
Sekuat-kuatnya seseorang, ada saatnya dia menjadi lemah, dan itu manusiawi. Karena tubuh dan jiwa jika terus menerus dibombardir: demikian sibuk, tertekan, penuh tuntutan baik dari diri sendiri maupun dari pekerjaan atau orang di sekitar... ada saatnya raga itu letih bahkan sakit.
Seperti itu mungkin menjabarkan keadaan Kharis sekarang. Saat dia menyesuaikan dengan pola hidup yang baru dengan menetapkan standar dan tuntutan untuk dirinya sendiri... mengejar profesionalisme dan ingin meletakkan dasar yang baik bagi karirnya ke depan. Itu saja sudah merupakan tekanan.
Ditambah memikirkan Lewi yang sudah lama ingin mereka menikah, desakan om Peter karena umur Lewi juga membebani gadis yang berumur 22 tahun itu. Sementara dia masih ingin mewujudkan cita-citanya sendiri.
Insiden dengan Giselle merupakan akumulasi dari semua hal yang dia alami dan... fisik juga jiwanya menyerah.
Lewi melakukan panggilan video dengan kesedihan yang masih menguasai hati dan pikirannya. Dia ingin sekali merengkuh tubuh yang terlihat ringkih, mata terbuka tapi tubuh itu nampak lemah untuk bereaksi, tak ada jawaban saat Lewi menyampaikan sesuatu. Beberapa kali mama Melissa meletakkan ponsel di tengah panggilan itu karena Kharis masih saja m*ntah-m*ntah.
Di kantor...
Lewi baru bisa berangkat ke M besok hari walau keinginan terbesarnya sekarang adalah segera berada di sisi gadisnya. Dia punya tanggung jawab, dan hari-hari ini tahap awal perombakan besar-besaran dalam struktur sudah mulai dieksekusi. Memangkas dari bawah, menghentikan kaki dahulu baru memotong tangan, kemudian terakhir kepalanya... itu strategi yang dia rasa tepat dalam upaya membersihkan para pengerat keuangan perusahaan.
"Andre..."
"Mi... ada apa?"
Heran, Lewi Andrean berdiri dari kursi kerjanya menyambut mami yang baru sekali ini masuk ke ruangannya. Mereka berdua duduk berdampingan di sofa, Lewi Andrean memilih duduk menyamping bersandar di sandaran tangan supaya bisa melihat wajah mami Vero.
"Kharis sakit apa?"
"Maag..."
"Kata Wina masuk Rumah Sakit..."
"Iya, tapi di kota M... dia nekat pulang, nggak tahu seperti apa dia di perjalanan kemarin itu, kasihan. Kata mama maagnya parah..."
"Mama?"
"Mama Melissa..."
"Oh. Terus kamu, masa diam aja di sini?"
Lewi menatap maminya sejenak, tak menyangka justru mami mendorong dia pergi, walau itu berarti dia tidak bekerja dan beberapa urusan pekerjaan pasti terbengkalai.
"Besok aku berangkat ke sana mi... Hari ini aku harus di sini, ada beberapa hal yang perlu aku atur..."
"Emmh... kamu sudah mulai ternyata. Mami serahkan sepenuhnya padamu. Mami hanya turun tangan jika diperlukan. Ingat jangan gegabah, mereka juga licik. Jangan salah langkah atau mereka berbalik menyerangmu..."
"Makasih ma, sudah dukung aku sepenuhnya. Aku pasti berhati-hati."
"Apa mami perlu menjenguk?"
"Riris? Haha, bukan hanya aku yang jatuh cinta, ternyata mami juga..."
__ADS_1
Mami Vero berdiri risih mendengar pernyataan Andre dan pergi ke luar tanpa kata. Anaknya sangat blak-blakan soal perasaan dan dia tidak terbiasa. Meskipun dia akui dia turut risau mengetahui Kharis sakit.
"Mi..."
"Hmmmh..." mami menjawab sambil tetap melangkah menuju pintu.
"Mau titip salam buat Riris dan mama Melissa nggak?"
Lewi Andrean menggoda maminya.
"Lakukan jika menurut kamu baik..."
"Hahaha..."
Tindakan mami Vero menghibur Lewi. Dia hepi mami sekarang tak sungkan menyatakan kepedulian... ternyata seperti ini senangnya diperhatikan mami Vero... sejenak dia melupakan kesedihannya.
*****
Akhirnya, di kota M...
Nanar, Lewi terus memandangi gadisnya yang tertidur karena obat penenang. Sudah dua jam sejak dia tiba gadisnya belum membuka mata. Tante Mince ART Kharis ada di luar ruangan, risih ada di dalam saat menyaksikan bagaimana Lewi memperlakukan Kharis.
Lewi yang terbawa perasaan tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Kharis dengan lembut, membelai kepala gadisnya, tak mau bergeser sejengkal saja dari brankar rumah sakit itu. Dia duduk di sisi tempat tidur yang bebas dari tiang infus. Mama Melissa saat Lewi datang ijin pulang dan menitipkan Kharis, dia lega dan percaya Lewi bisa menjaga Kharis.
Kharis bersuara sangat pelan tanpa membuka mata...
"Sweetheart..."
Lewi kembali mengusap pelan pipi Kharis sementara tangan yang satu masih menggenggam tangan Kharis yang bebas dari infus.
Kharis membuka mata, melihat sejenak ke arah asal suara, saat menyadari siapa yang kini duduk di dekatnya kembali dia menutup matanya. Dua butir air mata keluar di sudut matanya...
"Sayang... butuh sesuatu? Mau minum?"
Kharis diam, tak mengiyakan tapi air mata sudah mengalir.
"Sweetheart... ada yang sakit?"
Lewi menghapus airmata di pipi dengan tangannya, berusaha hati-hati seolah takut gerakannya menyakiti gadisnya. Hatinya mencelos melihat kerapuhan gadisnya. Tak ada gambaran sebelumnya tubuh energik penuh vitalitas saat di kantor, sekarang berbaring tak berdaya. Airmata akhirnya keluar di sudut mata lelaki itu. Perlahan dia mendekatkan tubuhnya dan memberi ciuman lembut di dahi kekasihnya.
"Sayang... maaf ya, aku tak ada di samping kamu kemarin..."
Akhirnya Kharis membuka mata, Lewi sedikit menjauhkan tubuh, mengusap sayang kepala kekasihnya. Sementara tangan lemah Kharis yang tadi digenggam Lewi terangkat dan mengusap air mata di salah satu pipi Lewi. Lewi memegang pergelangan tangan itu. Lewi senyum melihat apa yang dilakukan Kharis.
Kharis yang melihat airmata lelaki itu untuknya hatinya menghangat, sebesar ini perhatian dan sayang Lewi untuknya. Tapi tubuhnya masih lemah untuk merespon lebih. Dia kembali menutup mata... membiarkan tangannya yang tadi terangkat digenggam Lewi, menikmati beberapa ciuman Lewi di wajahnya.
__ADS_1
"Mau minum?" tawar Lewi saat melihat Kharis diam.
"Iya..."
Lewi meladeni Kharis dengan sepenuh hati. Kesedihan mulai berganti dengan rasa lain... perasaan senang karena bisa memberi perhatian, perasaan senang karena beberapa kali Kharis meminta tolong, dia merasa dibutuhkan. Saat sehat gadisnya terlalu mandiri tidak pernah meminta bantuan apapun. Saat melayani gadisnya yang sakit dia merasa menjadi kekasih sepenuhnya.
Kharis tertidur kembali. Lewi menyempatkan diri mandi dan berganti pakaian. Setelahnya dia melepas penat di sofa dan tertidur. Saat terbangun sudah ada papa Didi dan mama Melissa.
"Sudah lama ma?"
"Eh... iya."
Mama Melissa menjawab kaku.
"Makan dulu, Lewi... ini ada makanan."
"Iya... makasih, ma... Apa kabar pa?"
Papa Didi agak lama menjawab, belum terbiasa dengan panggilan baru Lewi.
"Sehat... langsung makan aja..."
"Iya... pa."
Lewi belum ingin makan, pikirannya masih tertuju pada kekasihnya. Dia mendekati brankar...
"Tidur terus dari tadi ma..."
"Iya, efek obat... mudah-mudahan semakin baik. Makan aja dulu..."
"Baik..."
...
Lewi bersikeras menjaga Kharis malam ini walaupun mama Melissa keberatan. Tapi karena dua malam ini dia hampir tidak tidur... akhirnya dia mengikuti keinginan Lewi, toch Kharis lebih banyak di tempat tidur, lagi pula belum membutuhkan kamar mandi atau hal-hal pribadi lainnya. Dia juga meminta Lewi istirahat.
Jika bertanya pada Lewi Andrean apa hasrat terbesar untuk dia gapai sekarang adalah tetap berada di samping Kharis... terserah masih tetap berstatus kekasih, jika gadisnya belum ingin menikah tak masalah karena dia tidak ingin melepaskan gadis yang sangat dicintanya ini.
.
.
Thank God, cerita ini lulus kontrak, semua karena dukungan pembaca semua... terima kasih banyaaakkk. Luv U all 💙
✴✴✴
__ADS_1