
Selesai makan malam Kharis duduk di teras samping, di rumah dia hanya bertiga dengan tante Mince dan Wenny. Tadi dia makan di dapur bersama mereka. Mama sedang ada di Kliniknya di dekat kantor papa dan tentu saja papa ikut bukan untuk menemani atau membantu mama tapi pastinya sedang main catur di pos satpam.
Di depannya di atas meja ada sebuah papan catur, dia membukanya dan mengatur bidak catur bukan seperti yang dia biasa lihat, tapi dia memasangkan tiap bidak, raja putih dengan raja hitam, kuda putih dengan kuda hitam dan menempatkan di bidang hitam putih itu sesuai imajinasi yang bermain di kepalanya malam ini. Dia tertawa sendiri dengan hayalannya tentang sebuah iring-iringan pasangan kekasih menuju pelaminan dengan bridegroom dan bridesmaid yang berbaris rapi di belakang...
Ada dua tangan besar yang melewati kedua lengannya dan memeluk erat... terasa sesuatu yang basah menempel di pipi kanannya. Aroma tubuh maskulin yang sangat dia kenal menyerbu indra penciumannya, tanpa melihat dia tahu siapa yang kini sedang mendekapnya dari belakang itu...
"Kakak..."
Tak ada suara, bibir itu masih menempel hangat di pipinya hanya bergeser beberapa inchi... Ketika wajah itu menjauh ada senyum lebar yang langsung terekam indra penglihatannya. Tangan masih memeluk dan ciuman bertubi-tubi pun mendarat di tempat yang sama...
"Kakak... udah dong..."
"Belum genap sweetheart..."
"Hahh?"
"Iya... 11.... 12....13.... 14. Nanti pipi kiri juga 14 kali, hehehe..."
"14???"
"Iya... sweetheart, itu jatah aku selama 14 hari tidak bersama kamu... Di sini, di sini, di sini juga 14 kali sayang..." Lewi menunjuk beberapa bagian di wajah Kharis dengan telunjuknya.
"Ihhh... apan sih..."
Gadis itu bergidik setengah ngeri tapi setengahnya senang. Surprise banget dengan kemunculan Lewi. Sejak pagi tidak ada kontak atau berita apapun. Kharis memang tidak biasa menghubungi Lewi terlebih dahulu, selalu selama ini Lewi yang menelpon atau mengirim chat.
"Duduk aja kakak, cape kan seperti itu..."
"Masih pengen peluk kamu..."
"Iya... iya... pindah aja ke sana ayo..."
Kharis berdiri dari tempat duduknya mengurai pelukan lebih tepatnya capitan pacarnya. Dia menarik tangan pacar yang sedang mode bucin level hot itu ke arah kursi dua dudukan di sebelah. Begitu duduk, tubuh langsing itu langsung hilang di pelukan gemas lelaki yang belum ada satu purnama lewat sudah kewalahan dengan rindunya.
Nggak ada cerita mencicil jatah ciuman langsung dibayar lunas, tak ada kapling yang terlewatkan semua diukur dan ditandai dengan baik sehingga pemilik lahan kerepotan menghapus jejak yang ditinggalkan. Sementara si pembuat jejak tergelak kesenangan melihat hasil karyanya serta feedback yang didapatnya. Menit-menit mencairkan rindu selanjutnya diwarnai aksi tangan jahil dan perlawanan setengah hati di atas kursi teras dari kayu kelapa, disaksikan barisan bidak catur di atas papan hitam putih...
"Memangnya kakak nggak sibuk ya, nggak capek apa habis kerja langsung ke sini, jauh kan belum lagi biayanya..."
"Ini weekend sweetheart... lagi pula aku nggak jalan kaki ke sini kan. Aku nggak hitung semua itu, yang aku hitung berapa hari aku nggak peluk kamu..."
Oh oh... hati Kharis tersentuh di kedalaman, dia tak pernah menghitung bahkan lupa kapan Lewi pergi waktu itu, justru beberapa hari ini malah memikirkan untuk mengakhiri hubungan itu lagi. Ada perasaan bersalah menyusup di hatinya, rasa yang dimiliki Lewi lebih kuat dari yang dia punya. Padahal dia ingat pernah berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Seperti mama bilang, dia berubah bukan seperti Kharis selama ini yang begitu bersemangat, teguh dan berani dalam mewujudkan atau mencapai sesuatu. Dia akan melakukan sampai selesai dan berhasil, tertantang bila ada masalah bahkan mengantisipasinya lebih dahulu. Tapi kenapa dalam menjalani cintanya dia tidak punya semangat untuk memperjuangkan?
Ada bunyi yang mengganggu telinganya, dan itu bukan berasal dari tubuhnya...
"Kakak belum makan ya?"
"Hehehe... iya, dari bandara langsung ke sini... agak macet sekarang ya di sini, makanya baru sampai."
"Ayo... makan dulu."
__ADS_1
"Kamu nggak makan sweetheart?" Lewi berujar saat sudah menghadapi makanan di meja makan rumah Kharis...
"Udah tadi..."
Nikmat hari ini, tadi makan siang istimewa bersama mami papi dan sekarang makan malam ditemani kekasih hati. Walaupun dengan menu sangat sederhana lebihnya makan malam Kharis dan keluarganya ditambah telur ceplok buatan Kharis, Lewi makan dengan lahap penuh bahagia sambil sesekali menyuapi gadis di sebelahnya mencontoh kelakuan papi tadi siang...
"Hemm... makanannya enak, coba deh kamu cicip..."
Lewi menyodorkan sendok yang sudah terisi lagi, awalnya Kharis menolak tapi kemudian tidak sanggup karena disertai tatapan memelas yang empunya sendok. Lewi me-reka ulang adegan tadi siang di TKP berbeda dengan pelaku dan saksi yang berbeda, hehe. Makan malam menjadi romantis meskipun tanpa lilin, meskipun yang satunya sebenarnya sudah kekenyangan karena sudah makan beberapa saat sebelumnya --author pengen nulis a romantic surprise dinner tapi halunya nggak nyampe, lagi pula sudah banyak di kampung sebelah... hehehe--
Kharis gelisah memandang jam dinding, hampir jam sebelas malam, belum ada tanda-tanda Lewi mau pamit. Selesai makan tadi mereka berdua pindah ke ruang keluarga, meneruskan aktivitas mengurai rindu yang tak berujung di hati Lewi.
"Kakak... udah malam banget, kakak nggak pengen istirahat?"
"Mau ngusir ceritanya ni..."
"Hehehe... iya, jangan tersinggung ya..."
"Belum puas ngeliat kamu..."
"Kapan pulang ke J?"
"Sweetheart... aku baru sampai sudah ditanya pulang, nggak suka aku datang?"
"Hehehe... maksudnya berapa lama di sini..."
Lewi pura-pura marah, diam tidak menjawab ingin melihat reaksi gadisnya.
"Kakak..."
Tidak ada reaksi
"Kakak..."
Masih tak bereaksi. Kharis bingung harus apa, beda dengan kak Revy saat merajuk ditinggal aja sudah akan membaik sendiri. Nah ini... apa ditinggalin aja ya di sini? Dia belum pernah menghadapi Lewi yang seperti ini. Minta bantuan miss go*gl* bagaimana cara menghadapi pacar yang marah, ponselnya ada di kamar.
"Kakak... maaf..."
Kharis memegang tangan kanan Lewi dengan dua tangannya. Intonasi suara sudah berubah berat. Emosi mulai menyeruak takut telah menyinggung perasaan Lewi. Sang oknum pembuat drama menoleh dan melihat air muka gadisnya yang hampir menangis akhirnya menyudahi aktingnya.
"Cium aku..."
Lewi menyodorkan pipinya. Modus ya... ternyata episode kejar tayangnya belum kelar.
Kharis grogi...
"Harus cium ya..."
"Ya sudah..."
Akhirnya dengan secepat kilat Kharis menempelkan bibirnya di pipi Lewi dan langsung menjauh dengan pipi panas.
__ADS_1
"Sini..."
Tangan yang satu segera meraih kepala gadis itu, untuk kesekian kali pelukan itu mengunci.
"Aku dua hari di sini..."
Kini menjawab serius. Senyum sudah terpampang lagi dan menatap sayang gadis dalam rangkulannya itu.
"Kakak nginap di mana?"
"Belum tahu..."
Suara klakson mobil terdengar dan dari arah belakang tante Mince terburu-buru menuju pintu garasi melewati Kharis dan Lewi...
"Mama papa pulang..."
Kharis berdiri dari samping Lewi langsung siaga satu sebelum menerima tatapan maut mama Melissa. Dia menuju ruang makan dan mengambil segelas air putih lalu diletakkan di meja depan Lewi duduk. Kharis bergerak ke pintu samping yang terhubung dengan garasi tepat saat mama Melissa muncul di pintu.
"Ada siapa darling... di depan ada mobil..."
"Selamat malam tante..." Lewi berdiri dari sofa.
"Oh... Lewi, kapan datang?"
"Tadi kira-kira jam 8 tante..."
"Sudah makan...?"
"Sudah... selamat malam om..."
Papa Didi juga muncul di ruang keluarga...
"Malam Lewi..."
Papa langsung masuk kamar.
"Tante masuk ya... lelah seharian ini..."
"Iya tante..."
Kharis kembali mendekati Lewi, kehabisan kata karena tadi sebelum masuk kamar lirikan mama seperti sebuah isyarat bahwa waktu berkunjung sudah selesai, sama seperti di rumah sakit punya jam besuk atau berkunjung, nah bu dokter juga menerapkan itu di rumah. Sama seperti jika keluar rumah Kharis yang harus pulang jam sepuluh malam demikian juga teman-teman Revy ataupun Kharis yang datang ke rumah harus pulang sebelum jam sepuluh malam. Sekarang sudah jam sebelas....
"Gimana cara ngomongnya, tadi aja marah."
"Riris... aku pamit aja ya...?"
""Nginap di mana...?"
"Di FPoint aja, dekat dari sini... besok aku ke sini pagi-pagi, kita jalan ya...?"
"Iya..."
__ADS_1
Kharis meraih tangan Lewi dan beranjak menuju pintu depan. Untung saja Lewi tak menunggu diusir beneran. Dia juga sadar dan paham sikap dan aturan tante Melissa tak ingin memberatkan gadisnya. Ada dua hari ke depan untuk bersama, nggak boleh ada ganjelan biar bisa menikmati cinta mereka. LDRan memang bukan hanya sejuta rasa tapi perlu sekuat rasa.
🎍🎍🎍