Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 73. Rencana Cadangan


__ADS_3

Hari seperti berlalu dengan cepat, seandainya kondisi memungkinkan Lewi ingin tetap berada di samping kekasihnya, terus menemani bahkan memanjakan, menjagai sampai sembuh.


Tapi ada kewajiban besar di tangannya yang tak bisa dialihkan, tak bisa ditunda juga. Langkah dia sudah ambil dan tak boleh setengah hati untuk menjalankan strategi pembersihan dan restrukturisasi agar kinerja perusahaan menjadi lebih sehat, dapat tumbuh lebih baik dan semakin bersaing, profit dapat dinikmati bukan hanya segelintir orang seperti yang sudah terjadi sekian tahun tapi oleh semua karyawan yang juga sudah memberikan dedikasi yang sama pada perusahaan.


Jadi dia harus mengambil pilihan realistis yaitu meninggalkan Kharis. Memang sih kondisi Kharis sudah semakin stabil dan tidak mengkuatirkan lagi.


Ticketnya sudah confirm, penerbangan terakhir hari ini. Dia masih punya waktu, coba menunggu sampai Kharis terbangun supaya bisa berpamitan langsung.


"Ma... kalau Kharis sudah sembuh, Lewi minta ijin jemput Kharis... "


"Mmh... mari kita bicara di luar..."


Mama Melissa berdiri dan beranjak ke luar dan lebih dahulu menitipkan Kharis ke seorang perawat jaga sebelum mencari tempat untuk berbincang dengan Lewi. Dia harus menyampaikan kondisi Kharis. Sengaja mama Melissa mengambil tempat duduk agak jauh dari kamar inap Kharis, mengantisipasi supaya tidak didengar Kharis.


"Lewi... tante eh mama.... ehkm. Begini ya... Lewi harus tahu tante sebenarnya belum nyaman menyebut diri tante sebagai mama untuk Lewi, jadi dari pada salah terus, nantilah yaa. Sekarang tante aja dulu, ok? Tapi terserah Lewi kalau merasa nyaman panggil mama, it's okay, senyaman Lewi aja, tante tidak akan melarang."


"Tante tidak bisa mengijinkan Kharis ke kota J. Tante sama om Didi sudah putuskan Kharis akan tinggal di sini, lanjutin S2 juga di sini aja. Dan menurut tante Kharis tidak akan keberatan soal itu. Selama ini hal-hal penting soal dirinya dia masih mempertimbangkan pendapat kami orang tua."


"Kenapa tante tidak ijinkan... karena sakitnya Kharis bukan semata-mata karena maag saja. Sakitnya juga karena ada tekanan berat, dia stress dan akan beresiko jika dibiarkan. Mungkin tekanan kerja, tekanan dari dirinya sendiri... tahu kan gimana Kharis, ingin perfect, bagus, baik, jika melakukan sesuatu... Mungkin juga ada masalah lain yang kita tidak tahu, tidak semua hal dia cerita ke kita, banyak yang dia simpan sendiri, selesaikan sendiri."


"Dengan kondisi seperti itu, tante tidak mungkin mengijinkan dia pergi. Lebih-lebih maagnya harus dirawat tuntas, biar tidak berulang-ulang kambuh. Jadi... tante harap Lewi mengerti ya... tante tidak melarang atau hendak memisahkan kalian... hanya sekarang Kharis lebih baik ada di sini dulu."


Lewi terdiam agak lama... kecewa tapi tak mungkin menyanggah atau memaksa...


"Baik ma... Lewi terserah mama. Lewi juga ingin yang terbaik untuk Kharis."


"Terima kasih kamu memahami keputusan kami."


Sebuah keputusan mutlak dari orang tua Kharis yang hanya bisa diterima seorang Lewi. Apa haknya mengatur hidup Kharis, statusnya baru seorang kekasih. Mungkin saja Kharis mau ke kota J bersamanya, tapi dia pasti pergi dengan tujuan yang jelas, untuk kerja atau kuliah, Lewi hanyalah alasan penyerta.


Dia tahu dia masih harus berjuang untuk menjadi nomor satu di hati gadisnya, semoga tidak lama lagi... dia harus lebih bersabar. Dan dia tidak masalah masih harus menunggu, dia tidak keberatan melakukannya. Karena Kharis sudah jadi pilihan terakhirnya. Tidak ada rencana cadangan jika tentang calon istri, rencananya hanya satu: menikah dengan gadis bernama Kharis, titik.

__ADS_1


Soal keinginan orang tuanya yang menginginkan dia menikah secepatnya, itu masalah lain. Semoga mereka juga bisa mengerti. Yang penting sekarang kesehatan Kharis. Lewi sempat tersentuh dengan kenyataan bahwa salah satu yang membuat Kharis sakit adalah karena stress dan bisa jadi karena permintaan papi dan mami waktu itu, sementara dia sangat tahu keinginan Kharis.


Kembali ke kamar inap Kharis dengan hati yang mulai berat, sebab waktu tidak menunggunya, berangkat sekarang atau ticket hangus...


Kharis masih tertidur... akhirnya Lewi memeluk tubuh yang sedang terlelap itu, membisikkan kata cinta... kemudian ciuman sayang dilabuhkan ke dahi sang kekasih. Mengusap sayang kedua pipi yang makin tirus itu... masih berat untuk meninggalkan. Mencium kepala sekali lagi sebelum pergi...


"Lewi pergi ya ma..."


Lewi berpamitan dengan suara dalam. Mama Melissa hanya mengangguk masih terharu merasakan bagaimana hati Lewi yang enggan meninggalkan Kharis. Dua tas miliknya dia angkat dan siap keluar, melihat lagi ke arah Kharis yang sudah membuka mata dan sedang mengerjap memastikan penglihatannya...


Sedih bercampur senang...Lewi mendekat dengan cepat...


"Sweetheart, aku harus pulang..."


Kharis bangkit dari posisi tidurnya dibantu Lewi.


"Iya..."


"Kakak nggak usah memaksakan diri ke sini, kalau nggak bisa nggak papa, telpon aja bisa kan..."


"Akunya yang nggak bisa... hehehe. Kamu selalu bikin aku kangen."


Lewi memeluk gadisnya yang tubuhnya kurus sekarang. Menciumi dan membelai lagi wajah gadis itu.


"Udah... kakak, nanti terlambat."


"Baik... nanti aku telpon ya..."


"Iya... iya, hati-hati."


"Aku sayang kamu..."

__ADS_1


"Aku juga sayang..."


*****


Dua minggu setelah keluar rumah sakit... Kharis sudah pulang ke rumah. Kondisi fisik masih fase pemulihan. Dia kehilangan bobot tubuhnya 7 kilogram. Belum ada aktifitas lain selain makan tidur dan olahraga ringan yaitu berjalan di sekitar rumah.


Pagi ini mama Melissa baru selesai memeriksa Kharis. Semua tanda vital normal, itu pertanda baik tentu saja. Hanya nafsu makan yang belum pulih, porsi makan masih sedikit, jadi masih dibantu food supplement, vitamin dan tentu saja obat.


Kharis sedang berdiri di depan jendela kamarnya... ada aktifitas di rumah tetangga yang terlihat matanya, rumah Lewi dulu...


"Ma... siapa yang tinggal di rumah itu?"


"Kosong... nggak ada yang tinggal. Waktu pak Peter pindah sempat ditinggali keluarga GM papa yang gantikan pak Peter, tapi hanya beberapa bulan..."


"itu rumah dinas ya?"


"Bukan... nggak tahu apa punya pak Peter ya... papa yang tahu sih... Kenapa?"


"Nggak ada, pengen tahu aja. Itu lagi direnovasi sepertinya..."


"Oh iya, mungkin sudah ada pemilik yang baru..." Jangan lupa minum obat sesudah makan ya... darling."


"Iya ma..."


Kharis masih memperhatikan kesibukkan beberapa orang di rumah sebelah, terlintas bayangan Lewi yang bermain basket di depan garasi... dia tersenyum mengingat tingkahnya dulu saat awal-awal jatuh cinta, saat pagi seperti ini selalu menantikan bunyi bola yang menyentuh ring dan gesekan sepatu sport di lantai. Kapan lagi, jadi kangen moment itu dan jadi kangen orangnya tentu saja. Ahh... kapan dia datang ya? Minggu lalu dia hanya datang sehari saja. Telpon pun kadang dua hari sekali... katanya sangat sibuk, cinta yang kembali berjarak....


.


.


✴✴✴

__ADS_1


__ADS_2