Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 66. Tegas


__ADS_3

"Berhenti Sintya! Aku tidak mengijinkanmu masuk ke ruanganku. Kamu hanyalah orang luar bagiku," ucap Affan yang berhenti di depan pintu ruangannya tanpa menoleh Sintya.


Sintya berjalan ke samping Affan lalu menarik bahunya agar dia menghadap padanya.


"Affan, beri aku pekerjaan atau aku akan berteriak bahwa aku adalah selingkuhanmu," ancam Sintya.


"Gila! Kamu benar-benar gila, Sintya. Kamu pikir sebuah pekerjaan bisa dilakukan dengan main-main. Tidak mudah membuatmu menyesuaikan diri dengan kehidupan kantor. Lebih baik kamu memikirkan usaha yang sesuai dengan bidangmu." Meskipun merasa sangat kesal, Affan tetap berusaha mengendalikan dirinya.


Bimo yang menjadi pengamat pun ikut merasa kesal pada Sintya. Wanita itu benar-benar nekat meskipun ada dirinya yang menjadi saksi dari awal pertemuan mereka.


"Aku tidak ingin berbisnis. Aku ingin bekerja di sini sampai menemukan pasangan," bohong Sintya.


Dia sangat ingin berdekatan dengan Affan. Pekerjaan yang diinginkannya hanyalah sebuah alasan.


"Kamu cari orang lain saja untuk meminta pekerjaan." Affan melangkah maju dan mendorong pintu ruangannya.


Sintya berusaha mengejarnya tetapi Bimo maju ke depan untuk menghalanginya.


"Jangan memaksa saya untuk memanggil security, Nyonya." Bimo menatap Sintya tajam.


Sorot mata Bimo yang tajam membuat Sintya merasa ciut nyali. Perlahan dia mundur lalu pergi dengan marah.

__ADS_1


Bimo kemudian menyusul Affan setelah Sintya meninggalkan tempat dengan terus mengomel sambil berjalan.


"Dasar wanita gila," gumam Bimo lirih.


Affan terlihat sedang berbicara kepada petugas keamanan. Meskipun tidak mendengar dari awal tetapi Bimo bisa menangkap inti dari pembicaraan mereka.


Setelah ini, Sintya tidak diperkenankannya masuk ke perusahaannya dan memerintahkan petugas keamanan untuk menghadangnya.


"Bimo, apakah aku terlalu kejam jika aku melarang Sintya masuk ke perusahaan ini?" tanya Affan.


"Tidak, Boss. Itu memang sudah seharusnya. Wanita itu terlihat sangat licik. Bisa saja dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau."


"Kamu benar, Bim. Aku takut dia datang saat kamu tidak sedang berada di tempat." Affan menggeleng mengingat sikap memaksa Sintya.


"Assalamualaikum," ucap Affan ketika sampai di ruang keluarga.


"Wa'alaikum salam," sahut Aira dan Faya hampir bersamaan.


Kedua wanita itu satu persatu menyalami Affan sebelum Affan mandi dan kembali bergabung bersama mereka.


"Jangan bilang sama Mas Affan tentang kejadian tadi, ya, Fay. Aku takut dia akan kepikiran tentang masalah ini dan terbawa ke pekerjaan."

__ADS_1


"Mama tenang saja. Aku tidak akan mengatakannya."


Beberapa kali Aira mengulang-ulang permintaannya itu hingga Affan yang tiba-tiba datang mendengarnya.


Affan berpura-pura tidak mendengar obrolan mereka dan mengajak keduanya berangkat ke rumah sakit.


Di dalam mobil mereka bertiga terdiam. Affan semakin curiga mengenai rahasia besar yang mereka sembunyikan.


"Sejak tadi kalian terdiam. Apakah aku tidak boleh tahu sesuatu tentang kalian selama aku tidak bersama kalian?" tanya Affan sambil menatap Faya dan Aira bergantian.


Faya memberanikan diri menatap ayahnya. Namun, dia kembali menciut saat menatap Aira yang memberinya tatapan.


"Rupanya ibu dan anak ini begitu kompak menutupi semuanya dariku. Setelah ini aku akan meminta Bi Sumi untuk menceritakan apa yang terjadi." Affan tidak ingin terlalu pusing memikirkannya.


Aira sedikit takut jika Bi Sumi mengatakan tentang semua secara mendetail. Dia berpikir untuk menjelaskan semuanya sekarang pada Affan.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya saja sepupu almarhum mbak Kayra tadi datang ke rumah."


Penjelasan Aira membuat Affan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


****

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2