
Affan mendorong troli belanja mengikuti ke mana Aira melangkah. Mereka terlihat sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai.
Sikap manis Affan yang ditujukan untuk Aira membuat semua orang merasa iri. Mereka tidak sengaja melakukannya dan tidak ingin memancing perhatian orang.
Sintya datang dari arah yang berlawanan. Dia berpura-pura mengambil barang belanjaan dan mencari-cari sesuatu.
Affan dan Aira saling berpandangan. Mereka curiga kedatangan Sintya memiliki tujuan yang tidak baik.
'Ya, Allah, semoga wanita ini tidak bermaksud jahat pada istriku.'
Aira yang merasa tegang tiba-tiba berkeringat dingin. Pikirannya sangat kacau dan mudah cemas akhir-akhir ini. Bisa dibilang sejak dirinya hamil dia mengalami perubahan suasana hati yang tiba-tiba.
Keringat yang keluar dari tubuh Aira sangat banyak sehingga terlihat membasahi wajahnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Affan panik ketika melihat bibir Aira menjadi pucat.
Aira menggeleng.
Tanpa meminta persetujuannya, Affan mengangkat tubuh Aira dan membawanya menepi. Dia meninggalkan keranjang belanjaannya begitu saja.
Seorang karyawan pusat perbelanjaan yang peduli padanya berjalan cepat mendekatinya.
Sintya tidak ingin ketinggalan, dia pun berlari mendekati Affan. Dia tidak tahu jika kedatangannya membuat Aira semakin sesak.
"Maaf, Nyonya. Bolehkah saya memakaikan minyak kayu putih di leher Anda?" tanya pegawai toko itu.
Aira mengangguk.
"Terimakasih, Mbak. Istri saya sedang hamil muda, aku tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba pusing," jelas Affan.
__ADS_1
Sintya syok saat mendengar Affan mengatakan jika istrinya sedang hamil. Jantungnya terasa berhenti berdetak dan terbengong.
Alasan perceraian Sintya dengan James karena tidak memiliki seorang anak. Hatinya merasa semakin iri pada Aira karena dia bisa hamil.
"Aku curiga dia hamil anak orang lain," celetuk Sintya.
Affan menatapnya tajam. Dia tidak terima Sintya mempermalukan Aira di depan orang banyak.
"Jangan sampai aku lupa jika kamu adalah seorang wanita, Sintya." Affan menunjukkan amarahnya.
Aira menggenggam tangannya mencoba untuk menenangkannya. Orang akan semakin memperhatikan mereka jika Affan meladeni Sintya.
"Aku ingin tahu keadaan keponakanku setelah memiliki ibu tiri yang sangat muda. Jika sampai dia tidak bahagia maka aku akan membawanya pergi." Setelah mengatakan itu Sintya pergi dari hadapan Affan dan Aira.
Affan mengelus punggung Aira yang terlihat sedih setelah mendengar ucapan Sintya. Dia berpikir bagaimana jika Faya memang terpaksa menerimanya sebagai ibu tirinya.
***
Faya terlhat sedang mengobrol dengan Kris. Beberapa hari lagi Kris akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.
Hari ini dia datang membawa hadiah kelulusan untuk Faya sekaligus berpamitan. Sebenarnya dia ingin menyatakan perasaannya pada Faya tetapi urung dilakukannya ketika melihat Sintya datang.
Kris memilih berpamitan untuk pulang.
"Faya!" pekik Sintya langsung menghambur memeluk Faya.
Faya tidak mengerti bagaimana wanita ini bisa mengenalnya. Dia merasa heran dengan wajah sedihnya dan mengapa terisak sambil memeluknya.
Bibir Faya bergerak-gerak ingin bertanya tetapi tertahan karena Sintya kembali berbicara.
__ADS_1
"Kamu pasti lupa siapa tante. Aku Sintya sepupu mamamu Kayra," ucap Sintya sambil memegang kedua bahu Faya.
Faya memperhatikan wajahnya. Secara sekilas wajahnya memang sangat mirip dengan ibunya.
"Apa kabar, Tante? Mengapa tante tiba-tiba datang? Em, maksudku apakah tante hanya sendirian saja?" Faya terlalu berterus terang.
Dia tidak bisa bersikap manis ataupun berpura-pura baik pada siapapun.
Dari balik pintu Bi Sumi memperhatikan tamunya. Sejak tadi dia mengawasi Faya dari ruang tamu dengan berpura-pura bekerja.
"Hiks ... Tante hidup sebatang kara sekarang. Tante tidak lagi tinggal di Ausy karena suami tante menceraikan tante. Dia mencintai wanita lain." Tangis Sintya kembali pecah.
Tidak ingin menjadi tontonan orang yang melintas di depan rumahnya, Faya membawa Sintya masuk ke dalam rumah.
Dalam hatinya Sintya bersorak. Dia sangat yakin bisa masuk ke dalam kehidupan Affan melalui Faya.
Faya curiga pada tantenya dan berpikir jika wanita itu datang dengan niat yang tidak baik. Dia hanya berusaha bersikap baik pada tamu selama kedatangannya tidak mengganggu.
Sintya melihat ke sekeliling dan mengagumi kemegahan rumah Affan. Hasrat untuk menjadi penghuni rumah itu semakin besar. Selama ini dia juga mendengar jika Affan memiliki perusahaan yang cukup besar.
'Beruntung sekali wanita udik itu dipersunting oleh Affan. Aku tidak peduli meskipun saat ini dia hamil. Aku akan tetap merebut posisinya. Sebagai sepupu Kayra, aku lebih berhak atas status ini.'
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.
__ADS_1