Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Bonus Eps. Satu Lagi Ya...


__ADS_3

ยคยคยค


Dear Readers...


Terima kasih untuk dukungan kalian semua, TjS masuk Rangking Karya Pria, di ranking 20-an ๐Ÿ˜š


Itu sesuatu buat author pemula seperti aku. Semua karena karena kalian.... ๐Ÿ™๐Ÿ˜„๐Ÿ˜‡


Karena ada yang masih meminta author tambahkan Satu Lagi Episode bonus, semoga berkenan... ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡


Blessing....


.


ยคยคยค


.


.


Waktu yang bergerak, tanpa bisa ditahan oleh siapa pun. Setahun yang berjalan, hari-hari yang tadinya rutin dan biasa menjadi luar biasa karena kehadiran Muel, yang menghipnotis semua keluarga dengan senyum, suara tawa, tangis, kemudian celotehan dan tingkahnya yang menggemaskan.


Baby yang membuat semua orang di sekitarnya jatuh cinta, terutama sang mami yang rela mengorbankan semua tentang dirinya, fokus pada tanggung jawabnya sebagai ibu.


Pagi-pagi, sebelum bersibuk ria, Kharis masuk ke kamar mandi dengan dua buah testpack di tangan. Perbincangan semalam dengan si suami membuat dia penasaran. Dulu Lewi membeli setengah lusin testpack, dia hanya menggunakan 2 buah dan masih menyimpan yang lain, ternyata pagi ini berguna.


Dua-duanya dia gunakan, hasilnya terang benderang 2 buah garis muncul dengan tegas di situ. Entah mau menangis sedih atau gembira dengan hasil itu, dia sudah membayangkan seperti apa lingkaran hidupnya ke depan.


"Mam..."


Pintu kamar mandi digedor si papi. Kharis menghapus airmata yang sudah turun tanpa bisa ditahan. Dia mulai mengenali emosinya yang turun naik belakangan, bukan hanya karena Muel yang rewel saja tapi sebenarnya karena ada adik Muel ternyata, yang sudah tumbuh di perutnya.


"Sweetheart... udah dicari Muel nih pagi-pagi..."


Kharis menarik napas dan menghembuskan perlahan. Dia harus melapangkan hatinya menerima anugrah ini... celotehan anaknya terdengar serta tangan yang menepuk pintu kamar mandi dengan kekuatan bayinya.


Pintu terbuka...


"Baaaa..."


Si Muel tergelak di gendongan papinya. Kharis menutup lagi pintu kamar mandi dan mengulangi lagi bermain dengan kesayangannya.


"Baaaaa..."


Tawa Muel segera membahana memenuhi kamar luas mereka. Si papi menatap sang istri menemukan sesuatu di pipi jejak yang tidak sempat dibereskan, dia tahu apa itu. Dan muka ceria sang istri tidak bisa menutupi emosi yang sebenarnya.


"Selamat ulang tahun sayang... sini kita doa bertiga dulu, bersyukur kepada Yang Maha Pengasih, karena Muel udah setahun. Ayo papi... ke sofa yuk..."


Kharis mendahului gerakan sang papi menuju sofa di kamar tidur mereka.


"Muel doa ya..."


Kharis menangkupkan jari-jari mungil anaknya.


"Wawa... wawa..."


"Iya... Muel mau doa ya..."


Kharis tersenyum, Muel sudah hapal sikap itu, saat mau makan dia sudah mengunci sendiri kedua tangannya dan mengucapkan kata itu dari mulutnya.


"Muel doa..."


"E'el wawa..."


"Eh... anak papi bisa menyebut nama sendiri... Muel..."


"E'el... E'el..."

__ADS_1


"Muel mana?"


Papi yang senang anaknya bertambah pintar di hari ulang tahunnya bertanya lagi...


"E'el..."


Kata yang sama keluar dari mulut mungil yang bentuknya semakin jelas mirip sang papi. Tangan kecilnya menepuk dadanya beberapa kali.


"Kamu tambah pintar, nak..."


"E'el... E'el..."


Muel mengulang sambil mengangguk-anggukan kepala... Lewi tertawa dan mencium kepala anaknya.


"Papi... pimpin doanya, jangan panjang-panjang, dia belum ngerti, nanti dia mukul mulut papi suruh berhenti hehehe..."


Kharis tertawa mengingat apa yang pernah bayinya lakukan beberapa waktu yang lalu pada dirinya.


"Tangan Muel mana mau doa...?"


Lewi dan Kharis tunduk syukur dengan doa kepada pemilik hidup yang sudah melimpahkan rahmat buat mereka... Semoga tahun ke depan anak mereka tumbuh sehat, bertambah dalam pengertian, kecerdasan, dilindungi dan diberkati dalam pemeliharaan dan kasih setiaNya...


"Amiiiin..."


"Amim...amim... " Muel berceloteh riang.


"Muel pintar... "


Kharis menunjukkan jempolnya, Muel juga mengikuti menunjukkan jempolnya. Anak ini sudah pandai menirukan banyak hal...


Kharis meraih anaknya dan membawa dalam pelukannya, menciumi bayi setahunnya dengan segenap sayang seorang ibu, sesuatu yang sempat bergolak di hati tidak dia biarkan mencuri bahagia hari ini.


Lewi balik meraih tubuh keduanya, tangannya yang besar memeluk dua kesayangannya dan menciumi mereka dengan sayang, kedua orang yang adalah pusat hidupnya sekarang.


"Muel udah mandi ternyata ya...."


"Iya, mama bilang tadi waktu bangun sempat rewel, eh mama bawa ke kamar mandi langsung ketawa-ketawa, mama mandiin aja katanya..."


Muel sudah tidak mau berlama-lama digendong, di kamar ini dia sudah terbiasa menjelajah sambil merangkak. Ada keranjang mainannya di ruangan di atas sebuah karpet, dia sudah merangkak ke situ dan duduk sambil mengeluarkan isi keranjang.


"Kenapa Muel nggak mau jalan lagi..."


"Pelan-pelan aja pi... lama-lama dia akan jalan sendiri, nggak usah dipaksa. Kadang dia mau jalan beberapa langkah, tapi kadang masih merangkak seperti itu..."


Lewi meraih tubuh istrinya yang bebas sekarang. Mata keduanya sejenak bertatapan...


"Ada apa... sayang..."


"Hahh?... "


Dalam pelukan suami, Kharis terdiam.


"Kamu habis nangis tadi di kamar mandi kan... ada apa?"


"Mmh... aku... aku positif hamil, pi..."


"Wow... itu kado terbaik hari ini sayang..."


"Yang ulang tahun siapa, yang dapat kado siapa, papi ada-ada aja..."


"Ya... dia belum ngerti dia ulang tahun jadi kadonya buat papi..."


Kharis diam dalam pelukan suami dengan mata mengawasi Muel yang sudah mulai bisa bermain sendiri. Mainan yang Kharis pilih pun aman untuk anak di umur dia, kebanyakan mainan yang merangsang kemampuan motoriknya.


"Mam... apa belum menerima hal itu? Nanti bayinya sedih loh sejak masih janin, udah hidup loh, jangan dia merasa tertolak..."


"Bukan itu pi, nggak ada perasaan itu kok, nggak tahu kenapa pengen nangis aja bawaannya..."

__ADS_1


Lewi mengerti mood sang istri, maka dia membelai dan menciumi kepala sang istri, menyalurkan segenap cinta dan rasa sayang... Walaupun dia bahagia mengetahui ada calon baby yang kedua untuk mereka yang dianugrahkan, tapi dia peduli dengan istrinya.


"Jangan sedih dong... ini hari bahagia kita..."


"Iya... iya..."


"Mana... pengen lihat senyumnya..."


Kharis berusaha tersenyum... berusaha berpikir positif. Dia harus banyak-banyak bersyukur. Di hidupnya yang sekarang dia punya suami yang begitu sayang padanya, ganteng dan baik pula. Dia punya lelaki di sisinya, yang saat mereka bertiga berjalan bersama masih dilirik dengan kagum oleh banyak perempuan, mereka mungkin ingin ada di posisinya. Dia juga punya anak yang begitu tampan, lucu menggemaskan dan sedang pintar-pintarnya berceloteh dan meniru apa yang diajarkan.


Dia memiliki banyak hal untuk disyukuri, termasuk anak keduanya, siapa tahu baby girl seperti keinginan suami... Jadi seperti apapun kehidupannya ke depan, tak ada yang salah dengan itu, itu sebuah anugrah dan kebaikan ilahi...


Hari Ulang Tahun Pertama Muel... pasangan papi mami, terlihat tampan dan cantik dalam balutan baju couple casual, bawahan putih, dan atasan kemeja berwarna navy pilihan si oma. Sedangkan para oma juga opa menggunakan warna navy. Tapi seluruh rumah dan halaman telah dihias full color bertema anak.


Ada kurang lebih 200 anak yang diundang, anak/cucu para tetangga, anak/cucu para kolega, dan anak dari saudara dan kerabat. Acara pun berlangsung sangat meriah, hostnya seorang artis terkenal, banyak games dan hadiah. Benar-benar luar biasa acara yang disiapkan oleh oma Vero untuk cucu pertama.


Dan... dia atas semuanya, si baby sangat enjoy tertawa melihat banyak orang, seolah mengerti dialah pusat kegembiraan dan kebahagiaan hari ini.


"Mi... makasih ya... mami membuat hari ini jadi indah buat kita..."


Kharis mendekat dan memeluk oma Vero...


"Mami senang bisa melakukan ini, Muel juga senang banget sejak tadi ya... "


Oma Vero membelai cucunya yang sudah tertidur di tangan seorang baby sitter.


"Mbak di bawa ke kamar aja..."


Kharis kasihan melihat baby gembulnya tertidur kecapean tentu saja, dalam gendongan seperti itu pasti tidak nyaman..."


"Iya... bawa aja suster, nanti saya temani..."


Oma Melissa cepat menimpali, sejak tadi tak mau jauh-jauh dan sang cucu, apalagi sang cucu sudah mau digendong si oma. Besok oma harus balik, jadi oma maunya dekat cucunya terus.


"Kamu juga istirahat Kharis... kamu kelihatan cape juga..."


Mami Vero mengamati muka menantu kesayangan.


"Ah nggak kok mi, mami justru yang cape kan..."


"Kharis hamil mi... kita mau punya baby lagi..."


Lewi langsung menyampaikan berita bahagia itu...


Mama Melissa membulatkan mata dan mencari kepastian di wajah anaknya. Kharia tersenyum mengiyakan. Sementara mami Vero langsung memeluk Kharis...


"Mami senang.... rumah tambah ramai pasti..."


Opa Peter hanya tertawa dan menepuk bahu anak lelakinya...


"Kamu lebih hebat dari papi, An..."


"Iya... anak harus melampaui orang tua, tapi tetap harus hormat pada orang tua meskipun jauh lebih hebat..."


Mami berkata dalam senyum bahagia. Lewi gantian memeluk Kharis dan mendaratkan sebuah kecupan. Dia lebih bahagia lagi jika melihat Kharis siap untuk menjalani hidup mereka ke depan, dan dia melihat itu di wajah istrinya sekarang.


.


Kita tak bisa mengendalikan masa depan, hanya berharap di depan sana ada sejumlah kebaikan, sejumlah berkat, sejumlah anugrah yang tersedia untuk kita....


Tetap berharap... "Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang..."


.


.


May God Bless You all....

__ADS_1


.


๐Ÿ‘จโ€๐Ÿฆฐโค๐Ÿ‘ฉ


__ADS_2