Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 73. Menyesal


__ADS_3

Pelayan di depot tersebut saling bergunjing. Mereka tidak ingin melihat Affan dan Aira tinggal lebih lama di sana. Pesanan yang seharusnya dimakan di sana mereka bungkus untuk dibawa pergi.


Setelah pesanan selesai dibuat, salah seorang pelayan mengantarkan sop buah dan salad ke meja Affan. Pelayan yang mengantarkan berbeda dengan pelayan yang menerima pesanan tetapi memiliki penampilan yang sama-sama seksi.


Kaki jenjang pelayan terekspos hingga ke atas lutut dengan potongan rok pendek yang longgar. Untuk atasannya dia mengenakan kaos lengan pendek ketat. Jika dilihat-lihat pelayan itu terlihat seperti tokoh anime Jepang yang sedang cosplay.


"Ini pesanannya, Nona. Dan ini tagihannya." Pelayan itu meletakkan pesanan Aira dan Affan di atas meja lalu menyodorkan secarik kertas nota.


Aira menatap pelayan itu lalu menatap Affan dengan penuh tanya. Pada saat pemesanan dia merasa tidak mengatakan jika sop buah dan salad yang dipesan tidak untuk dimakan di sana.


Affan berdiri dan mengeluarkan kartu namanya.


"Ternyata bukan cuma pakaian Anda saja yang tidak sopan, sikap Anda juga. Saya tidak memiliki uang tunai, tolong berikan kartu nama ini pada penyewa kios ini. Saya tunggu di ruangan saya." Affan meletakkan kartu namanya di atas meja lalu mengambil tangan Aira.


Aira masih syok dengan apa yang baru saja dialaminya. Dia tidak bisa berkutik dan mengakui jika Affan memiliki ketegasan yang luar biasa. Dibalik sifatnya yang lembut dan penyayang, dia memiliki sifat tegas yang membuat nyali lawannya menciut.


"Kita kembali ke ruanganmu saja, Mas," ucap Aira ketika mereka telah sampai di luar depot es buah.


"Kamu boleh membeli yang lain. Maaf kalau sikapku membuatmu tidak nyaman. Aku tidak tahan, penjual sop buah saja begitu tidak sopan." Wajah Affan masih terlihat kesal. Sulit dipercaya, dia seperti sedang diusir di wilayah kekuasaannya sendiri.


"Aku hanya ingin salad ini saja. Kita makan saja di ruanganmu." Aira tersenyum.


Senyuman Aira adalah penyejuk hati bagi Affan. Melihat wajah bahagia istri kecilnya, rasa kesal yang menyelimuti hatinya perlahan terkikis.


Pelayan yang melayani Aira dan Affan tertegun menatap kepergian keduanya. Setelah menjauh dan tak terlihat lagi, dia baru melirik ke kartu nama yang ditinggalkan oleh Affan. Posisi kartu nama yang tertelungkup membuatnya tidak bisa melihat nama pemiliknya.


Dua pelayan lain datang untuk bergunjing. Salah satu di antaranya langsung menarik kartu Affan dan membukanya.

__ADS_1


Pelayan itu membulatkan mata dan terlihat gemetar. Tangannya yang lain menutup mulutnya secara spontan. Dia tidak tahu apakah setelah ini mereka masih bisa berjualan di tempat ini atau tidak.


"Kenapa, Rein?" tanya pelayan yang sejak tadi merasa kesal pada Affan.


Pelayan yang dipanggil Rein menyerahkan kartu nama Affan. Mereka melihatnya bersama-sama dan merasa syok saat menyadari kenyataan di mana dia telah menyinggung pemilik perusahaan tempat mereka mengais rezeki.


Satu persatu mereka menjatuhkan tubuhnya di kursi yang mengelilingi sebuah meja. Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka sangat menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan.


"Ini gawat! Usaha ini cukup menjanjikan. Dalam sehari kita bisa mengantongi omset yang tidak sedikit. Sepertinya semua itu sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan." Salah satu pelayan berbicara sambil bersandar. Tubuhnya merasa lemas seperti tidak bertulang.


"Kita pasrah saja. Mau bagaimana lagi, kita juga yang salah."


"Membuka usaha di tempat lain belum tentu akan seramai ini. Sebaiknya kita meminta maaf terlebih dahulu, siapa tahu Pak Affan akan memaafkan kita."


Pelayan yang lainnya mengangguk setuju. Jika perlu mereka akan memohon pada Affan agar tidak dipaksa untuk menutup usahanya.


Baru sebulan buka, modal yang mereka keluarkan sudah kembali. Sangat disayangkan jika mereka harus berhenti dan kehilangan mata pencahariannya setelah ini.


Di tempat lain, Aira dan Affan sedang berada di dalam lift yang mengantar mereka ke ruangan Affan. Affan sudah terlihat lebih tenang dan melupakan kejadian tadi. Baginya ini hanyalah sebuah masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan.


"Mas," panggil Aira.


"Iya, Sayang," jawab Affan sambil menatap lembut Aira.


Tidak ada orang lain di dalam lift yang mereka gunakan. Hanya mereka berdua saja.


"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Aira penuh teka-teki.

__ADS_1


"Katakan saja, Sayang. Selama aku bisa memberikannya maka aku akan berikan."


Aira tersenyum. Ada keraguan di hatinya tetapi dia tetap akan mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dia tidak ingin suaminya menggunakan kekuasaannya untuk mendzolimi orang lain.


"Begini, Mas. Ini tentang penjual salad ini." Aira mengangkat salad dan sop buah di tangannya.


"Iya, kenapa dengan penjual es buahnya?" Affan belum mengerti ke mana arah pembicaraan Aira.


"Mereka pasti memiliki keluarga. Kita tidak tahu latar belakang mereka yang sebenarnya. Aku memang tidak membenarkan cara berpakaian mereka dan juga sikap mereka yang kurang sopan, aku harap Mas Affan tidak langsung mengambil tindakan yang kejam pada mereka. Setidaknya beri mereka satu kesempatan untuk berubah. Jika memang sudah tidak bisa diperingatkan lagi, Mas Affan boleh meminta mereka untuk menutup usahanya." Aira berbicara dengan sangat fasih.


"Sebenarnya aku juga berpikir begitu. Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Aku hanya ingin mereka menghargai dirinya sendiri dengan berpakaian yang lebih sopan. Mungkin mereka mengusir kita karena merasa tersinggung dengan ucapanku."


Jawaban Affan membuat Aira merasa lega. Semula dia berpikir jika Affan akan menindak tegas pemilik depot es buah dan mencabut ijin jualannya. Ternyata suaminya hanya menggertak mereka saja.


"Terimakasih, Mas. Jujur, sebagai sesama wanita aku merasa miris dengan penampilan mereka tetapi kita tidak bisa menilai kebaikan seseorang hanya dari luarnya saja. Mungkin mereka juga memiliki pengetahuan yang minim tentang ilmu agama atau pengaruh dari lingkungan tempat tinggal mereka." Aira menambahkan.


Affan merasa gemas dengan Aira yang selalu membuatnya merasa kagum. Dia bersyukur dalam penantian panjangnya, Tuhan mengirimkan pendamping sholihah seperti yang diinginkannya.


"Istri kecilku makin pintar saja. Kamu memang yang terbaik, Sayang." Affan mengecup punggung tangan Aira yang dipegangnya.


Lift yang mereka gunakan telah terbuka. Perjalanan mereka terasa begitu singkat. Mereka sudah berada di lantai di mana ruangan Affan berada dalam sekejap.


Aira dan Affan beberapa kali berpapasan dengan karyawan perusahaan yang sedang bekerja. Mereka menyapa keduanya dengan sopan.


Di kejauhan terlihat Bimo sedang berjalan cepat menghampiri keduanya dengan wajah yang tegang. Affan dan Aira saling berpandangan, mereka mempercepat langkahnya untuk menyongsong Bimo.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2