
Lewi Andrean melepas ponselnya setelah hampir satu jam melepas segenap rindu yang terkumpul selama sepekan. Kondisi Kharis semakin sehat meskipun masih terlihat kurus. Mendengar suara Kharis seperti memberi kesegaran baru di raganya yang letih.
Meeting marathon dua minggu ini di kantor pusat dan di beberapa anak cabang, di pihak lain beberapa gerakan dari strategi restrukturisasi di perusahaan menguras semua energi dan daya pikirnya, termasuk di dalamnya mengendalikan efek dari hal tersebut. Untung saja dia menemukan orang-orang yang mau bekerjasama dan mendukung sehingga dampak bisa diminimalisir.
Dia berdiri dari sofa di kamarnya sambil bergerak merenggangkan otot badannya dia menuju tempat peraduannya ingin segera menjemput mimpi. Hampir-hampir dia tidak punya waktu hari-hari ini untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri selain tidur dan makan.
Ketukan di pintu membuat Lewi urung ke tempat tidur tetapi meneruskan langkah ke pintu kamarnya, meraih handle pintu...
"Papi... ada apa?"
"Papi ingin bicara sesuatu..."
Lewi Andrean keluar dari kamar mengikuti papi Peter. Dahinya mengernyit saat melihat arah langkah papi menuju ke kamar orang tuanya di lantai satu rumah ini. Sejak rumah ini dirombak total dan diperluas mungkin tujuh tahun yang lalu, dia tidak pernah sekali saja masuk ke kamar orang tuanya. Dia terlalu enggan berdekatan dengan mami Vero masa-masa itu.
Saat di dalam kamar yang ukurannya lebih luas dari lapangan basket miliknya di samping rumah ini, ada mami yang sudah bersiap tidur...
"Andre..."
Mami tersenyum lembut ke arah anaknya, dibalas senyum ringan anaknya yang langsung menuju sofa, meraba-raba apa yang ingin dibicarakan orang tuanya.
"Ada apa pi? Ada hal penting apa?"
Papi duduk di depan Lewi Andrean, mami menyusul kemudian dan tak sungkan lagi duduk di samping Lewi...
"Papi sudah bicarakan dengan mami... dua minggu lagi kamu ulang tahun. Apa kamu tidak ingin merayakannya? Sudah lama ulang tahun kamu lewat begitu saja..."
"Hahaha, kirain ada hal penting apa... Pi, aku bukan anak kecil lagi kan, udah nggak perlu balon dan kue ulang tahun..."
"Merayakan itu bagian dari ucapan syukur dan itu tidak mengenal umur..." mami menyela.
__ADS_1
"Lagi pula... mami belum pernah mengadakan acara saat kamu ulang tahun, mami ingin membuat acara kali ini..."
Mami meneruskan dengan suara lirih sadar bahwa banyak hal yang dia lewatkan tentang anaknya sampai usia menjelang 29 tahun ini. Lewi Andrean yang menangkap nada sendu di suara mami menggeser tubuhnya mendekati mami dan merangkul bahu maminya...
"Udah... nggak apa-apa, aku nggak butuh itu sekarang mi, oke? Aku juga mau ke kota M saat itu, pengen berada dekat Kharis saat merayakan ulang tahun aku ..."
"An... itu yang papi mami mau bicarakan, acara ulang tahunnya sekalian lamar Kharis bagaimana?"
"Maksudn..."
Napas Lewi Andrean tertahan terkejut dengan ucapan papi. Ternyata keinginan mereka tidak main-main. Kegelisahan orang tuanya soal umurnya berkaitan dengan 'belum nikah juga' semakin jelas sekarang. Satu helaan napas berat yang dilepaskan dengan cara yang sama berat, seberat hatinya jika membahas hal ini.
"Papi, mami... aku juga punya keinginan untuk segera menikah, tapi Kharis belum siap. Aku paham umur dia masih muda dan secara fisik mungkin dia siap tapi secara emosi belum. Dia masih punya banyak keinginan untuk dia raih, salah satunya kuliah S2. Dan aku sudah ngerti bagaimana dia, dia akan mengejar apa yang menjadi prioritasnya."
"An... itu bisa dibicarakan dengan baik kan... Pernikahan ini tidak akan menghalangi dia untuk kuliah atau apapun yang dia inginkan, kecuali itu keputusan dia sendiri atau kesepakatan kalian nanti..."
"Salah satu penyebab dia sakit itu pi... dia tertekan kita bicara pernikahan. Dia pernah bilang kalau aku ingin segera nikah, nggak usah menunggu dia... Nggaklah... aku hanya akan menikah dengan Kharis, nggak akan nikah dengan orang lain."
"Mami beda dengan Kharis..."
"Mereka punya kepribadian yang sama An... papi kok merasa ya... selera kita memilih wanita sama hahaha..."
Mami dan Andre menunjukkan ekspresi yang sama menyeringai, sementara dalam hati Lewi mengiyakan ucapan papi.
"Nanti aku coba bicara dengan Kharis... aku istirahat ya..."
"Andre... belum selesai... soal acara ulang tahun, gimana kalau kita adakan di M saja..."
"Mi..."
__ADS_1
Lewi Andrean tak bisa mengabaikan permintaan mami saat melihat raut wajah mami, terbaca keinginan yang kuat ingin melakukan sesuatu untuknya...
"Baiklah... terserah mami..."
Mami tersenyum senang... dan wajahnya merona merah saat anaknya mendaratkan sebuah ciuman di pipinya. Papi tertawa bahagia melihat interaksi kedua kesayangannya sekarang. Apapun yang mereka miliki tak sebanding dengan bahagia yang dirasakan saat hubungan semakin baik dan hangat. Saling menunjukkan cinta dan perhatian serta melewatkan waktu bersama mungkin itu salah satu kunci kebahagiaan.
"Kapan ke sana, aku booking hotel sekalian..."
"Tidak perlu An... kita punya rumah sendiri kan..."
"Ya udah.... aku lelah butuh istirahat sekarang."
Lewi Andrean beranjak menuju kamarnya dengan kegelisahan baru yang merayap di hati dan pikirannya. Rasa kantuknya hilang pergi bersama pembahasan nikah dengan papi mami. Untuk Lewi keinginan orang tuanya masuk akal dan tidak berlebihan, jangankan orang tuanya, dirinya pun menginginkan hal yang sama.
Bagaimana membuat gadisnya mengerti dan mau mengubah prioritasnya... itu yang harus dia temukan caranya sekarang terlebih Kharis belum sepenuhnya pulih, dia takut membebani dan justru membuat gadisnya terkapar lagi.
Lamaran? Itu sangat indah kedengarannya dan sangat ditunggu oleh seorang gadis dalam sebuah hubungan percintaan... Lamaran sebagai pertanda bahwa pasangan serius melangkah lebih jauh, sebagai pengikat hati supaya tidak lagi melihat ke arah yang lain.
Tapi untuk gadisnya, Kharis Meylia Angela, mungkin sebuah momok sebuah penjara sebuah pengikat atau apapun yang akan memberatkan dan membatasi langkahnya dalam menggapai hasrat mudanya dan obsesinya... sementara di luar sana banyak yang menikah muda. Itulah ironi kehidupan, ada yang ingin ada di posisi kita, berdoa dan berusaha mewujudkan itu, sementara kita yang tinggal melenggang mulus malah menolak dan merasa belum waktunya.
Siapa yang bisa menolong Lewi Andrean sekarang, dia butuh seseorang untuk memberi pencerahan sehingga kekasihnya mau mengubah perspektifnya...
...
Terima kasih untuk pembaca setia dan masih betah di sini bersama aku... memaklumi aku yang masih belajar menulis dan bahkan setia mendukung aku sampai bab ini... mungkin mendekati ending ya... mungkin hehehe.... 🥰🥰🥰
.
.
__ADS_1
✴✴✴