Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 91. Saudara Sepupu


__ADS_3

Seketika ekspresi wajah Affan berubah menjadi datar. Mau tidak mau dia harus memenuhi janjinya pada Aira untuk membawanya menjenguk Hana. Sebenarnya Affan takut jika Aira bersedih saat melihat keadaan Hana yang belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.


"Baiklah. Aku akan meminjam kursi roda rumah sakit untuk membawamu menjenguk Hana." Affan menuruti keinginan Aira karena dia telah berjanji.


"Terima kasih, Mas." Aira memeluk lengan Affan dengan perasaan gembira.


Affan mengusap kepala Aira dengan lembut.


'Semoga Aira bisa menerima keadaan Hana dan tidak terlalu merasa bersalah.' Sekarang yang terjadi di luar rencana mereka. Tidak ada yang perlu disalahkan ataupun merasa bersalah.


Setelah tidak mendapatkan asupan dari infus, tubuh Aira merasa sedikit lemas. Namun, dokter mengatakan jika ini adalah hal yang biasa. Setelah beristirahat sebentar, tubuh Aira bisa kembali menyesuaikan diri dan berangsur membaik.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah berjanji untuk membawamu menjenguk Hana. Sekarang yang terpenting kamu beristirahat terlebih dahulu. Jangan memaksakan diri untuk menjenguk Hana sekarang." Affan mencoba untuk menenangkan Aira agar beristirahat dengan tenang.


Aira mengangguk karena dia suka merasa sangat lemah. Meskipun belum mengantuk dia mencoba untuk memejamkan matanya. Dengan begitu dia berharap tubuhnya akan lebih segar ketika dia terbangun.


Affan tetap menemaninya duduk di kursi sebelah ranjang. Wajah tenang Aira terlihat begitu damai saat matanya terpejam. Sejujurnya Affan juga mengantuk tetapi dia tahan dan tetap terjaga.


Untuk mengisi waktunya yang terasa membosankan, Affan membuka ponselnya dan melihat berita yang ditampilkan di internet. Bimo terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga tidak membalas pesannya. Affan menulis di kolom pencarian berita tentang perkembangan kasus yang menimpa Sintya.


Berita yang beredar menyatakan jika Sintya mengalami gangguan jiwa. Hal ini membuat proses hukum yang dijalaninya menjadi rancu. Sebelum munculkan menyerahkan bukti-bukti, Affan harus memastikan keadaan Aira sudah baik-baik saja. Dia juga akan meningkatkan keamanan di sekitarnya agar kejadian buruk seperti kemarin tidak terulang lagi.


'Aku benar-benar jengah dengan tingkah Sintya. Wanita itu seperti ular yang sangat licik. Dia pasti akan mencari kesempatan untuk menyakiti dan mencelakai Aira hingga dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.' Affan bermonolog dalam hati.


Perasaannya menjadi dongkol setiap kali mengingat perilaku Sintya yang sangat jahat. Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan sehingga membuatnya melupakan kekesalan dan segera melihat orang yang datang. Takutnya jika dia tidak segera membukakan pintu akan mengganggu istirahat Aira.


Seorang pemuda berusia sebaya dengan Aira dan Faya berdiri tepat di depan pintu. Affan tidak mengenal siapa dia dan merasa belum pernah bertemu dengannya. Affan tidak tahu mengapa dia tiba-tiba datang ke ruangan Aira.


"Assalamualaikum, selamat siang, Pak," sapa pemuda itu.


"Wa'alaikum salam. Maaf anda mencari siapa, ya?" tanya Affan.


Pemuda itu mencoba melihat ke dalam ruangan tetapi akan selalu menghalanginya karena saat ini Aira sedang tertidur. Bisa saja jilbab atau pakaiannya tersibak saat dia bergerak. Affan tidak mengizinkan pria yang bukan mahram melihat aurat istrinya.


"Apakah saya bisa bertemu dengan Aira, Pak?" tanya pemuda itu.


Affan mengernyitkan dahinya semakin tidak habis pikir. Tiba-tiba saja dia merasa cemburu. Meskipun tidak mungkin Aira berselingkuh tetapi dia tidak suka pria lain mendekatinya.


"Maaf, Aira sedang beristirahat. Anda bisa berbicara dengan saya jika ingin mengobrol," ucap Affan dengan nada datar.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Ali. Saya adalah sepupu Aira dari kampung. Kemarin saya datang mengunjungi Aira ke rumah anda tetapi pembantu di rumah mengatakan jika Aira dirawat di sini." Pemuda itu memperkenalkan diri pada Affan.


Affan melihat penampilan Ali dari atas hingga ujung kaki. Sepertinya memang dia memiliki kemiripan dengan Aira. Pembawaannya juga sopan dan rapi, tidak seperti orang kota kebanyakan.


"Bukankah Aira sudah tidak memiliki keluarga di kampung?" tanya Affan menyelidik.


Ali terlihat bingung untuk menjelaskan tentang dirinya kepada Affan. Selama ini dia memang tidak tinggal di kampung yang sama dengan Aira. Ayahnya membawanya merantau ke luar pulau dan tidak pernah pulang ke Jawa.


"Selama ini saya memang tidak tinggal di kampung yang sama dengan Aira. Orang tua saya merantau di Kalimantan sejak saya belum lahir. Sebenarnya saya juga tidak mengenal Aira karena baru kali ini saya pulang ke Jawa. Saya tahu jika masih memiliki kerabat di sini dari ayah sesaat sebelum beliau meninggal," jelas Ali.


Percakapan mereka terdengar hingga ke dalam ruangan dan membuat Aira terbangun. Aira merasa penasaran saat mengetahui suaminya mengobrol dengan orang asing. Terlebih lagi ketika mendengar namanya disebut hingga beberapa kali dalam obrolan mereka.


Sebelum Aira bertanya pada Affan, dia memeriksa penampilannya terlebih dahulu. Jilbabnya sangat berantakan setelah tertidur begitu juga dengan pakaiannya. Setelah memastikan dirinya telah rapi Aira bersiap untuk memanggil Affan dan bertanya.


"Siapa yang datang, Mas?" tanya Aira dengan suaranya yang lembut.


Affan menoleh ke belakang begitu mengetahui Aira telah terbangun. Melihat penampilannya telah rapi, dia kemudian menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada Ali.


"Silakan masuk! Mari kita mengobrol di dalam saja." Affan mempersilakan Ali masuk ke ruang perawatan Aira.


"Terimakasih, Pak." Affan tersenyum senang.


Ali berdiri di hadapan Aira dan terus memperhatikan wajahnya. Suasana menjadi hening hingga beberapa saat. Affan tidak tahu harus berkata apa, dia hanya perlu bersabar agar tidak terhasut oleh pemikiran yang tidak baik.


"Maaf, apakah benar kamu adalah Aira?" tanya Ali dengan sedikit perasaan ragu.


Foto yang ditunjukkan oleh Agung dan Reni kepadanya terlihat sangat berbeda. Foto seorang gadis berseragam SMA dengan wajah yang polos dan sederhana. Namun, Aira yang ada di hadapannya ini terlihat lebih dewasa dengan perut yang membesar.


"Iya, benar. Aku Aira. Anda siapa?" tanya Aira yang memang belum mengenal siapa Ali.


Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Sekalipun.


"Aku anak dari Sumanto, kakak kandung ibumu. Apakah kamu pernah mendengar namanya?" tanya Ali.


Aira terlihat sedang mengingat-ingat. Ibunya memang pernah bercerita jika dia memiliki saudara yang sudah merantau sejak lama. Sudah bertahun-tahun kakaknya itu tidak pernah pulang atau sekedar memberi kabar, bahkan ketika orang tua mereka meninggal pun kakaknya itu juga tidak kembali ke kampung halaman.


"Iya, ibuku pernah bercerita tentang pakde Sumanto. Beliau bilang pakde sudah merantau sejak masih muda dan sekalipun belum pulang ke kampung halaman," ucap Aira.


"Benar. Di masa mudanya ayah bekerja di tambang lalu beliau menikah dengan ibuku. Setelah menikah mereka berencana untuk pulang ke Klaten dan mengenalkan ibu pada keluarganya. Akan tetapi, nasib berkata lain ayah mengalami kecelakaan dan kakinya patah. Sejak saat itu kehidupan kami berubah. Keuangan kami tidak sebagus ketika beliau bekerja di pertambangan. Ibuku yang sedang mengandung pun terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami."

__ADS_1


Dari cerita Ali, Affan dan Aira sudah bisa mengambil kesimpulan jika alasan ketidakpulangan mereka pasti karena keadaan.


"Lalu bagaimana keadaan ayah dan ibumu sekarang?" tanya Aira penasaran.


Ali menunduk sedih. Dari sorot matanya seperti tersimpan sebuah beban yang begitu berat. Namun, sebagai seorang pria dia tidak ingin mengeluh dan menunjukkan sisi lemahnya.


"Ayah sudah meninggal sekitar tiga bulan lalu. Ibuku juga menyusulnya tidak lama kemudian," ucap Ali dengan suara berat dan tercekat.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un." Affan dan Aira mengucapkan kalimat ini hampir bersamaan.


Sejenak ruangan menjadi hening. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Keadaan Ali tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh Aira. Hanya waktu dan saja yang membedakannya.


"Aku juga sudah menjadi yatim piatu sejak lama. Sekitar dua tahun lalu aku tinggal bersama dengan Om Agung dan Tante Reni. Apakah kamu sudah bertemu dengan mereka?" tanya Aira penasaran.


Ali mengangguk.


"Saat ini aku tinggal bersama mereka. Sebelumnya aku pergi ke Klaten dan mendapatkan alamat Om Agung dari RT setempat. Mereka bilang jika kamu juga tinggal bersama Om Agung tapi setelah sampai aku tidak mendapatimu di sana." Ali menceritakan bagaimana dia bisa sampai di sini.


Aira menunduk. Hatinya terkenang sebuah luka lama yang perlahan-lahan telah dilupakannya. Aira tidak tahu apakah dia sanggup untuk menceritakan kehidupannya pada Ali atau tidak.


"Aira sudah lama tidak tinggal di sana. Setelah menikah denganku dia ikut aku dan tinggal bersamaku," jelas Affan.


Sebenarnya Ali sudah tahu cerita ini dari Tante Reni tetapi dia tidak percaya jika pria dihadapannya ini adalah seorang pria mesum yang menyukai gadis belia. Meskipun belum mengenal Affan dengan baik, Ali bisa merasakan jika dia adalah pria yang baik.


"Om Agung dan Tante Reni pasti berbicara yang tidak-tidak tentang kami," imbuh Affan.


"Tapi percayalah, kami tidak menikah karena sebuah kesalahan. Mereka hanya memojokkan kami dan memaksa kami untuk menikah," lanjutnya.


Ali tertegun mendengar penjelasan Affan. Dia tidak tahu seperti apa keadaan yang dialami oleh sepupunya saat itu. Cerita Reni memang memojokkan keduanya dan melimpahkan seluruh kesalahan pada mereka.


"Maaf, aku tidak tahu cerita yang sebenarnya seperti apa. Jika kalian tidak keberatan, aku ingin mendengar secara langsung seperti apa kronologinya. Tapi aku tidak memaksa karena masalah ini adalah urusan pribadi kalian." Ali menanggapi masalah ini secara dewasa.


"Aku akan menceritakannya. Insyaallah, apa yang aku katakan adalah sebuah kejujuran. Aira, apakah kamu ikhlas aku menceritakan semuanya pada Ali?" tanya Affan meminta izin pada Aira.


Kisah awal perjalanan menuju halal yang mereka lalui tidaklah manis. Ada beberapa bagian cerita yang berisi tentang aib keluarga Aira. Tanpa seijinnya, Affan tidak berani mengungkapkannya karena semuanya saling berhubungan.


"Aku ridho, Mas. Semoga Kak Ali bisa mengambil hikmah dari cerita ini. Aku juga tidak ingin ada kesalahpahaman di masa mendatang. Semoga dengan tabayun ini Kak Ali tidak lagi menyalahkan pernikahan kita," ucap Aira.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2