Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 77. Aku Kamu Kita


__ADS_3

Mobil berbelok masuk ke area belakang sebuah mall, di ujung jalan dekat pantai berbelok lagi masuk ke sebuah area yang cukup private, ada portal dan pos penjagaan di area masuk. Kharis mengenali tempat itu. Jarak sekitar lima ratus meter dari portal mobil berhenti di depan sebuah rumah mungil yang halamannya sangat luas ditutupi rumput gajah, dengan view laut terbuka di depan jalan. Rumah yang disewa Lewi waktu wisuda, nampak masih sama tapi terlihat sangat terawat.


Lewi turun dan membuka pintu pagar. Kharis ikut turun dan langsung menyeberang jalan depan rumah itu dan naik ke tanggul pembatas sekaligus penahan ombak. Di bawah banyak sekali batu-batu besar yang fungsinya sama.


Serasa begitu lama tidak menghirup aroma asin pantai, aroma yang sangat melekat di indranya. Gadis itu menutup mata, menarik napas dalam-dalam seolah menuntaskan kerinduannya terhadap pantai.


Setelah memarkir mobil di garasi Lewi berlari kecil ke arah Kharis yang sudah duduk nyaman di tanggul itu. Lewi ikut duduk di samping, tersenyum melihat ekspresi senang yang jelas tergambar di raut wajah gadisnya. Usapan sayang di kepala serta sebuah kecupan mesra Lewi membuat Kharis membuka mata.


"Masih suka pantai ya..."


"Iya... mana mungkin berubah. Kangen pengen jalan ke pantai favorit aku..."


"Tempat itu jauh sayang... Nanti kalau sudah sehat, kita ke sana ya... "


Kharis tak menjawab. Riak air serta deburan ombak di bebatuan lebih menarik perhatiannya. Matahari sudah cukup terik, tapi sinarnya terhalang pohon ketapang yang tumbuh melebar menaungi tempat mereka duduk. Ada 2 jetski sedang merambah pantai di kejauhan. Mata Kharis tampak menyipit menghalau silau sinar yang jatuh di birunya laut. Kharis menikmati pantai dan Lewi menikmati wajah kekasihnya.


"Mmh.... sayang, suka tempat ini?"


"Iya, suka... di tengah kota tapi masih ada tempat private untuk menikmati pantai. Padahal di sebelah sana itu kawasan bisnis."


"Tempat ini juga termasuk... itu ada hotel dan apartemen... rumah mungil itu aja yang terselip di sini..."


"Kakak sewa rumah itu lagi?"


"Nggak..."


"Kenapa bisa masuk?"


"Bisalah... sudah jadi milik aku..."


"Oh... Eh... hahh??


"Hahaha... mata kamu lucu, tambah bulat melotot kayak gitu..."


Lewi mengusap sayang wajah gadisnya dengan telapak tangannya yang besar.


"Pasti mahal..."


"Iya... gaji aku setahun ini lah..."


"Hahh?"

__ADS_1


Mata Kharis membulat lagi...


"Ihh... gemesss..."


Dan pemirsa tahulah apa yang sementara terjadi. Sepertinya semua sikap, mimik, tindakan, apa saja yang dilihat Lewi Andrean pada gadisnya selalu bisa membuat dia tertawa bahagia dan juga selalu membuat dia ingin mencurahkan semua perhatian dan sebanyak mungkin kasih sayang.


Kali ini ciuman yang sampai ke wajah yang masih tirus itu dilakukan dengan lembut, tidak terburu-buru, sepenuh hati... tetapi tetap jumlahnya nggak berkurang bahkan lebih. Jika Kharis menjumlahkan sejak awal banyaknya ciuman kekasihnya berapa coba??


"Kakak..."


"Iya sayang..."


"Kapan kakak beli rumah itu?"


"Minggu lalu transaksinya, kemaren aku ketemu notaris buat urusan balik nama..."


"Berapa harganya, hehe... sorry aku nanya..."


"Mhmm... puluhan..."


"Juta? Masa murah gitu..."


"Milyar sayang."


Kali ini bibir merah muda itu yang membulat.


"Itu gaji aku setahun ini ditambah sedikit dari tabungan aku. Status aku masih seorang anak kan, masih dapat uang jajan... aku nggak suka beli ini itu mobil sport atau apa. Kepikiran ingin beli sesuatu... jadi ingat rumah ini... Aku tanya ke bang Billy, ternyata pemiliknya mau melepasnya... jadi langsung transaksi deh minggu kemaren."


"Omj... penasaran gaji kakak berapa."


"Tiga digit aja..."


Kharis mengira-ngira nilai tiga digit itu dalam hati... dia membalikkan badan memperhatikan sejenak rumah mungil itu. Penasaran berapa angka pasti puluhan milyar yang Lewi maksud tapi enggan untuk bertanya.


"Aku suka juga rumah ini, seperti mewakili kita berdua... kamu suka viewnya bisa sepuasnya lihat pantai nggak perlu jauh-jauh... sementara aku suka halamannya yang luas. Aku rencana pengen buat lapangan basket di belakang..."


"Sudah ada kan...?"


"Itu belum ukuran yang sebenarnya, ringnya baru satu... Di bagian belakang itu bisa dibangun rumah besar untuk kita, jika sudah punya anak pasti butuh rumah yang lebih luas. Rumah mungil itu biarkan seperti itu aja...Tapi kalau rumah yang di belakang sana itu mau dia jual, kita beli itu aja, tinggal bobol tembok untuk akses ke sini. Aku lebih suka halaman luas terbuka seperti itu..."


Kharis termenung memikirkan semua kata-kata yang Lewi gunakan: kita berdua, rumah kita, kita punya anak. Dia sedang membicarakan sebuah rencana untuk masa depannya, dan ada Kharis dalam rencana itu. Pria kekasihnya ini seperti kata mama, pria dewasa yang sudah ada di puncak rencana hidupnya: membangun keluarga, sudah ada di akhir pencaharian dan petualangan seorang pria terhadap wanita. Yang dia butuh sekarang istri dan itu... Kharis.

__ADS_1


"Oh iya... nanti pinjam KTP kamu ya..."


"Untuk...?"


"Balik nama rumah ini, atas nama kamu..."


"Hahh???"


"Hahaha... kamu ya... dari tadi hahh terus."


"Jangan kakak... itu milik kakak, ada kerja keras kakak di sana, jangan balik nama pakai nama aku, aku nggak mau."


"Sweetheart... lihat sini deh..."


Lewi mengangkat kakinya yang menjuntai ke bawah, memutar tubuhnya dan duduk bersila di atas tanggul itu. Tangannya terulur membantu Kharis duduk berhadapan dengannya.


"Aku nggak tahu kapan kita nikah, aku berharap secepatnya. Sejak awal hati aku sudah yakin kamu yang paling aku butuhkan untuk jadi pendamping hidup aku, sudah cinta... sangat cinta sama kamu. Jadi, aku mulai berpikir bagaimana hidup kita setelah menikah... yang pasti kita tinggalnya di kota J karena kerjaan kita di sana. Tapi kita pasti akan sering ke sini, nah... kita butuh rumah juga di sini, maka aku putuskan beli rumah ini. Kenapa balik nama atas nama kamu karena kelak kamu yang jadi istri aku... ngerti kan maksud aku? Jadi jangan menolak ya...?"


Kharis menyimak dengan dada yang berdebar, kekasihnya sudah sejauh itu berpikir. Sementara pikirannya masih ada jauh di belakang sana. Masih berpikir tentang dirinya sendiri dan Lewi telah berpikir tentang mereka berdua. Apakah dia akan berlari untuk menyamakan persepsi, menyatukan mimpi, mengejar sehingga langkah bisa seirama?


Mama masih rule modelnya, perkataan mama masih menjadi patokannya. Tapi tadi malam perkataan mama sudah menyiratkan dia untuk memutuskan sendiri, harus berani mengambil resiko serta berani menerima konsekuensi keputusannya.


Kharis menatap Lewi... menelisik wajah itu. Ya dia juga sangat cinta, bukan karena wajah tampan itu semata-mata, bukan hanya karena senyum yang sudah menghipnotisnya sejak pertama melihat, tapi sekarang keseluruhan pribadi pria ini sudah menempati seluruh hati dan jiwanya...


Sebagai awal memastikan keputusan hatinya, dengan berani dia melakukan sesuatu... Kharis mengangkat tubuhnya berdiri dengan kedua lutut yang tertekuk menopang tubuh kurusnya... meraih wajah kekasihnya dengan kedua tangannya.... mendekatkan kepalanya dan meraih satu ciuman dalam... French kiss pertama atas inisiatifnya.


Ohh... Lewi merasa siang ini hidupnya semakin sempurna...


.


.


¤¤¤


Semoga hepi yaa saat baca cerita ini, so... bisa tetap hepi buat kasih like ☺☺☺


Tengkyuuu yang dukung aku sampai sekarang. 👍👍👍


.


.

__ADS_1


🧚‍♀️🧚‍♂️🧚‍♀️


.


__ADS_2