Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 46. Mulai Terbuka


__ADS_3

Affan membawa Aira pulang dari villanya di puncak sekitar jam tiga sore. Mereka pergi mengendarai mobil dengan santai menuju ke kotanya. Meskipun hanya sesaat, liburan dadakan ini membuat Aira merasa bahagia.


Senyum Aira telah kembali. Sebelumnya Affan merasa sangat khawatir jika tragedi penculikan itu akan membuatnya trauma, terlebih lagi Affan meminta haknya di malam yang sama.


Hati keduanya kini diliputi oleh kebahagiaan saat menjadi pasangan yang sesungguhnya. Saat ini mereka merasa tidak ada lagi penghalang untuk saling terbuka satu sama lain.


"Aira," panggil Affan.


"Iya, Mas," jawab Aira sambil menatap Affan yang fokus melihat jalanan.


"Sebenarnya aku memiliki sebuah rencana yang belum aku katakan padamu," jujur Affan.


"Rencana? Rencana apa, Mas?" Aira mengernyitkan dahinya tak mengerti.


Affan menoleh sekilas pada Aira lalu kembali melihat ke jalanan. Dia berpikir mungkin sudah saatnya dia mengatakan ini pada istrinya.


"Dua bulan lagi perusahaan kita akan mengadakan syukuran tahunan. Nah, aku sekalian mau mengumumkan tentang pernikahan kita secara resmi kepada umum. Yah, itung-itung sekalian acara pesta kecil-kecilan begitu," cerita Affan.


Aira tersenyum. Sebelumnya dia tidak berharap hal yang muluk-muluk karena mereka menikah karena paksaan. Bagi Aira, kebahagiaan sebuah pernikahan tidak diukur dari besarnya pesta yang diadakan.


Pemahaman yang salah seringkali terjadi di masyarakat tempat tinggalnya sebelumnya. Keluarga mempelai wanita selalu mengadakan pesta besar-besaran untuk anaknya. Terkadang pesta yang mereka adakan tidak menyesuaikan dengan keadaan ekonomi mereka.


Tidak sedikit keluarga yang memiliki banyak hutang setelah mengadakan pesta untuk anaknya. Itupun sebagian biaya pesta sudah mendapatkan banyak sekali sokongan dana dari tamu undangan yang hadir membawa amplop.


Tiba-tiba Aira berpikir tentang pesta yang akan dilakukan oleh Affan. Meskipun Affan adalah seorang pengusaha tentu dia memiliki banyak pembiayaan yang harus dikeluarkannya setiap bulannya, Aira takut jika tabungan Affan akan habis untuk mengadakan pesta itu.

__ADS_1


Perasaan khawatir mendorong Aira untuk berbicara kepada Affan. Dia benar-benar wanita polos yang tumbuh dan dibesarkan di keluarga yang pas-pasan sehingga tidak tahu kehidupan elite seorang pengusaha.


"Mas Affan," panggil Aira.


"Iya, Nyonya Affan. Apakah kamu memiliki usulan untuk acara syukuran ini?" tanya Affan


"Iya, Mas. Sebaiknya kita lakukan sesederhana mungkin. Jangan sampai pembiayaannya membebani Mas Affan. Kasihan karyawan perusahaan kalau sampai keuangan terdampak oleh pesta ini." Aira berbicara dengan sangat serius.


'Kamu polos sekali, Aira. Apa yang aku lakukan sudah aku perhitungan dengan baik. Aku bersyukur memiliki istri sepertimu. Meskipun usiamu masih belia tetapi kamu terlihat dewasa dan pengertian,' batin Affan sambil mengulum senyumnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, Aira. Insyaallah uang yang aku pakai untuk syukuran itu uang pribadiku. Perusahaan dan karyawan tidak akan terpengaruh karenanya," jelas Affan.


"Alhamdulillah, Mas. Aku jadi penasaran sebenarnya berapa banyak uang yang kamu miliki, Mas. Setiap bulan mas memberiku uang meskipun uang bulan kemarin belum aku pakai, kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi, belum lagi biaya listrik, PDAM, dan asisten rumah tangga. Pasti Mas Affan pusing kalau mikir bagaimana mengatur keuangan." Aira mengungkapkan pemikirannya.


"Aku tidak pusing Aira. Ada Bimo yang membantuku mengurus semuanya. Insyaallah, penghasilanku lebih dari itu semua. Mas juga ada tabungan masa depan buat hari tua nanti. Kamu tidak perlu khawatir." Affan merasa senang karena Aira sudah mulai terbuka dengannya untuk membicarakan tentang urusan rumah tangga.


Meskipun Affan seorang yang kaya raya tetapi dia memang tidak suka menampakkan kemewahan dan memamerkan kekayaannya. Rumah yang dia tinggali pun tergolong sederhana untuk seorang pengusaha sukses sepertinya. Dia juga tidak hobi mengoleksi mobil atau barang-barang branded lainnya.


Secara finansial dirinya mampu untuk bergaya sosialita tetapi dia lebih memilih untuk menyimpan uangnya untuk jangka panjang. Sebagian dia gunakan untuk membeli aset dan mendirikan tempat pelayanan sosial untuk membantu masyarakat kurang mampu di wilayah terpencil.


Mobil yang dikendarai oleh Affan telah memasuki perkotaan. Affan pergi ke sebuah toko perhiasan. Rencananya dia juga ingin pergi ke butik tempat dirinya memesan baju pesta tetapi sepertinya urung dilakukan mengingat hari sudah sangat sore.


Sejak pagi hari Faya sangat mengkhawatirkan Aira. Dia pasti akan merasa sangat cemas jika keduanya tidak segera kembali.


Affan dan Aira memasuki sebuah toko perhiasan yang cukup megah. Seorang pelayan toko menyambut kedatangan keduanya dan menawarkan barang-barang koleksinya.

__ADS_1


Affan mengangkat tangannya dan menolak mereka secara halus. Dia terus membawa Aira masuk ke dalam toko. Rupanya dia telah memesan perhiasan yang dia inginkan melalui Bimo.


Kedatangannya hanya untuk memeriksa perhiasan itu apakah sudah sesuai pesanan atau belum. Jika sudah, dis tinggal membawanya pulang saja.


Setelah mengeluarkan sebuah kwitansi dan menunjukkannya pada pelayan toko, seseorang datang ke hadapan mereka dengan membawa dua set perhiasan. Affan meminta Aira untuk membantu memeriksanya.


Affan berlaku adil pada anak dan istrinya, dia juga membelikan perhiasan untuk Faya. Meskipun Faya tidak memintanya, Affan takut jika putrinya itu berpikir jika dia lebih menyayangi Aira.


"Bagaimana menurutmu dengan cincin pernikahan ini?" tunjuk Affan.


Sepasang cincin dengan motif sama tampak sederhana tetapi berkelas. Milik Affan tidak berbahan emas melainkan silver kualitas terbaik, sedangkan milik Aira berbahan emas putih. Seorang pria diharamkan menggunakan perhiasan emas, itulah mengapa Affan lebih memilih silver untuknya.


Setelah merasa cocok dan tidak ada yang perlu diperbaiki, Affan membawa dua set perhiasan itu pulang ke rumahnya. Mereka melenggang santai meninggalkan toko emas dengan perasaan gembira. Aira berjalan sambil bergelayut manja di lengan Affan.


Mereka tidak menyadari seseorang telah mengawasi keduanya sejak kedatangannya di sana. Wanita itu berada di sana untuk menemani temannya menjual perhiasannya.


Saat melihat Affan dan Aira berjalan menuju ke arah pintu keluar, wanita itu menghadangnya. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya yang melihat ke arah mereka. Orang pasti berpikir jika Aira yang masih terlihat sangat belia menjadi simpanan seorang pria beristri.


Pengunjung mungkin juga beranggapan jika wanita yang menghadang Affan dan Aira adalah istri sahnya.


Aira terkejut melihat kedatangan wanita itu, begitu juga dengan Affan. Meskipun baru beberapa kali bertemu, Affan sudah bisa menilai jika wanita itu bukanlah orang yang baik.


"Waow! Sekarang kamu sudah menjadi nyonya boss, ya. Tapi sayang, penampilan kamu masih kampungan. Oh, iya, Om kamu sakit. Harusnya kamu sedikit pengertian dan mengunjungi kami setelah menikah, bukan hanya terus bersenang-senang seperti kacang lupa kulitnya," ucap Reni berbicara panjang lebar pada Aira.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2