Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 59. Complicated


__ADS_3

"Tunggu sebentar lagi, Ndut... semalam Lewi bilang mau jemput kok..."


"Kak Revy aja yang nunggu dia, aku nggak mau... lagian ini sudah satu jam lebih dia belum nongol."


"Telpon aja ndut, biar jelas..."


"Nggak... ayo mama. Kalau kak Revy mau nunggu silakan..."


Revy terpaksa ikut keluarganya melihat sikap adiknya yang begitu keras kepala tidak ingin menunggu Lewi. Ponselnya kehabisan daya dan chargernya ada di dalam koper. Dia tidak nyaman tanpa ponsel di kota besar ini apalagi dia termasuk jarang berkunjung ke kota ini, bisa-bisa dia jadi pengamen dadakan menyanyikan lagu Michael Bolton 'Lost in The City' atau berakhir di trotoar tanpa apapun melekat di badan atau di kantor polisi menunggu keluarga melapor orang hilang... ๐Ÿ˜œ


Dia paham ada masalah antara adiknya dan Lewi, ingin selalu membantu mengingat dosa di masa lalu, tapi kali ini dia lebih ingin pulang dengan selamat, tidak ingin menunggu Lewi tanpa ponsel di tangan --nggak jelas apa kak Revy yang lebay atau author... hikkss-- Nanti saja menghubungi Lewi.


Di dalam mobil...


"Cha... punya chargeran nggak..."


"Sini hpnya..." Kharis yang duduk di jok depan meminta ponsel kakaknya.


Kharis jengkel mengetahui kakaknya memberi informasi kedatangan mereka pada Lewi. Dia tidak ingin bertemu Lewi saat bersama mama papa dan kak Revy, situasi pasti akan berbeda saat hanya sendiri atau di kantor. Hubungannya dengan Lewi renggang sebulan ini dan dia memilih membiarkan seperti itu, bahkan jika harus melepaskan Lewi dia merasa siap untuk melakukannya.


Jika ditanya mengapa Kharis jadi berubah? Dia sendiri tidak mengerti mengapa. Apa penjelasan Lewi dibantu Gerald yang sudah mengirim chat panjang-panjang soal Giselle, tidak cukup untuk meyakinkan Kharis? Lebih dari cukup sebenarnya dan cukup realistis.


Mungkin alasan terbesarnya, dia tidak ingin memupuk harapan dan impian yang terlalu tinggi tapi kemudian harus jatuh terhempas. Setelah dua bulan melihat sendiri hal-hal yang berkaitan dengan Lewi, dia tidak bisa membangun rasa percaya diri untuk tetap tinggal di samping Lewi. Dan mungkin juga rasa cintanya tidak cukup kuat untuk seorang Lewi Andrean, sejak awal hatinya selalu berubah --Kamu terlalu complicated, Riris, aku juga pusing nulis tentang kamu ๐Ÿคซ --


"Mami Icha... nggak cape kan... kita langsung ke kota Bdg loh ini... Nanti mami papi nyusul kita setelah kerjaan di RS beres, mungkin nanti sore..."


"Iya Cha... terserah Chacha gimana..."


Mama Melissa yang duduk di jok belakang menjawab Charisma yang sedang fokus menyetir mobil yang sudah keluar dari bandara.


"Pingping sama Lingling?" Kharis mencari tahu dua sepupunya apa akan turut serta dalam liburan lanjutan ini.


"Udah dijemput Patris, mereka juga sudah otewe nanti ketemu di Resting Area Ck..."


"Oh... gitu, berapa hari di sana Chacha..."


"Sampai besok aja sih, kita sekalian bertemu dan kenalan sama keluarga Patris ... mereka orang Bdg..."


"Wow... pasti seru Chacha... udah serius ternyata sama kak Patris, udah mau ketemuan keluarga..."


"Iya... Patris udah nggak mau nunggu aku selesai kuliah, dikejar umur katanya..."

__ADS_1


"Kak Patris umur berapa sih..."


"Dua puluh sembilan, udah setahun ini minta nikah, ya aku nyerah aja. Dia pengen umur 30 udah punya anak. Kalau nunggu aku selesai dokter masih 4 tahun lagi, belum spesialisnya, dia bilang saat itu udah terlalu tua untuk ngurus anak... hahaha..."


"Betul itu Chacha... keputusan yang tepat. Mami Icha juga udah nggak sabar nunggu Revy sama Kharis nikah..."


"Hahaha... kak Rev denger tuch. Atau Kharis aja duluan, bareng aja kita nikah ya... kayaknya oppa Korea kamu itu sama kayak Patris udah pengen nikah aja... hahaha"


"Ihh Chacha, tahu dari mana... cuman lihat sepintas doang."


"Dia ke rumah loh cariin kamu kata mbak Surti..."


Kharis diam malas menanggapi. Sejujurnya masih bingung dengan keputusan yang dia ambil benar atau salah. Teringat chat yang terlanjur dia kirim kemarin saat selesai diceramahin mama dan kak Revy, juga jawaban Lewi atas chatnya yang aneh, Kharis sedikit tersenyum. Ponselnya sengaja masih off, karena pasti akan diserbu Lewi lagi jika dia tidak menemukan mereka di bandara, apalagi ponsel Revy juga masih off.


"Chacha... gantian sama Revy aja bawa mobilnya, kasihan kamu cape nanti nyetir berapa jam..." Mama Melissa memecah keheningan.


"Udah biasa mami...nggak papa..."


"Iya Cha... nanti di resting area kita gantian..."


"Boleh kak..."


Di bandara... Lewi memarkir mobilnya tapi belum turun dari mobil. Dia menghubungi ponsel Revy... tidak aktif, ponsel Kharis juga tidak aktif. Dia melirik jam di tangannya, harusnya jam segini sudah landing.


๐Ÿ“ฑ


"Ada apa Ger..."


Denah meja sudah aku ubah sesuai keinginan boss.


"Bagus..."


Beberapa chat masuk... dari tante Melissa.


๐Ÿ“ง Bro ini Revy


๐Ÿ“ง Hp gw lwbt


๐Ÿ“ง Kita di tol otw Bdg. Td nunggu sejam di bndra lu gk nonggol.


๐Ÿ“ง Ndut msh ngambek.

__ADS_1


Lewi baru menyadari dia salah menangkap maksud Revy, jam 8 itu sudah sampai di J bukan baru mau berangkat dari Yga. Kecewa memenuhi rongga dadanya karena tidak bisa bertemu Kharis, apalagi mereka sudah menuju Bdg. Dia tidak mungkin menyusul ke sana, sebentar malam adalah acara puncak perayaan hut perusahaan, dia tidak mungkin tidak hadir.


Lewi membuka ponsel melihat rundown acara malam nanti. Senyum tipis mengembang, sesuatu muncul di kepalanya. Sebelum dia memacu kendaraannya dia melihat ruang chat dengan Kharis, chat terakhir darinya bercentang dua tapi belum dibaca. Gadis itu selalu mempermainkan hatinya, apa maksudnya mengirim chat hanya berisi rangkaian tiga buah titik?


*****


Di sebuah Hotel ternama berbintang lima... acara hut sementara berlangsung. Baru saja Ibu Vero sang Direktur Utama memberikan pidato singkat di dampingi anak dan suaminya. Kini jamuan makan malam mewah sedang dinikmati para tamu undangan. Seseorang sementara mengomel di mejanya...


"Siapa sih yang mengubah denah meja..."


"Kenapa, Giselle? Kamu dari tadi marah-marah, wajah kamu nggak enak banget dilihat..."


"Aku kesel mah, ada yang mengubah tempat duduk aku..."


"Maksudnya?"


"Harusnya aku duduk berempat dengan Andre sama tante Vero dan Om Peter..."


"Terus kenapa kamu di sini..."


"Ya... seharusnya di sini meja VVIPnya bukan di sana..."


"Tapi, memang seperti itu kayaknya, lihat aja di situ hanya ada tiga tempat duduk, khusus mereka sekeluarga..."


"Aku yang atur detilnya, pah, mah... makanya aku marah tahu-tahu berubah..."


Lewi Andrean menyelesaikan makannya dengan cepat, dia membisikkan sesuatu kepada papinya kemudian papi ya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Hal yang sama dilakukan kepada maminya...


"Mami, mami hebat... aku bangga jadi anak mami. Aku sayang mami..."


"Aku pamit ya... ada sesuatu yang penting untuk hidup aku... Selamat buat pencapaian mami yang luar biasa..."


Lewi memberi kecupan sayang di kedua pipi mami Vero dengan senyum yang lebar, lalu beranjak meninggalkan ballroom. Sang mami yang baru menerima perlakuan yang manis dari anaknya dan masih terharu dengan pujian yang dilontarkan, tak kuasa menghalangi Lewi Andrean meninggalkan acara yang penting dan kali ini istimewa buat wanita cantik berkarisma itu. Dia memandang suaminya...


"Jangan halangi anakmu mami... biarkan dia kali ini. Dia sudah cukup menunjukkan pada mami bahwa dia anak yang bisa kita banggakan... ok?"


Suaminya mengambil tangan kanannya sambil menggenggam erat, membuat sang Direktur Utama VP group hanya diam meskipun penasaran dengan kalimat anaknya barusan. Sesuatu yang penting untuk hidupnya? Wanita? Tiga wanita yang dia suruh berusaha mendapatkan anaknya ada di sini... dan anaknya terlihat tidak dekat dengan satu pun dari antara mereka.


ยคยคยค


Masih semangat membaca nggak... semangat juga aku butuhkan untuk tetap menulis ceritaku sampai selesai... Salam hangat untuk semua pembaca dan salam sehat... God Bless ๐Ÿ˜‡

__ADS_1


๐Ÿท๐Ÿฅ‚๐Ÿธ


__ADS_2