Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 63. Show Time


__ADS_3

ยคยคยค


Hai hai... terima kasih masih setia di sini. Salam hangat dan tetap semangat minta dukungannya ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


ยคยคยค


Pintu ruangan dibuka dengan kasar, Lewi Andrean masuk ruangan Direktur Utama dengan raut wajah menahan marah. Dia tidak bisa punya waktu dengan Kharis karena ulah sang mami.


"Apa maksud mami sebenarnya memberikan beban kerja begitu banyak pada Kharis? Dua minggu mi... dia ikut mami ke mana-mana, di kantor malah kerjaannya tidak ada sangkut pautnya dengan job desc nya aku, dia magang buat aku bukan buat mami..."


Kata-kata protes meluncur dari bibir sang boss muda yang merasa kenyamanan kerjanya terganggu. Dua minggu ini tugas Kharis berubah jadi salah satu sekretaris boss besar, mengikuti dan melakukan tugas atas perintah Ibu Direktur Utama.


Sang mami menatap wajah anaknya, sudah lama dia tidak melihat emosi seperti itu di wajah anaknya untuk dirinya. Tapi sang mami tidak terpengaruh, raut wajahnya tidak berubah, tenang dan berwibawa.


"Tidak bermaksud apa-apa, mami butuh dia."


Kedua tangan mami Vero mengunci di depan dengan kedua siku bersandar di meja.


"Mi... ada ribuan karyawan mami salah satu bisa ditarik untuk bantu mami... jadi aneh malah seperti menyerobot staff aku."


"Dan seharusnya tidak ada yang keberatan jika ada yang ditarik jadi staff khusus Direktur Utama, termasuk kamu Andre..."


"Tapi kenapa harus Kharis, aku juga butuh dia, mi..."


"Kenapa tidak boleh Kharis? Dia bukan staff resmi kamu, dia hanya intern?"


Suara wibawa sang mami dengan argumen yang tidak bisa dibantah membuat Lewi Andrean tidak berkutik.


"Bukan masalah pekerjaan mami... masalahnya dia... ahh sudahlah..."


Lewi Andrean akhirnya beranjak keluar dari ruangan maminya. Ingin rasanya mengakui bahwa Kharis itu bukan sekedar karyawan magang tapi juga kekasih hati, mood booster, vitamin C dan D buat sang boss muda. Sebelum mencapai pintu suara mami terdengar...


"Kharis lebih fokus bekerja bersama mami, dia bisa lebih cepat berkembang dan bisa secepatnya resmi jadi sekretarismu. Okta bisa kamu tempatkan sesuai keahliannya."


Langkah Lewi terhenti, dia berbalik dan kembali mendekati meja maminya...


"Maksud mami?"


"Kamu tahu maksud mami."


"Apa... aku tidak mengerti..."


"Apa kamu berubah jadi bodoh karena kehilangan karyawan internmu?"


"Aku tidak bermaksud menjadikan Kharis sekretaris, dia punya rencana sendiri."


"Tapi itu strategi kamu."


"Menyangkut Okta benar, aku sudah punya posisi untuk dia, tapi belum sekarang."


Lewi duduk di depan mami. Saatnya memberi tahu Direktur Utama apa yang dia temukan beberapa bulan ini.


"Mami... ada yang mami harus tahu."


"Jika bukan urusan penting nanti saja, sebentar lagi mami ada tamu."


"Penting. Waktu menyusun tesis aku menemukan banyak kejanggalan dalam laporan keuangan. Sejak Okta kerja di sini kami berdua dibantu Gerald sudah melakukan penyelidikan diam-diam."


Sang Direktur Utama mengangkat tangan kanannya.


"Suruh Wina kosongkan jadwal mami, lalu tutup pintunya, baru jelaskan pada mami."

__ADS_1


Andre melakukan perintah maminya lalu duduk lagi di depan sang mami.


"Sudah sejauh mana penyelidikanmu?"


"Aku temukan lima tahun terakhir ada penyelewengan keuangan, semakin lama semakin besar jumlahnya. Okta sudah kumpul bukti-bukti, beberapa anak keuangan dan pajak juga divisi operasional bisa dipercaya, mereka hanya takut berbicara."


"Sudah temukan aliran dana ke mana saja?"


"Sudah. Mereka orang kepercayaan mami semua, orang kesayangan mami."


Wanita tangguh itu tampak menarik napas dalam. Tapi tidak terlihat terbebani dengan informasi anaknya. Justru ada titik airmata di sudut matanya. Lewi Andrean yang melihat itu berdiri mendekati mami, jiwa penyayangnya langsung bangkit.


"Sorry mami, aku terganggu makanya aku selidiki, sorry jika malah jadi beban buat mami."


Suara Lewi Andrean yang lirih justru membuat mami Vero terisak, dia berdiri dan memeluk anaknya. Andre kaget dengan reaksi maminya tapi kemudian menepuk sayang punggung maminya, rasa bersalah karena membuat sang mami menangis sekaligus rasa nyaman bisa dipeluk mami tersayang, campur aduk membuat airmata juga hadir di sudut matanya.


Beberapa saat kemudian setelah tangisan sang mami reda...


"Maafkan Andre, mi..."


Mami melepas pelukan tapi ditahan anaknya, kemudian dengan hati-hati penuh kasih sayang mengusap lembut jejak airmata di wajah yang masih terjaga kecantikannya.


Mami kembali ke singgasananya. Raut wajah kembali tenang. Lewi Andrean masih bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat maminya menangis, dia tidak bergeser dari posisinya.


"Mi, aku akan hentikan penyelidikan jika mami tidak nyaman..."


"Bukan seperti itu Andre... mami... mami terharu sekaligus lega... karena tujuan mami tercapai. Kamu melakukan yang mami tidak bisa lakukan. Itu tujuan mami meminta kamu masuk perusahaan, menghentikan kecurangan mereka, mami tahu kondisi itu tapi tidak tega mengambil tindakan, mereka orang-orang yang berjuang bersama mami sejak awal perusahaan ini didirikan."


"Tapi mi... jika dibiarkan mereka akan semakin serakah, termasuk pak Ridwan dan anak-anaknya, ada beberapa keponakannya juga."


"Mami serahkan semua padamu Andre, ini perubahan besar, semua langkah harus terukur dan matang. Bersiaplah terutama mental kamu. Setelah ini mami siap pensiun."


"Mi... berdiri lagi sebentar..."


Mami Vero berdiri dengan mimik heran mencoba mengerti maksud anaknya. Dengan wajah penuh senyum Lewi Andrean menarik lembut tubuh wanita yang melahirkannya itu kembali masuk dalam pelukannya.


"Masih pengen peluk mami..."


Ada suara tawa kecil dari maminya...


"Kamu persis papi. Sudah... sana kerja lagi."


"Mi... soal Kharis..."


"Jangan manja, apa yang mami lakukan untuk kepentingan kamu ke depan. Keluar sekarang minta Wina masuk."


Mami kembali ke mode wanita penguasa yang tak bisa dibantah. Lewi Andrean hanya bisa patuh pada titah Sri Ratu orang nomor satu di perusahaan ini.


...


Beberapa saat kemudian di ruangan Wakil Direktur Utama, seseorang mengetuk pintu dari luar...


"Masuk..." Lewi Andrean menjawab malas, mengangkat muka sejenak, kemudian kembali menatap layar monitor.


"Siang pak boss..."


Pak boss tidak menjawab.


"Pak boss..."


Suara naik seperempat oktaf, pak boss masih diam.

__ADS_1


"Kakak..."


Masih mode pacar merajuk, jadi tak ada jawaban.


"Baiklah. Aku kosong nggak ada kerjaan sampai jam tiga sore... hmm sekarang baru jam sepuluh pagi, aku ke salon aja..."


Kharis berbalik dan keluar ruangan, sebelum mencapai pintu tangannya sudah digandeng pak boss. Sebuah ciuman kecil mampir di pelipis kanan Kharis saat tangan kecilnya meraih handle pintu.


"Ishh... nggak cocok deh kakak merajuk kayak tadi."


"Bersiap bayar hutang sweetheart..." Lewi tersenyum nakal...


"Hihhh... lama-lama kakak jadi rentenir ciuman."


"Boleh... kamu nasabah satu-satunya, nasabah prioritas... hahaha."


Kharis hanya mengikuti langkah kekasihnya yang mulai tak sabaran untuk menagih hutang.


"Cang... serahkan ke mami secret job kita, langsung ya, jangan lewat Wina atau Carla..."


"Siap, Dre..."


"Ger... aku keluar sampai jam tiga, sesuaikan jadwal aku..."


"Oke oke... selamat menikmati waktunya dengan baik... boss, mbak Kharis."


Gerald tersenyum jenaka ke arah Kharis, dibalas senyum kecut gadis itu yang sudah ditarik berjalan ke arah lift.


"Tadi kerjaan kamu banyak, kenapa tiba-tiba free dan bisa keluar?"


"Aku nggak tahu. Tadi bu Vero bilang... Andre butuh kamu, kembali jam tiga sore..."


"Hahahaha..." Lewi Andrean tertawa bahagia, mami ternyata sudah tahu siapa Kharis dan yang terutama mami menyetujui mereka.


Di dalam lift...


"Sini sayang..." cicilan pertama dimulai.


"Kakak, di ka-kantor iiiini.... ihh, nanti dilihat karyawan, nggak enak..."


"Kenapa takut sama karyawan sih, Direktur Utama sudah memberi ijinnya. Dia menyuruh kita berkencan, ngerti nggak sih?


"Masa sih... ini jam kerja."


"Sayang... mami nggak akan sembarangan menyuruh kita bolos kerja. Sebenarnya dia ingin memberitahu semua karyawan tentang hubungan kita."


"Masa sih?"


"Iya... aku tahu siapa mami sekarang. Aku yakin maksudnya seperti itu. Selama ini ada beberapa karyawan wanita termasuk Giselle yang mami deketin ke aku. Jika dia tidak suka hubungan kita dia akan halangi itu."


Tiiingg... pintu lift terbuka.


"Tegakkan badanmu sayang, bersikap percaya diri, saatnya show time... nggak ada yang perlu aku sembunyikan, gerah juga melihat tatapan lapar dari banyak jomblowati."


Lewi Andrean memegang erat jemari tangan Kharis berjalan tanpa canggung melewati banyak karyawan di lobby. Awalnya Kharis grogi, beberapa tarikan napas untuk menenangkan diri kemudian melangkah seirama dengan orang kedua perusahaan ini.


Tentu saja the star couple ini jadi tontonan dengan berbagai ekspresi, ada yang sampai melirik lama ke tanda pengenal perusahaan yang masih tergantung di leher Kharis. Kharis menatap lurus ke pintu lobby sementara Lewi menelpon mang Ujang untuk menyiapkan mobil...


Bisik-bisik kemudian berubah menjadi gosip dan pencarian informasi siapa gadis bertanda pengenal dengan tali merah, warna karyawan magang, yang digandeng mesra most wanted boy di perusahaan ini???


๐Ÿ™Žโ€โ™€๏ธโš˜๐Ÿ‘จโ€๐Ÿฆฐ

__ADS_1


__ADS_2