
Ujian Nasional segera dimulai. Faya dan Aira semakin sibuk untuk mempersiapkan diri. Mereka belajar lebih giat dari sebelumnya.
Faya melaksanakan ujian di sekolahnya sedangkan Aira melaksanakan ujian nasional di pusat home schooling. Ada pengawas khusus yang ditunjuk untuk mengawasi jalannya ujian dari pemerintah.
Tanpa terasa, hari ini adalah hari terakhir mereka berdua mengikuti ujian nasional. Aira dan Faya terlihat sedang bersantai di ruang keluarga untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas setelah berpikir terlalu keras beberapa hari ini.
"Ma, katanya ayah mau pulang cepat hari ini?" tanya Faya pada Aira sambil menikmati segelas jus di tangannya.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi," jawab Aira. Suaranya terdengar parau karena menahan kantuk.
Jus milik Aira masih utuh, dia belum menyentuhnya sama sekali. Tubuhnya terlihat sangat lelah setelah bergadang beberapa hari untuk belajar.
Tidak butuh waktu lama dirinya pun tertidur, sementara itu Faya asyik dengan film animasi di televisi. Hari ini dia ingin menikmati waktu untuk bersantai.
"Assalamu'alaikum," sapa Affan ketika dia memasuki ruang keluarga.
Faya tidak menyadari kedatangannya karena terlalu asyik dengan film yang ditontonnya. Gelas jusnya telah kosong. Dia meletakkannya sebelum menyalami ayahnya.
"Wa'alaikum salam, Ayah," jawab Faya pelan mengingat Aira sedang tertidur pulas di atas sofa.
Tidak biasanya Aira tidur di siang hari. Hal ini diluar kebiasaannya. Affan menatapnya heran dan segera berjalan menghampirinya.
Setelah berada di samping Aira, dia segera menyentuh keningnya dengan punggung tangannya. Dia khawatir jika Aira sakit.
"Tidak panas," ucapnya pelan.
__ADS_1
Tubuh Aira memang tidak panas tetapi dia berkeringat di dalam ruangan ber-AC yang sangat dingin.
"Mungkin mama capek dan kurang tidur saja, Yah. Beberapa hari ini dia pasti belajar sangat keras. Ayah tidak memberinya tugas yang lain, kan?" Faya bertanya sambil cengengesan.
"Hmm ... Kamu beristirahatlah! Nanti jam tiga kita pergi ke butik buat fitting baju," usir Affan yang sebenarnya ingin berduaan bersama Aira.
"Baiklah! Nanti jam tiga aku turun." Faya berjalan meninggalkan ruang keluarga. Sebenarnya dia masih ingin bersama Aira tetapi waktunya kurang pas. Dia memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk bersamanya ketika ayahnya sedang bekerja.
Affan membetulkan posisi tidur Aira dan meletakkan kepalanya di pangkuannya. Hatinya merasa damai saat melihat wajah Aira yang begitu tenang saat tertidur.
Faya mengambil ponselnya yang dia simpan di atas meja belajarnya. Sejak pagi dia belum menyentuhnya sama sekali.
Banyak sekali pesan yang masuk di grup-grup dan beberapa pesan pribadi dari teman-temannya.
Satu nomor yang membuatnya tertarik untuk membalasnya adalah milik Kris. Mereka berteman dekat meskipun tidak satu sekolah. Banyak sekali hal yang mereka obrolkan setiap harinya.
***
Suasana di butik cukup ramai ketika Affan, Aira dan Faya datang ke sana. Pemilik butik itu adalah teman sekolah Affan, namanya Laura.
Sebelum kedatangannya, Affan telah mengirimkan pesan untuk membuat janji dengannya.
Laura menyambut mereka dan membawanya pergi ke ruangan khusus. Baju yang dipesan oleh Affan sudah selesai dibuat, hanya butuh sedikit merubahnya saja agar pas sesuai dengan keinginan.
Baik Aira maupun Faya merasa puas dengan baju buatan butik itu. Meskipun Affan memesannya tanpa memberitahu keduanya, nyatanya ukuran baju mereka sudah pas.
__ADS_1
Baju itu masih butuh finishing sehingga mereka belum bisa membawanya pulang hari ini. Laura akan mengantarnya tiga hari sebelum hari H.
"Kita akan ke mana setelah ini, Ayah?" tanya Faya ketika mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.
"Bagaimana kalau kita sekalian makan saja?" Affan meminta pendapat anak dan istrinya.
"Setuju! Kita sudah lama tidak makan di luar." Faya terlihat girang dan langsung memeluk Aira yang duduk di sampingnya.
Pembawaan Aira yang pendiam dan tidak banyak bicara hanya mengangguk dan tersenyum saja. Sekarang dia sudah lebih terbiasa dengan kehidupannya sebagai seorang ibu sambung dan istri seorang pengusaha.
Amanda dan Dena sedang berada di restoran yang mereka kunjungi. Namun, mereka sudah hampir selesai makan malam.
Wajah Amanda terlihat panik saat melihat kedatangan Affan dan keluarganya. Dena menyadari kegugupan Amanda dan memintanya untuk segera pergi melalui pintu samping.
Uang yang diberikan oleh Amanda sudah lebih dari cukup untuk membayar makanan yang mereka pesan.
'Affan tidak begitu mengenalku. Lagi pula dia terlalu sombong dan acuh terhadap perempuan. Kupikir aku tidak perlu menyapanya dan memilih untuk pura-pura tidak tahu saja.' Dena menatap ke arah Affan yang berjalan menuju ke sebuah meja. Kebetulan dia tidak perlu melewati meja Affan saat keluar dari restoran itu.
Entah apa yang direncanakan oleh Amanda dan Dena. Dua minggu lagi syukuran yang diadakan oleh Affan akan dihelat di hotel tempat Dena bekerja.
Seluruh karyawan Affan akan hadir di sana beserta beberapa tamu undangan. Kesiapan acara itu telah mencapai lebih dari sembilan puluh persen.
****
Bersambung ....
__ADS_1
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir.