Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 62. Membuatnya Pantas


__ADS_3

Lewi sedang asyik mengganggu Kharis yang sedang serius di kubikelnya. Wajah cemberut Kharis tak menyurutkan aksinya, dia tertawa-tawa di samping gadisnya. Tangannya tak berhenti menyentuh wajah dan kepala gadisnya.


Sang posesif pak boss tidak peduli dengan tatapan jengah sekaligus risih dari Gerald dan Okta di meja sebelah melihat kelakuannya sejak tadi.


"Kakak... nggak akan selesai kerjaan aku, jangan ganggu dulu please... ke ruangan kakak aja sana nanti filenya aku antar kalau udah selesai."


"Aku tunggu di sini... " Lewi bersikukuh tidak bergeser dari posisinya yang bersandar setengah duduk di kubikel Kharis, dengan kaki bersilang santai.


"Iya, aku bolehin dari tadi kan... tapi jangan ganggu aku lagi. Tangannya jangan jahil gitu..."


Suara jengkel Kharis melengkapi raut wajah kesalnya terhadap pak boss yang tak mengerti kondisi.


"Oke... oke... jangan marah ya sekretarisku yang imut dan ngangenin... aku hanya menebus waktuku yang hilang bersama kamu sebelum ini. Lanjutin, aku tunggu... oke?"


Suara lembut Lewi akhirnya membuat Kharis mengalah tidak jadi mengusir paksa pak boss yang selama seminggu kerja ini setia menempel padanya.


Di seberang di depan pintu ruangan Direktur Utama, Ibu Direktur Utama sedang memperhatikan interaksi mereka. Sudah sejak tadi bahkan beberapa hari ini dia menangkap sesuatu yang tak biasa di mata anaknya saat memandang anak magang itu, serta sikap yang lebih dari biasa yang ditunjukkan anaknya hanya pada gadis itu di kantor ini.


Sebelum masuk ruangannya lagi...


"Wina, masuk ke ruangan..."


"Baik, bu..."


Ibu Direktur Utama coba mengingat-ingat, sepertinya gadis itu cukup familiar, dia tidak memperhatikan sebelum ini tetapi melihat tingkah anaknya, dia merasakan ada kedekatan di antara mereka. Dia memahami benar anaknya bisa luwes dan ramah berhadapan dengan perempuan tetapi itu adalah bagian dari formalitas dan tatakrama seorang Lewi Andrean. Dan adegan yang dia lihat dengan matanya bukan lagi bagian dari tingkah dan kesopanan anaknya.


"Ada tugas apa bu..."


Suara Wina sang sekretaris memutus rambahan pikirannya soal Andre anaknya.


"Saya minta cv anak magang yang bantu Okta."


"Oh... Kharis maksud ibu?"


"Saya tidak tahu namanya."


"Meylia Kharis Angela, bu..."


"Carikan..."


"Sebentar bu..."


Wina menuju mejanya di luar ruangan, mencari di laptopnya data yang diinginkan Ibu Direktur Utama...


"Ini bu, cv milik Kharis."

__ADS_1


Wina menyerahkan lembaran cv Kharis yang dia print ke tangan atasannya.


Setelah memeriksa lembaran itu, dahi Ibu Direktur Utama mengernyit, data alamat yang tertera yang dia baca langsung mengingatkan dia tentang sesuatu. Dia mengambil ponselnya...


๐Ÿ“ฑ


Iya mami...


"Papi tahu siapa nama gadis yang disukai Andre di kota M?"


Kenapa mi... tumben tanya-tanya soal siapa yang disukai anakmu, biasanya mami yang pilihkan tanpa peduli Andre suka atau tidak...


"Papi... mami perlu namanya, tidak usah menyudutkan mami."


Mami harus setuju kalau papi kasih tahu namanya...


"Jangan dibahas di sini soal setuju atau tidak."


Harus, mami harus menyerah dan jangan mencampuri soal pasangan yang dipilih Andre. Ingat dia keras kepala sama seperti mami kalau menyangkut pilihannya...


"Iya... iya... siapa dia?"


Kharis, gadis itu tetangga kita dulu, Andre sudah lama menyukainya, sejak papi pindah ke sana. Mereka pacaran, mami jangan coba menghalangi.


Kharis, gadis yang dimaksud suaminya sama dengan gadis yang sedang magang di sini. Berarti gadis itu sengaja di bawa Andre ke sini, dan membantu Okta bukan semata-mata kebutuhan karena ketidakcakapan Okta, tetapi merupakan pengaturan anaknya.


Dan yang paling menyentuh ibu Direktur Utama sekarang meskipun pacaran dengan anaknya, gadis itu tidak terlihat memanfaatkan statusnya. Berbeda dengan Giselle, hah dia menyesal memberikan dorongan pada Giselle untuk mendekati Andre. Gadis itu semakin pongah sekarang.


Mungkin benar kata suaminya dia harus mengikuti kehendak anaknya dan tak perlu merecoki anaknya dengan Friska, Danty apalagi Giselle...


Masih bersandar di kubikel Kharis, Lewi mempelajari berkas yang baru saja diprint Kharis, sementara Kharis sudah mengerjakan pekerjaan yang lain. Keduanya serius sampai tidak mengetahui sudah ada Wina di dekat mereka.


Sedangkan Ibu Direktur Utama berdiri agak jauh, di depan pintu lift bersama Carla si asisten. Ibu Direktur Utama nampak sedang asyik berbicara di ponselnya, sesekali melirik ke arah Lewi dan Kharis.


"Kharis..."


"Iya mbak Wina..."


"Bersiap ikut kita meeting di luar."


"Oh.. oke mbak Wina, sebentar ya..."


Kharis memasukkan ponsel di tasnya dan merapikan berkas di hadapannya. Dan si wakil dirut Lewi Andrean menegakkan badannya berbalik menatap Wina dengan mimik heran.


"Maksudnya apa?"

__ADS_1


"Maaf pak Andre, Ibu menyuruh Kharis ikut meeting di luar."


Lewi Andrean menatap maminya yang sudah berdiri di depan lift. Segera dia mendekat dengan tangan yang masih memegang setumpuk kertas.


"Mami... kenapa membawa Kharis ikut, kerjaan dia masih banyak..."


Menoleh sekilas ke arah anaknya, tangannya menyodorkan hp ke arah Carla...


"Mami perlu dia..." Suara mami Vero datar.


"Mami sudah punya Wina dan Carla, kenapa ambil sekretaris aku..."


"Kamu masih punya Okta dan Gerald kan?"


"Tapi mi... "


"Dengan posisi kamu sekarang, kamu dibantu tiga orang... posisi dan kerjaan mami lebih berat, tidak ada yang salah jika mami menarik salah satu staff kamu..." Suara sang mami masih datar.


"Mi... "


Si pak boss bucin yang nggak rela waktunya bersama kekasih diinterupsi sang mami masih bersuara bernada protes.


"Dia juga perlu pengalaman kerja di luar gedung ini, client kita dari Jepang mami butuh penterjemah, mengerti Andre?"


Si boss besar mendelik kesal ke arah anaknya. Kharis yang mendengar perdebatan Lewi dan sang mami lebih mendekat ke arah Lewi dan saat Lewi menatapnya Kharis memberikan tatapan tajam dan mengintimidasi dengan mata bulatnya. Lewi yang masih ingin membantah akhirnya diam mengalah pada maminya. Interaksi di depan mata itu membuat Ibu Vero si wanita tangguh tersenyum samar...


Jika gadis ini pilihanmu anakku, mami akan membuatnya pantas untukmu.


"Sweet.. eh Ris, kamu bisa bahasa Jepang?"


"Iya..."


"Kharis bisa tiga bahasa pak Andre." Wina menimpali.


"Serius?"


Kharis tak menjawab tapi langsung mengikuti yang lain masuk ke dalam lift. Sementara Andre berdiri heran satu lagi kemampuan Kharis yang membuatnya terkejut, dan matanya masih menatap Kharis dengan sorot tak rela ditinggalkan Kharis sampai pintu lift tertutup.


ยคยคยค


Dear Readers.... terima kasih masih suka mampir di tulisan ini. Sejujurnya aku sedih karena sampai saat ini harapanku tak sesuai kenyataan, dukungan untuk tulisan ini masih sangat sedikit, tapi tak mengapa... aku harus semangaaat sampai bab terakhir.


Salam hangat untuk semua dan God Bless ๐Ÿ˜‡


ยคยคยค

__ADS_1


๐Ÿ“’๐Ÿ“™๐Ÿ“‘


__ADS_2