Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 107. Kedamaian


__ADS_3

Jika sebelumnya Laura meminta maaf karena terpaksa, kali ini dia benar-benar tersadar dan mengakui jika selama ini dia memang salah. Begitu mudah Tuhan membalikkan hati seseorang dan membuatnya kembali ke jalan yang benar.


"Aira, maafkan aku. Tidak seharusnya aku menilai orang dari kekayaan yang dimilikinya. Penampilan sederhana Faya juga telah mengecoh ku, ternyata kalian lebih kaya dari kami." Laura berbicara sambil terisak.


"Aku sudah melupakannya. Kamu hanya khilaf saja. Jangan kamu pikirkan lagi, yang terpenting kamu tidak lagi merendahkan orang lain setelah ini." Aira tersenyum tulus pada Laura.


Lama terdiam, Affan pun ikut menambahkan. Dia tidak ingin Pak Aan dan Laura berpikir jika Aira marah pada mereka karena memang dari awal dia tidak marah. Justru dia dan Faya yang sangat marah ketika Laura menghinanya.


Cerita dari Affan membuat Laura dan Pak Aan semakin kagum. Menurutnya, di jaman modern seperti sekarang sangat jarang tersisa orang seperti Aira.


Aira meminta Affan untuk bergeser agar dia bisa lebih dekat dengan Laura. Setelah melihat penyesalan di wajah Laura, Aira tidak ingin kesedihannya berlarut-larut.


"Laura, aku sudah memaafkan jauh sebelum kamu meminta maaf. Setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda-beda. Aku yakin kamu berkata seperti itu karena kamu belum mengerti kehidupan orang lain yang tidak seberuntung dirimu." Aira berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih, Aira. Semoga di masa mendatang kita bisa berteman baik. Aku ingin banyak belajar darimu." Laura berbicara sambil terisak.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Aira lantas memeluk Laura penuh haru.


Saat menjelang magrib Laura dan ayahnya baru pulang dari kediaman Affan. Mereka akhirnya bisa pergi dengan perasaan lega dan persahabatan yang hampir renggang bisa tersambung kembali.


***


Kehidupan Affan dan keluarganya begitu damai setelah kasus Sintya terselesaikan. Tidak ada ketakutan yang merongrong keseharian mereka.


Affan bisa bekerja dengan tenang, begitu juga dengan Faya yang sering melakukan aktivitas di luar rumah. Untuk Aira sendiri, dia lebih banyak tinggal di rumah karena tengah hamil besar. Selain itu, dia juga harus mengurus dan mendidik Sarah dan Safira.


Setelah lulus sekolah dasar, Sarah memilih untuk meneruskan pendidikan ke pondok pesantren. Affan dan Aira tidak melarangnya dan mendukungnya sedangkan Safira yang masih kecil masih sangat lengket sama Aira.


"Ma, tidak terasa, ya. Sebentar lagi adikku akan lahir," ucap Faya ketika dia dan Aira duduk di ruang tengah bersama Aira.


"Iya. Perkiraan dua minggu lagi." Aira mengelus perutnya yang membesar.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu, Ma. Jangan takut,,, ya. Aku akan selalu berdoa untuk keselamatan kalian." Faya memeluk Aira.


"Kamu tenang saja, Sayang. Kan kebetulan km pas libur. Jadi aku tenang-tenang aja ada yang selalu nemenin." Aira terkekeh.


"Kita memang ditakdirkan untuk menjadi bestie kayaknya. Untung saja kamu menikah sama ayahku, coba kalau enggak. Aku bisa kehilanganmu. Pasti tantemu yang galak itu menjodohkanmu sama aki-aki, hiii." Faya bergidik.


"Kamu bisa aja. Tapi dulu aku sempet tidak yakin apa kamu mau nerima aku sebagai ibu tirimu atau tidak."Aira menceritakan kisahnya di awal pernikahannya.


Faya merenggangkan pelukannya lalu menatap Aira sambil tersenyum.


"Aku malah yang gak yakin apakah kamu bisa suka sama ayahku yang sudah tua itu atau tidak. Dulu aku cuma berharap jika ayah menikah lagi dia dapat istri yang sholiha dan menyayangiku. Tidak tahunya Allah mengirimkan kamu untukku. Ya, aku seneng banget lah." Faya tertawa.


Mereka terus bercerita dan bercanda hingga sama-sama lelah. Keduanya tertidur di ruang keluarga dengan TV yang masih menyala.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2