Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 40 Gegana Lagi


__ADS_3

Kharis menyandarkan kepalanya di siku tangan kanannya di atas meja makan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk-ngetuk gelas hot coklat yang masih ada setengah, sementara roti coklatnya belum dia sentuh. Mama Melissa keluar dari kamar sudah rapi hendak ke RSUD untuk praktek rutin di Poli Jantung. Mama Melissa duduk di samping anaknya tepat di mana wajah sendu anaknya menghadap.


"Ada apa darling, pagi-pagi nggak semangat gitu..."


Lamunan Kharis terhenti, dia mengangkat kepala dan meluruskan punggungnya bersandar di kursi. Dia menggoyangkan tangan kanannya yang terasa kebas menandakan sudah lama dia dalam posisi setengah telungkup di meja itu. Segelas coklat tadi pun sudah berubah suhunya, dia menyeruput sedikit kemudian tangannya menjangkau garpu dan mengambil satu irisan roti coklat di depannya dan mengunyah perlahan.


"Darling... kamu serius pengen magang di J?"


"Nggak tahu ma..."


"Eh... kok nggak tahu... ke mana gadis penuh optimis yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk maju... Mama bukan nggak ijinin kamu, mama hanya kuatir sama kamu... tapi mama sudah ngomong sama mami Ida mau titip kamu di sana sampai saat kuliah nanti..."


Kharis diam saja tak menanggapi, matanya hanya memandang roti di piring berbentuk segi empat di depannya sementara garpu di tangannya di tusuk-tusukkan ke atas roti.


"Darling... mama lagi membahas permintaan kamu kemarin, atau kamu sudah berubah nggak pengen magang lagi...?"


"Iya kayaknya..."


"Kenapa?"


"Yang nawarin aku magang kak Lewi... ternyata itu perusahaannya tante Vero, kak Lewi sekarang wakil Direktur Utama..."


"Oh itu, mama sudah dikasih tahu sama Lewi sih waktu minta ijin kamu magang di sana..."


"Hah? Kapan?"


"Waktu Lewi pamit mau pulang... Kenapa kamu berubah batalin magang di kantor dia?"


"Ya... nggak enaklah, ma... "


"Nggak enak gimana?"


"Ihh... mama kok nggak ngerti, sih? Ya... mentang-mentang pacar aku pemilik perusahaan aku main masuk aja..."


"Loh... Kamu masuk ke situ untuk kerja, memang ada program magang kok di situ katanya. Itu menguntungkan mereka juga kan... karena biasanya yang magang kan seperti kamu fresh graduate, teori masih segar di ingatan banyak ide-ide segar yang bisa mereka dapatkan dari kalian untuk diaplikasikan demi meningkatkan produktifitas perusahaan... Terus di mana letak nggak enaknya?"


"Ya... karena ada kak Lewi, kayak aji mumpung gitu. Terus gimana kalau tante Vero tahu aku seperti manfaatin kak Lewi..."


"Hanya itu?"


"Maksud mama?"


"Kalau hanya karena jadi atau nggak jadi magang kamu nggak akan gegana kayak gini..."


"Diih mama, tahu gegana dari mana..."

__ADS_1


"Tahulah... suka dengar para nurse sama anak-anak koas ngomong hehehe... Terus kamu gegana kenapa?"


"Aku mikir kayak nggak bisa lanjut dengan kak Lewi..."


"Ampun ni anak... kenapa jadi plin-plan nggak punya pendirian, mending nggak usah balikan lagi terus kasih harapan palsu..."


"Aku baru tahu mama, hidup kita beda banget sama mereka..."


"Beda bagaimana?"


"Mereka orang kaya ma, hidup mereka jauh banget di atas kita, gaya hidup mereka, apa yang mereka punya, semuanya deh... "


"Kamu terlalu jauh berpikirnya, darling..."


"Aku kepikiranlah mama... lihat rumah kak Lewi, kamarnya, mobilnya, kantornya... "


"Lihat di mana?"


"Kak Lewi sering video call, pertama kali aku shock lihat walking closetnya lebih besar dari kamar aku..."


"Jangan fokus pada hal-hal yang sifatnya materi darling, fokus pada hubungan kalian..."


"Mama... itu pasti ada kaitannya nanti. Aku jujur takut suatu saat perbedaan itu jadi alasan. Mama nggak lihat tante Vero kalau ke sini, mama aja susah untuk bisa mendekat atau paling tidak bisa beramah-ramah..."


"Kamu kok perhatiin itu..."


"Hal yang wajar sih menurut mama, dia seorang pemimpin perusahaan besar terbiasa dengan sikap yang terjaga, ada di lingkungan orang-orang besar pula jadi otomatis punya manner yang sangat baik, tidak biasa berbasa-basi..."


"Iya... justru itu ma..."


"Darling... kamu jangan menduga-duga, memikirkan yang belum tentu benar seperti itu. Jalani saja... Mama lihat kamu malah berubah sejak pacaran dengan Lewi, biasanya berani menghadapi sesuatu, kalau terjadi sesuatu yang sulit kamu mampu kok menyelesaikan sendiri. Sekarang belum apa-apa sudah menyerah..."


"Jadi aku harus gimana mama..."


"Jalani apa yang ada sekarang, jangan berprasangka, optimis seperti biasa, jangan mempersulit diri sendiri atau Lewi..."


"Aku boleh terima tawaran magang itu?"


"Iya... kalau Lewi masih menyinggungnya terima aja, mengapa tidak? Kamu bisa mengenal dunia kerja seperti apa, bisa tahu potensi dirimu sendiri dan terus berusaha untuk bertambah dalam kualitas diri, dan yang penting juga kamu akan lihat dan menilai sendiri gimana Lewi dan hubungan kalian."


"Bisa juga kan aku magang di tempat lain..."


"Iya terserah kamu saja, darling... selama itu baik buat kamu mama mendukung..."


***

__ADS_1


Seseorang mengejar Lewi yang hampir mencapai lift dengan langkah panjangnya. Sementara sang assisten sudah menunggu tepat di depan lift. Begitu pintu lift khusus itu terbuka pas gadis itu pun sampai dengan terengah karena sedikit berlari padahal memakai hihgheels. Dia berusaha tersenyum ke arah wakil Dirut yang baru itu sebelum masuk ke lift...


"Selamat pagi pak Andre..."


"Pagi..."


Lewi menjawab dengan senyum seperti biasa. Gerald yang berdiri di samping Lewi sedikit memberengut karena tidak mendengar sapaan untuk dirinya.


"Mengapa para gadis di kantor ini selalu bersikap diskriminatif terhadap aku, apakah karena aku hanya seorang assisten?"


Gerald yang bermonolog tak memperhatikan Friska di sampingnya yang sedang mengisyaratkan sesuatu. Justru Lewi yang menangkap gerak-gerik Friska tersenyum samar.


Bukannya dia tidak tahu gadis ini ada di barisan perempuan yang sedang menjadikan dia target untuk ditaklukkan. Sejak pacaran dengan Kharis dia sudah berkomitmen menjaga hatinya hanya untuk Kharis, tidak ada lagi cerita main-main atau berakrab-akrab sekedar bersenang-senang dengan wanita. Interaksi dengan mereka hanyalah sebatas pekerjaan atau sekedar anggukan kepala dan senyum singkat tanda penghargaannya, tak ada yang lebih lagi.


Friska yang sejak tadi ingin menggeser posisi Gerald dari sebelah Lewi akhirnya diam karena Gerald tidak pernah memalingkan muka untuk menatap Friska.


Lift terbuka... mereka bertiga keluar.


"Pak Andre, boleh minta waktu saya ada keperluan dengan bapak..."


"Oh... sekarang tidak bisa, saya ada persiapan sebelum meeting, mungkin setelah itu... ehm tanya Gerald saja..."


Lewi berlalu dengan cepat meninggalkan mereka dan masuk ke dalam ruangannya.


Friska yang tidak mendapat tanggapan dari Lewi seperti yang diinginkan segera menahan Gerald.


"Saya ke sini sesudah meeting ya... tolong dicatat."


"Maaf saya belum lihat jadwal si boss hari ini, cek aja lagi nanti..."


"Tadi sudah di-acc kok sama pak Andre bisa bertemu..."


"Iya, kan suruh tanya ke saya, jawabannya nanti saya lihat dulu..."


"Dengan ibu Vero aja saya bisa langsung masuk kok..."


"Beda bu Friska..."


"Pokoknya nanti siang saya ke sini..."


"Terserah... permisi."


Friska menunjukkan muka kesalnya karena tidak mendapat akses untuk bertemu pagi ini dengan si wakil Dirut, padahal kemarin bu Vero sendiri yang menyuruh dia bertemu Lewi. Dia sudah bela-belain datang lebih pagi dan menunggu lumayan lama di lobby tadi. Akhirnya Friska menuju sofa hitam besar di ruang itu ingin menunggu bu Vero saja. Dia mau berusaha untuk mendapat persetujuan Lewi untuk posisi sekretaris sang wakil Dirut itu. Ibu Vero pasti punya cara, dia sendiri yang menawarkan kepada Friska beberapa waktu yang lalu.


🛎🛎🛎

__ADS_1


.


__ADS_2