Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 48. Atasan Bukan Kekasih


__ADS_3

Masih penuh kehati-hatian Kharis melangkah keluar dari lift berjalan dengan langkah pendek-pendek mengikuti bu Restine. Tercium wangi di ruangan yang sangat luas itu ada dua pintu yang terlihat di sudut yang berbeda. Interior ruang sangat berbeda di banding lantai 4 tadi, bahkan hotel di kotanya tidak semewah ini. Dia mengenali beberapa bagian ruangan ternyata ini tempat yang Lewi tunjukkan waktu itu.


"Di sini tempat anda Meylia... anda akan diperbantukan di sini membantu sekretarisnya pak Wakil Direktur Utama."


"Saya membantu sekretaris pak Wakil Direktur Utama bu?"


Kharis memastikan apa yang dia dengar barusan. Ternyata Lewi tidak main-main waktu menyebutkan soal sekretaris beberapa waktu yang lalu.


"Iya... Bekerjalah dengan baik selama 4 bulan ke depan."


"Terima kasih bu Restine. Bu...ini meja saya?" Kharis menunjuk kubikel di hadapannya.


"Iya... Nanti anda akan diberi penjelasan oleh staff di sini soal tugas anda. Selamat Bekerja Meylia."


"Panggil saya Kharis saja bu Restine."


"Oke... Kharis."


Bu Restine pergi meninggalkannya. Kharis bersyukur dia tidak menolak didandani para sepupunya meskipun tadi dia tidak percaya diri tapi melihat beberapa karyawan wanita yang dia temui ternyata dandanannya justru terlihat biasa dan tidak menyolok sebenarnya. Oke, dia harus kursus make up dari Chacha biar bisa menangani sendiri semua hal tentang dirinya.


Perlahan Kharis duduk di kursi kerjanya... hmmm nyaman, kursinya bisa berputar, apa istilahnya ya... kursi ergonomis. Matanya tertuju ke kubikel di depannya. Senyum mengembang memperhatikan office stationary di atas meja. Beberapa benda kecil seperti tempat pulpen, pulpen pinsil penggaris, tempat tissue bertemakan Piggy karakter kesukaannya. Selembar note tertempel di situ... Welcome ❀


Wahh... Lewi punya bagian ini, manisss... makin sayang deh... Tapi dia belum membicarakan dengan Lewi, dia tidak ingin mengekspose hubungan mereka, harus menjaga jarak. Meskipun hanya 4 bulan dia ingin bekerja dengan baik dan tidak ingin hubungannya dengan sang Wakil Direktur menjadi kendala bahkan masalah di kerjaannya.


"Oke, Kharis... mari mulai dengan berdoa kiranya rahmat dan hikmat dari Bapa menjadi bagian hidup dan aktivitas sepanjang hari..."


"Riris..."


Kharis mengangkat kepala, sekarang yang berdiri di hadapannya adalah atasannya, mari bersikap sebagai bawahan. Kharis berdiri...


"Selamat pagi pak Wakil Direktur Utama..." Kharis menyapa dengan sedikit menundukkan kepalanya


Hahh, kenapa kekasihnya bersikap menggelikan dan dia... dia cantik sekali. Lewi tersihir juga dengan Kharis yang beda banget kali ini.


"Pak Lewi..."


"Hei... aku nggak salah orang kan? Kamu Riris aku kan?"


Lewi yang tersadar tergelak dan bergerak mendekati Kharis. Kharis yang tahu gelagat Lewi segera bergeser menjauh.


"Sweetheart, aku pengen peluk kamu..."


"Maaf pak... bukan di sini di tempatnya..."


Kharis semakin menjauh. Lewi berdiri berkacak pinggang kesal dengan sikap Kharis. Senyum menghilang di wajahnya. Sudah hafal mati Kharis yang sekarang adalah Kharis yang tidak dapat dia jangkau meskipun bisa dia lihat. Dia yang sangat tegas dengan sebuah garis. Nah dia kini berhadapan dengan Kharis yang sedang mode karyawan baik.


"Astaga, kamu belum sejam di sini sayang, si Ocang belum ada kamu sudah kayak dia..."


"Maaf pak Lewi, saya di sini karyawan bapak... jangan panggil sayang, sweetheart atau apapun panggilan semacam itu."

__ADS_1


"Riris... aku itu pacar kamu, kekasih kamu... apa kamu mau sangkal hubungan itu? Jangan seperti itu sweetheart, aku nggak suka ok?"


"Pak... bapak atasan saya sekarang. Aku baru tanda tangan kontrak kerja dan salah satu point kewajiban saya adalah bersedia mentaati peraturan dan etika kerja di sini, mohon bapak mengerti..."


"Kamu tambah pintar ya... tapi sekali lagi aku nggak suka..."


Kharis ingin melanjutkan bantahan tapi dia menyadari sudah ada orang lain di dekat mereka.


"Terima kasih atas perhatiannya pak..."


Lewi akhirnya hanya bisa menatap heran. Dia gemas dan jengkel ingin rasanya langsung tarik aja gadis itu kemudian memeluk dan menciumi seluruh wajah itu sebagai hukuman tapi sudah ada Okta dan Gerald di sana. Dan Gadisnya sudah memberi penegasan tak ingin dia memperlakukan Kharis sebagai kekasih di kantor ini. Astaga... bukan ini yang dia harapkan ketika menawarkan kesempatan magang pada Kharis.


"Selamat pagi pak Andre..."


Okta menyapa bossnya. Lewi hanya melirik perasaan jengkelnya bertambah satu garis. Dua orang yang punya tempat istimewa di hatinya yang sekarang ada di hadapannya dengan waktu berbeda kompak untuk bersikap sama... profesional? Dia mulai benci kata itu.


Lewi beranjak kembali ke ruangannya diikuti Gerald dan saat matanya beradu dengan Kharis sorot matanya membuat Kharis bergidik. Kharis tahu Lewi sedang marah, tapi Lewi suka seenaknya kadang tidak melihat sikon ada di mana, dia tidak ingin kedapatan mesra-mesraan dengan atasannya di kantor ini. Kharis mengabaikan rasa marah Lewi terhadapnya.


"Pagi pak... mulai hari ini saya bertugas membantu bapak. Saya Kharis..."


Kharis menyapa Okta dan mengulurkan tangan. Okta tersenyum dan menyambut tangan Kharis. Dia senang, saat ini dia sangat kesusahan dengan segala macam tugas administrasi yang tidak dia mengerti dan hari ini ada gadis manis yang akan membantunya.


"Jangan panggil pak lah... panggil kakak saja atau seperti Gerald panggil abang saja..."


"Baik bang... Okta kan nama abang?"


"Iya... nama saya Okta Septian."


"Wah banyak sekali Kharis, ini ada beberapa file yang harus selesai diperiksa hari ini. Ehm, sebenarnya ada file yang harus diterjemahkan soalnya berbahasa Mandarin, mbak Wina Sekretaris bu Vero lagi banyak kerjaannya jadi belum sempat menerjemahkan."


"Mana bang... saya lihat, saya bisa bahasa Mandarin."


"Serius... wah bagus kalau begitu."


"Mbak Kharis... dipanggil bos ke ruangan..."


Gerald datang dan langsung duduk di kubikelnya.


"Saya dipanggil... ada apa ya...?"


"Mbak... kalau dipanggil berarti diperlukan boss jadi nggak usah tanya masuk aja, gitu mbak..."


"Oh...begitu ya Gerald..."


"Iya... hati-hati... boss lagi ngambek..." Gerald berbisik sambil terkekeh.


Aduuh... dia harus siap siaga, Lewi yang seperti itu marah dengan tatapan tajam baru tadi dia lihat. Bagaimana menghadapi Lewi ya??? Pertahankan sikap formal yang tadi supaya dia tidak macam-macam. Kharis yang sudah berdiri di depan pintu menarik napas dalam kemudian mengetuk pintu.


"Masuk..."

__ADS_1


Kharis masuk, matanya langsung mengitari ruangan. Sebagian kecil sudah dilihatnya saat video call, dan penampakan langsung ruangan itu mau tak mau membuat dia mengakui bahwa Lewi yang dihadapinya sekarang bukan orang sembarangan di kantor ini. Niatnya semakin teguh bagaimana harus bersikap di hadapan Lewi di kantor ini.


"Permisi pak... ada yang bisa saya bantu..."


"Tutup pintunya Riris..."


"Sudah pak, pintunya tertutup kan..."


Lewi berdiri dan menuju ke pintu, memutar anak kuncinya. Dia berniat menganti kunci dengan yang lebih canggih, nggak perlu pakai anak kunci seperti yang sekarang supaya lebih mudah. Tadinya dia tidak peduli soal pintu tertutup atau terbuka, tapi sekarang dia jadi butuh privacy karena gadis yang bersamanya ini pasti akan menolak status sebagai kekasihnya di depan orang-orang, tapi tentu tidak jika hanya berdua, dan di dalam ruangan yang terkunci baru kondisi itu memungkinkan.


Kharis yang memperhatikan apa yang Lewi lakukan berusaha tenang dan tidak mengeluarkan senyum seperti biasa saat bertemu Lewi. Jujur kangen sih, tiga hari hanya ngomong lewat ponsel. Tapi dia harus pintar mengeliminer perasaan yang tidak dibutuhkan saat bekerja.


Dan tangan besar itu sudah mengunci tubuhnya dengan cepat... terlalu dekat dan terlalu erat. Dengan sigap Lewi melepaskan kacamata dari wajah mungil Kharis kemudian bibir itupun langsung menjelajah seluruh wajah Kharis tanpa jedah. Kharis yang sudah siaga jadi tidak berkutik karena dia pikir Lewi akan ngomong apa ternyata langsung action. Dia akhirnya membiarkan tindakan Lewi tapi tidak membalas, pasrah saja. Baiklah, kali ini saja. Selanjutnya di kantor ini kamu atasan saya, tidak lebih... Kharis yang saklek gen mama Melissa ada dalam dirinya.


"Sudah kangennya?"


Kharis bersuara setelah Lewi menghentikan aksinya. Masih posisi memeluk kekasihnya tapi sudah tidak seerat tadi Lewi tertawa. Dia pikir Kharis akan berontak atau berusaha melepaskan diri. Memang gadis ini selalu mampu memutarbalikkan dunianya. Jengkel sesaat tadi berganti happy tak terdefinisikan. Dia mengacak rambut Kharis.


"Kakak merusak dandanan aku..."


"Hehehehe, sorry..."


Lewi membenahi rambut Kharis dengan jari-jarinya.


"Kamu cantik banget sweetheart..."


"Terima kasih kakak..." Perlahan Kharis melepaskan pelukan Lewi dan sedikit menjauh.


"Ehm... ke depan, aku nggak akan masuk sendiri ke ruangan kakak... dan tolong bantu aku supaya bisa kerja dengan baik. Hari Senin sampai Jumat aku salah satu staff kakak dan sesudahnya aku pacar kakak, ok?"


"Riris... nggak ada yang seperti itu. Jangan dong... masa pacar aku ada depan mata aku nggak boleh apa-apain."


"Ada... kalau kakak nggak bisa, maka aku siap mengundurkan diri..."


Dia ragu, tapi harus dicoba, Lewi tahu tidak ya sekalipun magang tidak boleh mundur seenaknya.


"Astaga... kamu mengancam aku ya..."


"Iya, kakak tahu aku selalu serius kan? Bisa aja aku tiba-tiba pergi..."


"Oke... oke... kamu bener-bener deh..."


"Hehehe... ada kerjaan di luar, aku harus kerja kan..."


"Baiklah... sini, peluk dulu, kamu sudah ngerusak mood aku pagi-pagi..."


Pelukan hangat kemudian, bukan seperti pelukan yang pertama. Dan... cup... cup... dua kecupan Kharis berikan di pipi kanan kiri. Mata Lewi yang segaris itu membulat Kharis selalu penuh kejutan.


"Itu ucapan terima kasih aku, karena kakak sudah kasih aku kesempatan berharga magang di sini. Tapi ingat... kita hanya jadi kekasih sesudah hari kerja..."

__ADS_1


Kharis keluar dari ruangan Lewi diikuti pandangan gemas Lewi. Semua di luar dugaannya...


πŸ‘©β€πŸ’ΌπŸ’™πŸ‘¨β€πŸ’Ό


__ADS_2