Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Bonus Eps. Menanti


__ADS_3

"Sweetheart..."


"Sayang..."


"Hei... bumil cantik..."


Lewi mencolek pipi gembul tubuh yang tergolek menyamping dengan kedua kaki yang meringkuk menyesuaikan dengan tempat tidur yang kecil, masih saja terlelap. Lewi tertawa kecil melihat cara tidur istrinya seperti bayi raksasa yang masih memaksakan diri tidur di tempat tidur mungil.


"Sayang..."


"Yayaaaang Ndut..."


"Aku cium nggak berhenti nih... bangun sayang..."


Ciuman disegerakan di semua titik yang dirasa perlu untuk membangunkan istrinya.


"Mhmmm... kakak... Aduuuh..."


"Kenapa..."


Tangan si suami membantu si istri untuk berdiri. Tangan itu juga memapah Kharis perlahan berpindah duduk di single sofa dekat tempat tidur bayi itu. Kharis memegang pinggangnya.


"Pinggang aku sakit..."


"Ya... kamu tidur di tempat yang nggak sesuai, tuh.. ada sofa ada tempat tidur, kenapa tidurnya di tempat tidur bayi sih?"


"Pengen nyoba aja, eh...ketiduran."


"Makanya jangan maksain diri ya... nyusun tesisnya nanti aja sesudah melahirkan, yang penting sekarang kondisi kamu sama baby nya... Udah deket loh HPLnya..."


Suami siaga memijat bagian pinggang serta punggung sang istri.


"Ya kan nggak ada salahnya menuangkan apa yang ada di kepala aku, nggak sepanjang hari juga aku ngerjainnya... kakak..."


"Cup... cup... cup... "


Ciuman sang papi di perut yang membulat dan terlihat membusung karena sang bumil duduk bersandar di sofa nyaman itu...


"Baby boy nya papi marah kali, maminya tidur di tempat tidur dia... makanya dia protes ke pinggang kamu..."


"Apaan... emang dia tahu, ada-ada aja papinya, hehe..."


Lewi kemudian membereskan laptop yang tidak dimatikan sang istri dan kumpulan kertas data di meja tulis yang sengaja di tempatkan di kamar bayi mereka. Sejak kamar bernuansa kuning hijau dan putih itu selesai ibu hamil itu betah berlama-lama di dalam ruangan itu sambil membuat bab-bab awal tesis yang judulnya sudah di acc oleh Dosen Pembimbing.


"Masih ada data yang diperlukan nggak... nanti aku minta Ocang carikan buat kamu, biar kamu nggak usah ke kantor lagi..."


"Oh... untuk data awal udah cukup kok... nggak buru-buru juga, aku hanya memanfaatkan waktu aja kan sebelum baby lahir... setelah lahiran mungkin beberapa bulan nggak akan menyentuh itu."


"Iya... masih panjang waktu untuk membuktikan kamu istri hebat aku, mami hebat buat baby kita dan pembuktian buat kamu sendiri..."


"Iya... aku tahu. Yang penting sekarang baby aku lah, selesaiain S2 itu udah bukan prioritas. Udah nggak sabar juga jadi mami..."


Kharis melempar senyum haru untuk sang suami tercinta. Lewi telah menarik kursi dekat meja tulisnya dan mengambil kedua kaki kemudian mulai memberi pijatan ringan...


"Aku lebih lagi, sayang... nggak sabar jadi papi..."

__ADS_1


"Ehm... kakak... aku..."


"Iya... Sweetheart... hahaha... kaki kamu makin jumbo gini sih... jari-jari kamu jadi lucu..."


"Bawaan hamil sih itu, sejak hamil enam bulan kan kakiku berubah seperti itu..."


"Tadi mau ngomong apa...?"


"Makin ke sini aku makin takut... boleh nggak mama ke sini... aku kayaknya tenang kalau ada mama saat lahiran..."


"Boleh banget sayang... tapi apa mama bisa datang?"


"Tadi pagi sih mama bilang bisa beberapa hari ambil cuti... tapi mama kayaknya sungkan kalau nginap di rumah ini... terus kalau nginap di rumah mami Ida kejauhan dari sini..."


"Kenapa sungkan... nggak ada yang keberatan kok, mami papi malah seneng itu besannya datang..."


"Justru sungkannya ke mami papi..."


"Oh... aku ngerti perasaan itu... padahal nggak apa-apa loh di sini aja, ada kamar kosong di sini sama di bawah. Bentar...mami punya apartemen, tapi aku nggak tahu di mana, apa ada yang deket sini ya..."


Lewi mengambil ponsel dari saku celana...


📱


"Mi..."


"Iya... kamu udah di rumah?"


"Iya, baru aja nyampe..."


Lewi menoleh ke istrinya...


"Sayang... mami tanya, apa pengen sesuatu?"


"Hahaha... aku akhir-akhir ini jadi pengen makan semua... apa aja terserah mami..."


"Mi... beli apa aja, bumilnya pasti makan hahaha..."


"Oke... oke..."


"Mi, ada nggak apartemen punya kita deket rumah ini..."


"Ada... kenapa, mau pindah kamu?"


"Eh... masa pindah, nggak lah... nanti rumah sepi dong, atau mami mau kita pindah ya?"


Lewi Andrean menggoda sang mami yang dia tahu banget tidak akan menyetujui ide itu...


"Eh... tidak... tidak boleh seperti itu, mami mau punya cucu, masa kalian mau keluar dari rumah..."


"Hahaha... Ini mi... mama mau ke sini saat Riris lahiran tapi sungkan kayaknya nginap di rumah, makanya aku nanya ada nggak apartemen punya kita yang deket rumah..."


"Oh begitu, ada dua yang deket sih, kamu yang pilihkan aja, nanti siapin mobil sama supir juga buat bu Melissa biar nyaman ke mana-mana..."


"Makasih, mi... bye..."

__ADS_1


"Nah... beres, sayang. Mama ke sini sendiri?"


"Berdua papa lah... papa paling antusias tuh mau dapet cucu..."


"Nanti kasih art 1 orang buat bantuin di apartemen..."


"Nggak usah... mama biasa kok ngerjain apa-apa sendiri, apartemen cuma buat tidur doang, pasti sepanjang siang di rumah sakit atau di sini ngurus aku sama baby... kan paling lama seminggu..."


"Oke... masih pengen di pijit kakinya?"


"Nanti aja, papi nya baby mandi dulu biar seger..."


"Oke... deh... Eh iya... masih ada yang mau dibeli nggak perlengkapan baby nya... mumpung masih ada waktu buat hunting..."


"Udah kakak... mami belanjanya udah over gitu... nggak perlu banyak-banyak sih sebenernya karena baby tumbuhnya cepet kan... mubazir kalau nggak digunakan... strollernya aja sampe beli dua, sayang banget duitnya..."


"Udahlah... kalau sama mami jangan ngomong sayang duit gitu... Mami itu lebih bahagia mau dapat cucu dibanding mendapatkan provit besar untuk perusahaan..."


"Tapi emang bener kok, banyak barang yang sebetulnya nggak perlu dibeli. Kebutuhan itu diciptakan sama produsen nah mereka yang konsumtif menganggap itu kebutuhan. Kayak ayunan baby itu, kan baby nya nggak bisa milih tidur di mana, rasa nyaman apa yang kita kasih itu yang dia kenali, saat ada yang lain dia akan menolak dengan tangisnya. Padahal cukup ditepok pantatnya pelan baby bisa tidur nyaman dan pulas di tempat tidurnya..."


"Bumilnya makin pintar..."


"Tuh... aku baca banyak buku persiapan melahirkan yang dibeli buat aku yang isinya rata-rata sama aja... hehehe."


"Ayo... Yayang Ndut... ke kamar kita, papi si baby boy mau mandi... temenin..."


"Diih... masih aja manja..."


"Ya kan... tinggal menghitung hari udah lahir saingan aku, mumpung masih sendiri puas-puasin manja sama istri... Nanti habis mandi pengen bobo sambil diusap-usap kepala aku kayak kemaren, aku cape banget hari ini..."


"Modus sih itu..."


"Hahaha... kan disaranin sama dokternya biar lancar jalan lahirnya, hahaha..."


"Ayo... kita mandi berdua, kamu belum mandi juga kan sore ini?"


"Iya... tapi kakak duluan ahh... nggak mau sama-sama..."


"Hahaha... ketahuan ya niat aku apa?"


"Udah hafal kelakuan suami..."


"Oh ya...?"


.


.


👶👶👶


.


¤¤¤


"Selamat merayakan hari raya Idul Adha"

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2