Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 54. Mengacau


__ADS_3

Aira terlihat sangat anggun mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Dia terlihat sangat bahagia bisa berdiri sebagai Nyonya Affan di acara syukuran tahunan perusahaan suaminya.


Faya berdiri di sampingnya dengan raut wajah yang tidak kalah bahagia. Sebelum acara di mulai dia telah mendengar kabar kehamilan sang sahabat sekaligus ibu kandungnya.


Diam-diam Faya merencanakan untuk mengungkapkan kabar bahagia ini pada acara sambutannya.


'Aku terlalu senang. Aku tidak sabar ingin membagi kebahagiaan ini pada semua orang.'


Faya terlihat tidak sabar.


"Aira, jika kamu merasa lelah kamu bisa mengatakannya padaku. Faya akan selalu menemanimu," bisik Affan.


"Iya, Mas."


Aira tersenyum manis sambil menatap Affan dan Faya bergantian.


Perasaan lelah dan mengantuk itu memang ada, tetapi sebisa mungkin ditahannya. Aira tidak tega membiarkan suaminya menyalami tamu seorang diri.


"Mama terus berkeringat, sepertinya mama lelah. Kita istirahat sebentar, ya?"


Faya menarik tangan Aira dan membawanya duduk di kursi yang terletak di belakang mereka.


Kesendirian Affan menjadi celah bagi Amanda untuk mendekatinya. Sudah sejak tadi dia mengamati keadaan dan menunggu kesempatan ini.

__ADS_1


"Amanda, apa yang kamu lakukan di sini? Orang-orang akan merasa salah paham dengan keberadaanmu di sini."


Affan terlihat gelisah. Beberapa kali dia menoleh ke belakang dan mendapati Aira dan Faya sedang mengobrol.


"Tidak perlu takut. Aku akan menjelaskan semuanya pada semua orang." Amanda terlihat santai tanpa rasa bersalah dengan ulah yang dilakukannya.


Affan tidak mempedulikan keberadaan Amanda dan terus menyambut para tamu.


Pembawa acara mulai melakukan pembukaan ketika dirasa seluruh tamu undangan telah datang. Satu demi satu susunan acara dibacakan.


Suasana di ruangan itu begitu riuh ketika Bimo membacakan pemenang hadiah karyawan berprestasi. Ada beberapa kategori yang menjaring sepuluh pemenang.


Affan menyerahkan hadiah untuk mereka. Di sesi terakhir, dia akan membuat pengumuman penting mengenai status barunya yang telah menikah.


Seluruh karyawan perusahaannya bertepuk tangan mendengar kabar bahagia itu. Mereka memuji kecantikan Aira yang memang masih sangat belia.


Situasi di ruangan itu mendadak hening. Bagi tamu yang ingin tahu, mereka langsung memunguti foto-foto itu dan melihatnya.


Suara-suara sumbang mulai terdengar kacau. Foto yang menunjukkan kebersamaan antara Amanda dan Affan membuat mereka bergunjing.


Wajah Affan memucat ketika selentingan suara menyakitkan itu terus terdengar. Jika pada tamu undangan itu bukan karyawan di perusahaannya, mungkin sudah sejak tadi mereka menyerangnya.


"Apa yang kamu lakukan, Amanda?" pekik Affan geram.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya ingin membuat semua orang tahu jika kamu tidak sealim yang mereka kira dan ... sekarang ini aku sedang hamil. Anak kita."


Ucapan Amanda terdengar seperti petir yang menyambar tubuh Aira. Sulit untuk tidak percaya meskipun hati kecilnya mengatakan jika Affan tidak mungkin melakukannya.


Faya mendekatkan bibirnya ke telinga Aira lalu berbisik, "Ini fitnah. Kamu ingat apa yang pernah aku ceritakan padamu dulu."


Bisikan Faya seperti mengandung kekuatan magic yang menenangkan hatinya. Faya pernah menceritakan sifat buruk Amanda yang diam-diam dia selidiki saat wanita itu mencoba mendekati dirinya dan ayahnya.


"Demi Allah aku tidak pernah berzina denganmu. Jangan memfitnahku, Amanda. Meskipun kamu adah sahabatku, aku tidak akan segan untuk melaporkan perbuatanmu ke pihak yang berwajib."


Amanda menangis sesenggukan. Tangisannya yang memilukan menjadi senjatanya untuk meraih simpati semua orang.


Agung datang menghampiri Affan. Sebelumnya hubungan mereka memang kurang baik. Bahkan dirinya juga sering menyakiti keponakannya, Aira. Namun, melihat sang keponakan dikecewakan, hati kecilnya merasa tidak terima.


"Apa kamu punya bukti jika anak yang kamu kandung itu benar-benar milik menantuku?" tanya Agung pada Amanda.


Amanda mengangguk sambil terus menangis.


Affan menghela nafas dalam untuk mengendalikan perasaannya.


"Itu tidak benar, Om. Aku tidak pernah berduaan dengan wanita ini."


Meskipun saat ini semua orang memandangnya buruk, Affan tidak lantas merasa putus asa. Dis berusaha tetap tenang demi Aira dan calon buah hati mereka.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2