
Kharis tampil fresh dengan tatanan rambut barunya. Sejak sibuk menulis skripsi rambutnya tidak dipotong hingga panjangnya sudah sampai di punggung. Dia tidak terbiasa menguncir rambut, maka lebih praktis memotong pendek lagi, kali ini lebih pendek dari biasanya.
Di area lift Kharis bertemu Gerald yang sedang menunggu bossnya. Kharis melempar senyum dan berdiri di depan lift di samping Gerald. Gerald menyipitkan mata mengamati Kharis.
"Mbak Kharis potong rambut ya?"
"Iya Ger... gerah soalnya udah kepanjangan..."
"Lebih cantik..."
Gerald malu sendiri memberi pujian pada kekasih bossnya. Kharis hanya tersenyum menanggapi.
"Siapa yang cantik...?"
Boss berdiri di samping Kharis. Gerald segera menekan tombol lift... pintu terbuka, dan rombongan kecil itu masuk.
"Pagi boss... yang cantik itu pacar boss lah... siapa lagi."
"Mana pacar aku...?"
Kharis tertawa melihat kekasihnya yang lebay pura-pura tidak melihatnya. Untung saja lift sudah bergerak naik dan tak ada karyawan lain yang ikut dengan lift mereka jika kebetulan Kharis datang bersamaan dengan mereka.
"Pagi pak boss... "
"Pagi, sayang... kamu cantik dengan rambut pendek... "
Tangan pak boss mengusap sebentar kepala gadis di sampingnya.
"Biasanya pakai kacamata?"
"Hehehe itu lensa biasa. Kemarin hidung aku perih makanya nggak aku pakai lagi."
"Oh... kirain mata kamu ada minusnya."
"Kerjaan Lingling itu, katanya biar aku nggak kelihatan anak SMA."
"Sekarang kamu malah kayak anak SD..."
"Ishhh... kakak..."
"Hahaha... becanda sayang..."
Pintu lift terbuka, Lewi Andrean meraup jemari tangan gadisnya dan menarik pelan gadisnya ke arah ruangannya.
"Pak boss..."
Kharis mencoba melepaskan tangan besar pak boss.
"Ger jangan masuk dulu..."
"Siap boss..."
Gerald memaklumi kebiasaan baru pak boss setiap tiba di kantor, dia akan membawa Kharis masuk beberapa menit di ruangannya. Pak boss yang akhirnya rela Kharis jadi sekretaris kedua mami Vero.
"Kakak kebiasaan deh..."
"Anggap aja ini ritual pagi kita... aku perlu pelukan ini sebelum sibuk sepanjang hari. Mami sekarang menguasai kamu, jadi aku cuma bisa lakukan ini sebelum dia datang."
Lewi memeluk sayang gadisnya dan sesekali mencium lembut puncak kepala itu.
"Udah ya..."
"Cium dulu... biasanya aku yang cium, sekarang giliran kamu..."
Tanpa protes Kharis memberikan ciuman supaya drama pagi di ruangan itu segera berakhir. Lewi tertawa karena tak ada protes dari gadisnya.
"Semangat kerja ya pak boss..."
Kharis senyum kemudian menutup pintu dan bergegas menuju kubikelnya yang sekarang berubah posisi di depan ruangan Direktur Utama. Dia siap memulai aktivitas hari ini. Tinggal beberapa waktu lagi dia akan menyelesaikan magang, dan dia ingin menyelesaikan dengan baik.
...
__ADS_1
Giselle membanting tubuhnya di atas sofa di ruang kerja Direktur Operasional, papanya. Pak Ridwan mengangkat muka memperhatikan anak gadisnya yang berwajah masam.
"Ada apa, nak..."
"Andre punya pacar, pah... lagi jadi trending topic di sini, kata mereka anak magang."
"Magang di sini?"
"Iya, tapi aku sudah check tadi, nggak ada anak magang dengan ciri-ciri seperti yang mereka gosipkan."
"Kenapa percaya gosip?"
"Biasanya bener pah, nggak mungkin gosip datang sendiri. Banyak yang lihat mereka berdua jalan sambil gandengan di lobby."
"Baru kata orang belum lihat sendiri, kenapa jengkel?"
"Andre susah untuk dideketin juga, pah..."
"Bukannya selama ini kalian selalu jalan berdua?"
"Huhhh, dia menyebalkan, nggak ada manis-manisnya, nggak pernah mau kasih nomor pribadinya, yang angkat telpon selalu asistennya. Setelah acara anniversary nggak mau ketemu lagi."
"Bicara dengan bu Vero, dia yang menjodohkan kamu dengan Andre. Antisipasi, mungkin ada benarnya gosip itu ..."
Saat mendengar advis papanya gadis itu dengan cepat keluar lagi dari ruangan papanya. Pak Ridwan meneruskan pekerjaannya.
Sementara Friska terdiam di samping meja kerja pak Ridwan heran dengan fakta yang dia dengar... Giselle dijodohkan dengan Andre? Lalu maksud bu Vero kemarin padanya apa? Friska sendiri sudah menyerah dengan Lewi Andrean, anak bossnya sendiri lebih menarik dan tertarik padanya. Sekarang Henry sedang gencar pdkt. Henry juga royal sering mengirim hadiah, jadi apa yang ada di depan mata sajalah...
"Sejauh mana kebenaran rumor itu?"
"Friska...??"
"Eh maaf pak... ada apa?"
"Saya bertanya rumor tentang Andre?"
"Oh... itu... santer sih issue itu, ada foto yang beredar di grup chat, pak."
"Eh... apa...? Itu... itu bukan menjodohkan pak, lebih tepatnya mengizinkan saya mendekati anaknya."
"Betul... memang bukan menjodohkan. Giselle seperti itu juga. Bu Vero tidak tertarik menjodohkan anaknya dengan siapapun termasuk anak pengusaha. Tapi saya tahu kriteria menantu yang dicarinya, seperti dirinya. Saya cukup heran dia tertarik pada Giselle."
"Bu Giselle cantik pak..."
"Itu bukan kriteria utama bu Vero, saya tahu dia. Oh ya... ini sudah selesai. Ada pekerjaan lain?"
"Ada pak... ini silakan bapak review laporan dari lapangan..."
...
"Tante Vero ada kan?"
"Ada bu Giselle, tapi masih ada tamu, mohon menunggu."
Wina menjawab ramah sambil kedua tangan menunjuk ke arah sofa. Wina sudah hafal watak gadis ini yang langsung berang jika ditanyakan soal janji temu. Dia selalu menunjukkan bahwa dia penting di mata bu Direktur Utama, bisa masuk kapan saja tanpa ijin.
Giselle tidak suka diperintah. Dia menatap tak suka pada Wina, malah bergerak ke arah pintu.
"Maaf sekali bu Giselle, ini client penting, kurang baik jika bu Giselle masuk menginterupsi."
Giselle mendelik marah dan tetap melanjutkan langkah. Tapi Wina sudah paham dan siap mengantispasi, lengan kanan Giselle segera ditangkapnya.
"Jangan keras kepala... Sikap gegabah anda bisa merugikan perusahaan. Silakan menunggu."
Giselle mengibaskan lengannya dengan emosi. Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan Kharis keluar dari dalam dengan tangan memegang setumpuk berkas.
"Dia... kenapa dia boleh masuk... dia anak magang kenapa ada di sini?"
"Dia salah satu staff ibu, kami bisa masuk jika diperlukan..."
Wina menjawab gusar, apa yang ada di otak gadis ini? Dengan jabatan cukup tinggi masa tidak mengerti hal-hal sederhana seperti ini?
__ADS_1
Giselle menatap Kharis dengan muka garangnya. Kharis menundukkan kepala tanda hormat dan segera menjauh, trauma di dorong sampai jatuh masih ada. Dia tak ingin ada masalah. Pura-pura menyibukkan diri tak ingin berinteraksi dengan gadis arogan ini.
"Karyawan magang itu di lantai bawah, kenapa dia di sini?"
"Dia cukup capable dan keahliannya dibutuhkan bu Vero. Etos kerjanya tinggi, bukan sekedar show off di sini. Bu Giselle tidak berkepentingan mempermasalahkan itu."
Wina berkata dengan sopan, tapi matanya tajam ke arah Giselle. Tak perlu berbasa-basi dengan gadis ini.
Merasa tak bisa melawan Wina, akhirnya Giselle menuju sofa di tengah ruangan ini, duduk dengan jengkel.
Kharis menghembuskan napas lega ketika Giselle menjauh. Terlintas satu hal, bagaimana jika Giselle tahu tentang hubungannya dengan Lewi. Beberapa kali dia melihat Giselle memaksa masuk ruangan Lewi, mencegat Lewi di lobby atau di koridor depan ruang meeting. Lewi kadang bisa mengelak dengan halus, pernah juga bersikap kasar. Tapi gadis ini seperti tidak punya malu tetap gigih mendekati Lewi, dengan berbagai cara dan alasan, rupanya daya kreatifitasnya muncul bila urusannya menyangkut Lewi Andrean saja.
Akhirnya tamu penting bu Direktur Utama keluar ruangan. Dan tanpa menunggu isyarat boleh masuk Giselle langsung masuk saja. Wina hanya bisa mengikuti dengan pandangan mata, sedikit heran juga bu Direktur Utama yang tegas itu melunak jika dengan Giselle. Apa karena pak Ridwan teman baik bu Vero??
Di dalam ruangan termewah di gedung ini...
"Tante Vero..."
"Giselle... duduklah..."
"Tante belum sempat berterima kasih secara pribadi padamu, acara kemarin sangat baik dan apik, berbeda dari tahun sebelumnya... Terima kasih sudah bekerja keras."
"Aku senang tante menyukai acaranya. Andre juga punya kontribusi besar di acara tersebut."
"Oh ya... Ini sekedarnya, penghargaan tante..."
"Wah... terima kasih tante..."
Wajah gadis itu langsung sumringah jiwa materialistisnya langsung kentara di seluruh wajahnya, dengan tak sabar langsung meraih paper bag sedang dengan logo brand ternama. Angannya semakin melambung, seandainya nanti jika menjadi menantu pasti lebih banyak yang bisa dia dapatkan.
"Baik Giselle... tante sibuk."
"Tante... aku masih belum bisa mendekati Andre, tante bantu aku ya... kan tante bilang pengen aku jadi istrinya Andre..."
Veronica Magdalenne, menatap langsung ke mata Giselle dengan air muka yang sudah berubah. Gadis di depannya harus dihentikan, kelakuannya sudah menjadi gangguan bukan hanya buat Andre tapi juga dirinya, apa-apaan dia meminta sang Direktur Utama dengan urusan receh semacam itu, di kantor si tengah jam sibuk???
"Giselle... benar tante pernah berharap itu. Tante sudah memberi kesempatan dengan mendekatkan kalian saat persiapan acara ulang tahun. Tapi tante minta Giselle berhenti di sini. Jika Andre menginginkan pasti hubungan kalian berlanjut, ternyata tidak. Fokuslah bekerja sekarang. Baik... panggilkan Wina.
"Tapi tante..."
"Jangan memaksakan sesuatu, tidak baik. Pergilah..."
Giselle tak percaya tante Vero yang dia pikir akan menolongnya malah menyuruh dia berhenti. Dia emosi tapi dia harus mengendalikan dirinya tidak boleh marah-marah depan tante Vero, satu-satunya jalan adalah menangis saja. Masa dia harus melepaskan Andre... nggak bisa, dia harus memiliki Andre. Dia mulai menangis dengan suara yang cukup keras...
"Giselle tidak mau tante, tolong Giselle, Andre harus jadi suami Giselle, tante sudah janji...hihkssss hikksss..."
"Tante tidak pernah berjanji... dan tidak bisa menolong, berhenti menangis dan keluarlah."
""Hikksss... Giselle mohon tante..."
"Giselle...!!"
Sang Direktur Utama bukannya jatuh kasihan atau melunak, tapi justru menjadi gusar. Dia tidak suka orang cengeng dan manja. Dia jarang tergugah dengan airmata seseorang. Dia medial telpon di mejanya...
"Bawa Giselle keluar dari ruangan saya dan siapkan meeting."
Ibu Vero tidak peduli lagi dengan sikap Giselle dia kembali memperhatikan berkas di mejanya. Tak lama Wina dan Carla masuk, langsung mendekati Giselle. Setengah memaksa mereka membawa Giselle yang masih menangis.
Di luar ruangan Giselle berhenti menangis dan dengan kasar menghempaskan tangan kedua wanita perkasa ajudan bu Direktur Utama yang memegang lengannya. Dan dengan mulut penuh umpatan meninggalkan ruangan itu. Dia bertekad mencari siapa anak magang yang disukai Lewi Andrean, masa dia dikalahkan anak magang?
"Ada apa sih, mbak Wina?"
Kharis tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Nggak tahu... lebih baik urus pekerjaan kita. Ayo siap-siap, sebentar lagi ibu keluar, client bu Vero sudah menunggu di ruang meeting."
.
¤¤¤
Menuangkan ide ke dalam kalimat2 tak selalu bisa lancar... Terlebih menyadari terlalu banyak novel bagus di lapak ini. Semoga tulisan ini bisa selesai... terima kasih telah singgah di sini, salam hangat buat kalian.... 😇👍💙
__ADS_1
¤¤¤