Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan


__ADS_3

Entah karena grogi atau apa, tangan Faya menyenggol alat tulis milik Pak Rendi di atas meja hingga jatuh berhamburan ke lantai. Faya menghentikan langkahnya dan ingin memunguti alat tulis yang terjatuh. Namun, Pak Rendi sudah lebih dulu turun tangan untuk membereskannya.


"Cie ... cie ...! Adegan romantis di mulai!" seru seorang mahasiswa menggoda Faya dan Pak Rendi.


"Sudah, kamu bagikan soalnya saja. Biar ini aku yang bereskan," ucap Pak Rendi.


Faya mengangguk dan segera beranjak untuk membagikan soal di tangannya. Teman-temannya masih terus menggodanya tetapi dia berusaha mengacuhkannya. Sebisa mungkin dia berusaha untuk percaya diri dan tidak menanggapi ocehan teman-temannya.


Justru malah Pak Rendi yang terlihat salah tingkah. Dia tidak berani menatap ke arah murid-muridnya. Kehidupannya yang belum mapan membuatnya tidak berani untuk mendekati wanita manapun.


Pak Rendi adalah lulusan terbaik kampus ini, dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk menamatkan S1 di sini. Semasa kuliah, dia juga didapuk untuk menjadi asisten dosen dan menghabiskan sebagian waktunya untuk mengabdi pada kampus. Rektor dan para dosen senior pun sepakat untuk merekrutnya menjadi dosen pembantu di sana.


Keluarga Pak Rendi di kampung hanya seorang petani. Mereka jarang sekali bertemu karena dia hanya pulang setahun sekali. Tahun ini, Pak Rendi berusaha untuk pulang ke kampung halamannya.


Faya kemudian segera mengerjakan tugasnya setelah selesai membagikan soal. Dia terlihat serius dan mengerjakannya dengan sangat teliti. Diam-diam, Pak Rendi memperhatikannya saat dia sedang mengerjakan tugasnya.


"Sepuluh menit lagi jawaban dikumpulkan!" seru Pak Rendi mengundang bermacam reaksi dari mahasiswanya.


Untuk sesaat suasana menjadi gaduh tetapi tidak berlangsung lama. Mereka kembali fokus untuk mengerjakan sisa soal yang belum mereka selesaikan. Satu demi satu mahasiswa yang sudah selesai maju ke depan untuk mengumpulkan tugasnya.


"Pelajaran hari ini saya akhiri sampai di sini. Kita akan bertemu di kesempatan lain. Jangan lupa untuk dipelajari ulang materi yang telah saya sampaikan. Hasil dari kuis pertemuan kemarin saya letakkan di sini, silakan kalian ambil untuk menjadi pembelajaran." Pak Rendi meninggalkan setumpuk kertas jawaban yang telah dikoreksi olehnya.


Beberapa orang mahasiswa langsung mengambil kertas milik mereka masing-masing. Mereka melakukannya dengan cepat karena sebentar lagi dosen lain akan mengajar di sana.


Faya tersenyum karena hasil dari kuis pertemuan lalu cukup bagus. Meskipun tidak dinilai dengan angka, sangat sedikit tanda silang di sana. Meskipun begitu, Faya tetap tidak tahu berapa nilai yang dia dapatkan.


Teman-temannya ada yang berteriak kegirangan dan ada pula yang diam karena banyak jawaban yang salah. Faya tidak mempedulikannya. Dia memilih untuk menyimpan kertas jawabannya di dalam tas.


Pergantian jam pelajaran telah memasuki menit ke sepuluh tetapi dosen yang hendak mengajar belum juga terlihat. Salah seorang mahasiswa pergi untuk melihat ke luar ruangan. Belum terlihat tanda-tanda jika dosen yang mengajar akan datang ke kelas dalam waktu dekat.


Ruangan menjadi gaduh ketika mahasiswa itu mengatakannya jika dosennya belum terlihat. Seisi kelas terlihat sangat santai. Penghuninya mengobrol dan bercanda satu sama lainnya.


"Fay, kamu anteng-anteng aja. Mau ikutan sama kita pergi ke mall sore ini, nggak? Vino ulang tahun, lho. Siapa aja yang mau ikut akan ditraktir sama dia," ucap Sandra.


"Maaf, aku udah ada janji sama keluarga." Faya tidak ingin hadir ke acara ulang tahun tanpa undangan resmi dari pemilik acara.


"Payah, kamu! Padahal seru, lho. Kita bisa sekalian shopping. Jangan khawatir, kalau gak punya uang kami lihat-lihat saja gak bayar, kog." Sandra berbicara dengan sedikit mengejek.


"Lain kali saja. Aku hari ini beneran gak bisa. Sopirku udah siap menjemput saat jam pulang kuliah." Faya kukuh pada pendiriannya.


"Ya, sudah." Sandra terlihat kecewa.


Di belakang Faya teman-temannya bertanya pada Sandra tentang tanggapan Faya.


"Bagaimana?" tanya salah satu diantara mereka.


Sandra mengangkat bahunya sambil menggeleng. Ini sudah ke sekian kalinya mereka gagal untuk mengundang Faya ke acara di luar kegiatan kampus. Dan kesekian kalinya juga mereka tidak berhasil.


Suasana kembali tenang saat suara langkah kaki mendekati kelas. Murid yang duduk di bagian paling depan dan dekat dengan pintu memberi isyarat pada teman-temannya untuk diam. Mendadak ruangan menjadi senyap.


***


Karena harus servis rutin mobil Faya, Pak Toni sedikit terlambat untuk menjemputnya ke kampus. Teman-temannya sudah pulang, hanya tinggal segelintir orang saja yang masih terlihat di kampus. Faya berjalan mondar-mandir di dekat gerbang kampus.


Seorang pengendara motor tiba-tiba berhenti di samping Faya. Wajahnya belum terlihat karena dia mengenakan helm dan masker. Dilihat dari postur tubuhnya, dia adalah seorang pria.


Faya tidak ingin terlalu percaya diri bahwa pria itu berhenti untuk menyapanya. Dia bersikap acuh dan melihat ke arah lain. Sesekali dia melihat ke jalanan memeriksa apakah Pak Toni sudah datang atau belum.


"Assalamu'alaikum, kamu masih di sini?" tanya pengendara motor yang telah melepas helmnya.


Faya menoleh ke arahnya dan melihat ke sekitarnya mencari sosok lain di tempat itu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Artinya Faya lah yang disapa olehnya.


"Wa'alaikum salam, Pak. Iya, Pak. Mobil yang menjemput saya sedikit terlambat datang tapi sudah dalam perjalanan menuju ke sini," jelas Faya.


"Oh, aku pikir kamu sedang menunggu taksi. Jam-jam segini agak susah kalau mau nyari taksi." Pengendara motor ternyata adalah Pak Rendi.


"Terimakasih atas informasinya, Pak. Saya jarang naik taksi." Faya tersenyum tipis lalu kembali menunduk.


Pak Rendi mengangguk dan masih tak bergeming dari atas motornya.


'Ini orang maunya apa, sih? Kenapa dari tadi dia tidak mau pergi. Bagaimana kalau ada mahasiswa yang melihat kami mengobrol? Bisa-bisa besok seisi kelas menjadi heboh. Parahnya lagi aku bisa diserang oleh penggemar Pak Rendi,' gumam Faya dalam hati dengan perasaan was-was.


Waktu seakan berjalan lambat ketika itu. Faya merasa tidak nyaman berdiri di depan gerbang bersama Pak Rendi. Satpam kampus yang sedang bekerja di dekatnya pun seringkali melihat ke arah mereka.


Pak Rendi terlihat santai. Dia memeriksa ponselnya sambil duduk di atas motor. Kakinya yang panjang menopang motor dan tubuhnya yang sedikit condong ke depan dengan siku yang bertolak pada setang motor.


Setelah lebih dari lima belas menit menunggu, mobil yang menjemput Faya akhirnya tiba. Hampir saja dia melupakan Pak Rendi dan meninggalkannya begitu saja. Meskipun dia tidak memintanya untuk menemaninya, Faya harus berpamitan sebagai penghormatan antara murid dengan dosennya.


"Pak Rendi, saya pergi dulu. Mobil yang menjemput sudah datang. Assalamu'alaikum," ucap Faya.


"Wa'alaikum salam." Pak Rendi menjawabnya dengan santun.


Setelah kepergian Faya, Pak Rendi kembali mengenakan helmnya. Dia melihat kanan kiri dan mendapati beberapa orang pencopet dan penjambret sedang duduk di depan kampus. Mereka tidak beraksi setiap hari tetapi sering beraksi jika korban lengah.

__ADS_1


***


Di dalam mobilnya, Faya terlihat sangat bahagia. Meskipun terlihat cuek tapi sebenarnya dia senang Pak Rendi memperhatikannya. Di antara ratusan mahasiswi yang mengidolakannya, baru dia yang mendapatkan perhatiannya.


'Semoga saja teman-teman tidak ada yang lihat saat Pak Rendi menemaniku di depan gerbang,' bisik Faya dalam hati.


"Kita langsung pulang atau mampir dulu ke mana, Non?" tanya Pak Toni saat dalam perjalanan.


"Langsung pulang aja, Pak. Aku mengantuk sekali," jawab Faya sambil menutup mulutnya yang menguap.


"Baik, Non." Pak Toni kembali fokus dengan ramainya jalanan yang dilaluinya.


Saat mengantuk, Faya sangat mudah tertidur. Seperti kali ini, dia langsung tertidur sesaat setelah berbicara pada Pak Toni. Dia sama sekali tidak tahu jika mobil yang dikendarainya sedikit bermasalah.


Bengkel yang menangani mobil Faya membereskan servis dengan tergesa. Mereka tidak memeriksa ulang mesin sebelum menyerahkan pada Pak Toni. Mereka melakukannya sesuai perintah Pak Toni karena sudah sangat terlambat menjemput majikannya.


"Kenapa ini?" Pak Toni menepikan mobilnya dan berniat untuk memeriksa mobilnya.


Sebelum turun dia menoleh ke belakang dan mendapati Faya tengah tertidur pulas. Pak Toni membuka pintu dan keluar dengan hati-hati agar tidak membangunkan Faya. Pak Toni lalu membuka mesin bagian depan dan memeriksanya.


"Ternyata air radiatornya hampir habis. Mana jauh dari toko lagi. Air minumku juga tinggal sedikit." Pak Toni terlihat bingung mau minta tolong siapa.


Pak Rendi tidak tahu jika mobil yang mogok adalah mobil milik Faya. Jiwa sosialnya yang tinggi membuatnya berhenti dan berniat untuk menawarkan bantuan. Dia tidak peduli mengenai siapa pemiliknya.


"Assalamu'alaikum, Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu? Saya memang bukan bengkel tapi sedikit tahu mesin," ucap Pak Rendi menawarkan diri untuk membantu.


"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah, terimakasih, Mas. Begini, mobil ini tidak rusak. Tadi juga habis servis rutin tapi sebelum diserahkan ke saya mereka lupa memeriksa air radiatornya," jelas Pak Toni pada Pak Rendi.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu tunggu di sini sebentar. Saya akan membawakannya untuk Anda." Pak Rendi kembali menyalakan mesin motornya.


"Sebelumnya terimakasih, Mas!" seru Pak Toni terlihat senang.


Faya masih tertidur pulas dan tidak sadar jika mobilnya berhenti. Beruntung Pak Rendi segera kembali. Dia lalu membantu Pak Toni untuk mengisi air radiator.


"Sekarang bapak silakan masuk dan coba nyalakan mesinnya dulu. Kalau sudah menyala normal, biar saya yang akan menutup kap depannya," ucap Pak Rendi.


"Baik, Mas." Pak Toni segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


Mesin menyala dengan baik.


Pak Rendi segera menutup kap mesin depan. Mobil Faya berguncang saat dia menutupnya dengan keras. Suara yang ditimbulkannya pun terdengar sangat keras sehingga membuat Faya terbangun.


Faya reflek membuka matanya dan melihat wajah Pak Rendi di depan mobil. Karena masih mengantuk, pandangannya kembali kabur dan dia pun terlelap kembali. Dalam keadaan setengah sadar dia seperti mendengar suara Pak Toni mengucapkan terimakasih pada Pak Rendi.


"Apakah dia beneran Pak Rendi? Sepertinya aku terlalu berhalusinasi." Dengan matanya yang terpejam, Faya bergumam lalu kembali tertidur.


'Aku tidak bermaksud untuk mendekatinya tapi kenapa apa yang aku lakukan selalu terhubung dengannya.' Pak Rendi lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat kosnya.


Tidak hanya di kampus saja dia diidolakan. Di tempat kos pun dia sering diperhatikan oleh lawan jenisnya. Sikapnya yang baik dengan pembawaannya yang kalem membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.


Antara kos pria dan kos wanita terpisah oleh pagar pembatas. Ada satpam yang menjaga masing-masing tempat selama dua puluh empat jam. Namun, seseorang masih boleh saling berkunjung dan mengobrol di teras depan.


Seringkali penghuni kos wanita mengirimkan makanan untuk Pak Rendi. Mereka seringkali membuat gaduh sehingga Pak Rendi tidak pernah mau menerimanya. Dia berpesan pada satpam jaga agar memakan makanan itu karena dia tidak menginginkannya.


Sebenarnya mereka tahu tetapi tidak kapok untuk memberikan makanan meskipun tidak dimakan olehnya setidaknya dia tahu karena satpam yang menerimanya pasti melapor padanya.


"Selamat sore, Mas Dosen!" sapa satpam yang membukakan pintu untuknya.


"Selamat sore, Pak. Kabar sehat?" tanya Pak Rendi sambil menuntun motornya ke parkiran khusus.


"Alhamdulillah sehat, Mas. Tadi ada yang ngasih buah di pos, Mas Dosen mau ambil tidak?" tanya satpam Heri.


"Tidak, Pak. Bawa pulang saja buat oleh-oleh anak. Aku mau pergi ke dalam dulu, assalamu'alaikum," pamit Pak Rendi.


"Wa'alaikum salam. Terimakasih, Mas." Satpam Heri tersenyum senang karena hampir setiap hari mendapatkan makanan dari penggemar Pak Rendi.


Pak Rendi hanya mengangguk saja sambil lalu.


'Kuat sekali iman Mas Dosen. Padahal kan, cewek yang kos di sebelah cantik-cantik. Mereka rata-rata juga pekerja kantoran.' Satpam Heri merasa kagum pada sosok Pak Rendi yang tidak mudah tergoda oleh wanita.


Saat berada di kamarnya, Pak Rendi kembali terbayang wajah Faya. Meskipun penampilannya sangat sederhana tetapi dia terlihat anggun. Sosok wanita yang sangat diidamkan olehnya.


"Kelihatannya Faya berasal dari keluarga berada, rasanya tidak mungkin aku mendapatkan hatinya meskipun aku tertarik padanya. Mungkin membatasi perasaan hanya sebatas dosen dengan mahasiswi saja akan lebih baik untukku." Pak Rendi sadar akan posisinya.


Sebagai dosen magang, gajinya belumlah seberapa. Dia tidak ingin memberatkan kedua orang tuanya untuk membiayai pernikahannya. Sedikit demi sedikit dia akan menabung uangnya sendiri.


Sebelum lulus kuliah, dia tinggal di kos yang lebih kecil dan sederhana dari ini. Dia baru pindah ke sini sejak setahun belakangan ini setelah dia mendapatkan uang tambahan dari menjadi asisten dosen. Untuk makanan sehari-hari, Pak Rendi lebih memilih untuk memasak sendiri.


Seorang pria dari desa kebanyakan memang bisa memasak. Sejak kecil mereka sudah dilatih untuk mandiri. Mereka juga terbiasa untuk membantu kegiatan bertani kedua orang tuanya.


***


Di kediaman Affan,

__ADS_1


Faya telah sampai di rumah dalam keadaan tertidur. Dia baru terbangun ketika Pak Toni membuka pintu dan menutupnya dengan keras.


"Maaf, Non. Saya tidak sengaja," ucap Pak Toni yang kembali membuka pintu untuk meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Pak. Kita sudah sampai di rumah, ya?" tanya Faya sambil mengucek matanya yang masih enggan terbuka.


"Sudah, Non. Non Faya tidurnya pules banget. Tadi mobil sempet mogok aja, Non Faya gak tahu," jelas Pak Toni.


Faya sedikit terkejut dengan ucapan Pak Toni. Dia ingat sepintas melihat Pak Rendi saat terjaga. Dia berpikir jika itu hanya mimpi.


"Oh, mogok, ya," ucap Faya masih setengah tidak percaya.


"Iya, Non. Untung ada mas-mas yang bantuin. Orangnya ganteng, baik lagi. Aku tidak menyangka kalau di kota besar yang serba dinilai dengan uang masih ada orang yang mau menolong tanpa pamrih," imbuh Pak Toni.


'Gawat! Berarti Pak Rendi tadi lihat aku sedang tidur, dong. Pasti aku tidurnya malu-maluin.' Faya merasa tidak percaya diri jika bertemu Pak Rendi lain kali.


"Semoga saja aku tidak terlihat memalukan saat tertidur, Pak." Faya turun dari mobilnya sambil bicara.


"Sepertinya dia tidak melihat Nona," ucap Pak Toni.


"Alhamdulillah. Pak Toni tahu sendiri kadang aku suka terlihat konyol saat tidur. Pasti sangat memalukan." Faya tertawa sambil berlalu.


"Non Faya bisa aja." Pak Toni ikut tertawa karena sehari-hari dia sering melihat majikannya itu tidur dengan mulut terbuka di dalam mobil.


Di ruang tengah terlihat Aira sedang bermain bersama Safira dan Sarah ketika dia datang. Mbak Sifa sedang mandi dan sholat ashar di jam-jam segini. Mereka tampak asyik bermain meskipun ruangan terlihat berantakan.


Ada beberapa mainan baru yang dibeli secara online oleh Aira. Safira dan Sarah sangat menyukainya. Baru sebentar tinggal di sini, mereka sudah memiliki banyak sekali mainan.


"Wah, mainan baru, nih! Assalamu'alaikum, Ma," ucap Faya sambil menghampiri Aira.


"Wa'alaikum salam. Iya, baru datang tadi. Biar Safira tidak bosan dengan mainan yang itu-itu saja. Ini juga bisa melatih kecerdasan anak." Aira menunjukkan beberapa balok huruf dan angka yang berserakan di lantai.


"Iya, bener. Sepertinya kita butuh ruang khusus untuk bermain. Kalau berceceran takutnya bisa bikin Bi Sumi atau yang lainnya terpeleset." Faya memperhatikan banyak sekali mainan dengan berbagai bentuk berhamburan di lantai.


Aira memperhatikan sekeliling. Memang benar apa yang dikatakan oleh Faya, mainan berceceran di mana-mana. Hal ini bisa membahayakan siapapun yang lewat dan tidak mengetahuinya.


"Aku akan meminta pendapat ayahmu untuk masalah ini. Sepertinya ada beberapa ruang kosong yang tidak difungsikan dengan baik. Kita bisa memintanya untuk tempat bermain. Misalnya di sana itu," tunjuk Aira.


Faya mengikuti arah pandang yang ditunjuk oleh Aira. Sebuah tempat yang luas tanpa dinding yang berada di dekat ruang CCTV dan menghadap ke taman samping. Dia masih tidak mengerti karena tidak ada tembok yang membatasi ruang tersebut.


"Apa nanti jadinya tidak aneh, Ma? Kan, di sana tidak ada dindingnya?" tanya Faya.


"Kita bisa membuat pembatas yang tidak terlalu tinggi. Yang penting mainan-mainan di dalamnya tidak berhamburan keluar. Sepertinya pembatas tidak permanen juga bagus diletakkan di sana," jelas Aira.


Faya mengangguk. Dia tidak tahu seperti apa maksud Aira tetapi yang jelas idenya sangat bagus. Mereka bisa memanfaatkan ruangan kosong tanpa harus merubah bangunan pokoknya.


Tubuh Faya terasa lengket sehingga dia merasa tidak nyaman dan ingin buru-buru mandi. Faya juga belum menjalankan shalat ashar. Dia berpamitan pada Aira dan Sarah untuk pergi ke kamarnya.


Saat dalam perjalanan Faya bertemu dengan Mbak Sifa. Mereka berbincang sebentar lalu pergi ke tujuan masing-masing. Mbak Sifa merasa tidak enak meninggalkan Safira terlalu lama karena kondisi Aira belum pulih benar.


"Maaf, Nyonya. Saya kelamaan perginya." Mbak Sifa berbasa-basi ketika tiba di hadapan Aira.


"Tidak apa-apa, Mbak. Safira anteng setelah punya mainan baru. Semoga saja dia tidak mudah bosan." Aira sejak tadi cara mengawasi Safira yang sedang bermain bersama Sarah.


Sarah sudah pandai mengalah pada adiknya dan mengajarinya bermain susun menyusun. Perlahan-lahan keduanya mulai lupa akan kesedihan setelah kehilangan ibunya. Seandainya ayah mereka ada di sini mungkin keduanya ada yang merawat.


Aira tidak tahu seperti apa kehidupan Hana di Turki. Sarah juga belum mengerti tentang masalah orang tuanya yang dia tahu mereka telah berpisah dan ibunya membawanya pulang ke Indonesia. Hana memang tidak menceritakan masalahnya kepada Sarah sehingga anak itu tidak terbebani dengan masalah orang tuanya.


Meskipun Mbak Sifa sudah datang Aira tidak segera pergi ke kamarnya. Dia ingin menunggu Affan yang biasanya sebentar lagi akan pulang. Jika tidak sedang sibuk Aira selalu menyebutnya.


Mbak Sifa membawa Safira ke ruang makan untuk disuapi sedangkan Sarah membereskan mainan yang berserakan di lantai. Aira menyediakan sebuah keranjang khusus untuk menyimpannya. Tidak ingin mengganggu aktivitas Sarah dia memilih pergi ke teras depan untuk menunggu kedatangan Affan.


Waktu masih sekitar setengah jam dari biasanya Affan pulang. Aira memanfaatkannya untuk berjalan-jalan di taman depan menyusul Bi Sumi yang sedang menyirami bunga di sana. Tidak banyak jenis tanaman yang ada di taman depan karena hanya dijadikan sebagai pemanis saja.


"Sepertinya akan bagus jika di tambah dengan bunga-bunga," ucap Aira ketika sudah sampai di samping Bi Sumi.


"Saya kurang mengerti bunga yang bagus seperti apa. Saat tukang taman datang Tuhan hanya ingin taman depan dihias seperti ini saja. Kalau di taman samping saya memang banyak menambahkan bunga yang saya beli di pasar," ucap Bi Sumi.


"Mas Affan memang orang yang simpel. Mana mau dia mikir yang ribet-ribet." Faya mengulum senyumnya membayangkan wajah acuh suaminya saat awal pernikahan mereka.


Bi Sumi membenarkan ucapan Aira. Dia sudah sangat lama bekerja pada keluarga ini. Sedikit banyak dia tahu seperti apa sifat anggota keluarganya mulai dari orang tua Affan hingga ke anak cucu.


Meskipun dia hanya seorang asisten rumah tangga tetapi Affan dan Faya sudah menganggapnya seperti keluarga. Bi Sumi ikut senang majikannya memiliki seorang istri yang sangat baik dan sederhana seperti Aira. Sebelumnya dia berpikir jika Affan akan menikah dengan Amanda.


Jika sampai itu terjadi mungkin seluruh harta dan pengaturan rumah tangga akan sepenuhnya dikendalikan olehnya. Secara sekilas saja Bi Sumi sudah melihat sifat Amanda yang sangat sombong dan gila akan kemewahan. Meskipun sudah mengenalnya sangat lama Affan tidak tertarik untuk menjadikannya sebagai ibu sambung Faya.


"Tumben Nyonya berjalan-jalan ke mari?" tanya Bi Sumi.


"Aku tadinya mau nunggu Mas Affan di teras tapi melihat bibi ada di sini aku jadi pengen ikutan." Aira berbicara dengan nada setengah bercanda.


Obrolan mereka terhenti saat mobil Affan telah memasuki halaman. Aira berjalan menghampirinya dan menunggunya di samping mobil.


Affan keluar dari mobil dengan membawa beberapa buah paper bag. Meskipun belum tahu apa isinya tetapi dari logo luarnya Aira tahu jika barang-barang itu dibeli dari butik langganan keluarga mereka.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2