Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Bonus Eps. Mungkin


__ADS_3

Kharis berdiri dari tempat tidur dengan sedikit oleng sehingga jatuh terduduk lagi di tempat tidur. Dua hari dia tidak keluar kamar, rasa lelah dan lemas membuat dia lebih banyak berbaring sepanjang hari. Selain baru selesai ujian semester, dia merasa ada yang beda dengan kondisi tubuhnya.


"Sweetheart... kenapa... pusing ya?"


"Iya... sedikit..."


"Apa yang sakit, sayang?"


Suami mulai kuatir, istri hanya menggelengkan kepala, dia juga bingung apanya yang sakit.


"Tiduran aja kalau gitu..."


"Nggak apa-apa, udah seharian ini aku tiduran... lemes aja, mungkin karena kebanyakan tidur kali..."


Lewi baru pulang dari kantor. Sejak menikah dia selalu pulang lebih awal. Rasanya tak pernah cukup waktu yang dihabiskan bersama sang istri, setelah beberapa bulan menikah kerinduannya masih menggebu-gebu. Lewi mendekati istrinya...


"Kamu terlihat nggak sehat, apa maagnya kambuh lagi?"


"Nggak kok... aku suka seperti ini kalau lagi cape..."


"Mau ke kamar mandi? Sini aku bantuin..."


Lewi memegang lembut kedua lengan istrinya dan memapah berjalan menuju kamar mandi. Setelah sang istri menuntaskan hal pribadinya, Lewi memapah si istri kembali ke tempat tidur lalu dia pun membersihkan diri. Setelah menyegarkan diri kemudian mengenakan celana pendek dan kaos oblong yang nyaman. Di kamar, istri tersayang sedang tengkurap di tempat tidur, setengah wajah yang terekam mata nampak kuyuh di atas bantal.


"Hei... jangan-jangan beneran sakit..."


Si suami memberi beberapa kecupan ringan di sebagian wajah sang istri yang menghadap ke samping.


"Nggak tahu ya... sejak pagi kayak nggak punya tenaga..."


"Kita ke dokter aja."


"Eh... nggak usah... nggak ada yang serius."


"Tadi nggak melewatkan jam makan kan?"


"Iya... tadi makannya di kamar sih..."


Lewi mengambil ponsel yang dari atas meja dan melakukan panggilan video...


📱


"Halo, ma..."


"Iya... Lewi, ada apa?"


"Kharis sakit kayaknya..."


Kamera terarah ke wajah Kharis yang kini telah tidur posisi menyamping.


"Ma..."


Kharis melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Apa yang kamu rasakan darling, maagmu kambuh?"


"Nggak ma... cuma lemes dan sedikit pusing, kak Lewi aja yang terlalu kuatir. Aku baru selesai ujian aja... nggak apa-apa ma..."


"Kamu sih suka maksain diri kalau belajar, seperti itu jadinya. Mama minta tolong mami Ida aja periksa kamu..."


"Nggak usah mamaaa... kasihan kalau mami Ida ke sini... jauh ma, mana sekarang lagi macet-macetnya..."


"Mama kuatir juga..."


"Nggak apa-apa, beneran..."


"Mana Lewi..."


"Iya, ma..." Lewi mengganti sorotan kamera ke wajahnya sendiri...

__ADS_1


"Sampai besok kalau masih seperti itu kondisinya bawa ke dokter aja, nggak usah minta persetujuan, darling nggak akan mau itu..."


"Iya... ma..."


"Oke ya... mama mau pulang rumah, udah cape ini... kalau ada apa-apa kasih tahu mama..."


"Iya... ma..."


"Lewi... jangan-jangan si darling ha..."


"Apa... ma?"


"Mhm... udah ya..."


Sambungan telpon dimatikan si mama. Lewi mengerutkan dahinya, apa maksud mama tadi?


"Sayang... ayo makan malam, atau dibawa ke sini aja ya... bentar..."


"Aku belum lapar. Kakak... aku pulang ke M, boleh ya... ini udah libur akunya..."


"Nanti aja... kita sama-sama ke sana..."


"Kakak... please, aku kangen masakan tante Mince..."


"Nanti ya... aku lihat schedule aku kapan bisanya..."


"Aku pergi sendiri..."


"Kamu lagi sakit sayang..."


"Boleh kok... nggak parah juga..."


"Nanti aku pikirkan... Aku turun ya, ambil makanan..."


"Kakak..."


Lewi senyum tapi di wajahnya ada ketegasan tidak memberi persetujuan. Dia mengusap sebentar pipi istrinya lalu beranjak keluar.


"Selamat malam mami, papi..."


"An... ayo kita makan... Kharis mana?"


"Lagi nggak enak badan, pi..."


"Oh sakit ya... hubungi dokter Wesly, mi..."


"Nanti aja pi... Kharis belum mau diperiksa, besok aja kalau masih seperti itu..."


"Nggak baik kalau ditunda Andre..." Mama menyela. "Mina... bawakan makanan untuk Kharis..."


"Bi... siapin aja nanti aku yang bawa ke kamar..."


"Andre... kamu makan aja dulu. Mina bawa ke atas makanan Kharis."


"Baik, bu."


Selang beberapa saat bi Mina turun membawa nampan berisi makanan.


"Loh... nggak dimakan ya?"


"Iya bu... tadi siang juga non Kharis makannya sedikit, katanya lagi pengen makanan di kota M..."


"Taroh situ aja bi, nanti aku yang bawa..."


Lewi segera menyelesaikan makannya.


Dahi mami berkerut, jangan-jangan menantunya sudah isi... Mami yang sudah selesai makan langsung berdiri dan menuju kamar atas, dia ingin memastikan pemikirannya tadi. Pintu kamar dia dorong dan suara lirih sebuah tangisan masuk ke gendang telinganya. Tubuh yang tersembunyi di bawah selimut tebal itu nampak mengguncang pelan.


"Kharis..."

__ADS_1


Suara mami yang tegas membuat Kharis menghentikan tangisnya. Aduh... kenapa mami ke sini...


"Kharis... kamu sakit?"


Buru-buru Kharis menghapus airmatanya dengan selimut kemudian mengeluarkan wajahnya dan bangkit dari posisi tengkurapnya. Tidak sopan kan mengabaikan mertua, padahal masih pengen nangis, masih sedih...


Setelah duduk menghadap mami, dengan sedikit tertunduk Kharis menjawab...


"Kharis nggak apa-apa, hanya sedikit lemes aja..."


Jari-jari dengan cepat mengusap airmata yang masih keluar, mata belum mau diajak kompromi. Jadi tidak enak hati mami melihat dia menangis.


"Kamu ada siapin testpack?"


"Eh... nggak..."


"Bulan ini udah mens?"


"Hah??"


"Hamil mungkin..."


"Hah??"


Deg... iya mungkin dirinya hamil... Kharis meraih ponselnya dari nakas, membuka kalender dan menyimak sesuatu di sana... dan... menurut siklusnya seharusnya dia haid tanggal... ini tanggal berapa... terlambat dua minggu. Dia tidak memperhatikan periodenya karena sibuk belajar untuk ujian akhir semester...


"Kharis???"


Mami masih menunggu... sekarang mami duduk di tempat tidur juga.


"Kharis terlambat haid, mi..."


"Berapa minggu?"


"Dua..."


Lirih Kharis menjawab... dia ingat waktu berkunjung ke rumah mami Ida, mami Ida bilang kemungkinan hamil lebih besar karena pasangan baru nggak cocok dengan sistem kalender. Dan itu benar, dirinya berkali-kali tidak bisa menahan hasrat seorang Lewi Andrean...


Pintu kamar terkuak, si suami masuk dengan nampan berisi makanan di tangan.


"Sayang... harus makan ya..."


Lewi meletakkan nampan di nakas.


"Andre... kamu ke apotik sana... beli testpack..."


"Itu obat apa? Nggak boleh sembarang minum obat... periksa dokter dulu, mi..."


"Andre... itu bukan obat, alat periksa kehamilan, Kharis terlambat mens mungkin hamil. Makanya kita test dulu, besok baru ke dokter..."


Muka Lewi langsung bersinar, senyum langsung merekah. Tangan langsung mendekap mesra sang istri.


"Sweetheart..."


"Nanti aja senangnya, belum pasti juga, sana beli tespack dulu..."


"Eh... iya mi... testpack kan?"


Suami langsung melesat keluar kamar, tak sabar menanti kepastian... dia bakal jadi papi...


.


.


🍦🍭🥧🧁


¤¤¤


Makasih untuk yang msh menunggu dan terus mendukung... blessing 😇

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2