
Ada banyak peristiwa yang telah terangkai menjadi catatan sejarah dalam keluarga yang masih tergolong muda, Lewi dan Kharis. Lewi yang sekarang punya kesibukan yang berlipat-lipat sebagai nakhoda baru di perusahaan besar dan Kharis yang memberikan totalitas hari-harinya buat suami dan anak-anak. Sayang memang karena Kharis punya banyak kelebihan dan ketrampilan, tapi dia memilih jadi istri dan mami, mengapa seolah pilihannya bergeser begitu jauh, hal yang disayangkan mama Melissa dan mami Vero, tapi anak-anak membuat dia jatuh cinta dengan kehidupan yang sekarang.
Alasan Kharis adalah bukan pilihan yang bodoh ketika hanya menjadi perempuan yang hanya mengurus keluarga, fondasi keluarga jadi semakin kuat jika dia memberi waktu yang banyak. Anak-anak harus dididik di rumah sebelum mereka siap menghadapi dunia luar dan suami harus dilayani dengan baik di rumah full service baik kebutuhan jasmani dan rohani sehingga ketika dia berada di luar dia tidak akan pernah merasa kurang sehingga harus mencari kepuasan duniawi dengan cara yang bisa merusak dirinya bahkan keluarganya.
Lagi pula secara finansial mereka sangat berkelimpahan, apa yang dia inginkan bisa dia wujudkan. Kharis juga bukan wanita penikmat kesenangan berlebihan, tidak terjerat pada mentalitas barang mewah, jika pun ada barang mahal dan mewah wanita miliknya, itu karena pemberian mami Vero dan hanya dipakai saat ada acara-acara istimewa.
Satu-satunya koleksi yang selalu menggoda Kharis menambah lagi dan lagi adalah membeli product rumah tangga berjudul Tup perware, haha… Kharis sebenarnya hanya mengadopsi kesukaan mama Melissa --Ini sih mental ibu-ibu rumah tangga ya, ‘koleksiku harus lebih lengkap dari koleksimu’, apalagi sekarang katanya bisa digadaikan 😄 --
Soal obsesi pribadi, dia merasa telah cukup dalam membuktikan siapa dirinya, banyak prestasi di masa sekolah cukup sebagai pembuktian. Dan satu-satunya hutang pada dirinya adalah menyelesaikan S2. --Maafkan... 😚🤪 sejak awal cerita ini banyak paragraf yang sifatnya satu arah, kurang dialognya, bahkan sempat diprotes beberapa readers… anggap aja ini ciri khas TjS yaaa—
“Mam… de Ayin bajunya basah lagi, de Ayin minum sendili, nggak mau kakak bantu…”
Si jagoan muncul di kamar sambil mengandeng tangan adiknya. Sementara si putri kecil ketawa-ketawa dengan sebuah kue kopi-kopi --kue khas kota ini-- di genggaman tangannya yang mungil.
“Oh oh… siapa yang kasih kue itu… de Ayin udah makan banyak loh, nanti nggak mau makan nasi udah kekenyangan…”
“De Ayin ambil sendili di meja, de Ayin minum dali gelas olang tuh…”
Kharis menyambut putri kecilnya, mengambil kue di tangan kecil itu lalu mendudukkan di atas sofa, kemudian melepaskan baju yang basah dari tubuh si putri. Anak kecil itu tidak bisa diam, langsung bergerak turun dari sana. Kharis mengejar putrinya yang sudah melangkah mengitari kamar tidur mereka. Kharis akhirnya mengendong anaknya sambil meraih sebuah handuk di dalam lemari pakaian.
“De Ayin sembalangan ya mam…”
Muel pintar sekali bicara, kalimat-kalimatnya sudah jelas dan panjang-panjang, mungkin karena kebanyakan sehari-hari berkomunikasi dengan orang dewasa di rumah, dan juga karena anak itu pintar menangkap sesuatu.
“Oww… putri kecil mami, tuh kakak Muel bilang Ayin suka sembarangan…”
Kharis mengeringkan bagian dada Shallenne dengan handuk kecil. Kemudian membersihkan tangan mungilnya dengan tisu basah.
“Kakak Muel bantu mami, buang kue itu di tempat sampah yang di luar, boleh ya…”
“Iya mam…”
Si Ayin menggeliat minta turun dari pelukan, dan kekuatan si putri yang aktif sering membuat Kharis kewalahan. Mungkin itu penyebab Kharis tidak bisa gemuk, putrinya sangat lincah. Akhirnya setelah mengejar putrinya yang menuju pintu keluar karena melihat kakaknya keluar kamar, Kharis mendudukkan tubuh gendut Ayin di atas tubuh suami yang masih terlelap. Ini sudah jam delapan pagi, tak apa membangunkan sang suami, karena putrinya tak akan bergerak ke mana-mana saat main kuda-kudaan di atas tubuh papinya.
“Si… siapa yang… ohh… cantiknya papi kok nggak pakai baju sih… ”
Lewi terbangun, sudah sering seperti itu, pertanda juga si mami sudah menyerah mengejar putri kesayangan, si putri sudah bergerak-berak lincah di atas perut papi sambil berceloteh tak jelas. Ayin suka menyebutkan kata-kata yang tak beraturan, kadang bisa jelas apa maksudnya, kadang bernyanyi-nyanyi mengabungkan beberapa lirik lagu anak dengan bahasa cadelnya. Tapi yang jelas anak itu selalu tersenyum, mimik wajahnya selalu riang, kata papi Peter tingkah si putri kecil persis Lewi waktu kecil sementara kakak Muel terlalu serius, persis Kharis kecil.
“Bajunya basah. Ayin kebiasaan suka minum sembarangan, nggak bisa lihat gelas berisi air, langsung minum aja…”
Lewi mengelitik pinggang sang putri… anaknya tertawa-tawa sambil melompat-lompat di atas perut papi.
“Cantik… kamu selalu membuat mami repot ya…”
“Mamie popot…popot…”
__ADS_1
Kicauan khas anak-anak dari si kecil yang selalu bisa menghibur Kharis meskipun lelah.
“Repot sayang… re..pot…”
Kharis tertawa pelan sambil mengenakan baju pada Ayin.
“Po..pot… poppopopot…”
“Pagi sweetheart…”
Dengan sebelah tangan Lewi menarik tubuh istri mendekat dan memberikan sebuah ciuman di pipi. Dengan cara yang sama si putri menarik lengan baju Kharis kemudian berdiri di tempat tidur itu dan mengikuti si papi hendak memberikan ciuman di pipi mami. Tumbuh gendutnya hampir tersungkur karena pipi si mami masih agak jauh dari jangkauannya.
“Cantik… hati-hati, hampir jatuh kamu, berdiri yang bener baru cium mami…”
Lewi mengatur posisi Ayin, Kharis duduk dan menanti tingkah lucu anaknya, setiap kali melihat sang papi menciumi mami, dia akan menirukan.
“Papi kebanyakan cium aku, nurun sama Ayin…”
“Hahaha… itu dia mewarisi gen penyayang dari aku…”
“Asal jangan sampai dewasa aja seperti itu, main sosor-sosor sembarangan kayak papinya…”
Lewi menatap Kharis pura-pura kesal.
“Iya, udah terlanjur jatuh cinta, harus menerima baik dan buruk suami…”
“Aku nggak terlalu buruk kan…”
"Banyak tau yang jelek-jelek... aku hanya bertoleransi aja walaupun dongkol..."
"Hahaha...."
“Pulang jam berapa semalam?”
“Jam dua subuh…”
“Papi… ihh, ini salah satu yang aku nggak suka, papi suka lupa waktu kalau main catur…”
“Udah lama nggak main sayang makanya ketagihan, sungkan juga sama papa. Itupun mama yang suruh kita berhenti… mama marah-marah itu, aku jadi malu…”
“Iyalah… berapa jam itu, tujuh jam pi… astaga…”
“Papa minta kami teruskan hari ini…”
“Udah… jangan ke rumah mama dulu, sini aja, udah berapa hari loh kalian main catur…”
__ADS_1
“Kalau papa yang ke sini gimana? Mana bisa aku nolak ajakan mertua…”
“Nanti aku yang ngomong ke papa.”
Pintu kamar terbuka, si kakak Muel masuk.
“Mam… Muel ke lumah oma ya? Tadi Muel buang sampah, oma teliak suluh ke sana…”
“Loh oma belum masuk kerja?”
“Oma masih pakai dastel tuh…”
“Ya udah… kakak Muel, hati-hati ke sana ya…”
“Iya… papi, mami, Muel pelgi ya… De Ayin ikut kakak?”
“Nggak usah kakak, nanti dia malah main di jalan lari-lari di jalan…”
Kharis tidak sempat menahan si kecil yang sudah turun dengan cepat dan setengah berlari melewati Muel menuju pintu.
"Pi… tolong mami, cape mami sejak jam lima Ayin sudah bangun dan lari-larian kayak gitu…”
Lewi pun mengejar si batita yang menggemaskan itu. Kharis membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Setiap hari dia bangun sebelum suami dan anak-anaknya bangun, dan dia tidur setelah semua kesayangannya tertidur. Datang di kota M ini dia tidak membawa baby sitter dan ternyata tenaganya terkuras karena tak ada yang membantu dia mengawasi Ayin, sementara dia harus memasak sendiri makanan untuk anak-anaknya. Harusnya si suami ikut membantu, tapi setelah acara syukuran, kesibukan sudah lewat, justru sang suami duduk berjam-jam bersama papa di depan meja catur beberapa hari ini. Tadi sempat menitipkan pada istri om Simon yang menjaga rumah mereka di sini karena Kharis berniat mandi, tapi belum sempat dia lakukan.
Saat hampir tertidur, Kharis ingat ada cucian yang belum dia jemur, masih di dalam mesin cuci. Di rumah mama pembantu tinggal tante Mince yang karena usia sudah tidak terlalu lincah bekerja, jadi tidak mungkin meminta bantuan karena mama sendiri sekarang menggunakan jasa laundry. Di rumah suami, hanya ada om Simon dan istri, sudah berumur juga, kurang etis meminta bantuan pada mereka. Kharis menyesali tidak membawa baby sitter ke sini. Dengan langkah letihnya Kharis menuju ke area service, cucian harus dijemur, karena si Ayin boros baju dan dia tidak membawa banyak baju ke sini.
.
.
Kodrat termulia seorang wanita adalah menjadi ibu. Tugas seorang ibu barangkali adalah tugas yang paling sulit dan merupakan peran serta pekerjaan yang kini paling tidak diminati wanita modern…
Love you mama…
.
Hi.....
Yang manisssss aja dulu di awal...
Happy Reading 💚
.
💪semangat💪
__ADS_1