
Sebelum berpamitan untuk kembali ke kota J Lewi sengaja menyempatkan mengobrol dengan tante Melissa dan Om Didi, dia agak lama berbicara dengan orang tua Kharis itu. Sebenarnya Kharis penasaran ketika dia selesai mandi, dia menemukan Lewi tengah duduk di ruang keluarga bersama mama dan papa dengan mimik serius sepertinya itu pembicaraan penting. Tapi mereka menghentikan itu setelah Kharis bergabung.
"Ayo kakak... biar nggak buru-buru."
"Tante, om... Lewi pergi ya..."
"Salam untuk pak Peter dan Ibu Vero."
"Iya... akan saya sampaikan..."
Mama Melissa ikut mengantarkan Lewi sampai ke teras. Di mobil dalam perjalanan menuju bandara, Lewi langsung meraih dan menggenggam erat jemari lentik Kharis.
Sejak kemarin cowok berparas oriental itu memuaskan keinginannya melimpahkan kasih sayang untuk kekasihnya, penuh perhatian dan hampir-hampir tidak mengijinkan Kharis melakukan sesuatu sendiri. Mulai dari mengambilkan dan memakaikan sepatu saat hendak keluar rumah Lewi, menuntun ke mobil, membukakan pintu serta memasangkan seatbelt, meladeni saat makan dan minum, merangkul saat berjalan...
Sepanjang sisa hari yang dilewati kemarin berdua, Lewi enggan menjauh walau hanya semeter, meskipun kelakuan itu justru menjadi bahan ledekan kekasihnya.
"Sweetheart... nanti vc setiap malam ya... "
"Iya..."
"Langsung balas chat aku..."
"Iya..."
""Ehm... aku nggak usah pulang dulu aja deh... masih berat aku pisah lagi sama kamu, sweetheart..."
Suara cowok itu berubah sendu.
"Eh... jangan, sayang tiketnya..."
"Tiket bisa beli lagi..."
"Kakak... cutinya cuma 2 minggu, masih magang loh, kalau kondite jelek nggak diangkat jadi karyawan tetap..."
"Nggak mungkin itu, bukan masalah buat aku."
"Justru masalah besar, kakak harus serius dari sekarang fokus ke kerjaan. Susah loh dapetin kerjaan. Kakak harus pulang ya..."
Kadangkala Lewi tidak mengerti jalan pikiran Kharis yang mengutamakan hal-hal yang tidak penting menurutnya. Tidak ada hal yang lebih penting untuk Lewi sekarang selain tetap melihat wajah Kharis, ingin selalu memeluk atau memanjakan gadis itu. Lagi pula siapa yang berani memberhentikan seorang Lewi Andrean? Mami Vero justru hampir hilang akal membuat dia tertarik meneruskan mengelolah perusahaan besar itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu terima usul aku jadi intern di kantor aku... mau ya, aku pastikan kamu diterima magang di sana..."
"Mama belum ngasih lampu hijau, masih menimbang-nimbang kayaknya... nanti aku kasih tahu..."
"Bukannya kamu biasa mutusin sendiri apa yang pengen kamu lakukan...?
"Nggak juga terutama untuk hal-hal penting berkaitan dengan mereka aku tetap anak yang harus terima nasihat mama atau papa. Apalagi sekarang... mama belum rela aku keluar dari rumah, belum mau tinggal berjauhan..."
Tadi waktu bercakap-cakap dengan tante Melissa dan om Didi, Lewi memang belum bisa meyakinkan mereka agar Kharis diijinkan ke Ibukota dengan alasan magang supaya dapat pengalaman kerja. Lewi juga sempat mengungkapkan keseriusannya terhadap hubungan ini. Memang dia masih perlu waktu sampai dia punya status di perusahaan baru bisa melangkah ke tahap selanjutnya bersama Kharis. Dia sudah merencanakan mengikuti keinginan mama Vero dulu setelah itu baru dia ungkapkan hubungannya dengan Kharis.
"Sweetheart..."
Lewi memeluk erat gadisnya, menciumi seluruh wajah itu... Pada akhirnya waktu itu tiba, pengumuman boarding memaksa dia harus pergi sekarang. Beberapa kali dia berbalik menatap ke arah gadisnya, mengangkat tangan melambai... sama-sama sedih tapi Lewi lebih berani sekarang, yakin bahwa ke depan mereka pasti bersama.
Di tempatnya berdiri Kharis tak bisa menahan airmatanya, dalam seminggu dia bersatu kembali dengan kekasihnya tapi harus menerima hubungan ini dijalani dengan bentangan jarak di antara mereka. Dia memahami tempat Lewi bukan di sini lagi. Sejujurnya dia melihat perubahan dalam diri Lewi, sikapnya sudah nggak sesantai dulu, cara bicaranya pun lebih terjaga dan teratur, lebih dewasa. Karenanya dia menjadi lebih yakin dengan hubungan mereka.
Dia ingin sekali menerima tawaran Lewi tapi ada mama yang masih kuatir anak gadisnya meninggalkan rumah. Seandainya mama mengijinkan...
*****
Mami Vero masuk ke kamar berniat membersihkan diri dan melepas lelah setelah berkutat dengan pekerjaan sepanjang hari. Wanita yang ulet dan gigih serta pekerja keras tetapi di usia sekarang dia mulai merasa bahwa fisiknya tidak sekuat dulu.
Akhir-akhir ini mami Vero berusaha meluangkan waktu untuk bercengkerama dengan suami, dia menyesal banyak waktu terlewati dia tidak bisa melayani suaminya dengan baik, syukur suaminya adalah lelaki setia tak pernah dia dengar mencari kesenangan di luar rumah dan dia yakin itu. Suami yang sudah banyak berkorban demi ambisi sang istri untuk sukses dengan usahanya, bahkan mendukung penuh keinginan kuat istrinya yang sejak sebelum mereka berdua menikah punya tekad dan jiwa bisnis yang kuat.
"Selamat malam pi... jam berapa tadi pulang?"
"Oh... mami sudah pulang rupanya, papi belum lama juga sampai di rumah..."
"Kenapa langsung kerja lagi, istirahat dululah."
"Hanya mereview laporan, mi. Andre pulang hari ini kan?"
"Iya... anak itu kalau tidak dibelikan tiket pasti belum mau pulang padahal kerjaan tidak menunggu dia..."
"Hahaha..." Papi Peter tertawa, dia sudah bisa membayangkan wajah kesal anaknya dipaksa pulang.
"Ada yang lucu?"
"Tidak. Dia pasti kesal, belum mau pulang dia itu... hahaha."
__ADS_1
"Maksud papi?"
"Papi tahu dia pasti ingin berlama-lama di sana... hahaha..."
"Itu makanya aku keras terhadap anak itu, dia seperti papi terlalu lembek hatinya, untuk menempati posisi mami dia harus diajar harus kuat tegas disiplin soal waktu. Sudah cukup dia main-main bersenang-senang selama ini mengikuti kata hatinya sendiri."
"Mi... belajar mengerti anakmu juga, dia banyak berubah sekarang."
"Iya... iya mami tahu. Tapi mami tidak mau lengah, anak itu harus digenjot terus supaya fokus dan terarah. Masih banyak hal yang harus dia kuasai dengan cepat. Mami agak susah memberi dia keyakinan bahwa dia bisa jadi pemimpin... itu yang masih susah dia belum percaya diri."
"Tidak mungkin juga dalam sehari dua hari dia punya keyakinan diri, menghadapi karyawan yang banyak juga berhadapan dengan orang-orang yang sudah punya pengalaman dan kapabilitas serta kemampuan manajerial yang baik, orang-orang dengan level yang lebih tinggi dari dia... wajar kalau dia merasa seperti itu. Makanya mami yang sabar, dampingi dia sampai dia kuat berdiri sendiri. Sekarang karena ada mami maka dia mau ada di sana..."
"Padahal mami ingin segera pensiun saja, papi juga menjelang pensiun, pengen nikmati hari tua bersama papi, melihat anak-cucu."
"Cucu dari mana..."
"Pi... mami lihat Friska bisa jadi pendamping Andre. Dia cerdas kreatif apalagi lulusan luar negri kan, cocok sepertinya jika menikah dengan Andre"
"Mi... jangan masuk wilayah itu... itu haknya Andre. Mami sudah janji padanya tidak akan mengatur dia soal dengan siapa dia nikah..."
"Dia menolak Danty, padahal mami sudah buang banyak uang untuk membiayai sekolah anak itu sampai S2 ke luar negri... Anak itu masih menunggu Lewi pi..."
"Andre sudah punya pilihan sendiri... papi minta mami jangan intervensi hal itu."
"Maksud papi... oh... jadi dia ke M juga karena seseorang di sana?"
"Iya... hahaha."
Papi teringat anak bawahannya yang sudah menguncangkan jiwa dan dunia anaknya selama ini.
"Pi... mami harus lihat dulu, dia cocok tidak sama Andre..."
"Mami...!"
Melihat air muka istrinya papi Peter jadi kuatir dengan sesuatu yang akan istrinya lakukan untuk anaknya.
.
🌊🌊🌊
__ADS_1