
Seminggu berada di kota Atlas Kharis merasa sesak di hatinya tidak berkurang. Meninggalkan cinta yang baru mekar, baru sekejab merasakan manisnya disayang dan menyayangi kangen dan dikangeni. Memutuskan secara sepihak, menghilang begitu saja sebenarnya bukan keinginannya. Tapi dia tak bisa memikirkan cara lain menghadapi ultimatum kakaknya. Sakit hati karena harus melepaskan Lewi serta kekecewaan karena Revy yang tak mau kompromi selalu berhasil membuat pertahanannya kembali jebol.
Dia mencoba ikhlas, walau hatinya sebenarnya diliputi rindu, ingin sekali mengetahui keadaan Lewi, apakah dia juga sama tersiksanya seperti dirinya, ingin mengetahui bagaimana reaksi Lewi. Airmata masih mengucur mewarnai siang ini...
Untuk kesekian kalinya juga Queen mendapati sahabatnya menangis sendiri. Tadinya dia tidak mau mencampuri dia hafal kelakuan sahabatnya ini yang jarang mau membagi hal pribadi. Tapi saat ini dia tidak lagi menahan diri, sudah sejam Kharis menyendiri di sini. Duduk di dermaga kayu di resort pinggir pantai tak jauh dari kota.
Ada acara pertunangan dari kakak tertua Queen yaitu Princely nanti malam di resort ini dan sejak kemarin mereka bersama keluarga besar Queen sudah ada di sini. Kharis tampak mellow dan menghindari banyak orang. Menghindar dari Kingly, kakak kedua Queen yang memang sudah naksir Kharis sejak pertama dia posting foto berdua sahabatnya di medsos dan kebeneran katanya Kharis datang berkunjung harus dipepet terus.
"Khar... aku perhatiin sejak datang kamu seperti ada masalah... ada apa say..."
"Mmm... nggak apa-apa, kangen mama aja Queen..."
"Masa sih... baru sekali ini loh aku lihat kamu kayak gini, cerita aja biar beban kamu paling tidak berkurang. Disimpan sendiri malah tambah nyakitin kamu."
Lama terdiam akhirnya Kharis menyodorkan ponselnya. Queen menerima ponsel itu belum mengerti tapi sejurus kemudian matanya membulat ketika menyentuh tombol hidup ia melihat wallpaper ponsel itu foto Kharis dalam rangkulan mesra seorang cowok ganteng.
"Kharrrr... omg, kamu punya pacar??? Sejak kapan, tega nggak kasih tahu aku... omg say... dia ganteng banget... siapa namanya?"
Queen langsung kepo plus surprise banget karena sahabatnya yang terkenal nggak suka ngelirik cowok tiba-tiba ada perkembangan baru.
"Namanya Lewi, baru jadian setelah kita libur. Tetangga aku, sebenarnya udah lama kenal karena papinya dia bos papa aku..."
"Terus... baru punya pacar harusnya hepi dong kenapa kamu malah mellow sih..."
"Udah putus..." Kharis menjawab serak kembali airmata menggenang di pelupuk mata.
"Khar... kenapa... ada orang ketiga... dia selingkuhin kamu?" Queen bertanya hati-hati.
"Nggak... sejauh ini dia sayang aku. Orang ketiganya kakak aku..."
"Kenapa kak Revy...?"
"Dulu kak Revy putus dari pacarnya gara-gara kak Lewi, kak Revy jadi benci dia. Makanya aku ngalah lepasin dia."
"Astaga, Khar... tragis banget baru jadian udah putus gitu. Biasanya yang nggak suka ya.. ortu atau orang ketiganya ya si selingkuhan... ini kakak, berat juga ya... laki-laki dendamnya suka lama... yang sabar ya, Khar... siapa tahu hati kak Revy melunak suatu saat nanti. Kalau kalian berjodoh pasti kalian akan ketemu lagi..."
__ADS_1
Queen menyodorkan ponsel Kharis kemudian menepuk bahu sahabatnya memberi semangat.
"Ke kamar yuuk, aku sudah simpan beberapa kue, enak banget... kita makan cemilan dulu sebelum makan siang... cari minuman manis kayaknya bagus buat mood kamu..."
Queen membantu Kharis berdiri dan menarik tangan sahabatnya menuju ke salah satu kamar di sisi lain resort yang begitu asri bernuansa modern minimalis.
"Queen aku perlu simcard baru, nggak enak nelpon pake ponsel kamu terus..."
"Nggak apa-apa sih, tapi emang simcard kamu kenapa?"
"Aku nggak ingin terhubung dengan Lewi, dia pasti mencari aku..."
Kharis sudah memperkirakan itu karena pengalaman kemaren-kemaren saat tidak bertemu, Lewi menyerbu dia dengan chat dan panggilan. Apalagi sekarang sudah seminggu, dan kemungkinan besar paper bag itu sudah Lewi temukan pasti juga suratnya sudah dibaca.
"Ok... nanti kita keluar untuk cari kartu. Eh... kamu ceritanya udah jomblo lagi kan... gimana, sama King aja dulu... kasihan dia udah ngarep banget kamu terima cintanya... hahahaha."
"Nggak Queen... belum berubah akunya... nggak."
""Belum ya... mmh berarti bisa berubah kan... aku suka kok kamu jadi kakak ipar aku.... hahahaha."
"Queeeeeen..."
*****
Di sebuah kamar, sebuah pemandangan sedih juga terlihat. Lewi sedang duduk melamun di tempat tidur. Beberapa hari ini dia tidak keluar rumah, tak sadar seperti meniru kebiasaan Kharis yang suka mengurung diri. Rambut acak-acakan tidak pernah tersentuh sisir, muka kuyuh kusut pucat.
Untuk kedua kalinya patah hati. Yang pertama kali dia ditinggal pacarnya yang ikut orang tua pindah ke luar negeri karena papa gadisnya jadi wakil Dubes di negara itu. Cinta terhalang jarak, sebetulnya dia coba bertahan tapi kemudian dia menemukan gadisnya sering posting foto dengan lelaki lain. Sedih ada terasa waktu itu, tapi karena sudah terbiasa sendiri, lama tidak pernah bertemu dan saling menyentuh jadi tidak begitu berpengaruh untuknya. Cepat banget dia move on bahkan melupakan.
Sekarang, kembali hatinya terpana asmara, sosok Kharis mencuri hatinya, ada yang special dari gadis itu saat pertama melihat. Mandiri, dewasa, tapi cenderung pasif dengan pria dan itu yang membuat Lewi tertantang. Kharis terbilang cukup ramah dengan teman-teman lelaki tetapi sangat menjaga jarak, sangat menjaga dirinya. Setelah kenal, lebih banyak hal menarik yang dia temukan. Gadis yang punya prinsip, smart, dan fokus pada hal-hal yang postif.
Pribadi Kharis memberi pengaruh yang baik buat dia, antara lain dia jadi serius dengan studinya. Tadinya dia ambil S2nya hanya sebagai alasan di hadapan mami supaya bisa tinggal di kota ini karena ingin mengejar Kharis.
Rasa cinta dan sayang dengan cepat bertambah seiring intensitas pertemuan mereka, lalu tiba-tiba kekasihnya mengakhiri. Rasanya terlalu sakit untuk menerima...
Ketukan di pintu kamar yang kesekian kali menyadarkan Lewi, dia kemudian bangkit dengan malas membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa..!!"
"Ibu bos telpon suruh bos bersiap, biar nggak ketinggalan pesawat lagi..."
Fince si ART memberitahu maksud mengetuk pintu karena takut dengan tatapan tajam Lewi yang seperti ingin menelannya.
Pintu kamar Lewi banting, marah tapi tidak berdaya dengan situasinya. Cinta yang ingin dia perjuangkan malah terlepas sebelum menggenggam kuat. Mami sudah dua kali membelikan tiket dan tidak dia pedulikan.
Dia menuju kamar mandi membersihkan diri bersiap untuk berangkat, dia tidak bisa menolak papi yang menelpon sejak tadi malam.
Selesai berpakaian, ia mengambil benda-benda pemberian Kharis, memasukkan ke dalam ransel kecuali kacamata hitam yang langsung dipakainya. Di luar kamar sudah siap om Simon sopir papanya yang akan mengantarnya ke bandara.
"Om, keluarin mobil aja, saya mau ke rumah sebelah sebentar."
Lewi berkata sambil menyodorkan ransel di tangan.
Di rumah Kharis pintu sedang terbuka, om Didi dan tante Melissa baru saja tiba di rumah.
"Siang tante, om..."
"Lewi... masuk..."
"Di sini aja, tante."
Tante Melissa menyapa canggung. Beberapa hari yang lalu dia menolak memberi informasi keberadaan putrinya meskipun Lewi agak memaksa. Jangan-jangan anak ini belum menyerah.
"Tante... Lewi pamit mau pulang ke kota J..."
Lewi berhenti sejenak menarik napas. Lirih dia melanjutkan...
"Titip salam saya untuk Kharis... saya akan kembali. Saya sayang dia tante, saya nggak akan nyerah... Sampaikan maaf saya juga untuk Revy... saya pergi tante..."
Lewi sedikit membungkuk ke arah tante Melissa tanda hormat kemudian dia bergegas ke mobil yang sudah menyala mesinnya.
Ya... dia sudah bertekad tidak akan menyerah untuk cintanya...
__ADS_1
.
⭐⭐⭐