
Ulang tahun pertama selalu istimewa, meskipun si baby tak tahu-menahu bahkan tidak menikmatinya. Sehari menjelang hutnya Muel, rumah besar itu menjadi lebih ceria. Dekorasi mulai dipasang. Lapangan basket sang papi berubah menjadi area pesta. Tenda putih ber-ac sudah terpasang di salah satu bagian.
Yang jelas si oma paling sibuk. Mami Kharis tenang-tenang wae, berkonsentrasi pada anaknya saja, terlebih dua hari ini si baby Muel agak berbeda, tidak mau dipegang dipeluk orang lain, tidak mau dilepas dari pelukan sang mami. Saat lihat papinya keluar pintu pagi-pagi si Muel menangis dengan hebatnya dan lama baru bisa dibujuk. Oma Melissa yang menyempatkan datang dan harus terima penolakan sang cucu.
Malam hari... si papi lembur dan baru tiba di rumah hampir tengah malam. Kharis yang mengantuk menunggui suami yang sedang membersihkan tubuhnya. Dirinya sama capenya dengan suami, sepanjang hari mengendong baby berbobot 12,5 kilogram. Tangan kanan dia tepuk-tepuk ke punggungnya.
"Kenapa mam..."
Suami muncul dari walking closet, sudah mengenakan pakaian rumah, kepala digerak-gerakkan seolah membuang air dari rambut yang basah.
"Cape, papi... seharian Muel nggak mau dilepas, oma-oma minta gendong dia nggak mau, sempat mau digendong opa sih... tapi opa harus pergi lagi... jadinya nempel sama aku seharian, mana dia udah berat gitu..."
"Oh kasihan istriku kecapean... sini papi pijit sebentar..."
"Nggak usah... papi juga cape baru pulang..."
"Nggak apa-apa... sini... peluk dulu... mmmmhhmm... makin sayang deh sama kamu..."
"Hehe... bener?"
"Iya... bener dong... sayaaaang banget, sayang selamanya... muach..."
Ciuman jadi seperti sebuah kebutuhan buat Lewi, sesuatu yang harus dia lakukan setiap hari untuk istrinya. Tanpa itu serasa ada yang kurang. Seperti makan makanan tak bergaram, hidup seperti tak ada rasanya --terserah si papi deh, author ngikut aja--
Pelukan hangat suami istri yang saling mencintai, serta ciuman bertubi-tubi sang suami membuat rasa cape seharian terlupakan.
"Mana yang pegel..."
"Punggung aku... ditepuk-tepuk aja... nggak usah dipijit..."
"Ini nggak termasuk kekerasan dalam rumah tangga kan ya... istri dipukul-pukul... hahaha..."
"Papi ada-ada aja deh..."
"Hahaha... sebentar giliran papi ya yang dipijit..."
"Heh... boleh asal jangan ada lanjutannya..."
"Hahaha... justru lanjutannya yang paling menarik..."
"Hadehh... papi... udah... makasih ya... aku ngantuk..."
"Sini... kangen banget, tau nggak..."
"Lebay akh..."
__ADS_1
"Nggak apa-apa lebay... emang kangen kok..."
Tubuh istri yang sudah kembali sepenuhnya ke ukuran semula dibawa suami ke dalam pelukan. Sambil berbaring keduanya menikmati kedamaian malam hanya milik mereka berdua.
Muel sudah tidur pulas di kamar baby di sebelah, ada oma Melissa yang menemani di sana. Oma yang selama ini hanya melihat cucunya di layar ponsel. Lusa sesudah acara hut Muel pun harus kembali pulang tidak bisa berlama-lama. Jadi demi menuntaskan rindu oma menginap di kamar si Muel.
"Pi... Muel kenapa ya... tiap papi berangkat kantor jadi kayak gitu rewelnya, tadi tau nggak, ada sejam mungkin dia nangis setelah papi pergi..."
"Kasihan... besok-besok kalau Muelnya masih seperti itu bawa ke kantor aja nggak apa-apa..."
"Iya... iya..."
"Jangan-jangan mau punya adek dia... katanya baby suka sensitif soal itu..."
"Eh... nggak mungkin, aku pakai KB kan..."
"Kapan terakhir ke dokter kandungan, kayaknya waktu pulang dari Srb terakhir kamu suntik KB. Itu udah tiga bulan yang lalu loh... biasanya sebulan sekali..."
"Apa aku lupa ya?"
"Loh... kok nanya ke papi? Mam... kayaknya selama ini kalau papi minta... nggak pernah ada halangan... kamu nggak pernah haid lagi?"
Degggg... Kesadaran datang kemudian, sadar dia sudah melewatkan sesuatu yang penting untuk tubuhnya. Kharis diam dalam pelukan suami, kegelisahan mulai merayap di hati, jangan-jangan benar dia hamil lagi. Rasa sakit saat melahirksn Muel masih terbayang-bayang, Muel baru mau setahun juga...
"Mam..."
"Mam..."
"Sweetheart..."
"Kamu kepikiran ya..."
Istri yang diam dalam pelukannya, membuat Lewi mengusap-usap sayang kepala sang istri, menciumi kepala itu berkali-kali. Terasa sesuatu di dadanya membuat Lewi merenggangkan pelukan mencari wajah sang istri.
"Sayang... pengen lihat wajah kamu... Kamu nangis ya... takut sudah hamil lagi ya?"
"Iya..." Istri menjawab lirih.
"Maafkan papi ya..."
Tangan besar yang selalu mendamaikan saat memeluk dan mengusap seluruh kepalanya, kini mendekap erat tubuh istri yang sedang gundah.
"Mam... nggak apa-apa kan... jika Muel harus punya adik sekarang... berarti Tuhan kasih kita kemurahan, bisa langsung punya baby lagi... Nggak apa-apa ya... mami terima ya jika ternyata mami hamil lagi?"
Kharis keluar dari pelukan suami, berbaring menatap langit-langit kamar. Mengumpulkan semua logikanya yang sempat kacau sesaat tadi. Memang belum pasti, tapi dia harus menyiapkan hati jika memang sudah hamil. Dia tak mungkin menyalahkan suami, karena mereka berdua menikmati kebersamaan itu, mereka melakukan karena cinta dan saling merindukan, jadi tak ada yang salah dengan itu. Satu-satunya yang bisa disalahkan adalah dirinya sendiri yang lalai.
__ADS_1
"Mam..."
Lewi meraih tanan Kharis dan menggenggam erat tangan kecil istri.
"Nggak apa-apa papi..."
Akhirnya Kharis menjawab. Lewi mengangkat tubuhnya, dengan bertumpu di sikutnya, dia menatap sang istri tersenyum dan kemudian memberi ciuman sayang... sangat lembut di dahi sang istri.
"Aku sayang kamu... selalu sayang... makin sayang... sayang selamanya... Makasih sudah jadi istri aku, mau melahirkan anak-anak aku..."
"Aku juga sayang papi... sayang Muel..."
"Maaf ya... kamu harus mengorbankan mimpi-mimpi kamu untuk aku, untuk Muel, untuk keluarga kecil kita..."
Tangan suami sekarang membelai sayang pipi sang istri.
"Mimpi dan obsesi aku sudah berubah sepenuhnya saat melihat Muel pertama kali... nggak ada yang aku korbankan papi... aku yang mengubah itu... Hidup aku sekarang untuk papi, untuk Muel... dan mungkin ada anak-anak kita kelak..."
"Heiii... berarti adek Muel bukan hanya satu dong?"
"Hehehe... satu dulu-lah... membayangkan saat-saat melahirkan, sakitnya masih aku ingat tau nggak..."
"Jangan dibayangkan dulu... dinikmati aja dulu hidup yang sekarang ya... ayo tidur sekarang... besok ada acara istimewa buat kita... Kita butuh energi untuk acara Muel..."
"Papi nggak ke kantor kan besok..."
"Iya dong... itu hari istimewa putra aku... hahaha... nggak nyangka aku bisa punya anak lelaki yang mirip banget sama aku..."
"Sifatnya nanti mirip nggak ya..."
"Mungkin... mami nggak suka?"
"Siapa bilang. Aku suka banget. Papi itu family man, sayang banget sama istri, sama mami papi bahkan sama mama papa... kak Revy juga... anaknya harus mirip papi dong..."
"Ayo... bobo sekarang..."
"Selamat malam papi Muel..."
.
Baca FATE OR DESTINY juga yaa....
Baca FATE OR DESTINY juga yaa....
Baca FATE OR DESTINY juga yaa....
__ADS_1
.
π©πΆπ¨βπ¦°