
Hi readers tersayang... semoga tetap sehat dan diberkati selalu. Masih meminta dukungan untuk karyaku ini... Terima kasih... HappY ReadinG ๐๐
ยคยคยค
Friska sedang duduk tegang di sofa menyusun rangkaian kata di kepalanya nanti saat berhadapan dengan si wakil Dirut yang masih di ruang meeting. Tadi dia sudah diijinkan menunggu di dalam oleh Gerald yang tak berdaya saat mendapat perintah langsung dari boss besar.
Friska punya titipan 'tugas' dari bu Vero untuk meluluhkan hati seorang Lewi Andrean. Dia harus mengerahkan semua kemampuannya untuk bernegosiasi, membujuk bahkan merayu wakil Dirut itu untuk menerimanya sebagai sekretaris.
Aneh juga pikirnya... 'anak baru' itu begitu pemilih. Kecakapannya sebagai sekretaris sudah teruji, sudah tiga tahun lebih duduk di posisi ini sebagai sekretaris Direktur Operasional perusahaan, tapi ditolak dan justru anak itu memilih seorang supervisor dari kantor cabang.
Dan lebih aneh sebenarnya keinginan bu Vero sejak pertama Lewi Andrean ada di perusahaan dia ditugaskan untuk mendekatinya. Awal-awal risih tapi lama-lama dia tak bisa melawan pesona si boss muda calon top leader di perusahaan besar ini.
Sering berangan-angan ada di sisi Lewi Andrean sebagai pendamping, sudah sering juga membangun mimpi kelak bisa menjadi ratu yang akan menikmati kehidupan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan, bisa mewujudkan hasratnya berkeliling dunia menikmati tempat-tempat terindah dan terbaik... haha.
Dan saatnya untuk berjuang, karena dibalik sikap si boss muda yang low profile sesungguhnya ada tembok yang tidak bisa ditembus para wanita di kantor ini. Sebut saja anak Pak Ridwan bossnya, Giselle yang cantik dan selalu bergaya bak fotomodel, si wakil Direktur Keuangan sejak awal sudah terang-terangan mengejar. Atau Cassy anak salah seorang pemegang saham di sini.
Tapi entah kenapa bu Vero menyuruh dia maju. Maka dia harus percaya diri terlebih karena ada dukungan kuat dari Ibu Suri... semoga dia bisa mewujudkan keinginan bu Vero dan tentu saja obsesi pribadinya terhadap calon atasannya itu.
Sebuah notif masuk, chat dari Emy staf yang sudah mulai mengambil alih tugasnya sebagai sekretaris Pak Ridwan, meeting masih 15 menit lagi berarti dia harus menunggu lagi. Bosan duduk dia berdiri dan menuju meja kerja minimalis dari kaca yang lumayan besar, pengen tahu isi meja orang kedua kantor ini.
Dia senyum melihat barisan tiga boneka Piggy warna hitam pink dan putih yang mungil di atas meja, selera boss memilih hiasan meja kekanakan menurutnya. Gerakan mata terhenti di sebuah bingkai foto persegi panjang berwarna hitam yang berisi 3 foto, semuanya foto mesra Lewi Andrean dengan seorang gadis. Cantik dan masih sangat muda seperti seorang remaja. Hatinya menciut seketika...
Jadi... dia sudah punya pasangan, apa bu Vero tidak mengetahuinya sehingga dia disuruh mendekati anaknya itu? Pantas saja Lewi Andrean itu tidak pernah terlihat menggandeng wanita. Saat menghadiri undangan atau acara resmi kantor dia hanya ditemani si assisten Gerald. Pantas juga nggak pernah ada yang berhasil mendekati si boss muda yang punya body plus face idaman. Belum memulai pertempuran Friska sudah merasa kalah...
Pintu terbuka kemudian... si wakil Dirut masuk memandang sekilas ke arah Friska dan berjalan lurus menuju mejanya. Untungnya Friska sudah kembali duduk di sofa. Sejujurnya semua kalimat yang sudah tersusun rapi di otaknya sudah hilang terbang tidak berbekas sesaat setelah tahu Lewi Andrean bukan seorang cowok jomblo seperti yang dia duga selama ini. Tapi sebagai bawahan dia harus menyapa apalagi sudah ada di ruangan beliau.
"Siang pak Andre..." Friska berdiri dan mengangguk hormat.
"Siang... ada perlu apa..."
"Eh... saya... saya akan bekerja mulai sekarang pak Andre, saya sekretaris pak Andre."
Friska tak bisa memikirkan pilihan kalimat lain tapi langsung to the point, entah apa kalimat rayuan tadi memorinya langsung hang.
"Friska ya...?"
__ADS_1
"Iya pak Andre, saya Friska."
"Maaf, saya sudah punya sekretaris juga mulai bekerja hari ini. Anda tetap sekretaris Direktur Operasional, saya sudah komunikasikan dengan pak Ridwan jadi tidak ada masalah anda boleh kembali bekerja pada pak Ridwan."
Lewi berbicara dari balik meja dengan kedua tangan mengunci di atas meja, sangat formal dan diakhiri senyum kepada Friska. Gadis itu semakin kehilangan kata ditatap tanpa berkedip oleh boss tampan. Mengapa kalimat penolakan itu jadi terasa indah di telinganya... ada yang tidak sinkron dengan kerja otaknya mungkin.
"Anda tidak perlu kuatir soal ibu Vero, dia sudah tahu keputusan saya. Silahkan kembali, saya masih banyak pekerjaan."
Lewi melanjutkan saat melihat Friska tidak bergeming.
"Baik pak Andre..."
"Ya... selamat siang."
Friska melangkah keluar ruangan dengan lesu. Berkali-kali mengirim sesuatu untuk si bos dia jadi merasa rugi waktu dan uang sekarang hanya dengan sekali tadi berhadapan langsung dengan percakapan yang teramat singkat. Dia menyadari kalimat terakhir tadi juga berarti sebuah sikap tegas seorang Lewi Andrean yang tahu keinginan si boss besar.
Saat sudah di luar ruangan wakil Dirut Friska menarik napas dan menghembuskan sekuatnya. Pupus sudah harapannya. Dia berjalan ke ruangan bu Vero mau melapor pada ibu Suri. Pasti dia kena omelan karena tadi malam bu Vero memberi ultimatum dia harus berhasil membujuk Lewi Andrean. Mana bisa... melihat tampang si boss muda terus dikunci oleh tatapan lembut tapi tegas serta mendengar suaranya langsung membuat dia tidak berkutik tadi.
Di ruangannya Andre terkekeh... Tadinya dia berpikir Friska akan menyulitkan dia. Karena Friska terlihat keras dan tangguh, ternyata hanya dengan satu kalimat dia sudah menyerah. Dia pikir akan banyak drama dengan gadis yang sengaja diumpan mami padanya. Dia menatap foto Kharis di hadapannya sambil mengelus si Piggy putih...
"Sweetheart... banyak cewek di sini yang coba menarik perhatian aku, tapi kamu sudah menguasai seluruh relung cinta di hatiku... Nggak ada tempat buat mereka, hanya kamu... I love You cinta...."
"Gerald, kasih tahu ke front office Okta Septian suruh langsung naik ke ruanganku..."
Sambil menunggu sekretaris barunya, Lewi membuka chat room di aplikasi hijau, menekan keyboard di layar ponsel menuliskan kalimat yang baru dia ucapkan tadi... siang-siang mengirim chat cinta, mumpung lagi kosong.
๐ฉ Sweetheart, kamu sudah menguasai seluruh relung cinta di hatiku. Nggak ada tempat buat yang lain, hanya kamu. I love You cinta โค
โ Pak Boss konsen sm kerjaan jgn ngegombal, msh siang ๐
๐ฉ Kangen โคโค
โ Iya nt mlm aja. ILY
๐ฉ Love You more
__ADS_1
Muka Lewi langsung berseri-seri kayak baru ngecash hatinya... langsung berbunga-bunga tergambar di wajah yang sumringah. Jadi kangen berat dan kepikiran sesuatu, dia melihat kalender besok sudah akhir minggu ternyata...
Pintu diketuk menghentikan pikiran yang sesaat sempat terbang ke kota M...
"Masuk..."
"Selamat siang pak Lewi Andrean..."
Lewi tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Langsung berdiri dan berjalan ke arah tamu yang hanya masuk dua langkah...
"Okta Septian... waduh kamu berubah, berapa timbangan kamu?"
Okta mengulurkan tangannya sambil tersenyum sopan. Lewi tidak menghiraukan tangan yang terulur di hadapannya tapi langsung merangkul sahabat masa kecilnya itu.
"Apa kabar Ocang... mari duduk dulu..."
Okta masih menjaga sikapnya tetap sopan meskipun Lewi sudah menyapa dengan akrab. Tadi saat sampai dia sudah bertemu bu Vero terlebih dulu sesuai perintah yang dia terima. Jadi saat Lewi memimpin meeting internal Okta sudah dicoaching sama bu Vero soal tugas barunya sebagai sekretaris Lewi. Bu Vero terpaksa setuju dengan keputusan Lewi soal sekretarisnya. Tapi ada catatan harus bertemu dengannya lebih dahulu sebelum bekerja pada Lewi.
"Saya baik pak Andre..."
"Kamu jangan kaku Ocang... " Lewi tertawa lagi melihat respon Okta yang terlihat menjaga jarak.
"Sudah seharusnya pak..."
"Astaga... baik... baik... aku ngerti kenapa kamu seperti itu. Praktisnya senin baru mulai kerja sama aku kan?"
"Iya pak... sebulan ini saya harus belajar banyak, tadi bu Wina sudah memberi saya file untuk saya pelajari, bu Wina juga masih akan turun langsung sampai saya bisa pak..."
"Oke... hehehe, aku nggak mau seperti ini loh ke depannya, jangan bersikap formal, kamu tahu siapa aku..."
"Maaf pak..."
""Aku aduin ke bi Mina sikap kamu sama aku hari ini... hehehe, kamu berubah... Cang."
Okta Septian hanya menunduk hormat. Sebetulnya dia juga ingin memeluk Lewi tadi dan ingin bersikap seperti dulu, tapi bu Vero mengharuskan dia menjaga jarak, Lewi itu atasannya bukan teman kecilnya. Dia harus menahan hati demi bu Vero yang banyak berjasa dalam hidupnya.
__ADS_1
"Andre... kamu tetap sahabat di hati aku."
๐ฌ๐ฌ๐ฌ