
Ternyata kehidupan adalah soal pilihan-pilihan yang dibuat, bagaimana memandang semua hal yang terjadi dan dalam hal apa fokus ditetapkan.
Kharis memilih menjadi istri Lewi dan ibu dari kedua anaknya, ya sekarang dia dan Lewi telah dikaruniakan dua buah hati yang tampan dan cantik. Dia beranggapan bahwa hal yang membuat dia utuh dan bahagia adalah pilihan ini.
Kebahagiaannya adalah soal perasaan, tapi kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh pilihan yang Kharis buat sendiri. Memang terlalu jauh berbeda hidupnya sebelum mengenal Lewi, hidupnya bergeser jauh, ambisinya, obsesinya... tapi Kharis tak menyesali pilihan yang dia buat.
"Mam... mami, de Ayin nanis tuh... oe oe..."
*menangis*
Muel memanggil dari arah kamar anak yang dihubungkan dengan sebuah pintu dengan kamar Kharis dan Lewi, sekarang dia berdiri pas di pintu tersebut.
"Papi mana?"
"Papi bobo tuh... cualana pzzzz rrrrrtttt..."
*suaranya*
"Hehehe... papi Muel ngorok itu..."
"Cepetan mam... de Ayin udah bedili tuh..."
*berdiri*
"Iya..."
Kharis baru selesai mandi, dia mempercepat langkahnya. Anak kedua seperti yang diharapkan dan diminta kepada Yang Maha Kuasa, baby girl. Baby cantik yang mereka beri nama Giveel Shallenne Andrean, Giveel menurut Lewi berarti pemberian El atau Allah, Shallene adalah penggabungan nama oma Melissa dan oma Veronica Magdalenne, dengan harapan anak pemberian Allah itu memiliki sifat baik seperti yang ada pada kedua oma cantik itu.
Muel memanggilnya Ayin, karena belum bisa menyebut Shallenne dengan benar, akhirnya semua memanggil baby cantik itu dengan Ayin saja.
Baby Ayin baru saja berusia setahun seminggu yang lalu dan acara pesta baby Ayin kali ini mengikuti keinginan Kharis. Mereka merayakannya di negara S. Belum pernah bepergian berempat, Kharis memilih jalan-jalan ke luar negeri tapi yang dekat saja, karena baby Ayin baru pertama kali naik pesawat, dia khawatir babynya tidak nyaman.
Percuma jalan-jalan kalau baby malah sakit. Pernah punya pengalaman itu saat Muel masih baby kemudian mereka ke luar negeri dengan perjalanan kurang lebih 7 jam, Muel baru pertama kali bepergian jauh, dan saat berangkat bertepatan baru selesai imunisasi, alhasil sampai di negara tujuan justru mereka tak bisa jalan-jalan karena si Muel rewel sepanjang hari, bahkan mereka sempat menginap di rumah sakit.
"Halo cantiknya mami... udah bangun ya..."
"Mam... mam... heek heeak..."
Si baby Ayin sudah berdiri bersandar di box baby mukanya begitu lucu dengan ekspresi yang siap menangis, saat melihat mami dia merentangkan dua tangan ke arah Kharis. Kharis mengangkat si baby, mendekap si baby yang langsung bersandar di bahu Kharis. Ibu jarinya langsung masuk mulut.
"De Ayin mau mimi cucu tuh..."
"Belum kakak Muel... belum waktunya..."
"Jalina macuk mulut tuh..."
*Jarinya masuk*
"Oh itu bukan karena Dede haus, sayang... tadi sebelum bobo Dede udah minum susu kok..."
"De Ayin belum aus?"
*Haus*
Si Muel belum tiga tahun tapi sudah semakin pintar, cara bicaranya pun semakin jelas. Muel datang lebih dekat ke belakang maminya dan mengajak adiknya ngobrol.
"Pap... pap... papap..."
Si baby mulai berceloteh dengan ibu jari masih diemut, masih bersandar malas di bahu mami.
"De Ayin mau papi?"
"Pap... pap... papap..."
Muel naik ke tempat tidur tempat si papi berbaring masih dalam tidur pulasnya. Muel duduk di perut si papi, dan mulai menepuk-nepuk dada papinya...
"Papi... udah sole tuh... banun..."
*Sore, bangun*
Tangan kecilnya mulai mengelitik leher si papi...
"Kitik-kitik papina..."
"Papi... pap... papi..."
"Janan tidul telus..."
*Jangan tidur terus*
"Dicali de Ayin tuh..."
Lewi yang sudah terbangun masih pura-pura tertidur sambil mengeluarkan suara ngorok menggoda anaknya.
"Mam... tuh cualana papi..."
Kharis tertawa menyadari suaminya sudah bangun dan hanya ingin bermain dengan anak-anaknya.
"Hehehe... kok papi kayak kereta api ya..."
"Papi naik keleta? Di cini tuh papina..."
"Bukan kakak Muel, suaranya papi... coba denger lagi... jusszzzzz jaaazzzz.... prrrrttt... mirip suara kereta api kan?"
Kharis harus memilih kata-kata yang lebih menjelaskan maksud dengan baik karena Muel semakin suka bertanya ini itu.
"Mam... cini de Ayinna... duduk cini..."
"Oh... iya kita jadiin papi seperti kereta ya, penumpang keretanya tambah satu..."
Kharis menduduknya baby Ayin di depan Muel pas di dada sang papi. Si baby langsung berceloteh riang sambil memukul dada papinya...
__ADS_1
"Pap... pap... papap... pap..."
"Hahaha... papi jadi apa ini..."
Lewi akhirnya membuka mata dan tertawa, tak tahan untuk menyambut keinginan dua buah cintanya untuk bermain dengannya. Terlebih gadis mungilnya sudah tertawa-tawa dengan suara renyah di atas dadanya. Sementara Kharis duduk berjaga di samping mereka.
"Papi tuh keleta..."
"Alright... keretanya mau ke mana ya?"
"Mana cuala keleta..."
"Pzzzz rrrrrtttt... jusszzzzz jaaazzzz.... prrrrttt..."
Tak ada hal yang lebih menyenangkan untuk seorang Lewi Andrean selain berada di tengah keluarganya, bermain bersama anak-anak dan tak lupa tetap menjaga kehangatan dengan sang istri yang satu-satunya dan yang tersayang. Arah hidup yang semakin pasti dan terarah, tak ada yang lebih penting dalam hidupnya selain tiga kesayangannya ini.
Di luar banyak hal yang begitu menggoda, kadang jiwa petualang masa lajangnya muncul jika berjumpa dengan teman-teman lama, teman wanita dulu yang mencoba menjalin relasi dengan keuntungan lain. Tapi Lewi sadar dirinya tidak sendiri lagi, dia mengingat istri cantiknya yang telah memberikan segalanya untuk dirinya. Terlebih saat dia memiliki seorang putri yang cantik, membuat Lewi lebih bijak menghadapi teman-temannya, dan lebih menjaga dirinya sendiri yang semakin mempesona dengan semua kelebihan dirinya dan pribadinya yang semakin matang.
Tok tok tok... suara nyaring ketukan di pintu terdengar kemudian. Kharis membuka pintu, opa Peter dan oma Vero ada di depan pintu...
"Mana cucu-cucu kesayangan opa ya..."
"Opa... opa oma pulang..."
Muel berdiri dari tubuh papinya dan turun menuju opa di depan pintu. Opa menyambut cucunya dengan sebuah pelukan dan ciuman kangen. Lewi berdiri juga masih menggendong Ayin mendekati orang tuanya yang baru pulang dari perjalanan panjang mereka ke beberapa negara. Setelah papi Peter pensiun dan bebas dari tugas, maka mami Vero mengajak papi Peter ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi sejak lama.
"Oma... ini Ayin juga kangen oma...."
Lewi mendekatkan Ayin ke pelukan omanya. Baby lucu itu sudah tertawa...
"Omam omam... mam..."
"Sini sayangnya oma..."
"Kapan sampe, pi, mi... "
"Udah 2 jam lalu..."
Lewi memberi pelukan pada papi dan mami, Kharis juga mengikuti memberikan cipika-cipika kepada mertuanya.
"Papi mami sehat?" Kharis menyapa dengan senyumnya.
"Sehat... kenapa kalian pulang lebih cepat, mami pikir kita bertemu di S ..."
"Hahaha... ketemu di sini aja, sama aja..."
Lewi menjawab dengan tawa, karena dirinya sebenarnya yang malas me-reschedule tiket mereka.
"Yuk turun ke kamar oma... ada oleh-oleh buat kakak Muel sama dede Ayin..."
"Aciiik... ada mainan oma?"
"Muel opa gendong mau?"
"Mauuu..."
Kharis berjalan keluar mengikuti mertua dan kedua anaknya. Tapi tangan besar si suami menarik dirinya dengan cepat dan sigap. Pintu kamar anak-anak langsung dikunci.
"Papi... aku mau lihat anak-anak..."
"Oma sama opa lagi kangen anak-anak, kalau mami ikut, Ayin langsung minta mami gendong lagi..."
"Tapi kasian mereka masih jetlag..."
"Udah nggak, udah istirahat sehari di S mereka..."
"Papi mau apa sih? Nanti kalau Ayin cariin mami gimana..."
"Ada suster, untuk apa mereka berdua digaji, kadang mereka makan gaji buta, anak-anak kamu yang urusin..."
"Pi... "
"Cinta... sweetheart..."
Lewi menarik lembut tubuh istrinya menuju kamar mereka. Tatapan suami sekarang mengunci semua gerakannya dalam pelukan erat sang suami. Hasrat yang masih sama, gairah yang masih sama, kerinduan yang masih sama untuk mereguk surga di dunia, sebuah kenikmatan hakiki yang tercipta untuk insan bernama suami dan istri. Itu tak mungkin dipadamkan lagi... telah menggelora di mata suami. Sapuan lembut dan intim menjadi prelude yang manis untuk sebuah keindahan simponi penyatuan kehendak terdalam keduanya.
Setelah waktu panjang yang berjalan dengan semua keindahannya, pasangan itu selesai membereskan diri dan telah mengenakan kembali pakaian sebelumnya...
"Pi... aku ke bawah ya..."
Lewi menatap istrinya dengan senyum di wajah...
"Yakin mau ke bawah dengan baju itu..."
Kharis melihat tampilannya dan baru sadar alasan suami menyergapnya tadi, daster kaos berbahan tipis setali dan sangat pendek. Beberapa lekukan tubuh tampak jelas. Astaga, tadi mertuanya melihat dirinya seperti itu.
"Pi... astaga malu pi... tadi ada opa oma aku seperti ini..."
"Hahaha... udah terlanjur dilihat... lagian mereka yang datang ke sini bukan kamu yang keluar dengan baju seperti itu... udah nggak usah malu..."
Kharis berbalik arah tidak jadi keluar, juga merasa malu sekarang bertemu mertua. Dia duduk di samping suami yang sudah rebahan lagi di tempat tidur. Tadi karena Ayin sudah bangun dia sembarang menarik baju.
"Sini aja..."
Lewi menarik lembut tangan istri yang kemudian dengan rela masuk ke pelukan suami.
"Anak-anak..."
"Ada suster sayangku... kalau mereka rewel pasti diantar ke sini, nggak usah khawatir, sekali-sekali kamu diam tenang nikmati waktu tanpa anak-anak... ya sayang... tubuh dan pikiran kamu juga perlu rileks tanpa tekanan..."
Lewi membelai punggung sang istri, dan si bibir sudah kembali ke kelakuan semula, menjelajah seluruh wajah sang istri.
__ADS_1
"Papiiii... anak udah dua kelakuan masih sama..."
"Nggak mungkin berubah lah... aku juga nggak pengen berubah kalau soal ini... wanita paling menarik dalam hidup aku, satu-satunya tempat aku mencurahkan semua rasa sayang aku... ya cuma kamu istriku, cantikku, cintaku..."
"Papi lebay ihh..."
"Nggak apa-apa lebay... yang penting aku jujur..."
"Beneran jujur? Nggak pernah tertarik lagi sama wanita lain?"
"Ya... tertarik pernah tapi bukan dalam artian suka ya... reaksi wajar aja saat lihat fisik wanita yang beneran pure cantik bukan polesan aku harus jujur ya bilang cantik. Tapi sebatas itu aja. Mam... tau nggak... mmh...aku harus jujur juga ada beberapa temen lama yang coba-coba dan sengaja menggoda..."
Lewi berhenti saat melihat mata Kharis membulat.
"Terus.. terus... "
"Ya... terus aku ya... aku masih pria normal kan..."
"Papi apa... papi main-main lagi???"
Kharis keluar dari rangkulan suami...
"Papi seperti dulu lagi TTM-an gitu, IYA????"
Kharis duduk sekarang di tempat tidur, suaranya terakhirnya nyaris mirip teriakan. Lewi terperanjat melihat wajah istrinya yang memerah karena emosi.
"Sayang..."
Kharis berdiri dari tempat tidur. Dia bergegas ke walking closet mengganti baju tak sopannya, tujuannya hanya satu berganti pakaian dan turun ke lantai bawah mengambil anak-anak, tidak ingin berdekatan dengan suami. Lewi mengejar Kharis dan menyesal dengan niat hatinya yang mengganggu Kharis dengan soal yang sensitif untuk seorang istri.
"Sweetheart... sayang... maafkan aku..."
Lewi meraih tubuh istrinya tepat di pintu antara kamar mereka dengan walking closet.
"Sini sayang..."
"Aku nggak maafin papi, nggak mau..."
Kharis menepis tangan besar itu yang hendak memeluknya lagi.
"Sweetheart aku becanda tadi... maaf ya... serius aku cuma becanda, aku nggak lakukan itu... nggak pernah..."
"Papi tadi bilang..."
"Coba mami ingat-ingat... kalimat papi tadi... papi bilang kan ada yang coba menggoda papi, sampai situ doang kan, belum selesai... "
"Apa memang lanjutannya???"
Suara istri belum berubah masih ada kemarahan di sana.
"Papi sebenarnya mau ngomong ini... tapi papi tidak pernah menanggapi, tidak tertarik, dan tidak ada niatan untuk menghianati cinta kita... maaf papi sengaja tadi menggoda mami... maaf ya sayang..."
"Papi sengaja gitu ngejebak biar aku emosi? Papi jahat..."
"Iya... maaf ya... "
Lewi berkata selembut mungkin, meraih kepercayaan istri. Kharis menatap suaminya, dia dapati ketulusan di sana dengan sinar mata yang masih sama, ada pendaran cinta untuk dirinya. Tatapan lembut serta mata teduh yang selalu menyejukkan dirinya.
"Sini... mam... "
Lewi memeluk Kharis dengan semua cinta yang dia miliki...
"Dengar aku... aku akan selalu berusaha sungguh-sungguh menjaga cinta aku, pikiran dan hati aku, juga tubuh aku ini hanya buat kamu sweetheart, aku telah berjanji di hadapan Tuhan, mengikat diri aku dengan janji itu untuk setia hanya sama kamu. Aku minta kamu percaya itu..."
"Papi nggak boleh selingkuh, kalau itu terjadi, papi merusak dan menghancurkan hati 3 orang, mami Muel dan Ayin..."
"Orang tua kita juga sayang. Aku, kamu sama ya.. jangan pernah beri peluang untuk orang ketiga masuk di antara kita... janji sayang?"
"Iya... papi juga harus janji..."
"Iya... aku janji mam... Muaaccch...
Kedua tangan besar Lewi menangkup pipi Kharis, memberi ciuman yang kesekian kali, tak akan bosan dan tak akan berhenti melakukan sesuatu yang selalu menciptakan keindahan bagi jiwanya.
Cinta akan tetap menjadi cinta
Bila ada dua hati yang merasa dan menjaga...
Cinta akan tetap menjadi cinta
Bila ada tindakan nyata.
.
Part ini sdh lama ada, saat ada rencana sequel TjS, dan part terpanjang, akhirnya keluar juga... 🤭🤭🤭😁😁😁
Part ini aku jadikan sebagai bentuk penghargaan terhadap begitu banyak apresiasi yang masuk, padahal cerita ini sdh lama tamat.
Sebagai ungkapan terima kasih dari aku untuk semua yang pernah singgah di sini...
.
Love you all
Big hug
Blessing
🥰
.
__ADS_1