Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 68. Bukan Tandingan


__ADS_3

Sudah beberapa hari kepala Kharis sakit setiap bangun pagi dan di jam sepuluh seperti saat ini rasa sakitnya seperti memuncak dan itu hanya di sisi sebelah kiri kepalanya, migrain atau apa...


Dia tidak minum obat, hanya menggunakan sebuah obat gosok berbentuk stik. Sejak kecil kata obat dengan berbagai bentuk dan bau sudah sangat dikenal semua indranya. Di rumahnya, mama punya satu lemari khusus berisi segala jenis obat. Trauma mungkin sehingga dia jadi benci dan muak bersentuhan dengan kata atau benda itu.


Kharis tidak berani bilang ke mama atau mami Icha kalau dirinya sedang sakit karena efeknya bisa menghebohkan ujung-ujungnya dia dipaksa minum obat atau ke rumah sakit.


Hari ini bukan hanya kepalanya yang sakit. Sejak tadi tangannya terasa dingin, jidat dan pipi terasa hangat. Lengkap sudah penderitaannya, beberapa malam ini tidak dia bisa tidur dengan baik memikirkan permintaan om Peter. Mungkin itu penyebabnya.


Tapi dia masih kerja aja dengan rajin, ada pekerjaan urgen yang diminta ibu boss untuk dia selesaikan. Kadang dia memang suka tega dengan tubuhnya sendiri, suka memaksakan diri yang penting bagi dia adalah kerjaannya selesai.


"Sweetheart... aku pergi bareng mami, ada urusan di luar. Aku sudah minta Gerald beliin kamu makan siang..."


"Iya kakak, aku nggak ikut kali ini, bu Vero minta aku selesaiin ini... "


"Aku tahu..."


Tangan besar itu mengelus dengan sayang pipi kekasihnya.


Selain Okta dan Gerald, Carla dan mbak Wina juga sudah biasa melihat pemandangan manis seperti itu hampir setiap hari. Mbak Wina sih sudah nikah jadi setiap melihat tingkah manja dan sikap sayang boss tampan ini pada gadisnya, dalam hati sering berkata: "aku sudah pernah kayak gitu". --Author juga udah pernah kayak gitu 🤣--


Meskipun Carla masih sering memandang dengan tatapan iri, tapi Carla bukan tipe gadis kampung sebelah saat menyukai cowok bisa bertindak di luar nalar. Dia masih masuk golongan perempuan negara I yang menjunjung tata krama, dia nggak mau mengingini milik orang lain cukup berdoa dalam hati semoga bertemu pria sebaik dan seromantis boss muda. Carla keren deh...


"Kamu sakit ya?"


Lewi langsung memutar kursi ergonomis yang ditempati Kharis kemudian duduk setengah berjongkok di depan Kharis. Tangan kanan sudah ada di jidat mengecek suhu, tangan satu lagi memegang lengan kanan Kharis. Posisi berhadapan yang sangat intim membuat Kharis jengah. Dia mendorong kursinya ke belakang menjauh dari tubuh kokoh yang menempel sesaat di kedua lututnya. Terlebih Carla dan Wina sejak tadi tanpa sadar menonton adegan mesra mereka. Malu kan...


"Aku nggak sakit kakak, biasa aja..."


"Badan kamu hangat...masak nggak sakit."


Tangan itu kini meraba-raba seluruh area tangan, lengan, pipi. Aduuh... kenapa tangan itu dengan bebas meraba-raba bagian tubuh yang tidak tertutup. Rasanya seperti digerayangi depan publik. Kharis tambah malu...


"Udah kakak, aku nggak apa-apa..."


"Sayang, kok tangan kamu dingin malahan? Kamu demam ya? Kita ke dokter ya..."


"Nggak apa-apa kakak, aku sudah tanya mama."


"Sudah minum obat?"


"Emm eh... iya. Udah ya jangan kuatir. Lagi PMS aja ya..."


"PMS itu apa?"


Waduuuh... bagaimana menjelaskan?


"Periode pribadi wanita..."


"Itu PPW bukan PMS..."


"Udah ahh... masa nggak tahu. Sana jangan ganggu aku, kerjaan aku banyak..."


Kharis terpaksa berdiri dan menarik tangan Lewi untuk berdiri pengen cepat-cepat menyudahi FTV picisan ala Lewi Andrean yang penontonnya kini bertambah satu, bang Okta.


"Beneran nggak sakit kan, lagi haid aja kan?"


Nah... tahu ternyata. Tapi Kharis padahal cuma alasan aja, periodenya baru selesai. Tapi dia nggak terpikir alasan yang lain. Tapi malu juga masalah haid diumbar-umbar mana ada bang Okta yang kayaknya sedang terpesona melihat kebucinan bossnya. Tapi Lewi malahan memeluknya sekarang.


"Pokoknya aku nggak apa-apa..."


Kharis berusaha mengurai pelukan dan melepaskan kedua tangan besar yang nangkring di lengannya. Tapi tangan itu terlalu kuat. Pintu ibu Direktur Utama terbuka... untung bu Vero segera keluar, Kharis terselamatkan oleh kehadiran bu Vero.


Bu Vero berjalan melewati mereka tanpa suara. Dan seperti magnet, pasukan langsung bergerak mengikuti. Hanya Lewi Andrean yang masih enggan pergi, maklum kutubnya dengan sang mami sama jadi mereka berdua lebih sering tolak-menolak dalam sikap dan tindakan.


Kharis akhirnya mendorong Lewi Andrean yang masih enggan meninggalkan gadisnya, tatapan kuatirnya masih ada.


"Kakak nggak bisa diwakili jadi harus pergi, ok? Jangan kayak boss kantor sebelah gara-gara terlalu sayang pacar sampai rela rugi ratusan milyar, sayang banget itu. Realistislah ok?"

__ADS_1


"Ok...ok, kalau ada apa-apa kabari aku ya?"


"Iya... iya, siyaaap pak boss..."


Kharis melempar senyum termanis biar kekasihnya pergi dengan hati damai sejahtera. Ahh lebih susah melawan bucinitas Lewi dari pada melawan sakit kepalanya. Dan... kayaknya gara-gara sikap Lewi tadi kepalanya tambah sakit.


Beberapa saat kemudian


"Mbak Kharis... "


"Gerr... kirain kamu pergi juga."


"Nggak, kalau masalah teknis di lapangan, bang Okta lebih ahli, jadi bang Okta yang dibutuhkan. Jadi... aku sedikit free, hehehe, eh tapi disuruh boss ngawasin mbak Kharis..."


"Memangnya aku anak kecil..."


"Mau makan apa mbak, aku beliin?"


"Nanti aja, aku lagi nggak pengen makan sesuatu."


"Mbak, mbak sakit ya?"


"Hahh??"


"Kelihatan kok mbak, wajah nggak bisa bohong, istirahat aja mbak..."


Kharis hanya senyum kecut. Memang benar, tambah lama tambah nggak enak terasa di sekujur tubuhnya. Tapi kerjaan hampir selesai... tanggung.


"Iya... sebentar lagi, selesaiin ini dulu."


"Aku buatkan teh panas mau?"


"Boleh... "


Gerald ke pantry di lantai bawah, di ruangan boss dia lupa belum minta persediaan minum boss dan tamu boss untuk diisi lagi. Kembali dari pantry, Gerald satu lift dengan Giselle dan assistennya. Seperti biasa, gadis judes itu memandang tak senang karena Gerald ikut di lift yang sama.


Ponsel Gerald berbunyi. Hati-hati Gerald memindahkan gelas teh panas di tangan kirinya dan tangan kanannya meraih ponsel di saku celana...


📱


"Iya boss..."


Kharis di mana?


"Masih kerja boss."


Kamu jagain ya... aku takut dia kenapa-napa..


"Mbak kharis bukan anak kecil kali dijagain.."


Gerrr...!


"Iya boss iya... nanti aku jagain sampai boss pulang."


Kharis sudah makan?


"Belum mau boss, ini aku baru buatin teh panas."


Ya udah... jangan lupa dibeliin makan..


"Beres boss."


.


"Teh panas itu buat siapa?"


"Buat pacar boss..."

__ADS_1


"Pacar Andre maksud kamu?"


Gawat... Gerald keceplosan menjawab pertanyaan Giselle. Gerald lupa dia bersama Giselle di lift, Giselle yang sedang panas karena cintanya tak bersambut. Gerald diam dan untungnya lift sampai di lantainya Giselle. Tak acuh, Gerald segera menekan tombol dan pintu lift tertutup. Selamat...


"Mbak... diminum ya... biar badan mbak lebih enakan."


"Makasih Ger..."


"Mau makan siang apa mbak... aku belikan soto ayam mau?"


"Iya, itu aja... "


"Aku tinggal ya mbak..."


...


Giselle penasaran, tapi setidaknya dia tahu pacar Andre ada di lantai atas. Jangan-jangan anak magang yang itu? Giselle bergegas keluar lagi dari ruangannya. Satu tujuannya menuju lantai 17 dia harus memastikan ini, siapa sih dia yang sudah menggeser posisi dirinya di hati Andre. Memang pernah ya... ada di hati Andre?


"Heh... kamu siapa?"


Suara setengah berteriak bernada kasar keluar dari mulut Giselle begitu dia sampai di hadapan Kharis.Tak ada basa-basi, sikap sok kuasa begitu nyata dengan tangan satu di pinggang langsung mengintimidasi Kharis.


Kharis yang kaget diteriaki langsung berdiri dengan sedikit takut.


"Bu Giselle... "


Kharis jadi ingat pernah mendapat tindak kekerasan dari wanita ini. Aduuh mana sendiri lagi, aura permusuhan tampak jelas di wajah Giselle, ada banyak orang saja dia tidak segan bertindak kasar.


"Saya Kharis bu... ada yang bisa saya bantu?" Kharis berucap pelan.


"Dia ternyata."


"Apa sih kerja kamu di sini, kamu ternyata yang menggoda Andre? Pantas anak magang bisa ada di sini. Licik kamu..."


"Apa maksud bu Giselle..."


"Jangan pura-pura bego, aku tahu sih tampang seperti kamu punya niat terselubung, banyak gaya, modus magang untuk mendekati boss."


"Saya tidak seperti itu bu Giselle, saya kerja di sini..."


"Apa yang kamu berikan pada Andre hahh? Tubuh kamu ya... menggaet boss dengan tubuhmu biar jadi pacar? Hina banget?"


"Saya tidak seperti itu bu..."


Giselle mendekati Kharis dengan tatapan seperti hendak menerkam Kharis. Kharis mundur dan rasa takutnya semakin bertambah. Giselle mulai tidak bisa menguasai dirinya, emosi berhari-hari karena ditolak tante Vero dan anaknya, membuat amarahnya tak tertahankan sekarang. Tangannya menunjuk-nunjuk muka Kharis.


"Alaah, bulshit. Dengar ya... kamu tidak pantas di sini, tidak pantas buat Andre. Cihh tidak ada bagus-bagusnya. Penampilan seadanya kampungan lagi."


"Denger kamu... tante Vero sudah menjodohkan saya dengan Andre, saya tidak akan mundur, saya akan menyingkirkan kamu dengan cara apapun... termasuk.. greeek."


Tangan Giselle menunjuk lehernya dengan gerakan seperti memotong sesuatu... Kharis shock dan mulai menangis, tidak menduga mendapat serangan dari Giselle. Kalimat Giselle serta tatapan membunuhnya membuat Kharis menjadi semakin lemah, tak kuat berdiri. Dia jatuh terduduk di kursinya kakinya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Tubuhnya kini basah karena keringat dingin keluar di semua pori-pori tubuhnya.


Giselle yang melihat reaksi Kharis serta wajah Kharis yang memucat akhirnya menjauh. Dia puas sudah melampiaskan emosinya.


"Perempuan si*alan, aku bukan tandinganmu, ingat itu..."


😱😰😭


.


.


¤¤¤


Woow amazing ... mengetahui ada yang suka karya aku... tengkyuuu tengkyuuu. God Bless yaaaa 😍🥰💙


¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2