
Lewi Andrean, sejak kecil keluarga dan orang-orang dekatnya memanggilnya Andre. Saat pertama ada di kota M seorang gadis manis lebih memilih memanggilnya 'Kak Lewi' sekalipun dia memperkenalkan diri dengan nama Andre. Dia kemudian membiarkan semua orang yang mengenalnya di kota itu memanggilnya Lewi seperti panggilan gadis itu. Ada gadis lain yang memanggilnya Rean tapi itu tidak terasa spesial justru terdengar aneh.
Di sini, hanya gadis itu yang menyapanya dengan nama Lewi, kak Lewi... kakak... dia rindu sapaan itu lagi. Gadis yang sejak awal bertemu sudah mencuri hatinya, sejak pertama melihatnya hatinya langsung terjerat, terikat dan tak ingin lepas lagi.
Gadis yang memberi arah dan tujuan yang baru bagi hidupnya. Gadis yang membuat dia tak ingin bermain-main lagi, memberi dia inspirasi untuk menggapai sesuatu dan melakukan sesuatu tidak hanya untuk dirinya sendiri dan mami, sekarang bahkan untuk perusahaan serta ribuan karyawan yang menggantungkan hidup di sini.
Di tengah kemeriahan acara anniversary perusahaan, Lewi Andrean tak sepenuhnya bisa menikmati acara sepanjang dua hari ini. Dia memasang wajah ramah dan penuh senyum, sesuatu yang paling dibencinya, bersikap tak sesuai dengan suasana hati. Tapi acara ini menuntut dia untuk tampil baik, terlebih saat melihat wajah puas mami dan senyum mami saat beberapa kali saling tatap.
Dan di sepanjang berbagai acara yang sudah berlangsung selama dua hari Lewi Andrean berusaha untuk menjaga jarak dengan Giselle yang justru ingin menunjukkan ke semua orang bahwa dia dekat dengan sang prince, pewaris perusahaan ini. Lewi tidak mengijinkan Gerald dan Okta meninggalkannya sendiri.
Jumat di sore hari, setelah merasa bahwa dia tak perlu ada di tengah acara Lewi Andrean mengajak dua orang dekatnya meninggalkan aula di sebuah resort tempat acara besar itu berlangsung. Mereka menuju satu tempat.
"Boss... mbak Kharis ternyata ke Yga, menghadiri wisuda kakaknya."
Gerald memecahkan keheningan sejak mereka bertiga duduk lesehan di sebuah resto yang mengelilingi sebuah danau buatan. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari resort yang disewa untuk acara hut perusahaan. Mereka menikmati suasana tenang dan adem ditemani minuman hangat dan beberapa jenis cemilan.
Gerald akhirnya bisa komunikasi dengan Kharis, dan semua info yang dia terima selalu dia beritahu bossnya.
Lewi baru tahu ke mana perginya Kharis. Saat dia ke rumah tante Malida mencari Kharis dia hanya bertemu ART yang memberi sedikit informasi bahwa Kharis sejak hari jumat tidak pulang ke rumah itu.
"Kapan Kharis pulang?"
"Udah aku tanya tapi belum dijawab."
Si boss pasrah gadisnya tak mau membalas chat atau mengangkat panggilan. Pernah chatnya dibalas tetapi langsung dihapus lagi sebelum dia sempat membacanya, isinya membuat dia penasaran sampai detik ini. Dia mengambil ponselnya... beberapa panggilan...
📱
Bro...
"Rev... selamat ya lu udah wisuda ternyata.."
Makasih, bro. Si Ndut ada di sini, lagi bantuin ngepak barang-barang aku...
__ADS_1
"Dia ke sana diam-diam, nggak ngomong ke aku."
Ngerti aja bro, dia masih suka ngambek, masih labil...
"Gua ada salah juga sih makanya dia seperti itu."
Besok pagi kita ke J pesawat xx jam 8... gua tahu kenapa lu nelpon hehehe...
"Ok... nanti gua jemput."
Oh... sepupu gua mau jemput juga sih, tapi terserah lu...
"Makasih ya Rev..."
Oke bro...
Satu helaan napas penuh kemudian dihembuskan perlahan seolah sedang melepaskan beban di hati. Semoga besok hubungan mereka berdua bisa membaik, itu saja yang dia harapkan sekarang.
Acara anniversary tidak menarik baginya meskipun ini pertama kali buat sang Wakil Direktur Utama menghadiri dan turut memberi konsep beberapa acara. Yang dia tunggu sekarang adalah moment bertemu gadisnya lagi, bukan moment malam puncak perayaan anniversary besok malam.
Okta hanya menatap Lewi tidak menduga akan ditanya soal lain selain soal kerjaan.
"Cang...?"
"Wah... gimana ya sudah beberapa tahun yang lalu... Mungkin karena sudah pacaran lumayan lama sejak kuliah semester satu. Dia percaya saya, selalu jujur, tidak banyak menuntut, standar sih tapi saya merasa nyaman dan yakin sama dia."
"Kenapa boss... udah mikir mau nikah ya... Udah pas sama mbak Kharis boss, jangan sama Giselle atau Friska, mereka sih perempuan yang ngincar apa yang boss punya..."
Gerald langsung menimpali. Lewi tersenyum, dia memang nyaman dengan Kharis saat bersama bahagia selalu menyerbu di seluruh rasa, semakin mengenal Kharis semakin dia terpesona dan terpenjara dengan keseluruhan hal tentang Kharis.
Tapi, gadis ini berbeda, yang dia tahu sekarang, Kharis selalu memilih menjauh jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan dirinya. Bahkan pernah memilih melepaskan Lewi karena kakaknya. Dia bukan tipe gadis yang terobsesi dengan penampilan dan apa yang melekat pada diri seorang Lewi Andrean. Dia selalu membuat Lewi penasaran sekaligus tidak ingin melepaskan lagi.
"Apa belum yakin dengan Kharis, Dre..."
__ADS_1
Okta bertanya sedikit ragu, belum sepenuhnya lepas masih memandang Andre sebagai boss ketimbang sahabat. Tapi dia tahu Lewi Andrean butuh dukungan.
"Yakin sangat yakin, tapi sukar untuk membuat Kharis yakin sama aku..."
"Kenapa..."
"Itu yang pengen aku tahu..."
"Sudah berapa lama pacaran?"
"Belum setahun, sih ya... sempat putus juga waktu baru sebulan bersama, hehehe. Aku nggak nyangka dia bisa lakuin itu..."
"Hahh? Mbak Kharis keren banget bisa mutusin boss, hehehehe... ada juga ternyata wanita yang berani mutusin boss...."
"Ger... kamu udah sering ya ngeledek aku, pengen dipecat kamu...?"
"Eit boss jangan maen pecat dong, kayak Giselle sama Henry aja..."
"Ada nggak boss kayak aku membiarkan assistennya bersikap kurang ajar..."
"Hehehe, nggak ada, boss memang the best... Sorry boss... nggak bermaksud begitu..."
Tak ada rasa marah sebenarnya di hati si boss karena justru bentuk hubungan seperti inilah yang dia sukai. Pekerjaan masalah lain dan mereka bertiga selalu serius tentang itu. Tapi jika di luar pekerjaan dia lebih menginginkan hubungan mereka sebagai sahabat semakin erat dan kuat.
Cerita terus bergulir di antara ketiga lelaki itu sampai waktu makan malam mereka masih di sana, mengabaikan banyak panggilan telpon yang mencari si boss untuk acara terakhir malam ini yang masih berlangsung di aula resort, karena besok malam acara puncak akan diadakan di sebuah hotel bintang lima dengan tamu-tamu orang-orang penting dan dari kalangan terbatas.
Sebuah chat masuk ke ponsel Lewi... hanya ada beberapa nomor yang tersimpan di ponsel khusus miliknya, dan bunyi notifikasi tadi adalah bunyi yang khusus juga. Tidak berlambat-lambat ponsel di atas meja langsung disambar dan chat langsung dia baca...
¤¤¤
Terima kasih buat pembaca yang sudah kasih jempol manis buat tulisan aku... ternyata aku butuh itu buat terus menulis lanjutan cerita Lewi dan Kharis...
Salam hangat untuk semua yang menyukai dan yang membaca cerita ini....
__ADS_1
🥤🍹🧃