
Untuk malam itu, Sintya bisa melupakan Affan untuk sejenak. Dia pulang hingga larut dalam keadaan mabuk.
Usahanya untuk bertransaksi barang haram membuahkan hasil. Sintya berhasil menjual beberapa paket obat terlarang.
"Yuhuu ... ternyata ketatnya pengawasan badan narkotika hanya gosip." Sintya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sintya tersenyum senang dan merasa di atas awan. Saat ini mungkin dia aman karena belum terdeteksi oleh badan intelijen negara yang menyamar.
Tangannya melepaskan sepatunya lalu melemparkannya ke semarang arah. Dia tidak sanggup lagi membuka matanya untuk sekedar mengganti pakaiannya.
***
Di rumah Amanda,
Sejak kejadian di acara syukuran yang digelar oleh Affan, Amanda tidak pernah keluar dari rumahnya. Dia merasa jika seluruh dunia menertawakannya.
Setelah hari itu, Amanda mengirim surat pengunduran dirinya melalui sopirnya. Dia tidak memiliki muka untuk datang ke perusahaan itu lagi.
Semua kebutuhannya dia serahkan pada asisten rumah tangganya. Bahkan untuk memeriksa kandungan pun dia enggan.
"Non," panggil Bi Asih ketika melihat Amanda terus melamun menatap kosong keluar jendela.
Nampan berisi makanan sehat dan segelas susu ibu hamil diletakkannya di atas meja. Bi Asih mengurus Amanda dengan baik layaknya seorang ibu kepada anaknya.
__ADS_1
"Iya, Bi. Terimakasih." Amanda memaksakan senyuman meskipun dia tidak ingin.
"Dimakan dulu, Non. Dari tadi pagi Non Amanda belum makan."
"Iya, Bi." Amanda meraih makanan yang diambilkan oleh Bi Asih.
Meskipun dia tidak ingin makan, Amanda tetap memaksakan diri untuk makan. Dia berharap bayinya akan lahir dengan sehat meskipun kehadirannya tidak diinginkannya.
Semua orang terlanjur tahu jika dirinya tengah hamil dan akan semakin menghujatnya jika dia sampai kehilangan bayinya.
Bi Asih menatap Amanda dengan sedih. Majikannya itu terlihat seperti orang depresi yang tidak memiliki semangat untuk hidup.
Di tengah makannya, bel pintu rumah Amanda berbunyi. Bi Asih takut jika orang yang datang membawa sesuatu yang penting.
Amanda mengangguk karena mulutnya masih mengunyah.
Bi Asih pun bergegas turun untuk melihat siapa yang datang. Seorang kurir datang membawa sebuah cermin.
Mengingat tenaga Bi Asih tidak sekuat dulu, dia meminta sang kurir untuk mengantarkan cermin itu ke kamar Amanda langsung.
Kurir yang memakai baju seragam, memakai topi dan masker menjawab permintaan Bi Asih dengan anggukan.
Bi Asih berjalan di depan dan menunjukkan di mana kamar Amanda. Melihat piring makanan telah kosong, dia pun segera membereskannya.
__ADS_1
"Non, mas kurirnya mau menaruh kaca di kamar ini. Saya pergi ke dapur dulu." Bi Asih meninggalkan kamar Amanda.
Amanda menatap bingung ke arah Bi Asih yang telah sampai di depan pintu kamarnya. Bibirnya terasa sulit untuk berbicara dan bertanya tentang kaca itu.
Setelah Bi Asih pergi, kurir itu menutup pintu dan mengunci kamar Amanda dari dalam.
Amanda terlihat ketakutan dan berpikir macam-macam tentang kurir yang ada di kamarnya. Dari awal dia sudah curiga dan merasa tidak pernah memesan kaca rias.
Amanda bangkit dari duduknya dan bergerak mundur ketika kurir itu mendekatinya.
"Jangan mendekat! Aku akan berteriak jika kamu terus mendekat!" seru Amanda sambil terus bergerak menjauh.
Ruangan terasa begitu sempit hingga punggungnya menempel pada dinding dan membuatnya terkurung. Air matanya mulai menggenang dengan wajah yang memucat.
Bibirnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ada suara yang keluar. Amanda merasa hari inilah akhir hidupnya. Dia berpikir kurir itu ingin membunuhnya.
"Jangan takut, Amanda!" ucap pria itu yang membuka topi dan masker yang menutupi wajahnya.
Mata Amanda terbelalak ketika melihat siapa pria yang berdiri di hadapannya tersebut.
****
Bersambung ....
__ADS_1