. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga untuknya di mana dia akan menjadi seorang ibu untuk yang pertama kalinya.
Ada spiker kecil di sudut kamar Aira, dia mengambilnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidurnya. Dia ingin memutar murotal untuk menenangkan hatinya. Selain itu, suara lantunan ayat suci Al-Quran yang diperdengarkan akan berguna untuk pertumbuhan janinnya.
Aira berbaring di atas tempat tidur sambil mendengarkannya. Sesekali dia menirukan lantunan ayat-ayat suci yang dihafalnya. Setelah beberapa saat berlalu, matanya terasa sangat berat dan semakin mengantuk.
Aira tertidur dengan speaker yang masih menyala.
Kira-kira pukul sepuluh siang, Faya datang ke kamar Aira untuk melihat keadaannya. Jika Aira tidak merasa lelah maka dia akan mengajaknya untuk menonton drama. Faya memeriksanya dan memastikan jika Aira tidur dengan posisi yang benar.
"Mama kecilku lelap sekali. Ya, sudah aku juga mau tidur saja," ucap Faya lirih sambil berjalan meninggalkan kamar Aira.
Sesampainya di kamar, Faya mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali pesan yang masuk. Salah satunya adalah pesan dari Kris. Sudah lama dia tidak memberi kabar hingga Faya hampir saja melupakannya.
Kris masih tinggal dan kuliah di luar negeri. Dia mengatakan di penghujung tahun ini akan pulang ke Indonesia. Jika Faya tidak keberatan, dia ingin mengajaknya bertemu.
Perasaan Faya merasa berbunga setiap kali Kris memberinya kabar. Sejujurnya Faya menaruh hati padanya tetapi itu tidak mungkin karena mereka terhalang oleh keyakinan yang berbeda. Sebelum semuanya terlalu jauh, Faya memilih untuk memupus perasaannya dan menganggap Kris sebagai teman saja, tidak lebih dari itu.
Sebisa mungkin Faya tidak menyinggung Kris dengan kata-kata kasar. Ajakan pertemuan itu ditanggapinya dengan santai dan tidak berjanji untuk itu. Sepertinya Kris sangat tahu tentang Faya, penolakan secara halus yang dilakukannya adalah wujud penjagaan atas dirinya.
Bukannya menyerah, Kris malah semakin tertarik untuk mendapatkan cinta Faya. Diam-diam dia mempelajari keyakinan Faya. Dia ingin tahu ajaran seperti apa yang dianutnya lebih jauh lagi.
Rencana untuk menonton drama bersama Aira gagal total. Keduanya sama-sama tertidur karena merasa bosan. Sampai-sampai mereka melewatkan jam makan siang dan terbangun dengan sedikit terlambat.
Bi Sumi yang sangat pengertian meminta Sarah untuk makan lebih dulu tanpa menunggu Faya dan Aira. Dia tidak berani untuk mengganggu istirahat keduanya memang seringkali beristirahat hingga lewat jam 01.00 siang.
Di hari Sabtu, Affan pulang lebih awal. Dia merasa heran saat tiba di rumah dan mendapati keadaan sangat sepi. Baik Aira maupun Faya tidak tampak di ruang keluarga. Tiba-tiba hatinya merasa sangat khawatir ancaman dari pendukung Sintya, terus membayanginya dan membuatnya tidak tenang.
"Assalamu'alaikum," ucap Affan ketika dia sudah tiba di ruang keluarga.
Netti yang sedang beristirahat di dekat dapur berlari-lari kecil menghampiri Affan. Bi Sumi dan yang lainnya sedang mengobrol di taman samping. Tidak ada yang tahu kepulangan apa selain dirinya.
"Wa'alaikum salam, Tuan. Maaf kami tidak melihat kedatangan Anda." Netti berbicara sambil menyatukan kedua tangannya di depan perut tanpa bergerak.
"Yang lain pada ke mana, Mbak? Kok sepi sekali. Mereka tidak keluar, kan?" tanya Affan penasaran.
"Tidak, Tuan. Nyonya dan Non Faya masih tidur bahkan mereka belum turun untuk makan siang," jelas Netti.
"Hmm." Affan mendengus sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, sudah. Aku pergi ke kamar dulu. Tolong bawakan tas ini ke ruang kerja," imbuh Affan.
"Baik, Tuan." Netti segera mengambil tas yang diletakkan oleh Affan di atas meja lalu membawanya ke ruang kerjanya.
Sementara itu, Affan pergi ke kamar dan melihat apakah Aira masih tertidur atau tidak. Di depan pintu dia mendengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an. Affan berhenti sejenak lalu membuka pintu dengan perlahan.
Rupanya Aira memang masih tertidur pulas dengan memeluk guling di sampingnya. Perutnya yang besar seringkali membuatnya tidak nyaman. Dia sangat sulit untuk bisa tidur dengan nyaman.
Affan tidak terburu-buru mendekatinya, dia memilih untuk pergi ke kamar mandi lalu menjalankan ibadahnya yang tertunda. Dia ingin cepat-cepat pulang agar bisa segera bertemu dengan keluarganya.
Saat Affan sedang berada di kamar mandi ponselnya berdering dengan nada yang sangat keras. Aira yang sedang tertidur seketika terbang dan mencari dari mana sumber suara itu berasal. Takut jika ada panggilan yang penting Aira segera mengambil ponsel Affan dan melihat siapa peneleponnya.
__ADS_1
Di layar tertulis nama Bimo. Merasa jika sangat mengenal orang yang menelepon suaminya, Aira memberanikan diri untuk mengangkatnya. Di seberang terdengar suara Bimo mengucapkan salam dan Aira menjawabnya dengan lirih, bisa dikatakan hampir tidak terdengar.
"Boss! Alhamdulillah kita dan keluarga kita sudah aman sekarang. Seluruh jaringan narkoba dan para pendukung Sintya sudah berhasil diringkus oleh pasukan gabungan. Sebagian di antara mereka meninggal di tempat karena mencoba melawan aparat. Dari pihak kepolisian dan pasukan juga terdapat beberapa korban jiwa. Ada beberapa orang yang mengalami luka-luka cukup serius," ujar Bimo.
Aira membelalakkan matanya terkejut dengan berita yang baru saja didengarnya. Dia tidak menyangka jika selama ini Affan dan Bimo mendapatkan ancaman dari para penjahat. Meskipun saat ini mereka sudah tertangkap tetapi Aira tidak habis pikir dengan suaminya yang merahasiakan masalah sebesar ini darinya. Apapun alasannya dia tidak membenarkan hal ini dan merasa suaminya tidak ingin berbagi masalahnya dengannya.
Di tengah teleponnya, Affan keluar dari kamar mandi dan mendapati Aira sedang memegang ponselnya. Aira merasa heran dan sedikit tegang karena takut jika Affan menganggapnya lancang karena telah mengangkat telepon dari ponselnya. Segera saja dia memberikan ponsel itu kepada pemiliknya lalu duduk di kursi riasnya.
"Halo, Bim. Aku mau shalat dulu nanti kamu bisa mengirim pesan saja," ucap Affan karena sudah terlanjur wudhu.
"Baik, Boss. Tapi semua yang ingin kukatakan sudah aku katakan tadi. Nanti saja kita masih punya banyak waktu untuk mengobrol. Assalamu'alaikum," pamit Bimo.
"Wa'alaikum salam," jawab Affan setelah itu panggilan keduanya pun terputus.
Affan menatap Aira penuh tanya tetapi dia harus beribadah terlebih dahulu karena sudah terlalu lama dia menundanya.
Tatapan Affan membuat Aira gelisah. Bimo pasti mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan berita yang baru saja didengarnya dan Affan merasa penasaran untuk itu. Apapun Yang terjadi Aira akan berkata jujur tentang apa yang baru saja didengarnya dari Bimo.
Sebenarnya Aira merasa gugup tetapi dia mencoba untuk bersikap biasa. Tangannya memainkan alat make up di depannya untuk mengurangi rasa gugurnya. Dia terus menatap ke arah Affan yang sedang shalat dan hampir selesai.
Kegugupannya kian bertambah saat melihat kapan telah selesai dan berjalan menghampirinya. Detak jantung Aira berdegup sangat kencang dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Kata-kata yang sudah disusun dengan rapi olehnya menjadi buyar seketika.
"Sayang, apakah kamu sudah makan?" tanya Affan lembut.
Aira menggeleng. Bibirnya masih sulit untuk berbicara karena kegugupan yang dirasakan sebelumnya. Melihat dari sikap Affan sepertinya dia tidak mempermasalahkan mengenai telepon dari Bimo yang diangkatnya.
"Ya, sudah. Kalau gitu kita makan sekarang." Affan membantu Aira merapikan jilbabnya.
"Iya, Mas." Aira pun merasakan perutnya sudah lapar.
Saat mereka datang ke ruang makan, Faya sudah duduk di sana dan menunggu Netti sedang memanaskan lauk dan sayur. Sambil menunggu lauknya siap, Aira mengambil piring dan gelas untuk dirinya dan Affan.
"Aku pikir tadi Mama sudah makan. Tahu gitu aku pasti memanggil Mama sekalian. Ayah baru pulang atau sudah dari tadi?" tanya Faya.
"Saat Ayah pulang mamamu masih tertidur. Ayah sudah pulang dari tadi dan langsung mandi lalu salat. Aku tanya mamamu katanya dia belum makan. Kebetulan sekali kita bisa makan bersama. Oh, iya, di mana Sarah? Kita ajak sekalian untuk makan," ucap Affan.
"Kata Mbak Netti Sarah sudah makan tadi. Pas aku sama mama tidur dia ditemani oleh Bi Sumi," jelas Faya.
Affan mengangguk dan mengakhiri obrolan mereka karena lauk yang dipanaskan oleh Netti sudah siap. Mengingat sudah lewat jam makan siang mereka memilih untuk menikmati makanan karena perutnya sudah sangat lapar.
Tidak butuh waktu lama mereka pun telah menghabiskan makanan mereka masing-masing. Faya berniat untuk mengajak Aira menonton drama di ruang tengah tetapi Affan lebih dulu memintanya untuk membantunya memilih desain di ruang kerjanya. Akhirnya Faya memilih untuk kembali ke kamarnya saja atau ke kamar Safira untuk bermain-main dengannya.
"Aira," panggil Affan ketika mereka sudah berada di ruang kerjanya.
"Iya, Mas. Maaf jika akhir-akhir ini aku kurang memperhatikan mu. Selain masalah perusahaan, aku juga mengurus masalah Sintya yang telah merongrong ketenangan hidup kita." Affan mulai berbicara jujur setelah semuanya berjalan sangat jauh.
"Aku juga minta maaf. Saat Bimo menelepon mungkin dia berpikir jika aku adalah Mas Affan. Sebenarnya tadi aku sudah menjawab salamnya mungkin saja dia merasa kurang jelas. Secara tidak langsung aku mendengar semua berita dari Bimo yang ingin disampaikan pada Mas Affan." Aira berbicara jujur pada Affan.
Affan mengangguk. Dia juga menyadari kesalahannya yang tidak jujur dari awal tentang apa saja yang dilakukannya bersama Bimo untuk mengungkapkan kejahatan Sintya. Sekarang dia tidak merasa keberatan jika Aira tahu semuanya.
"Syukurlah semua kejadian buruk telah berlalu. Kita tidak perlu merasa khawatir lagi dengan ancaman mereka. Alhamdulillah, polisi telah berhasil menangkap mereka." Aira mengatakan berita yang didengarnya dari Bimo.
Affan menatap Aira tak percaya. Antara bersyukur dan cemas. Bersyukur karena berita yang diberikan adalah kabar bagus sedangkan cemas karena takut Bimo mengabarkan tentang ancaman yang diterimanya.
"Alhamdulillah. Meskipun mereka sudah tertangkap, kita tetap harus hati-hati. Bahaya bisa datang tak terduga tanpa kita ketahui penyebabnya. Oh, iya, mari kita memilih desain interior untuk proyek baru yang akan aku kerjakan. Klien meminta desain unik untuk studio shooting dan pemotretan." Affan menyodorkan konsep bangunan yang diinginkan oleh kliennya.
Aira membaca tulisan dan garis besar konsep yang diinginkan oleh klien. Dari detail konsep yang dibacanya, Aira menilai jika klien menginginkan konsep yang kekinian dan Instagram able. Kemungkinan besar ditujukan untuk konten-konten anak muda.
Penjelasan Aira membuat Affan merasa kagum. Ternyata istrinya itu memiliki ketajaman pemikiran dan sangat jeli dalam memahami konsep. Sebelum Affan mengatakan tentang usia kliennya yang masih muda, Aira sudah bisa menebaknya.
"Aku memiliki beberapa gambaran untuk ini, Mas. Apakah ada pensil dan penggaris di sini?" tanya Aira.
"Sebentar aku ambilkan." Affan berjalan menghampiri sebuah laci dan kembali dengan alat tulis yang dibutuhkan oleh Aira.
Aira mengamati desain interior milik Affan dari berbagai sisi. Dia menandai beberapa titik untuk disempurnakan. Ada beberapa bagian yang harus ditambah dan beberapa lainnya untuk dikurangi.
__ADS_1
****
Bersambung ....