
Lewi dan Kharis berjalan perlahan menyusuri sebuah pantai sambil gandengan tangan. Kondisi pantai ini masih sama dengan enam tahun sebelumnya, sejuk alami dan tenang. Bedanya, sekarang pantai ini telah dikelola menjadi tempat wisata, telah memiliki pagar tembok dan ada pos penjagaan di akses masuk, serta sebuah pendopo dan sebuah bangunan kafe di dekat jalan masuk. Di pinggiran pantai ada beberapa pondok kecil sederhana. Lokasi sepi karena bukan akhir minggu atau hari libur, dan itu menguntungan untuk pasangan suami istri ini karena bisa menikmati suasana pantai yang tenang.
Kharis mengenali tempat ini dari perkiraan lokasi, tak menyangka pantai favoritnya telah berubah. Untungnya kebersihan dan bentuk alami pantai tetap dipertahankan oleh pengelola. Dan satu lagi, jalan ke lokasi pantai ini sekarang jauh lebih baik, lebih lebar dengan aspal hotmix, sehingga berkendara ke sini menjadi lebih nyaman.
“Apa yang paling kamu ingat dari tempat ini, sweetheart…”
Lewi bertanya pada istri yang kini ada dalam rangkulannya. Mereka berhenti sejenak, kurang lebih enam tahun Kharis tidak bisa melakukan ini, menyepi di pantai, menikmati deburan ombak, merasakan pasir yang hangat, dan tiupan angin dengan aroma asin yang kental. Lewi beberapa kali mengajak dia ke pantai saat di ibukota, tapi itu sangat berbeda. Air pantai di sana tidak jernih, sudah tercemar dan cenderung berwarna abu-abu bahkan menghitam. Tapi di sini, langit yang biru bersih, sejauh mata memandang warna indah dominasi hijau dan biru mulai dari tepian hingga jauh ke perbatasan kaki langit, mata Kharis terpuaskan dengan keindahan tempat ini.
“Mam… denger nggak aku ngomong apa?”
“Iya… sorry papi, aku lagi menikmati tempat ini.
Sorry ya… Tadi nanya apa?”
“Apa yang paling kamu ingat di sini…”
“ Ohh… Yang paling aku ingat sih… mmmh… tebing batu kapur di sana… eksotik banget itu, di balik itu ada lokasi yang adem banget buat berenang, karena banyak pohon besar di sana dan ada tebing yang lain di sebelahnya, jadi seperti ada dua dinding di kiri kanan, jadi kayak teluk kecil. Itu jadi tempat berfoto kayaknya sekarang… tuh… papi lihat, mereka dari balik dinding batu kapur itu. Kita ke sana ya?”
Kharis menunjuk beberapa orang yang muncul dari balik tebing yang menjorok ke laut itu. Kharis memang selalu antusias dengan pantai. Dari kota J dia sudah merencanakan untuk mengunjungi tempat ini.
“Sayang… kita nggak bawa baju ganti, airnya setinggi paha pria itu, berarti setinggi pinggang kamu…”
“Iya ya… air udah mulai pasang, udah siang sih kita jalan ke sini tadi.”
“Nggak ada akses lain ya? Turun dari bukit itu mungkin?”
“Nggak pi… itu kan langsung tebing seperti itu, dan memang di bagian itu agak dalam, kalau air surut baru semata kaki. Di balik tebing itu pasir putihnya lembut banget, pi… padahal aku pengen duduk-duduk di sana…”
“Duduk di pondok itu aja, ayo…”
Lewi menarik lembut tangan Kharis menuju sebuah pondok. Saat duduk di kursi santai yang terbuat dari plastik berwarna coklat, Lewi kembali mengulangi kalimat tadi, istrinya hanya mengingat pantainya saja dan rupanya tidak mengingat sesuatu yang Lewi maksud.
“Masih ingat nggak sesuatu yang indah yang kita lakukan di sini…”
“Kita? Oh iya… kita pernah ke sini kan waku itu, hehehe… Iya aku ingat, sepulang dari sini aku menghilang, hehehe…”
Tangan Lewi mengusap-ngusap pipi sang istri.
__ADS_1
“Keputusan bodoh, tau nggak… kamu udah rencanakan seperti itu ya… kasih aku kenangan terindah kemudian mutusin aku…”
“Iya… hehehe… tapi seminggu di Smrg aku nangis terus…”
“Oh… kamu lari ke sana ya waktu itu? Ke tempat siapa?”
“Temen aku, masih ingat Queen kan?”
“Nggak ingat…”
“Iihh papi… yang aku kenalkan sama papi waktu acara syukuran wisuda di rumah, ingat nggak?”
“Nggak ingat sayang… nggak aku perhatikan.”
“Mmmh, yang aku kenalkan bareng Delanno sama Lucas, ingat?”
“Temen-temen kamu ya mam… mmmh iya ingat ada tiga orang, tapi lupa nama mereka apalagi wajah mereka…”
“Jadi kangen Queen deh akunya, udah merit nggak ya dia…”
“Apa nggak pernah kontak-kontakan lagi?”
Kharis berkata sendu sambil memandang jauh ke arah laut.
“Sweetheart… sini…”
Lewi yang tersentuh dengan perkataan Kharis menarik tangan Kharis, mendudukkan istri di pangkuannya, baru sadar bahwa istrinya benar-benar terputus dari dunia luar, tidak punya kehidupan lain selain dirinya dan anak-anak. Lewi pun memeluk erat istrinya, menggesek sejenak pipi mereka berdua dengan sayang.
“Pi… takut kursinya patah entar…”
“Kuat dan kokoh kok kursinya, kamu juga ringan banget mam... Kamu kayaknya susah gemuk ya… setelah melahirkan Ayin, badan kamu nggak bertambah gini-gini aja. Kata Gerald kamu tetap kelihatan seperti belum nikah…”
“Gerald berlebihan akh… Udah punya dua anak aku, masa aku nggak berubah sama sekali…”
“Emang nggak berubah sayang, tetap cantik dan lucu…”
“Iiih… papi, lucu apanya…”
__ADS_1
“Mata kamu tuh… itu yang paling aku suka…”
Lewi memutar tubuhnya sendiri menghadap istri yang duduk menyamping di pangkuannya, dan suami pun mencium kedua mata istri.
“Papi… ada orang ihh… gak sopan…”
“Hahaha… dari dulu kamu seperti itu, mam… terlalu sadar lingkungan, selalu takut dilihat orang, gemes jadinya…”
“Iya lah… tata krama harus tetap dijaga dong…”
“Sepi kok di sini…”
Ciuman kembali dilancarkan kali ini di pipi istri.
“Papi akh…”
“Lihat di pondok sebelah sana, mereka juga lagi ciuman… ini tempat orang pacaran juga. Lagian kita sudah merit sayang… tapi aku berasa lagi pacaran sih sekarang, jadi ingat kita kissing pertama kali di mana ya… di sebelah sana kali ya…”
“Bukan… di sana, yang ada batu besar itu…”
Kharis menunjuk tempat yang berbeda.
“Hahaha… ingat persis tempatnya ya…”
“Iya… itu pertama kali aku ciuman…”
Kharis berkata pelan. Wajah Kharis memunculkan semburat merah, tubuhnya telah bersandar nyaman dalam pelukan sang suami. Ternyata Kharis ingat moment itu, Lewi jadi pengen mengulang ciuman waktu itu, memegang sebelah pipi Kharis menahan lembut dan mulai meluma t bibir istri yang selalu mengundang itu dan tidak akan pernah bosan menyentuh mesra.
“Pi… udah ya… nggak enak ahk… di tempat terbuka seperti ini…”
Suami tak peduli dan kembali melakukan hal yang sama dengan durasi yang lebih lama. Laut yang tenang, angin yang menerpa ringan di kulit dan cuaca yang tidak lagi panas seperti mendukung Lewi menciptakan keindahan untuk mereka berdua menjelang sore di pantai ini. Benar-benar tempat yang romantis untuk pasangan saling menyatakan sayang.
“Aku selalu sayang kamu, aku ingin jadi suami yang lebih baik buat kamu…”
Lewi dan Kharis saling memandang, cinta yang kuat yang menyatukan mereka hingga lima tahun pernikahan mereka. Ada banyak hal yang sudah dilewati, tapi sejauh ini mereka berusaha tetap saling cinta.
Ada masa ketika hidup baik-baik saja, bulan-bulan yang dijalani sebagai suami istri dalam hubungan yang baik, tapi ada juga masa yang diwarnai saling diam tak bertegur sapa atau malahan cekcok saling lempar banyak argumen dan alasan...
__ADS_1
Tapi... ya sejauh ini mereka berusaha untuk tetap saling cinta