
Sudah sekian kali Lewi bertemu orang tua Kharis, sekian kali juga keluar masuk rumah ini, berkali-kali makan di rumah ini... tapi belum pernah merasa setegang ini duduk di hadapan orang tua Kharis. Pernah sih duduk berhadapan papa Didi sama seriusnya tapi itu saat bermain catur, awal-awal ragu dan sungkan mengalahkan papa dari kekasih hati, tapi kemudian pride sebagai lelaki membuat dia tak ingin mengalah dalam pergulatan otak waktu itu.
Tapi untuk kali ini Lewi tegang bercampur beban dan mulai cemas melihat reaksi papa Didi. Lewi sudah mengutarakan niatnya memperistri Kharis dengan terbata-bata sangking gugupnya. Dan sudah beberapa menit berlalu belum ada suara dari papa Didi.
Mama Melissa pun mulai gelisah meraba-raba apa jawaban suaminya, mama bisa membaca emosi apa yang tergambar jelas di wajah sang suaminya sekarang, mama hafal mimik suaminya tapi masih menunggu apa yang akan diucapkan. Kharis tak kalah cemas, firasatnya bisa mengartikan apa pancaran muka papa saat ini.
"Saya tidak mengijinkan Kharis menikah sekarang."
"Papa...!"
Suara mama mirip teriakan bergema di ruangan tengah rumah mereka.
"Papa...?"
Kharis dengan suara lemah menanggapi, kecewa karena tak menyangka papa menolak niat Lewi juga niat Kharis sendiri.
"Itu keputusan saya..."
Papa Didi langsung berdiri dan masuk kamar. Mama berdiri tak enak hati di hadapan Lewi menyesal juga tidak berterus terang pada sang suami apa yang dia kerjakan seminggu ini dan apa perbincangan juga persetujuan yang sudah dia buat dengan bu Vero, bahkan dia tahu rencana lain bu Vero selain acara ulang tahun. Dia sendiri terlibat dalam semua persiapan acara itu.
"Mama bicara dengan papa dulu... Lewi pulang saja tidak apa-apa, nanti malam rencana Lewi dan orang tua datang ke sini untuk lamaran jangan dibatalkan dulu."
Mama masuk kamar... Kharis masih terdiam di sebelah Lewi, suara penolakan papa tadi yang jelas tegas singkat padat sekejab saja meruntuhkan keteguhan hati untuk menikah yang susah payah dia bangun beberapa hari ini. Ada dua tetes air mata luruh dari mata cantiknya...
"Sweetheart..."
Lewi hanya bisa memeluk Kharis dengan perasaan yang tak bisa dia jelaskan, semua rasa campur aduk. Jika itu papi dia pasti langsung berontak dan melawan, tapi ini mana mungkin dia protes, melawan, atau berontak...bisa-bisa perkataan tidak mengijinkan menikah 'sekarang' berubah menjadi 'selama-lamanya'.
Terbersit pikiran 'kawin lari' ala cowboy yang menculik pengantin wanitanya... tapi takut justru masalah jadi besar. Lewi memilih jadi anak manis saja, siapa tahu mama Melissa bisa melakukan sesuatu. Tadi mama masih memberi harapan acara lamaran sebentar malam belum dibatalkan. Pagi tadi saat mereka sama-sama melihat tempat acara besok yaitu rumah Lewi di pinggir pantai, mami Vero sempat mengungkapkan kepada mama maksud orang tua Lewi malam nanti.
__ADS_1
"Kakak pulang aja dulu..."
Kharis masih penuh airmata melepaskan pelukan Lewi... dia butuh waktu sendiri, dia butuh tempat tidurnya sekarang.
"Sayang..."
Lewi tak ingin berjauhan, dia juga ingin mendengar hasil negosiasi mama Melissa, dia tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar utama rumah ini.
"Nanti aku kasih tahu kakak... kakak pulang sekarang ya..."
Otak Lewi buntu seketika, dia kehilangan semua kata untuk menghibur gadisnya bahkan dirinya sendiri. Diusapnya airmata di pipi gadisnya yang mulai berisi itu... hanya menatap penuh sayang tanpa kata dengan mata yang mulai memanas. Tidak tahu hal apa yang harus dibuat dalam situasi ini.
Kharis berdiri dan menarik lemah tangan Lewi ke arah pintu depan. Setelah Lewi turun di tangga teras Kharis segera menuju kamarnya, tempat terbaik untuk dirinya sekarang. Pintu dia kunci demikian juga jendela kamarnya. Lewi yang masih ada di jalan menangkap bunyi jendela tertutup... sesaat berhenti dan melihat jendela itu, dia pun tahu apa artinya. Tapi apa daya, dia hanya berharap mama Melissa berhasil mengubah keputusan papa Didi.
Lewi mengambil kunci sebuah mobil yang baru tiba hari ini dari kota J, entah apa yang ada dalam rencana orang tuanya. Rumah direnovasi, semua furniture diganti baru dikirim langsung dari kota J, tiga unit mobil baru dengan harga yang fantastis pun turut dikirim dari sana. Lewi mengarahkan mobil menuju rumah barunya, dia ingin menyendiri menenangkan diri di sana, kebiasaan Kharis yang kini jadi kebiasaannya juga...
...
Papa Didi duduk di single sofa samping tempat tidur mereka, mama duduk berhadapan di tepi tempat tidur itu.
"Papa belum rela Kharis menikah, tidak mau Kharis pergi, dia anak perempuanku. Revy boleh keluar dari rumah ini, tapi Kharis jangan..."
"Papa... Kharis sudah dewasa sekarang, ada waktunya anak-anak meninggalkan rumah..."
"Dia masih kecil Meli... masih anak-anak..."
"Papa...?!?"
Mama kaget melihat suaminya yang kini terisak. Selama ini tidak pernah mama melihat suaminya menangis. Saat orang tua suaminya berpulang, saat anak tertua mereka pergi selama-lamanya, ada kesedihan bahkan berbulan-bulan dia melihat wajah sedih suaminya. Tapi hari ini saat anak gadisnya diminta menikah oleh Lewi suaminya menangis...
__ADS_1
Hati seorang papa yang begitu mengasihi anak perempuannya dan tidak ingin terpisah dari anaknya. Hati mama turut tersentuh sehingga tanpa sadar mama pun ikut menangis.
Mama mengingat 23 tahun yang lalu saat sang suami meminta dia melepas alat kont*asepsi, meminta dia hamil lagi karena menginginkan anak perempuan. Dia sering mendengar doa suaminya sebelum tidur di sepanjang kehamilannya yang ketiga supaya Yang Maha Kuasa memberi mereka putri cantik. Betapa senangnya dia saat mendengar prediksi hanya dengan mendengar detak jantung janin bahwa anaknya kemungkinan perempuan.
Masih jelas memori yang merekam bagaimana suaminya yang berjam-jam menatap bayi mereka di boks dengan wajah jatuh cinta terhadap bayi merah yang belum membuka mata. Sangat berbeda saat dia melahirkan kedua jagoannya, dirinya hanya dibantu oleh mamanya yang waktu itu masih hidup. Tetapi ketika gadis kecil itu lahir sang suami turut membantu mengurusi, bahkan lebih sering menemani bermain, menjemput dari sekolah dan membawa anaknya ke kantor. Dia harus akui anak perempuannya lebih banyak menghabiskan waktu dengan suaminya. Setelah Kharis SMA barulah kebiasaan itu terhenti itupun karena Kharis memilih seperti itu.
"Pa..."
"Waktu Kharis magang, papa bisa toleransi, tapi sekarang papa tidak mau kehilangan dia... dia akan ikut suami kalau menikah."
"Iya... memang seperti itu kan, mama juga ikut papa kan... logis lah pa... Kharis juga menginginkan menikah, masa papa melarang dia."
"Tidak melarang, jangan sekarang. Toch Revy juga belum menikah."
"Revy beda pa... Dia dan Nivia sudah sepakat nanti tahun depan setelah Nivia dikukuhkan jadi dokter."
"Pokoknya papa belum setuju dia menikah, papa masih ingin melihat Kharis di rumah ini..."
.
€€€
Semoga pembaca semua terhibur... π₯°
π π
.
.
__ADS_1
πΆπΆπΆ