
Muel melangkah perlahan dengan ekspresi bingung juga takut...
"Ayo Dede bisa... sini... dikit lagi... ayo..."
Sejak sesaat tadi Kharis telah melepaskan pegangannya, dan sedikit menjauh ke belakang... sementara ada oma Vero menunggu di depan duduk di sofa dengan tangan terentang menunggu cucunya melangkah.
"Ayo... Dede... sini sama oma... ayo... nah Dede pintar... ayo..."
Dengan tiga langkah kecilnya Muel kemudian masuk ke pelukan sang oma.
"Aduuuh cucu oma sudah bisa jalan, mau setahun ya kan... jadi makin pintar. Tuh ada mami di sana... Dede mau jalan ke mami?"
Oma menurunkan lagi Muel di lantai.
"Sini Muel..."
Muel yang melihat maminya langsung mengembangkan senyum, cerocosan tak jelas keluar dari bibir mungilnya, mata persis papi Lewi itu berbinar menatap sang mami, tiba-tiba dengan langkah kecil yang belum sempurna dia berjalan cepat ke arah maminya.
"Aduh, Muel sayang... mami kaget, hehehe... Muel pintar ya.. mau jalan lagi?"
"No.. no..no...mimi cu..."
"Oh... haus ya... hehehe cape ya jalan... ayo, mimi di kamar ya sayang..."
"Pamit sama oma..."
"Omah... omah..." Muel menggerakkan tangan mungilnya.
Muel menjadi pemberian paling istimewa dari Tuhan buat Kharis dan Lewi, membawa banyak keceriaan dan kebahagiaan buat seisi rumah, menjadi hiburan bagi semua. Dan tidak lama lagi baby mereka akan berusia satu tahun. Dalam setahun ini pun Kharis banyak belajar hal-hal yang baru bagaimana menjadi ibu sekaligus menjadi istri, peran yang membuat dia tak lagi fokus pada diri sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan anak dan suami.
Banyak yang dia lepaskan dengan sadar, memilih jadi ibu rumah tangga sepenuhnya sampai Muel berumur dua tahun. Sejauh ini dia merasa bahagia walaupun arah hidup melenceng jauh dari apa yang dia cita-citakan. Mami Vero sering menyayangkan pilihan Kharis karena dia tahu semua kemampuan Kharis yang menurutnya bahkan melebihi kemampuan yang dia punya. Mami pernah bilang Kharis akan jauh lebih sukses dari mami jika Kharis masuk ke perusahaan.
Tapi dia tidak bisa memaksa atau mengintevensi keputusan menantunya, dia bahkan tersadar tentang sesuatu di masa lalu yang tidak dia lakukan untuk Lewi Andrean anaknya. Lebih banyak di rumah sekarang dan memperhatikan banyak perkembangan cucunya serta melihat bagaimana pola pengasuhan yang Kharis terapkan membuat dia menghormati pilihan Kharis.
.....
"Kharis... ulang tahun Muel mau dirayakan di mana?"
"Kharis belum bicarakan dengan papinya Muel, mi... lagi sibuk banget dia..."
"Kita aja yang atur pestanya, atau... mami yang atur aja..."
Mami menatap penuh harap. Dia terbiasa sibuk sepanjang hari, setelah mengalihkan kepemimpinan perusahaan pada anaknya, dia jadi punya banyak waktu lowong. Sehari-harinya banyak dihabiskan di rumah bersama Muel. Papi Peter juga sudah memasuki masa pensiun, tapi masih dikaryakan di kantornya. Jika mereka berdua ada di rumah, merekalah yang rebutan mengasuh Muel.
"Kharis?"
Mami menunggu jawaban rupanya. Kharis menimbang-nimbang, dia juga punya keinginan untuk membuat acara ulang tahun pertama yang berkesan. Sudah terbayang-bayang dan sudah mulai merencanakan sendiri.
"Kharis, mami tadi bertanya..."
__ADS_1
"Eh... ehm... boleh mi... terserah mami aja..."
"Baiklah... kamu maunya di rumah atau di tempat lain?"
"Di rumah aja mi... lebih nyaman buat Muel. Kemaren waktu hadir hutnya Fang Fang di resto kasihan banget si Fang Fang udah cape udah rewel tapi masih banyak tamu, belum bisa pulang rumah."
"Baiklah... mau tema apa? Apa kesukaannya Dede ya?"
"Hehehe... Muel belum terlihat sukanya apa... Dikasih mainan pun masih dilempar-lempar... tapi udah belajar nendang bola sih... mungkin tema bola aja mi..."
"Iya ya... iya lucu dia... tadi pagi papi disuruh lempar bola terus sama Dede, kakinya Muel bisa menendang-nendang hehehe..."
"Sebenarnya apapun tema pestanya... si Muel belum ngerti, Mi..."
"Benar... tapi umumnya pesta anak punya tema kan... mami pilihkan saja... Apa Andre pernah ngomong mau seperti apa rayain ulang tahun Dede?"
"Nggak pernah mi... hehehe... pulang tumah langsung tidur dia..."
Papi Muel lebih tertarik olahraga malam dari pada diskusi soal Muel. Jika ditanya tentang hal berkaitan dengan Muel pasti jawabannya terserah mami, mami Muel lebih ngerti...
Nampaknya memang Lewi tidak bisa diharapkan terlibat dalam merencanakan acara hut spesial anak mereka. Memang merayakan hut pertama ini tidak bisa dinikmati oleh Muel sendiri, dia belum mengerti apa yang terjadi. Pernah Kharis sedikit membicarakan soal ulang tahun Muel beberapa waktu lalu dengan suami, tapi suami baru pulang terlihat sangat cape dan tak tega dia memaksa, justru dia yang dipaksa meladeni urusan spesial si suami.
.....
"Sweetheart... kamu nggak siapin apa rencanain apa gitu buat hutnya Muel, udah deket kan..."
"Udah dipegang oma, hehehe... anak aku hut pertamanya keren, yang jadi EOnya seorang mantan Dirut Perusahaan ternama..."
"Pengen sih... tapi aku masih punya banyak kesempatan ke depan, kali ini oma aja yang handle, antusias banget omanya Muel tuh... jadi nggak usah aku recokin, beda persepsi kan nanti jadi masalah, soalnya kalau aku libatin diri mungkin nggak akan ngalah sama oma..."
"Eh... masa sih, yang aku tahu kamu segan sama mami Vero..."
"Iyalah untuk posisi karyawan dan menantu mungkin iya, tapi dalam posisi aku sebagai maminya Muel beda lagi..."
"Masa sih..."
"Masa sih... masa sih... tangan dan bibir udah ke mana-mana... ihh..."
"Mam... ini udah mulai mengecil ya ukurannya..."
"Nggak tahu, papi akh..."
"Iya deh... perasaan kemarin nggak muat di tangan aku..."
"Ihhh... modus akh..."
"Hehehe... berapa lama lagi Muel menguasai ini..."
"Nggak tau juga, dia mulai suka susu formula sekarang. Kemaren waktu aku ikut papi Muel ke Srb stock ASI habis, oma coba kasih susu formula eh... Muelnya mau."
__ADS_1
"Tapi masih ASI kan?"
"Kalau mau bobo aja dia cari ASI..."
"Hahaha... rupanya keahlian itu ada sejak baby ya... sebelum tidur... hahaha... mam sakit akh... ada kukunya lagi tajem tau nggak..."
"Papi sih... ngomong nggak mutu..."
"Mam... itu omongan semua suami sejagat raya... nggak ada suami yang nggak punya obrolan kayak gitu sama istrinya..."
"Masa..."
"Iya... mau presiden mau pendeta pastilah pernah omong hal seperti itu sama istri..."
"Aduuuh papi... ihhh...."
"Masih ada isinya hehehe, enak ternyata. Suruh Muel kuras habis isinya, dia harus kembalikan kemasannya... itu milik papi..."
"Ihh... udah tidur sana, katanya cape, sudah dipijit juga... tangan aku sakit tau nggak..."
"Sini... giliran papi pijit mami sekarang..."
Dan terjadilah... keindahan malam milik mereka...
.
.
¤¤¤
Hi... readers... terima kasih untuk dukungan buat aku selama ini. Buat obat kangen sama Lewi dan Kharis author kasih beberapa bonus episode. Tiga hari lagi ada cerita yang baru, judulnya FATE OR DESTINY, sedang mengusahakan 7 sampai 10 episode sebelum rilis... semoga suka...
¤¤¤
.
.
Semoga kalian suka... sedikit bocoran...
.
See you soon....
__ADS_1
✴✴✴