Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 44. Calon


__ADS_3

Masih pagi... belum setengah tujuh, mentari masih belum terlihat meski cahaya terang sudah menguasai alam. Dingin malam masih terasa dan suara alam masih mendominasi lewat cuitan burung-burung kecil yang bersahutan di atas pepohon besar di sepanjang jalan. Jalan raya di sebelah kiri masih lengang.


Sepasang makhluk mulia ciptaan sang Khalik sedang memastikan destinynya. Si lelaki menggenggam erat tangan kecil sang kekasih berjalan perlahan di atas trotoar di tepi pantai di ujung kota kecil ini, menuju sebuah kafe. Sengaja mobil diparkir agak jauh karena ingin berjalan berdua menikmati semilir angin pagi di pantai ini. Masih pagi... tampak di kejauhan perahu nelayan kecil mendekati pantai. Biasa ada transaksi keci-kecilan pedagang ikan di ujung trotoar batas kota.


Mereka ingin menikmati sarapan di kafe kecil langganan Kharis. Kafe ini buka jam enam pagi, tempat orang nongkrong di pagi hari menikmati kopi dan minuman hangat lain serta berbagai cemilan khas kota ini plus wifi gratis. Kharis ke sini jika sedang mumet, banyak pikiran butuh pelepasan emosi. Duduk berjam-jam di sini, memesan beberapa piring roti bakar dan beberapa gelas hot coklat baru kemudian pulang setelah puas memandang laut dan setelah kekusutan di otak terurai..


Sepagi ini Kharis sudah dijemput, hanya sempat mencuci muka dan sikat gigi, bahkan tidak sempat berganti baju, sang pujaan hati sudah muncul dengan gaya yang nyaris sama menggunakan baju tidur dan alas kaki sandal hotel. Lewi tidak memusingkan outfit mereka mungkin terbiasa saat bertetangga. Yang ada di pikirannya begitu membuka mata adalah segera melihat kekasihnya.


Di kafe sudah ada beberapa orang yang sedang menikmati pesanan mereka. Kharis mengedarkan pandangan mencari sofa favoritnya, suasana agak berubah, interior kafe nampaknya baru direnov bahkan diperluas dan kursi favoritnya tidak terlihat. Dia mendorong pelan punggung Lewi menuju sudut terbuka menghadap laut, ada kursi nyaman di sana.


"Di sana aja kakak... enak kayaknya buat duduk..."


Kharis menunjuk tempat yang dia maksud. Mereka bergerak ke tempat itu diikuti pelayan kafe yang sudah siaga sejak mereka berdua masuk.


"Mau pesan apa?"


"Dua hot coklat, satu roti bakar coklat dan satu pisang goroho stick..." Kharis menyebut pesanan tanpa melihat menu.


"Kakak biasa sarapan apa?"


"Buah... kadang segelas susu putih."


"Hah? Apa cukup buat perut sampai siang?"


"Cukup aja, sudah biasa..."


"Kalau begitu, kita pesan yang lain aja buat kakak, tapi menu sarapan kakak nggak ada di sini..."


"Itu aja... nggak papa, lihat kamu sudah termasuk sarapan buat aku..."


"Ishh... nggak logis deh, kayak cowok-cowok di kampung sebelah, heheh masa cuma mandangin orang udah kenyang..."

__ADS_1


"Hehehe... bener, coba kamu lihat aku lima menit aja, pasti kenyang..."


"Nggak mungkin ah..."


"Aku menahan rindu aku selama dua minggu, saat lihat wajah kamu seperti plong, nyaman, puas, bahagia... nggak pengen makan apa-apa lagi."


Kharis hanya tertawa tak bisa menyanggah.


"Sweetheart... ikut aku ya ke J...?"


"Mmmh..."


*****


Mami Vero masuk ke area dapur mengecek persiapan makanan, mami mengundang tamu untuk makan di rumah siang ini. Bi Mina serta Bi Ati sedang sibuk dibantu seorang ART lain. Mami Vero juga memesan makanan dari sebuah restoran dan itu sudah sampai dan tertata rapi di meja.


Mami sesekali mengundang koleganya makan bersama tapi kali ini istimewa rupanya karena mengundang makan siang di rumah, biasanya hanya mengajak makan di restoran tertentu.


Mami Vero tidak keberatan karena percaya penuh pada pak Ridwan. Meskipun dia acapkali mendengar kedua anak itu membuat ulah, beberapa kali memecat karyawan seenaknya tapi mami Vero bertoleransi mengingat dedikasi dan pengabdian pak Ridwan selama puluhan tahun ikut mami Vero. Tapi mami Vero tentu waspada itulah sebabnya mendesak anaknya Lewi Andrean segera masuk si perusahaan. Ada hal-hal yang mami tidak bisa lakukan berharap dapat dilakukan anaknya. Benar saja, sejak Lewi ada kedua anak itu berkurang ulah mereka.


"Apa kabar bu Vero..."


Istri pak Ridwan menyapa sambil cipika-cipika, disusul Giselle yang melakukan hal yang sama.


"Tante sehat...?"


"Sehat, terima kasih Giselle...mari duduk dulu mbak Susi, Ridwan, Henry..." Mami membawa masuk keluarga pak Ridwan ke ruang tamu yang lux bernuansa putih dan kuning keemasan berpadu dengan gordyn abu-abu pada jendela-jendela yang besar dengan set sofa mewah putih coklat muda dan warna emas yang klasik.


"Pak Peter mana..." Giliran pak Ridwan yang bersuara.


"Oh... masih di dalam, sebentar saya panggilkan... silakan dinikmati cemilannya dulu..."

__ADS_1


Di kamar papi sedang berbicara di ponsel. Mami mendekati dan mendengarkan sedikit pembicaraan itu...


"Ya... sampai kapan di sana?"


Minggu malam sudah pulang


"Baik... ini ada mami, mau ngomong?"


Nggak usah, sudah ya pi... bye


"Memangnya Andre ke mana?"


"Ke M sejak kemarin."


"Anak itu... keterlaluan masa nggak pamit. Aku sudah ngundang Ridwan dan keluarganya untuk makan siang. Mereka sudah datang..."


"Maksud mami apa sih... nggak ada Andre nggak masalah kan?"


"Maksudnya supaya Andre kenal lebih dekat lagi dengan si Giselle..."


"Mami... kemarin Danty, Friska... ⁷sekarang Giselle. Ada-ada aja mami ini, anak kok disodorin banyak perempuan... belum paham juga ya anakmu nggak mau seperti itu..."


"Mami hanya memberi dia pilihan. Mami suruh Danty usaha, Friska juga. Nah si Giselle hanya perlu dikasih peluang dia pasti akan berusaha sendiri... Mereka bertiga layak kok untuk jadi pilihannya Andre, cantik-cantik, beretika baik, juga lulusan LN, soal kerja sudah tidak diragukan... terserah Andre kecantol yang mana... jadi mami tidak campur tangan soal jodoh..."


"Nggak ada yang akan dipilih Andre. Hati-hati mi... kamu hafal kelakuannya kalau dia sudah merasa terganggu dan terintimidasi dia bisa meninggalkan mami lagi..."


"Nggaklah... makanya mami suruh gadis-gadis itu yang berusaha, mami nggak akan mengatur Andre..."


"Sama aja mi... mami lupa saat mami membawa Danty dan bicara soal calon istri ke Andre... hampir setahun dia nggak pulang rumah ikut komunitas jeepnya touring ke mana-mana. Mami mau dia menjauhi kita lagi? Sudah bagus sekarang dia sudah punya pikiran serius bantu mami di perusahaan. Papi nggak akan memihak mami kali ini... ayo kita keluar, nggak enak sama tamunya."


Mami memberengut kesal. Dia hanya tidak ingin Lewi mendapatkan istri yang tidak sesuai. Lagi pula dia sudah terlanjur memberi dorongan kepada Danty dan Friska untuk mencari cara menaklukkan Lewi. Dua gadis itu saling tahu bahwa mereka diberi peluang yang sama sebagai kandidat istri Lewi. Mami seperti sedang buat kontes mencari istri untuk anak tercinta. Di luar ada seorang gadis calon peserta kontes sang mami juga.

__ADS_1


🏖🏖🏖


__ADS_2